
Claire meremat jemari Melvin yang terus menggenggamnya ketika Deena menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini. Kini ia tahu jika lelaki yang dianggap sebagai Ayah kandungnya itu ternyata sepupu dari Ayah kandung Claire yang sebenarnya.
Noah, sepupu Jordan itu tanpa diduga jatuh cinta pada Deena sejak pandangan pertama. Padahal lelaki itu sudah tahu jika Deena adalah istri sepupunya. Noah merupakan lelaki penuh ambisi, akan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Karena itu ia terus mengganggu Deena meski sudah memiliki seorang anak kala itu. Karena merasa terganggu, Jordan pun membawa Deena dan anaknya pindah. Kehidupan mereka pun kembali tentram setela menjauh dari lelaki itu.
Namun, siapa sangka jika satu bulan setelah kelahiran Claire. Noah kembali mengganggu keluarga kecil Deena. Bahkan menculik Claire yang masih bayi saat itu hanya untuk mendapatkan Deena, menjadikan bayi kecil itu sebagai ancaman. Jordan yang tak ingin kehilangan putrinya pun mendatangi lelaki itu. Mencoba bernegosiasi. Sayangnya Noah tidak bisa dibujuk, dan menyatakan jika Claire sudah ia jadikan makanan hewan buas. Tentu saja Jordan marah besar, alhasil mereka pun saling menyerang satu sama lain. Sialnya saat itu Jordan kalah, ia tertembak dan jatuh ke jurang. Menyebabkan dirinya koma sampai detik ini. Sedangkan Noah kabur tanpa jejak.
Karena suaminya mengalami koma dan putra pertamanya masih kecil. Deena pun berusaha menghidupi mereka. Namun, tidak lama dari itu keluarganya kembali mendapat teror yang mengerikan. Alhasil ia pun memutuskan untuk pindah ke sebuah pulau yang belum banyak diketahui orang, sebuah pulau terpencil. Dan menjadikannya tempat persembunyian. Bahkan ia memutus hubungan dengan siapa pun demi keamanan keluarga kecilnya. Ia tahu Noah pasti akan kembali mencarinya. Selama itu juga, Deena mencari keberadaan putri kecilnya dengan segala cara. Ia percaya Claire masih hidup.
Namun, selama belasan tahun ia tak kunjung menemukan keberadaan putrinya. Ia pun menyerah dan meyakinkan hatinya jika Claire sudah tiada. Deena tidak pernah tahu jika selama ini Noah mengubah identitas dan wajahnya karena menjadi buronan. Karena itu ia tak pernah menemukan jejaknya. Begitu pun dengan Noah yang tak bisa menemukan keberadaan Deena karena pulai itu sudah diblokir sepenuhnya. Dan hanya meninggalkan sebuah kode khusus. Kode itu juga yang mempertemukannya dengan sang putri setelah sekian lama.
"Lalu teror itu, siapa pelakunya?" Tanya Melvin penasaran.
Deena menatap pemuda itu lekat. "Aku sempat meminta bantuan Ayahmu untuk mencari tahu. Dan orang itu ternyata musuh lama kami. Mereka tahu aku dalam kondisi lemah. Karena itu menargetkanku. Pada akhirnya Arez memintaku untuk pergi ke tempat ini. Dialah yang memilih tempat ini. Dia juga pemilik tempat ini."
"Apa?" Kaget Melvin. "Jadi Ayahku tahu di mana keberadaan kalian? Tapi dia selalu bilang tidak tahu jika Mommy menanyakanmu."
Deena menghela napas berat. "Aku yang minta agar Arez tak memberi tahu Ibumu. Aku tahu Sabrina orang yang seperti apa. Dia pasti akan terus mencemaskanku jika tahu kondisi keluargaku."
Melvin mengangguk paham. "Lalu bagaimana dengan peneror itu?"
"Ayahmu sudah membereskannya."
"Lalu, kenapa Mommy masih bersembunyi?" Kali ini Claire ikut bertanya.
Deena menunduk sambil meremat bajunya. "Aku lari dari kenyataan. Aku tak bisa merelakanmu. Jika aku kembali, aku hanya akan terluka karena terus dihantui rasa bersalah padamu. Aku pikir tempat ini lebih cocok untuk tempat menenangkan diri. Meski aku tak bisa memaafkan diriku sepenuhnya."
Claire bangkit, lalu duduk di sebelah Deena dan memeluknya erat. "Sekarang aku baik-baik saja, Mom."
Deena memeluk putrinya dengan erat. "Aku sangat bersyukur kau kembali, Dayana. Ah, sepertinya kau lebih suka dengan nama Claire ya?"
Claire menggeleng. "Panggil saja nama asliku, Mom."
Deena mengecup kening putrinya dengan lembut. "Aku akan terus melindungimu."
"Aku yang akan melindungi kalian. Itu janjiku." Sambar Melvin dengan senyuman tulusnya.
Deena tersenyum padanya. "Aku percaya padamu."
Tidak lama dari itu, seorang pemuda datang. Namun tak menyadari keberadaan Melvin dan Claire karena sibuk memeriksa barang bawaannya. "Mom, aku sudah membeli semua yang kau minta. Ini...." ucapannya pun tertahan saat melihat keduanya. Lalu mata pemuda itu terhenti pada Claire.
Bruk!
__ADS_1
Barang yang dipegang lelaki itu pun jatuh ke lantai. Sontak Deena, Claire dan Melvin pun bangkit.
"Jef." Panggil Deena. "Kemari dan sapa adikmu."
Pemuda bernama Jef itu melangkah perlahan dengan tatapan masih tertuju pada Claire. Terlihat matanya yang berkaca-kaca.
