
Hay guys... sebelumnya aku mau minta maaf nih. Mungkin dari kalian ada yang bingung kenapa nama Axel berubah jadi Ansel. Itu semua memang kesalahan dari author sendiri. Author ingatnya nama anak Josh itu Axel, ternyata setelah scroll lagi ternyata namanya Ansel. Namanya juga manusia ya kan? Pasti ada lupanya. Aku harap kalian tidak memarahi diriku yang pelupa ini. Semoga tetap menikmati alur ceritanya ya? So enjoy dan selamat membaca 🥰
...🌷🌷🌷...
Masih dalam acara pertunangan. Kini semua orang tengah menikmati berbagai hidangan sambil sesekali mengobrol ria. Sama halnya dengan sang Tuan rumah yang kini tengah menikmati hidangan di meja bundar berukuran besar. Semua keluarga besar Alexa maupun Winter hadir di sana. Kecuali si brengsek Arel. Lelaki itu belum kelihatan batang hidungnya.
"Sykurlah pestanya berjalan dengan lancar." Kata Nyonya Winston. Semua orang mengangguk sebagai jawaban. "Aku dengar putri bungsu kalian juga akan segera menikah? Apa itu benar?" Imbuhnya seraya menatap Alexella yang sejak tadi tampak diam.
"Benar, setelah semua Kakaknya menikah." Sahut Alex dengan santai.
"Bagaimana denganmu, Arez? Apakah kau sudah mendapat pasangan yang cocok. Jangan sampai adikmu menunggu terlalu lama." Tanya Winter. Sontak semua orang memusatkan perhatian pada Arez. Mereka penasaran dengan jawaban lelaki itu.
"Tidak ada, jika Xella ingin menikah lebih dulu. Maka biarkan dia menikah lebih dulu." Jawab Arez tak kalah santai dari sang Daddy.
"Tentu saja tidak boleh, aku sudah memilihkan seorang gadis untukmu." Kata Alex yang berhasil mencuri perhatian semua orang.
"Tidak perlu repot, Dad. Biarkan waktu yang menemukan gadis yang cocok untuk diriku sendiri." Protes Arez menyudahi makannya.
"Kau tidak akan menolak setelah melihat gadis yang satu ini, Arez." Kata Alex tersenyum penuh arti.
"Hy Aunty, Uncle." Sapa seorang gadis cantik yang baru saja muncul. Tentu saja kehadirannya berhasil menarik perhatian semua orang. Gadis bersurai keemasan itu memang sangat cantik dengan balutan dress berwarna merah.
"Owh, kau panjang umur Clara." Sahut Alex memberikan senyuman ramah pada gadis cantik itu.
Clara Angelina Brianta, adik kandung Ansel. Putri dari pasangan Grace dan Joshua Brianta. Gadis cantik berusia 19 tahun. Ya, gadis inilah yang ingin dijodohkan dengan Arez.
"Sayang, duduk di sini." Pinta Sweet menarik kursi di sebelahnya. Dengan senang hati Clara duduk di sana.
"Apa kabar, Aunty? Sudah lama Cla tidak bertemu Dengan Aunty." Tanya Clara dengan nada lembut.
"Baik, kamu sendiri bagaimana? Aunty dengar saat ini kamu sudah menjadi seorang model ternama ya?"
"Itu berlebihan, Aunty. Cla baru saja terjun ke dunia permodelan, dan syukurnya mereka menyambut Cla dengan baik." Jawab Clara tersenyum ramah.
__ADS_1
"Tentu saja, kau kan cantik dan berbakat. Benar kan, Arez?" Kata Alex melirik putra sulungnya. Sedangkan yang dilirik terlihat diam, seaakan tak tertarik dengan gadis itu.
"Kak, Daddy bertanya padamu. Cla cantik kan?" Alexa menyenggol lengan Arez.
"Hm."
