Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 34


__ADS_3

Sweet mendorong pintu kaca dengan cepat, dan langsung mengedarkan pandangan keseluruh penjuru restoran. Hingga mata coklat itu menangkap sosok wanita yang tengah duduk di meja bagian pojok. Tanpa pikir panjang, ia melangkah pasti menghampiri wanita itu.


"Terlambat dua menit," ujar wanita itu seraya memberikan tatapan kesal.


"Sorry, Grace. Pekerjaanku cukup banyak, juga tidak punya banyak waktu," sahut Sweet duduk didepan Grace. Wanita bermata hazel itu hanya menggeleng pelan. Pekerjaan Sweet hari ini cukup banyak, sangat sulit untuknya keluar. Hanya saja ia cukup pintar untuk membuat alasan, dan kemudian bertemu dengan Grace.


"Apa yang kau dapat?" timpal Sweet menatap Grace penuh tanya. Berharap Grace membawa sebuah informasi baik tentang keluarganya. Ya, satu jam yang lalu Grace menghubungi Sweet dan meminta untuk bertemu. Grace ingin menyampaikan informasi tentang orang tua Sweet. Meski Sweet sudah mendapatkan informasi dari Alex, ia masih belu puas. Berharap Grace membawa sebuah informasi baik tentang keluarganya.


"Keluargamu dalam bahaya, aku sudah meminta bantuan Ayah angkatku. Mereka tidak dapat menemukannya, seperti ada yang menyembunyikan mereka. Sangat sulit dilacak," jelas Grace tidak sesuai dengan harapan Sweet. Sweet menopang dahi dengan kedua tangannya. Mencoba mengatur napasnya yang mulai tak beraturan.


Ini pasti ulahnya, apa lagi yang dia inginkan. Aku sudah menuruti semua keinginannya. Termasuk bertahan dalam ikatan rantai duri. Batin Sweet.


"Sweet, sebaiknya kau ikut denganku. Kita akan kembali ke Indonesia, kita cari mereka sama-sama." Sweet mengangkat kepalanya perlahan, menatap netra milik Grace cukup lama. Lalu ia angkat bicara dengan begitu lirih.


"Itu tidak mungkin, dia tidak akan melepaskan aku begitu saja."


"Jangan bodoh Sweet, pernikahan itu sama sekali tidak benar. Tidak ada persetujuan kedua belah pihak, dia mendapatkan sertifikat pernikahan karena kekuasaannya di sini. Tidak ada yang berani melawannya. Dengan mudah segala surat itu mereka berikan. Apa jangan-jangan kau dan dia sudah melakukan itu?"


Sweet terbelalak saat mendengar lontaran pertanyaan dari Grace. "Tidak, aku tahu batasan Grace. Buang semua pikiran bodohmu," sanggah Sweet. Grace bernapas lega mendengarnya, ia hanya tidak ingin sahabatnya kembali dalam kesulitan.


"Baiklah, minggu depan aku tunggu keputusanmu. Aku akan menunggumu di bandara. Kau juga tidak memiliki hubungan lagi dengan keluarga brengsek itu, jadi tidak perlu memikirkan mereka," ujar Grace dengan tegas. Mendengar itu, Sweet hanya mengangguk pelan. Bingung, itulah yang saat ini ia rasakan. Pertemuannya dengan Charlotte kemarin kembali memenuhi pikirannya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, kesempatan tak akan datang dua kali. Pikirkan baik-baik," timpal Grace seraya menggenggam kedua tangan Sweet yang sedikit basah karena keringat.


"Terima kasih, Grace. Aku akan memikirkannya," ucap Sweet. Grace mengangguk sebagai jawaban. Lalu keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing.


***


"Adel, di mana Tuan? Aku sudah ke ruangannya tapi tidak ada," tanya Sweet menghampiri Adeline yang tengah merapikan beberapa dokumen di ruangannya.


"Tuan tadi pergi, sepertinya ada sesuatu yang penting. Aku juga kurang tahu ke mana beliau pergi," jawab Adeline dengan jujur.


"Baiklah, terima kasih Del."