Grep!
Jef menarik Claire dalam pelukannya. Ia tidak butuh penjelasan apa pun dan sangat yakin jika gadis dalam pelukannya itu memang adiknya. Karena setengah jiwanya yang hilang seolah terisi kembali. Seketika air matanya pun meluncur.
Deena dan Melvin yang melihat itu tersenyum.
"Kakak." Lirih Claire membalas pelukan Jef dengan erat. "Aku tidak tahu jika memiliki Kakak setampan dirimu."
Jef tersenyum di sela tangisannya. "Aku juga tidak tahu jika adikku sangat cantik."
Claire tertawa kecil. "Bagaimana kau yakin aku adikmu?"
"Tentu saja aku yakin, kau sangat mirip dengan Mommy. Aku selalu menunggu kau pulang, Ana." Jef semakin mengeratkan pelukannya.
Claire mendongak. "Ana?"
Claire tertawa kecil. "Tapi aku ragu jika kau Kakakku, rambut kita berbeda."
Jef ikut tertawa. "Aku sangat merindukanmu."
Claire mengangguk dan keduanya kembali berpelukan hangat. Seolah melepaskan segenap rasa rindu yang mungkin tak akan terobati meski mereka berpelukan sampai besok.
Deena tersenyum haru melihat interaksi keduanya. Meski lama terpisah, hubungan keduanya penuh kasih. Mungkin benar, ikatan darah tak akan bisa terpisahkan oleh jarak dan waktu.
Melvin mendekati Deena, lalu merengkuh pundak wanita paruh baya itu lalu berbisik. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan pastikan putrimu tidak akan pergi lagi."
Deena tersenyum. "Aku tidak percaya padamu, suatu saat kau pasti akan mengambilnya dariku."
Melvin tersenyum. "Jika kau mengizinkan. Aku akan menikahi putrimu setelah usianya cukup."
Deena menyenggol perut Melvin dengan sikunya. "Berikan kami waktu untuk melepas rasa rindu. Apa kau tega memisahkan kami lagi huh?"
Melvin tertawa kecil. "Kalau begitu kau harus kembali ke rumahmu. Jangan cemas masalah Uncle Noah. Sepertinya Daddy sudah mengawasinya sejak lama. Dia tidak akan selamat jika berani mengusik lelaki tua itu."
"Dasar anak durhaka. Kau mengatai Ayahmu huh?" Kesal Deena.
__ADS_1
"Oh, jadi kau masih menyukai lelaki tua itu huh?" Goda Melvin.
Deena tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyesal pernah menyukai Ayahmu. Karena dia hidup kami aman."
"Wah, jadi kau sudah melupakannya huh?" Goda Melvin lagi.
"Berhenti menggodaku. Kau sama saja dengan Ibumu." Kesal Deena menyandarkan kepalanya di dada Melvin. "Aku merindukan Ibumu."
"Ayo kembali. Uncle butuh perawatan khusus. Sudah cukup kalian bersembunyi." Ajak Melvin dengan tatapan masih tertuju pada sang kekasih yang masih bercengkrama dengan Kakaknya.
"Katakan saja kau tidak ingin jauh-jauh dari putriku bukan?"
Melvin tersenyum. "Siapa suruh kau melahirkan putri cantik sepertinya. Karena itu jangan membuatku merindukan putrimu. Karena jika aku rindu, aku tak akan segan menculiknya."
"Cih, dasar bucin."
****
Melvin terus menatap Claire yang saat ini tengah tidur begitu nyenyak. Ia sengaja menyelinap ke kamar kekasihnya itu.
"Bagaimana bisa kau mencuri hatiku huh? Padahal awalnya aku hanya ingin menjadikanmu salah satu koleksiku. Sayangnya kau terlalu cantik untuk dipermainkan. Aku mencintaimu, Claire." Melvin menyingkirkan anak rambut yang mengalangi wajah cantik kekasihnya. Lalu mengecup bibir tipis Claire. Kemudian ia pun ikut masuk ke dalam selimut, memeluk gadis itu dan ikut tidur.
Pagi hari, Melvin terbangun dan tak menemukan kekasihnya. "Sayang?" Panggilnya dengan suara serak. Namun tak ada sahutan. Melvin bangun, lalu berjalan malas ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Melvin mencari keberadaan kekasihnya. Dan berpapasan dengan Jef. Lelaki tampan itu tersenyum. Melvin pun membalas senyumannya, lalu bertanya. "Di mana Claire? Ah, maksudku Ana."
"Sepertinya dia ikut Mommy ke dermaga untuk mengambil beberapa bahan makanan." Jawab Jef.
Dahi Melvin mengerut. "Sejak kapan?"
Jef tersenyum. "Tidak perlu cemas begitu. Adikku tidak akan kabur. Setengah jam lagi mereka pulang." Ucapnya seraya menepuk bahu Melvin. Lalu berlalu begitu saja.
Melvin menghela napas berat. Lalu beranjak ke luar.
Benar saja, Claire dan Deena kembali setengah jam kemudian. Melvin yang sejak tadi menunggu pun terlihat senang.
"Kenapa lama sekali?" Tanyanya. Namun, ia hanya mendapat tatapan tak bersahabat dari kekasihnya itu. Bahkan Claire melewatinya begitu saja. "Hei...."
Deena menepuk lengan lelaki itu. "Sepertinya kau akan gagal membawa putriku pulang. Cepat pikirkan apa kesalahanmu. Aku masuk dulu."
Lagi-lagi Melvin pun ditinggalkan. "Memangnya apa salahku?"
__ADS_1