
Di sebuah apartemen, terdengar suara gebrakan pintu yang begitu nyaring. Membuat seorang wanita yang ada di dalamnya merasa kaget dan langsung berlari menuju pintu yang ternyata sudah tertutup.
"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu saat melihat suaminya lah yang membuka pintu.
Lelaki bertubuh jangkung itu memberikan tatapan membunuh pada sang wanita. Kedua matanya berwarna merah menyala, seakan memancarkan kemarahan yang mendalam. Nyali wanita itu menciut saat melihat aura kelam dalam diri suaminya. Lelaki itu adalah Gerald.
Gerald baru saja tiba di Indonesia, untuk menjemput Gilly kembali ke negeri asalnya. Namun, ia mendengar sebuah kabar yang cukup membuat emosinya meledak-ledak. Anak buah yang ia bayar untuk memata-matai istrinya memberi tahu, bahwa Gilly sering menemui Alex di rumah sakit. Bahkan tidak jarang wanita itu membawa makanan dan mencuri perhatian Alex.
"Apa selama ini kebaikanku masih belum cukup?" geram Gerald seraya berjalan mendekati istrinya, Gilly.
Gerald membuka dasi dengan kasar dan melemparnya asal. Membuat Gilly semakin ketakutan.
"A... apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti," tanya Gilly begitu gugup untuk menghadapi kemarahan suaminya. Ia juga tidak berniat untuk berkata jujur.
"Kau pikir aku bodoh!" Gerald mengeluarkan bentakan seraya menngapit erat rahang Gilly.
"Aku berniat baik untuk menikahimu, memeliharamu dan membiarkan kau bebas di luar sana, ja**ng. Tapi apa yang kau berikan, huh? Kau ingin mengkhianati aku dan menggoda lelaki yang sudah beristri?" Hardik Gerald dengan tatapan penuh amarah.
"Aku tidak melakukan itu, dia... dia yang lebih dulu menggodaku." Gilly mengeluarkan alibi untuk mengelabui suaminya. Wanita itu tidak menyadari, jika Gerald lebih tahu siapa Alex sebenarnya.
Gerald tertawa sumbang, perkataan Gilly membuatnya berkali-kali ingin menghajar wanita tidak tahu malu itu. Namun, Gerald masih memiliki akal sehat. Saat ini ia berada di negara yang ketat akan hukum. Jadi ia menahan segala amarah yang tengah bergelora di hatinya.
Gerald mendorong tubuh Gilly dengan kasar. Membuat wanita itu terjatuh di lantai.
"Malam ini aku akan membawamu pulang, dan kita akan bercerai. Jarvis ikut bersamaku," tegas Gerald yang kemudian pergi ke kamar.
"Tidak, kau tidak punya hak untuk membawa Jarvis." Gilly bangun dan mengejar Gerald. Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan teriakan Gilly. Mengunci pintu dari dalam.
"Aku mohon, maafkan aku. Ya, memang aku yang bersalah. Jadi aku mohon, jangan ceraikan aku dan mengambil Jarvis dariku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi." Gilly terus memukul daun pintu. Memohon agar Gerald membuka pintu dan memaafkan semua kebodohannya.
"Please... Aku tidak bisa hidup tanpa Jarvis." Tubuh Gilly merosot. Menyesali segala kebodohan yang ia buat. Ia melupakan sifat keras Gerald. Seharusnya ia tahu, wanita yang dijadikan pegangan oleh Gerald bukan hanya dirinya. Begitu banyak wanita yang menginginkan posisinya saat ini. Dan betapa bodohnya ia melupakan semua itu. Mengabaikan segala kebaikan Gerald selama ini. Jika tidak ada lelaki itu, mungkin nasibnya akan sama seperti Cherry. Ditemukan tewas di dalam jeruji besi akibat bunuh diri.
"Aku mohon, maafkan aku." Suara pilu Gilly terdengar begitu menyedihkan. Hingga pintu kamar pun terbuka.