__ADS_1


"Sama-sama," sahut Adeline. Sweet pun beranjak pergi dari sana.


"Kemana dia?" gumam Sweet menjatuhkan diri di atas sofa. Menatap gedung pencakar langit yang saling beradu tinggi. Cukup lama ia terdiam. Ke mana dia sebenarnya? Apa sesuatu telah terjadi? Pikir Sweet


"Hah, kenapa aku harus mencemaskannya?" gerutunya seraya bangun dari posisi duduk dan bergerak menuju meja kerja. Sweet kembali berkutat dengan tumpukan dokumen di meja.


Sore hari, Sweet pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Alex benar-benar kejam, meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apa pun. Bahkan tak ada satu pun yang menjemputnya pulang. Seluruh tubuh gadis itu kini dipenuhi peluh, pakaiannya terlihat sedikit basah. Sesampainya di mansion, para pelayan memberikan berbagai tatapan padanya. Hingga langkah kakinya terhenti dengan cepat. Ada apa ini, kenapa terdengar sangat ramai? pikir Sweet seraya memasuki mansion.


Bruk!


Sweet cukup kaget saat seorang anak lelaki menabraknya dan terjatuh. "Ya ampun, maafkan aku." Sweet membantu anak kecil itu dengan lembut. Terlihat rasa bersalah di raut wajahnya. Namun berbeda dengan anak lelaki itu. Ia menatap Sweet dengan tatapan aneh.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Sweet menggunakan bahasa Jerman. Ia berjongkok dan meneliti kedua tangan anak itu. Memastikan tidak ada luka di sana. Namun lagi-lagi anak itu hanya menatapnya aneh. Sweet memperhatikan mata anak itu, begitu mirip dengan Alex.


"Dia tidak bisa bahasa yang kau ucapkan," ujar seseorang yang berhasil mengejutkan Sweet dan membuat gadis itu kembali bangun. Siapa lagi jika bukan lelaki kejam bernama Alex. Lelaki itu berjalan mendekat, diikuti oleh seorang wanita paruh baya dan lelaki yang begitu mirip dengan Alex. Tidak lupa Milan dan Mala juga ada di sana. Sweet memberikan perhatian pada wanita paruh baya itu, begitu familier. Hingga sebuah tangan mungil berhasil mengejutkan dirinya.


"Kakak cantik, bisa bahasa Indonesia kan?" ujar anak lelaki itu tersenyum begitu manis. Sweet langsung menatap Alex.


"Tentu, dia juga berasal dari Indonesia." Alex tersenyum samar.


"Tante? Jadi Kakak cantik ini istri Paman? Ini tidak adil, Kakak sangat muda dan tidak cocok dengan Paman yang sudah tua," cerca Dika yang berhasil membuat semua orang terkejut.


"Dika, jangan bicara seperti itu. Minta maaf sekarang," suara lembut itu berhasil menarik perhatian Sweet. Ingatan tentang wanita itu mulai terlihat jelas. Wanita itu yang ada dalam lukisan dan ponsel Alex bukan? Tanya Sweet dalam hati. Ia masih belum yakin, karena wanita itu lebih cantik dibanding foto atau lukisan.


"Maaf Paman, Tante."


"Tidak jadi masalah, Boy." Alex tersenyum sambil mengusap lembut kepala Dika. Sweet terkesiap melihat sikap hangat Alex, untuk yang pertama kali ia melihat sisi lain dari diri Alex.


"Alex, kau tidak ingin memperkenalkan gadis cantik ini pada kami?" ucap lelaki paruh baya yang sangat mirip dengan Alex. Menatap Sweet penuh kelembutan.


"Anna Sasmita, istriku Kak. Anna, ini Kakakku Arnold dan istrinya, Nissa." Alex memperkenalkan mereka pada Sweet. Sweet menyalami keduanya masih dengan ekspresi bingung.


Nissa? Jadi wanita ini lah yang Alex cintai? Wanita yang kemarin malam menelepon dan sosok yang ada dalam lukisan itu. Dia sangat cantik, pikir Sweet dalam hati.

