Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 35


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan sentuhan interior modern yang didominasi warna gold. Terlihat seorang wanita menggeliat dibalik selimut tebal saat sinar mentari mengingtip dari balik dinding kaca tanpa gorden. Yang langsung memperlihatkan pemandangan indah kota Berlin. Wanita itu tak lain adalah Alexella.


Alexella mengulum senyuman tipis karena wajah tampan Jarvis yang pertama kali ia lihat saat membuka mata. Suara dengkuran halus dari lelaki itu bagaikan irama merdu yang berhasil menggelitik hatinya. Ia juga masih ingat dengan jelas betapa panasnya malam tadi saat lelaki itu menggagahinya di atas ranjang empuk yang menjadi saksi bisu pergulatan mereka. Memporak porandakan seluruh jiwa dan raganya.


"I love you." Bisiknya. Jemari lentik itu mulai bergerak menggerayangi rahang tegas sang pujaan hati. Bahkan dengan berani ia mengecup bibir tipis penuh sensual itu. "Jangan pernah tinggalkan aku, Jarvis."


Alexella menatap benda yang melingkar indah di jari manisnya. Benda sakral yang kini telah mengikat dirinya pada lelaki itu. Lelaki yang amat ia cintai. Jarvis Leonard Schwarz, lelaki tampan yang kini sudah resmi menjadi suaminya.


"Catatan sipil? Buat apa kita ke sini?" Tanya Alexella saat kekasihnya memarkirkan mobil di depan gedung catatan sipil.


"Memangnya apa lagi yang akan dilakukan orang di sini huh?" Jarvis menatap Alexella sekilas. Kemudian ia pun beranjak turun dan mengitari mobil. Membukakan pintu untuk kekasihnya.


Alexella keluar dari mobil dengan perasaan bingung. Jarvis yang melihat itu tersenyum tipis. Menggenggam tangan gadisnya dan membawanya masuk.


"Hey, kau belum mengatakan mau apa kita ke sini? Bukannya kau... kau... em maksudku kita...."


"Bersabarlah, malam ini akan menjadi malam pertama kita yang tak terlupakan. Percayalah."


Alexella langsung menahan langkahnya saat mendengar itu. Jarvis ikut berhenti dan menoleh. "Why?"


"Katakan apa tujuanmu membawaku ke sini?" Tanya Alexella datar tanpa ekspresi.


"Sejak kapan kau secerewet ini huh? Ikut saja dan jangan banyak bertanya." Jarvis merengkuh pinggang ramping Alexella dan menyeretnya dari sana.


Kini Alexella sudah duduk cantik di dalam mobil Jarvis kembali. Mata indah itu terus terpatri pada surat nikah yang ada ditangannya, lalu pandangannya bergerak pada cincin indah yang melingkar di jari manis. Dan tanpa sadar ia mengulum senyuman tipis.


Apa ini mimpi?


Alexella mengalihkan pandangan pada Jarvis yang tengah fokus menyetir. Ia masih belum sepenuhnya percaya lelaki tampan itu sudah resmi menjadi suaminya.


"Kenapa kau diam? Bukankah sejak tadi kau terus menghujaniku dengan pertanyaan? Kemana semua pertanyaan itu huh?" Ujar Jarvis melirik sang istri.


Alexella langsung memalingkan pandangan ke arah lain. Ia hampir ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu.


"Kau tahu? Itu bukti jika aku sangat menghormatimu. Aku akan menyentuhmu setelah kita resmi menjadi sepasang suami istri. Jadi kau tidak berhak menolak untuk membayar taruhanmu malam ini. Aku ingin mendapat kepuasan yang lebih darimu, Baby. Dan kau harus ingat, aku tidak suka tidur dengan patung. Aku rasa kau paham perkataanku." Jelas Jarvis panjang lebar.


"Dan kau akan membuangku setelah mendapat kepuasan? Kau brengsek, Jarvis." Ketus Alexella.


Jarvis tertawa renyah mendengar itu. "Tenang saja, aku tak akan membuangmu secepat itu, tergantung bagaimana pelayananmu, Nona."


Mata Alexella terbelalak saat mendengar itu. "Brengsek! Aku bukan j*l*ng."


"Lalu? Pada akhirnya kau akan mengangkang juga bukan?"


"Jarvis! Aku akan membunuhmu."