Mulut Alexa ternganga saat mendengar jawaban singkat Arez yang sama sekali tak bermakna. "Dad, sebaiknya batalkan perjodohan ini. Dia sama sekali tak tertarik karena dihatinya sudah ada seseorang."
"Apa?" Pekik Alex dan Sweet bersamaan. Sedangkan Clara tampak kecewa mendengar hal itu.
"Ya ampun, apa Daddy dan Mommy tidak tahu? Seharusnya kalian melihat wanita bertopeng yang saat itu Kakak cium di pesta dansa, di hari ulang tahun Xella, Mom, Dad." Jelas Alexa mencoba mengingatkan kedua orang tuanya. Namun sayang, orang tuanya sama sekali tak tahu akan hal itu.
"Benar itu, Arez? Siapa gadis itu dan kenapa kau tak memberi tahu Mommy dan Daddy?" Tanya Alex penuh selidik.
"Benar, bahkan Mommy sudah membicarakan perjodohanmu pada orang tua Cla." Timpal Sweet seraya menggenggam tangan Clara. Seolah mengisyaratkan semuanya akan baik-baik saja.
Arez yang menatap sang Daddy dan Mommynya bergantian. "Seharusnya Mom and Dad tahu, aku tidak suka hal pribadiku di atur orang lain. Termasuk Mom and Dad sekali pun." Arez bangun dari posisinya, menatap Clara sekilas dan langsung beranjak pergi.
"Arez." Panggil Sweet merasa kaget dengan sikap Arez. Kini suasana pun menjadi canggung.
"Tunggu, Cla." Alexella menghampiri Clara.
"Aku rasa perjodohan ini bisa dilanjutkan, Daddy juga menjodohkanku dengan Jarvis. Lalu kenapa Kak Arez juga tidak bisa? Aku tahu siapa gadis itu, dia bukan orang baik. Kemungkinan besar dia salah satu pembunuh bayaran yang ingin nyawa Kak Arez. Buktinya sudah jelas, dia datang ke pesta dengan memakai topeng. Menutupi identitasnya." Jelas Alexella yang berhasil membuat semua orang terkejut. Kecuali Alexa.
"Aku kurang setuju," sanggah Alexa bangun dari posisinya. "Mungkin saja dia punya alasan kenapa dirinya menggunakan topeng. Kau selalu berpikir negatif pada orang lain, Xella. Itu sifat yang paling aku tak sukai darimu."
"Dan kau selalu bersikap baik pada semua orang, sampai kau melupakan bahaya yang selalu mengintai keluarga kita." Sengit Alexella tak terima dengan perkataan Kakaknya.
"Lexa, Xella, hentikan perdebatan kalian." Perintah Alex yang bisa membaca akan terjadinya pertengkaran antara kedua putrinya.
Alexa duduk pada posisinya kembali, begitu pun dengan Alexella.
"Cla, duduklah. Kita bicarakan ini baik-baik." Pinta Sweet pada gadis itu. Clara pun patuh dan duduk lagi di tempat semula.
__ADS_1
"Sabar, Sayang." Bisik Winter seraya mengusap lengan kekasihnya.
"Sifatnya tak pernah berubah, dia selalu berburuk sangka pada semua orang." Omel Alexa dengan nada pelan karena tak ingin membuat suasan menjadi runyam.
"Kita akan tetap melanjutkan perjodohan antara Arez dan Cla." Putus Alex. Dan itu berhasil membuat Alexella bernapas lega, tetapi tidak untuk Alexa.
"Dad, kita tidak bisa memaksanya. Aku mengenal dengan baik seperti apa Arez. Dia tak akan terima perjodohan ini. Aku juga menentang perjodohan Xella dan Jarvis. Tapi kalian tetap melanjutkannya, kali ini aku tidak akan diam lagi. Biarkan Arez mencari cintanya sendiri. Aku tidak ada maksud untuk menolak Clara masuk dalam keluarga kita, tapi bukan seperti ini caranya. Ini pemaksaan, mungkin Cla setuju dengan perjodohan ini. Lalu bagaimana dengan Kak Arez, Mom, Dad?" Alexa mulai meneteskan air matanya.