Gilly merasa senang, berpikir jika Gerald akan memaafkan dirinya. Namun, ia salah besar. Lelaki itu masih memasang wajah penuh amarah.
"Ingat! Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh putraku. Sejak awal, aku menikahimu karena Jarvis. Aku butuh seorang anak, tapi aku tak butuh wanita murahan sepertimu. Aku yakin, Jarvis juga menyesal karena memiliki Ibu sepertimu. Kau mengabaikan segala kebaikan yang aku berikan, sekarang terima nasib burukmu. Karena keserakahanmu, kau kehilangan segalanya." Setelah mengatakan itu Gerald kembali menutup pintu dengan kasar. Gilly tersentak kaget, dan tangisannya semakin menjadi. Saat ini ia benar-benar frustrasi.
Dasar bodoh! Kau memang benar wanita ja**ng Gilly. Sekarang kau akan kehilangan segalanya, suami, anak bahkan semua kehidupanmu. Kau tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Apa kau puas? Gilly terus menyalahkan dirinya. Mengutuk diri sendiri atas semua kebodohan yang ia lakukan. Bahkan menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. Bahkan untuk saat ini, kabur saja ia tidak akan mampu, karena Gerald tidak akan membiarkan itu terjadi. Gilly hanya bisa menangis, meratapi nasib buruknya yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
***
"Ma," panggil Mala. Sedangkan matanya masih menatap lurus ke luar jendela. Dengan kedua tangan memeluk erat tubuhnya. Saat ini, Mala dan Milan berada di rumah Arlan dan Ara. Lebih tepatnya berada di kamar tamu.
"Em," sahut Milan sekenanya. Wanita paruh baya itu sedang sibuk dengan gawai miliknya.
"Ma, kok bisa sih Ayah kalah sama lelaki cacat itu? Tahu gak sih, Ma? Tadi pas liat orang cacat itu, rasanya pengen banget aku tinju habis-habisan." Mala menggerutu seraya membayangkan wajah babak belur Bian.
"Siapa yang kamu bicarakan?" tanya Milan tanpa menatap lawan bicaranya.
"Itu loh, Ma. Laki-laki cacat yang tadi ada di rumah Mommy Sweet. Lelaki yang duduk di kursi roda, memakai pakaian formal dan memiliki mata yang tajam. Masak sih Mama gak perhatian?" Jelas Mala menjabarkan seperti apa sosok lelaki yang sedang ia bicarakan.
"Owh, anak laki-laki yang tampan itu ya?" Sahut Milan saat mengingat sosok Bian yang ia lihat pagi tadi.
"Cih, tampan dari mana coba?" Geram Mala. Sepertinya Mala begitu benci pada lelaki itu.
"Jangan terlalu benci sama orang, karena benci dan cinta itu beda tipis. Tar jatuh cinta baru tahu rasa kamu." Milan mengucapkan itu tanpa sadar. Karena ia sedang sibuk bermain game.
"Idih, mit-amit deh. Jangan sampe aku suka sama dia. Dia itu yang menyebabkan Ayah sakit sampe patah tulang, Ma. Mana mungkin aku menyukai lelaki sombong itu."
"Hus, jodoh itu gak ada yang tahu. Lagian dia memang ganteng kok, Mama setuju kalau dia jadi mantu Mama." Milan melirik putrinya sekilas. Lalu kembali pokus pada gawainya.
Perkataan Mala berhasil mencuri perhatian Milan. Wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Lalu menatap Mala begitu dalam.
"Sudah saatnya kamu membuka lembaran baru, mau sampai kapan seperti ini terus? Rudi juga tidak akan bahagia jika melihat kamu seperti ini." Milan mengunci mata kelam Mala.
"Mala belum bisa, Ma. Mas Rudi terlalu berharga untuk Mala."
"Kamu salah, Mala. Membuka lembaran baru tidak selamanya harus melupakan mendiang suami kamu. Kamu masih bisa menyimpannya dalam dasar hatimu. Mama yakin, Rudi sudah bahagia sekarang. Malaikat kecil kalian ada bersamanya."
