
Sweet membuka mata saat cahaya mulai menerobos dan mengganggu tidurnya. Sweet tersenyum saat melihat wajah cantik Alexa yang pertama kali ia lihat. Memeluk gadis kecil itu dengan mesra. Alexa memang sudah terbangun lebih dulu dari pada Sweet.
"Morning, Mom." Alexa mencium lembut pipi Sweet. Sweet merasa senang mendapat hadiah pagi dari putri kecilnya. Sweet mempererat pelukkannya.
"Lexa senang, dipeluk Mommy sampai pagi." Alexa mengusap pipi halus Sweet.
Sweet memejamkan matanya kembali, rasa kantuk masih mengganggunya. Malam tadi ia benar-benar tak dapat tidur hingga menjelang subuh, lalu akhirnya Sweet memaksakan diri untuk tidur setelah salat.
"Mommy, ini sudah hampir siang. Lexa sangat lapar," rengek Alexa. Sebenarnya pagi-pagi sekali Suster Clara sudah mengantar makanan untuk Alexa. Namun Alexa tidak ingin makan, jika bukan dari tangan sang Mommy.
Sweet membuka matanya kembali, menatap wajah putrinya begitu dalam.
"Kenapa tidak makan dari tadi, Sayang?" tanya Sweet mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang. Kepalanya terasa sakit karena kurang tidur.
"Lexa cuma mau makan kalau Mommy yang suapi," rengek Alexa dengan memasang wajah memelas. Sweet yang mendengar itu merasa gemas pada putrinya. Ia pun mengecup mesra pucuk kepala Alexa.
"Baiklah Tuan Putri," ucap Sweet sedikit membungkuk untuk mengambil makanan di atas nakas. Dengan sepenuh hati ia menyuapi Alexa. Memberikan kebahagiaan penuh pada gadis kecilnya itu.
Hari ini Sweet memutuskan untuk menemani Alexa seharian penuh. Untuk kedua putranya ia serahkan pada Bibik, seorang pekerja di rumahnya. Kedua anak itu sudah terbiasa tanpa kehadiran Sweet.
"Mommy, Super Hero bilang. Lexa akan segera sembuh, terus Lexa bisa pulang ke rumah. Mommy pasti senang kan?" tanya Alexa begitu antusias. Membuat Sweet kembali ingat pada kejadian malam tadi. Mengingat akan perkataan Alex, yang akan menjadi pendonor untuk Alexa.
Sweet meletakkan kembali sisa makanan di atas nakas.
"Iya sayang, kamu pasti sembuh." Sweet tersenyum tulus. Lalu memeluk Alexa dengan penuh kasih sayang. Sweet akan meninggalkan semua sikap dingin apabila berhadapan dengan putrinya.
"Lexa sayang Mommy, sayang Super Hero juga. Semoga kita bisa sama-sama terus," ujar Alexa begitu polos. Sweet terdiam mendengar harapan putrinya. Sweet melerai pelukkannya, lalu mengunci mata biru Alexa.
"Jawab pertanyaan Mommy dengan jujur, sejak kapan Lexa berhubungan dengan Super Hero?" Sweet menatap Alexa untuk menunggu jawaban.
"Em, sejak pesta." Jawab Alexa dengan jujur.
"Pesta?" tanya Sweet bingung. Sedangkan Alexa mengangguk antusias.
"Pesta lampion, Mommy." Alexa mencoba untuk mengingatkan Sweet.
Akan tetapi, Sweet masih belum bisa mengingat pesta itu.
"Saat itu Mommy tidak bisa datang, jadi Super Hero yang membantu Lexa melepas lampion." Alexa tersenyum senang.
Sweet sudah mengingat pesta itu, pesta yang di adakan bulan lalu. Saat itu Sweet tidak dapat hadir karena sedang di luar kota. Sampai saat ini ia masih merasa bersalah pada putrinya. Meski sudah meminta maaf beberapa kali pada Alexa.
__ADS_1
Sweet menatap dalam wajah Alexa. Wajah yang begitu mirip dengan Alex, sehingga mengingatkan kembali pertemuan malam tadi.