Jarvis semakin tergelak mendengarnya. "Bunuh aku dengan jepitanmu, Sayang."


"Stop it! Kau mesum, Jarvis. Seharusnya aku menolak untuk menikah denganmu." Kesal Alexella dengan napas tersengal. Ia benci kemesuman lelaki itu. Namun ia juga mencintai lelaki itu dalam waktu bersamaan.


Lagi-lagi Jarvis tertawa penuh kemenangan. "Kau akan segera tahu semesum apa diriku, Baby." Alexella berdecih sebal. Ia malas untuk menanggapi lelaki itu lagi. Yang ada dirinya bisa tertular mesum.


Lamborghini hitam milik Jarvis pun meluncur menuju apartemen kediamannya. Membawa Alexella memasuki apartemen mewahnya dengan langkah pasti.


Alexella masih terdiam sambil meneliti seisi apartemen mewah itu. Hampir semua perabotan di sana memiliki harga fantastis. Namun bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan sebuah potret besar yang terpajang di dinding. Foto di mana Jarvis tengah mengecup kening seorang gadis dengan wajah yang tidak terlalu jelas. Karena posisi gadis itu menghadap ke arah Jarvis.

__ADS_1


Siapa gadis itu? Apa itu adiknya? Tapi aku tidak pernah mendengarnya memiliki adik.


"Bersihkan dirimu lebih dulu, Xella." Perintah Jarvis yang berhasil menarik perhatian Alexella. Gadis itu bergerak mengikuti langkah suaminya menuju kamar. Kamar berukuran besar yang begitu mewah dan megah.


Jarvi membuka jaketnya dan melempar asal di atas sofa. Kemudian lelaki itu menjatuhkan dirinya di sana. Namun tatapan tajamnya masih setia pada Alexella yang masih berdiri di tempatnya.


"Hey, mau sampai kapan kau berdiri di sana? Segera bersihkan dirimu."


Alexella tersentak kaget. Menatap Jarvis tanpa ekspresi. "Aku tidak punya pakaian."


"Tidak perlu mamakai apa pun, nanti juga kau akan melepaskan semuanya." Kata Jarvis dengan entengnya. Sedangkan Alexella terbelalak saat mendengar itu.


"Jangan menatapku seperti itu, Sayang. Kau membuatku tidak tahan." Jarvis bangun dari posisinya, menghampiri Alexella dengan langkah sensual.


Jarvis menyampirkan rambut istrinya kebelakang. Mengusap pipi kemerahan gadis itu dengan lembut. "Apa kau ingin mandi bersama denganku huh?"


"Tidak." Jawab Alexella dengan cepat.


"Kalau begitu cepatlah." Bisik Jarvis dengan suara sensualnya. Alexella memberikan tatapan datar dan menempelkan surat nikah mereka dengan kasar di dada Jarvis. Kemudian bergegas menuju kamar mandi. Jarvis tersenyum miring seraya menangkap surat itu yang hampir jatuh ke lantai. Kemudian bergegas menuju pembaringan. Menaruh surat itu di dalam laci. Selanjutnya berbaring dengan senyuman yang tak kunjung pudar.


"Xella... kau hanya milikku seorang." Gumamnya seraya memejamkan mata.


Lima belas menit kemudian, Alexella keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk yang melilit tubuh rampingnya. Rambut panjangnya juga ia cepol asal, hingga menampakkan leher jenjangnya yang mulus.


Alexella melihat ke arah Jarvis yang tertidur di ranjang. Kemudian matanya mengedar ke seluruh ruangan dan berhenti tepat di pintu walk-in closet. Gadis cantik itu bergerak cepat ke sana. Untuk mencari pakaian yang bisa ia gunakan.


Bibir Alexella sedikit berkedut mahan senyuman saat melihat susunan pakaian milik suaminya. Aroma maskulin menyeruak masuk memenuhi indra penciuman. Jari lentik itu mengabsen susunan kemeja sang suami, kemudian berhenti pada sebuah kemeja hitam. Tanpa ragu ia mengambil kemeja itu dan memakainya.


Putri bungsu Alexander itu terlihat menggemaskan saat mengenakan kemeja kebesaran milik Jarvis. Tidak ada yang mampu merontokkan pesona dalam dirinya. Apa pun yang dipakainya selalu memberikan kesan berbeda. Alexella memandang pantulan dirinya di balik cermin. Melepas ikatan rambutnya hingga surai coklat keemasan itu tergerai indah. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, memastikan penampilannya sudah sempurna. Dirinya ingin tampil cantik di depan sang suami di malam pertama mereka.