__ADS_1


"Kau menikahi gadis cantik dan muda, lalu tidak memberi tahu kami? Kau melupakan kakakmu, hah?" tanya Arnold menepuk bahu Alex.


"Maaf, Kak. Semua di luar dugaan," sahut Alex dengan begitu santai.


"Sweet, lebih baik kau ke kamar dan istirahat. Kau terlihat lelah dan pakaianmu basah," ujar Milan yang sejak tadi memperhatikan penampilan kusut Sweet.


"Ana, Sweet, siapa nama sebenarnya?" tanya Nissa bingung.


"Sweet adalah nama pemberian orang tua angkatnya, Jeremy Santonio." Alex menekan nama orang tua angkat Sweet. Mendengar itu, tatapan Arnold pada Sweet pun berubah tajam.


"Bagaimana bisa kau menikahinya?" tanya Arnold datar. Sweet menyadari hal itu, lalu ia pun memilih untuk pergi ke kamar. Saat ini ia juga butuh istirahat dan segera mengisi kekosongan perutnya.


"Katakan Alex, bagaimana bisa kau menikahi gadis itu?" Arnold kembali mengulang pertanyaannya.


"Bukan urusanmu, Kak." Alex pun langsung bergegas menuju kamarnya. Alex tidak ingin sang Kakak tahu apa yang sedang ia rencanakan saat ini. Biarlah ia yang mengurus semuanya, tanpa campur tangan sang Kakak.


"Mas, biarkan Alex memilih wanita sesuai pilihannya. Tidak penting siapa gadis itu sebenarnya," ujar Nisa mengusap pundak suaminya.


"Sweet anak yang baik, hanya nasibnya saja yang jelek. Alex tidak pernah memperlakukan gadis itu dengan baik, aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya Alex rencanakan." Milan ikut bersuara untuk menjelaskan masalah yang tengah terjadi.


"Dari mana kau tahu dia gadis yang baik? sudah tahu dari keluarga licik seperti itu, masih saja dipelihara? Tidak peduli dia anak angkat atau bukan, didikan mereka sudah pasti masuk dalam kepalanya." Arnold terlihat emosi.


"Aku rasa tidak, Sweet berbeda dari gadis kebanyakan. Dia sama sekali tidak memiliki motif apa pun," sahut Milan terus membela Sweet. Memang itu kebenarannya bukan?


"Berhenti membelanya, aku tidak akan mengizinkan gadis itu berada di sini sebelum tahu siapa dia sebenarnya," ujar Arnold yang langsung melenggang pergi.


"Jangan terlalu dibawa hati," ucap Nissa mengusap pundak Milan sambil tersenyum tulus. Lalu ia pun mengikuti langkah suaminya bersama si kecil Dika.


"Ma, sebaiknya kita tidak perlu ikut campur urusan mereka." Kali ini Mala ikut bersuara. Ia tidak ingin Ibunya masuk dalam permainan yang Alex buat.


"Mama cuma kasihan dengan Sweet, dia gadis yang baik. Mama sangat yakin, Mala."


"Mala tahu, juga bisa melihat itu semua. Hanya saja, Ayah lebih tahu tentang Sweet." Milan mengangguk, lalu mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Berhubung hari mulai terlihat gelap.

__ADS_1


Alex membuka pintu kamar perlahan, mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar. Namun sosok gadis itu sama sekali tidak terlihat. Alex pun masuk dengan langkah lebar, dan tertahan tepat di depan kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemercik air terdengar jelas, itu artinya Sweet sedang mandi.


Alex pun memilih untuk duduk dibibir ranjang, mengambil buku di atas nakas dan membukanya perlahan. Lima belas menit, Alex menunggu Sweet keluar. Dan sosok itu benar-benar keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk yang melilit tubuh mungilnya. Sepertinya gadis itu tidak menyadari kehadiran Alex, karena ia terlihat santai berjalan ke sana kemari. Dengan sengaja Alex tidak bersuara, terus mengawasi pergerakan Sweet di sana. Hingga sosok yang dia awasi menghilang dibalik pintu kamar ganti.


__ADS_2