"Assalamualaikum," ucap seseorang membuka pintu. Sweet manarik diri dari lamunan. Lalu melihat siapa gerangan yang berkunjung di pagi hari.
Seorang wanita cantik berbalut pakaian syar'i berdiri di ambang pintu bersama dua anak laki-laki. Bisa ditebak, itu adalah anaknya. Karena pakaian mereka mirip.
"Umi Ara!" seru Alexa ingin mengubah posisinya menjadi duduk. Dengan sigap, Sweet membantu Alexa. Jarum infus di jari mungil Alexa tersengol olehnya, membuat Alexa meringis kesakitan. Hati Sweet begitu teriris. Sudah pasti rasanya sangat menyakitkan.
Sweet mencium lembut tangan Alexa. "Maaf sayang."
"Tidak apa-apa, Mommy." Alexa tersenyum begitu manis. Lalu pandangannya kembali tertuju pada ketiga orang yang tengah berjalan mendekat. Begitu pun dengan Sweet.
"Jawab salam lebih dulu, sayang. Wa'alaikumussalam," ucap Sweet seraya menatap wanita itu lamat-lamat. Pasalnya Sweet tidak pernah bertemu langsung dengan sosok Umi Ara. Ia hanya mendengar dari mulut Alexa. Sweet mengira Umi Ara sudah lumayan tua. Namun ia salah, Umi Ara masih begitu muda. Mungkin lebih muda darinya.
Sweet turun dari atas brankar, lalu merapikan selimut Alexa.
"Em, ini Ibunya Alexa ya?" tanya Umi Ara bergerak menghampiri Sweet.
"Iya, Mbak." Sweet tersenyum tipis. Ia masih belum mengenal siapa Umi Ara ini sebenarnya.
"Kak Ichal bawa adiknya ya?" tanya Alexa dengan mata berbinar. Lelaki berusia lima tahun itu mengangguk antusias.
"Namanya Faraz," ucap anak laki-laki bernama Ichal memperkenalkan sang Adik. Semua interaksi itu tidak luput dari pengawasan Sweet dan Ara.
"Saya Sweet," sahut Sweet sedikit kaku.
"Saya baru pertama kali lihat Mbak di sini," ujar Ara sedikit ragu. Sikap Sweet membuatnya merasa canggung.
"Saya bekerja, cuma mampir siang atau malam." Sweet mencoba untuk tersenyum. Sangat aneh rasanya saat melihat Sweet tersenyum pada orang asing.
"Mbak asli Surabaya?" tanya Ara supaya memecahkan rasa canggung.
"Bukan, saya dari Jawa Barat." Sanggah Sweet. Ara yang mendengar itu mengangguk pelan.
"Saya dari Jakarta, sudah satu tahun tinggal di sini. Ikut Suami, Mbak." Jelas Ara memperkenalkan diri lebih awal. Padahal Sweet sama sekali tidak menyinggung pertanyaan tentang siapa Ara sebenarnya.
"Kebetulan bulan lalu saya melakukan kunjungan pada anak-anak penderita kanker dan bertemu dengan Lexa, dia anak yang cukup ramah dan mudah di ajak bicara. Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi Lexa saat ada waktu kosong. Kebetulan hari ini saya bisa bertemu Mbak, untuk minta izin menemani Lexa. Mungkin kami akan sering kemari, Ichal sangat senang bermain dengan Lexa." Lanjut Ara.
"Mommy, Umi Ara selalu membawa makanan enak buat Lexa." Kali ini Alexa ikut menimpali. Sweet yang mendengar itu cuma bisa mengangguk. Sedangkan Ara memberikan senyuman tulus.
"Oh iya, hari ini Umi bawa makanan kesukaan Alexa. Nasi salmon brokoli, dimakan ya?" Ara meletakkan sebuah lunch box di atas nakas.
__ADS_1
Kedua mata Alexa berbinar saat mendengar nama makanan yang Ara sebutkan. Karena Alexa sangat menyukai olahan ikan salmon. "Yey, terima kasih Umi."