"Maaf jika aku lancang, tapi aku hanya ingin mewakili perasaan Kakakku, kembaranku. Tentu aku tahu perasaanya karena kami terikat satu sama lain. Karena itu aku selalu mendukung hubungan Arel dengan Sky, mereka saling mencintai satu sama lain. Kali ini aku juga akan mendukung Arez dalam menentukan cintanya." Timpal Alexa yang kemudian beranjak pergi. Winter pun ikut bangun dan mengekorinya di belakang.
Suasana di meja itu pun semakin canggung. Beruntung para tamu sudah banyak yang pulang dan hanya beberapa keluarga mereka yang tersisa.
"Sayang." Panggil Winter mencekal lengan Alexa saat gadis itu terus melangkan keluar dari mansion. Alexa pun berbalik, memeluk Winter dengan erat. Dan tangisannya pun pecah.
"Mommy dan Daddy selalu saja bersikap sesuka hati. Aku tahu betul perasaan Arez, bahkan aku tahu Xella juga merasa terbebani dengan perjodohan itu. Hanya saja anak itu sok kuat." Alexa pun menumpahkan segala aral dalam hatinya pada sang kekasih. Winter sama sekali tidak keberatan dan membiarkan gadisnya menangis.
"Jika kita punya anak nanti, biarkan mereka memilih cintanya sendiri. Seperti kita, Winter. Kita betemu secara tak sengaja dan aku terus mengataimu. Dan cinta kita tumbuh sejak itu juga. Itu sangat berkesan, Winter." Oceh Alexa yang berhasil menggelitik hati Winter. Lelaki itu pun tersenyum geli.
"Hm. Kau benar."
"Kau juga mendukungku kan? Kau teman Kakakku sejak lama, kau pasti mengenalnya juga."
"Tentu, Sayang. Arez selalu bersikap dingin pada semua wanita." Sahut Winter.
"Tidak semua, gadis bertopeng itu terkecuali. Buktinya Kakakku membiarkan gadis itu menciumnya. Aku rasa Kakakku sudah tertarik padanya." Alexa melerai pelukan mereka. Lalu mendongak agar ia bisa melihat wajah tampan sang kekasih.
"Aku juga merasakan hal yang sama. Gadis itu juga sangat menarik, dia menyembunyikan wajahnya. Aku jadi penasaran seperti apa wajah itu?"
Alexa melotot saat mendengar perkataan Winter. "Jadi kamu juga tertarik padanya huh? Kalau begitu pergi saja dan cari dia. Menyebalkan." Ketus Alexa menekuk wajahnya karena kesal.
Winter pun tergelak. "Kamu cemburu huh? Tadi itu aku cuma bercanda, Sayang. Mana mungkin ada wanita lain yang menarik perhatianku, sedangkan di depan mataku ada yang lebih menarik dan unik. Aku sudah mengelilingi seluruh dunia, tapi tak pernah menemukan gadis semenarik dirimu. Aku sangat mencintaimu, Baby. Kau hanya milikku seorang." Ujar Winter begitu tulus. Alexa benar-benar terbuai dengan ketulusan lelaki itu.
"Apa kau akan tetap mencitaiku meski aku tidak ada lagi di dunia ini, Winter?" Tanya Alexa dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Winter mengerutkan dahinya. "Apa yang kamu bicarakan huh? Tentu saja aku akan mencintaimu sampai akhir hayatku. Karena kamu gadis pertama dan terakhirku."
"Aku juga sangat mencintaimu, sampai maut yang memisahkan kita." Alexa sedikit berjinjit untuk mencium bibir kekasihnya. Winter yang begitu pengertian pun sedikit mengangkat pinggang ramping Alexa. Dan kini keduanya terhanyut dalam gelora cinta yang membara.