Setelah puas membenah diri, Alexella keluar dari closet, menghampiri Jarvis yang masih terlelap. Ia duduk di sebelah suaminya, memandang pahatan indah itu dengan seksama.


"Kau tidak mandi?" Tanya Alexella menatap netra gelap itu begitu dalam. Jarvis tersenyum dan tanpa aba-aba menarik gadis itu hingga menempel di dada bidangnya. Alexella memekik kaget dengan ulah suaminya. Memukul bahu Jarvis dengan kesal.


"Kenapa kau sangat cantik, Xella?" Bisik Jarvis dengan nada sensual.


"Karena aku wanita, Jarvis." Sahut Alexella memutar bola matanya malas. Juga tak berniat menjauh dari dekapan lelaki itu. Membiarkan hembusan napas keduanya saling beradu.


Sial! Kenapa dadanya sangat empuk. Belum apa-apa juniorku sudah bangun. Jarvis terus mengumpat dalam hati karena gadis di atasnya itu berhasil membuatnya sesuatu dibalik celananya berkedut.


"Aku meminjam pakaianmu," kata Alexella dengan santai. Menekan jari telunjuknya tepat dihati Jarvis, lalu memutarnya penuh sensual. Merasa terangsang, Jarvis memutar posisinya menjadi di atas Alexella.


"Jangan menggodaku, Xella." Desis Jarvis saat tak bisa menahan gejolak dalam dirinya lagi.


"Hey, aku sama sekali tak menggodamu. Kau yang menarikku tadi." Kesal Alexella tak terima dengan tuduhan lelaki itu. "Mandilah Jarvis, cuci tubuhmu sampai bersih. Kau baru menyentuh j*l*ngmu itu. Menjijikan."


Jarvis tersenyum penuh arti. "Tidak pernah ada yang berani memerintahku, Xella. Jadi...."


"Karena itu aku memerintahkanmu untuk mandi, Jarvis. Mulai sekarang aku yang akan mengatur hidupmu. Suka atau tidak kau harus terima." Potong Alexella dengan tatapan dingin dan menusuk.


Jarvis melebarkan netra kelamnya mendengar itu. Lalu mendengus kesal karena sikap otoriter istrinya itu. "Kau berani mengaturku huh?"


"Ya, aku istrimu. Kau harus ingat, kita sudah menandatangai surat perjanjian."


Jarvis tertawa lucu. "Di dalam surat itu tak ada aturan yang mengatakan kau boleh mengatur hidupku, Sayang."

__ADS_1


"Lalu? Kau pikir aku akan percaya padamu jika kau tak akan menyentuh j*l*ng-j*l*ngmu itu lagi huh? Aku tahu siapa dirimu, Jarvis." Tegas Alexella mendengus kesal.


"Aku akan berhenti, selagi kau melayaniku setiap aku membutuhkanmu. Kau tahu siapa suamimu ini dengan baik, jadilah istri penurut." Jarvis tersenyum miring.


"Aku akan menjadi istri penurut selagi kau menjadi suami bertanggung jawab Jarvis. Aku tidak suka diduakan atau dikhianti."


"Aku tahu itu, karena itu kau selalu membenci wanita yang merebut Kakak-Kakakmu. Kau merasa tersaingi karena kasih sayang mereka mulai terbagi. Apa aku benar, Sayang?"


Alexella terkejut mendengar itu. Bagaimana bisa dia tahu itu? Apa dia memperhatikanku selama ini?


"Kau sangat serakah, Sayang. Dan aku suka itu. Aku hanya milikmu, Xella." Imbuh Jarvis hendak mencium bibir gadis itu, tetapi Alexella langsung menghindar. Jarvis merasa geram, ingin sekali rasanya ia mencabik-cabik gadis itu sekarang juga. Beruntung ia masih waras, jika wanita dibawahnya itu tak sama dengan j*l*ng yang sering ia sewa.


"Sudah aku katakan, bersihkan dirimu lebih dulu. Kau bekas orang lain, Jarvis."


"Kau yang akan membersihkannya, Xella." Jarvis geram, mencengkram rahang Alexella agar wanita itu menatapnya. "Tatap mataku, Xella."