"Brokoli? Sejak kapan Lexa suka makan sayur?" tanya Sweet heran. Pasalnya Alexa tidak pernah menyukai makanan yang bernama sayuran. Ia akan menolak mentah-mentah jika diberi makanan yang mengandung sayurnya. Tetapi kali ini berbeda, Alexa terlihat senang.
"Kata Umi, sayuran itu bagus untuk pertumbuhan. Jadi sekarang Lexa suka, tapi cuma bokoli aja."
"Brokoli, Lexa." Protes Ichal kala mendengar pengucapan Alexa yang salah. Tentu saja hal itu menjadi hal yang lucu. Sweet tersenyum seraya mengusap kepala Alexa.
"Kebetulan kami membuka sebuah restoran, namanya Chalista Resto. Jika Mbak ada waktu boleh kok mampir, tidak terlalu jauh dari sini." ujar Ara begitu semangat.
"Terima kasih, jika ada waktu Insha Allah saya mampir." Sweet tersenyum simpul. Ara tampak senang mendengar jawaban Sweet.
"Mbak, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ara pada Sweet. Saat ini mereka duduk di sofa, sambil mengawasi anak-anak yang tengah bermain.
"Silakan, Mbak." Sweet berusaha untuk bersikap hangat. Ia merasa canggung pada Ara yang begitu banyak bicara.
"Apa suami Mbak bernama Alex?"
Deg! Jantung Sweet berdebar kencang saat mendengar pertanyaan Ara. Bagaimana dia bisa tahu? Batin Sweet.
"Maaf saya lancang Mbak, soalnya Mbak mirip banget sama istri paman saya. Saya agak lupa sih wajah tante seperti apa? karena saat itu cuma lihat di foto. Tapi jika melihat Alexa, dia sangat mirip dengan Paman Alex. Jadi saya kira Lexa benar-benar anak Paman. Sudah lama sekali Paman tidak pulang." Jelas Ara.
Sweet terdiam. Mungkinkah ini hanya sebuah kebetulan? Pikir Sweet.
Ara memberikan tatapan curiga, karena Sweet tidak menjawab atau pun menanggapi pertanyaannya.
"Saya tidak kenal siapa itu Alex," jawab Sweet dengan cepat saat melihat tatapan Ara. Lalu memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Ah, mungkin cuma kebetulan aja mirip. Jangan ditanggapi ya Mbak pertanyaan saya. Saya cuma penasaran aja kok. Tapi kalau benar pun, saya senang banget. Sejak lama sekali saya ingin bertemu dengan Tante Ana." Ara tersenyum tulus. Juga berharap jika orang yang saat itu ada dihadapannya benar-benar orang yang di maksud. Sikap Sweet membuat keyakinan dalam diri Ara muncul.
"Lagian mana mungkin mereka pindah ke sini, Paman kan pengusaha sukses di Jerman." Ara masih melanjutkan perbincangan. Membuat Sweet merasa tidak nyaman.
"Maaf ya Mbak saya cerewet banget," ucap Ara merasa tak enak. Sweet pun menoleh, menatap Ara sejenak.
"Tidak apa-apa, Mbak." Sweet tersenyum tipis.
"Oh iya, kalau misalkan saya dan anak-anak sering main ke sini tidak apa-apa kan Mbak?" tanya Ara serius.
"Ah, tidak jadi masalah kok. Lexa pasti senang banyak teman." Sweet kembali tersenyum samar.
Ara tersenyum lega, "Alhamdulillah, terima kasih, Mbak."
__ADS_1
Sweet mengangguk, mengalihkan pandangannya pada Alexa yang tengah bermain dengan kedua anak Ara. Terlihat jelas kebahagiaan terpancar dari wajah imut Alexa. Gadis itu terus tertawa, melupakan rasa sakit yang selalu menggerayangi tubuhnya.
Ternyata tali persaudaraan tidak dapat aku hindari, mereka akan bersatu meski jarak telah memisahkan. Aku berpikir mereka tidak membutuhkan orang lain, ternyata aku salah. Mereka membutuhkan seorang teman dan kerabat. Mommy minta maaf, sudah menyembunyikan kalian dari semua orang.