Mala meneteskan air mata. Mengingat mendiang suaminya sama dengan membuka luka lama. Milan memeluk Mala dengan erat. Membiarkan putrinya menangis untuk sesaat.
"Mama minta maaf," ucap Milan mengusap rambut Mala dengan lembut.
"Mama tidak salah, Mala terlalu lemah jika mengingat Mas Rudi." Mala melerai pelukan. Lalu menyapu air mata yang membasahi pipinya.
"Mala janji, jika hati Mala sudah siap. Mala akan membuka hati, tapi tidak untuk saat ini."
Milan tersenyum dan mengangguk. Menyetujui apa pun yang putrinya inginkan. Bagaimana pun, hanya Mala sendiri yang dapat memahami isi hatinya. Milan hanya bisa mendoakan agar putrinya segera mendapat kebahagiaan.
__ADS_1
***
"Daddy, Mommy...." suara kecil ketiga kurcaci berhasil mengejutkan Alex dan Sweet yang sedang bercengkrama.
"Sayang, ada apa?" tanya Sweet saat melihat ketiga anaknya sudah berdiri di depan pintu kamar. Pasalnya ini sudah larut malam.
"Kami mimpi buruk," jawab Arel dengan mata sayunya.
"Bersamaan?" tanya Sweet heran. Lalu ketiga kurcaci lucu itu mengangguk bersamaan. Alex yang melihat itu tertawa renyah.
"Kemari, kalian bisa tidur di sini." Alex menepuk ranjang di sisinya. Meminta ketiga anaknya untuk datang ke sana.
Ketiganya pun langsung berlari menghampiri Alex. Berbaring di bagian tengah ranjang.
"Dengar, ini terakhir kali kalian tidur di sini. Lain kali tidak boleh lagi," ujar Sweet memperingati anak-anaknya. Mereka pun langsung mengangguk pasrah. Ketiga anak itu memang sudah terbiasa dengan sikap tegas Sweet.
"Ana, jangan terlalu keras pada mereka. Anak-anak masih kecil untuk menerima aturan keras," ujar Alex tidak setuju dengan ketegasan Sweet pada anak-anak.
"Mereka harus terbiasa dengan aturan," tegas Sweet tetap dalam pendiriannya.
"Aku tidak setuju dengan jalan pikiranmu, anak-anak seumuran mereka butuh kebebasan." Alex masih kekeh dengan keputusannya.
"Selama empat tahun aku merawat mereka dengan aturan, jadi jangan pernah berpikir aku akan merubah aturan itu."
"Mom... Dad...." Panggil ketiga anaknya bersamaan. Mereka merasa risih mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Dan itu benar berhasil, keduanya menghentikan perdebatan.
"Dad, jangan memarahi Mommy. Kami tidak keberatan dengan peraturan yang Mommy buat." Arez mengeluarkan pendapatnya. Ia memang tidak pernah mengeluh dengan sikap posesif sang Mommy.
"Ya, kau memang putraku." Sweet memeluk Arez dengan erat. Sedangkan Arel dan Alexa memeluk Alex.
Sweet melempar tatapan tajam pada Alex. Ia begitu jengkel karena Alex mampu menaklukkan dua kurcacinya dalam waktu singkat.
Alex tersenyum penuh arti, seakan mengisyaratkan jika ketiga kurcaci lucu adalah miliknya. Sweet mendesis kesal. Dan memilih untuk memejamkan matanya. Sedangkan ketiga anak itu sudah terlelap.
"I love you," ucap Alex yang berhasil membuat Sweet kembali membuka mata.
"Aku menyayangimu dan juga anak-anak," lanjut Alex. Sweet tersenyum simpul mendengarnya. Melupakan rasa kesalnya.
"Tidurlah, ini sudah malam. Anak-anak akan terbangun jika kamu terus menggodaku," ujar Sweet seraya memejamkan matanya. Alex tersenyum senang, lalu ikut memejamkan mata. Merajut mimpi indah bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1