Alexella pun menurut. Namun tatapan itu tak pernah berubah, dingin dan begitu menusuk. "Jangan menciumku, mulutmu bekas orang lain."


"Aku tak pernah mencium atau menerima ciuman mereka, Xella. Hanya istriku yang berhak merasakan ciuman dari bibir seksiku." Alexella menatap netra kelam itu begitu dalam. Terus masuk lebih dalam dan mencari sebuah kebohongan. Namun ia tak menenukan jejak kebohongan itu di sana.


Bibir Jarvis segara meraih bibir Alexella saat tak ada lagi penolakan darinya. Melahapnya dengan begitu rakus dan menuntut. Namun Alexella masih sangat kaku dan awam dalam hal itu.


"Buka mulutmu, Baby."


Alexella memejamkan matanya mencoba mengikuti permainan gila suaminya. Hingga Alexella mengingat sesuatu. Dengan kasar ia mendorong suaminya. Jarvis terkejut dan menggeram kesal.


"Apa lagi?" Geramnya.


"Malam ini aku punya janji dengan seseorang." Kata Alexella yang lagi-lagi membuat Jarvis menggeram kesal. Padahal dirinya benar-benar sedang turn on.


"Kau bisa mengundurnya besok." Kesal Jarvis kembali melanjutkan aksinya. "Kau sangat seksi, Sayang. Kau memang sengaja menggodaku huh? Kau tak memakai apa pun di dalam sana, kau sangat nakal."


"Jarvis, tolong lakukan dengan lembut. Aku takut."


Jarvis tersenyum devil. "Tentu, Sayang. Aku tahu ini pertama kali untukmu. Tidak perlu tegang, Sayang. Rileks dan nikmati setiap sentuhanku."


Alexella memeperdalam tatapannya. "Apa kau mengatakan itu pada setiap wanita bayaranmu?"


"Tidak, hanya untukmu. Aku tak akan banyak bicara saat memakai mereka."


"Aku sudah menunggumu cukup lama, Xella." Desis Jarvis seraya mencecap bibir manis sang istri.


"Apa maksudmu, kau menungguku?" Tanya Alexella bingung. Bahkan tanpa sadar tangan lentik itu sudah menempel di rahang tegas Jarvis.


Jarvis teridam sejenak. "Lupakan itu, mari lanjutkan hukuman atas kekalahanmu, Sayang. Aku ingin mendengar suara merdumu saat menyebut namaku." Jarvis begitu lihai dalam setiap sentuhannya. Membuat gadis tak berpengalaman itu menggeliat tak menentu.


Jarvis dapat mendengar suara detak jantung istrinya yang menggebu-gebu dengan bola mata yang menggelap. Menandakan jika gadisnya itu menginginkan hal yang sama. Jarvis tersenyum puas karena berhasil merusak kepolosan istri kecilnya itu. Dan permainan panas itu tentu saja berlanjut sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan masing-masing.


Alexella menarik selimut tebal yang sedikit melorot, menutup tubuh polos yang terasa remuk akibat ulah suaminya. Hingga ia dikejutkan dengan benda kenyal dan hangat yang menempel di keningnya. Membuat tubuhnya membeku seketika. Kecupan pagi dari sang suami, membuat darahnya berdesir hangat.


"Morning, my little wife." Sapa Jarvis dengan suara seraknya. Lalu merengkuh tubuh ramping itu agar lebih dekat dengannya. Alexella sama sekali tak bergerak. Ia masih membeku dalam posisi itu.


Karena tak mendapat jawaban, Jarvis menunduk untuk melihat wajah sang istri. Memastikan gadisnya itu sudah terbangun. "Kenapa tak membalas ucapanku huh?"


Alexella menggeleng pelan, lalu membenamkan wajahnya di dada Jarvis. Ia masih sangat malu dan gugup untuk mematap mata tajam Jarvis. Penggalan memori malam tadi membuatnya ingin tenggelam ke inti bumi dan menghilang secepat kilat.

__ADS_1


"Aku suka kenakalanmu malam tadi, Sayang. Kau begitu liar di atasku. Aku tak bisa melupakan itu. Sikapmu yang seperti itu membuatku takjub."


Aku juga suka saat kau terus memelukku seperti ini, Jarvis. Aku mencintaimu. Akan kupastikan tak akan ada wanita lain yang berani menyentuhmu. Kau hanya milikku.


__ADS_2