Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (94)


__ADS_3

Marvel menatap benda ditangannya lekat. Lalu memejamkan mata sejenak karena benda itulah yang membuat adiknya jadi seperti ini.


Lea mengambil benda itu dari tangan Marvel dan memperhatikannya dengan seksama. "Ya Tuhan! Bagaimana benda ini masih ada di sini?" Ditatapnya Marvel lekat. "Bukankah kau sudah memusnahkannya?"


Sabrina mendatangi putranya. "Apa ini?" Tanyanya.


Lea menatap Sabrina. "Ini rekaman cctv di hari kejadian Emilia menaruh obat ke dalam minuman Eveline, Aunty." Jawabnya yang langsung dapat cubitan dari Violet. Pasalnya tidak semua orang mereka beri tahu soal itu termasuk sabrina. Lea kaget sendiri karena baru sadar ia keceplosan.


Sabrina menutup mulutnya tak percaya. "Emilia?" Tubuhnya lemas seketika, beruntung Arez dengan sigap menahan tubuh istrinya itu.


"Apa-apaan ini? Emilia yang membunuh janin dalam perut Eveline?" Sembur Alexella.


"Apa lagi ini, Marvel?" Imbuh Sky menatap keponakannya tak percaya.


"Sudah aku katakan jangan menyembunyikan apa pun, kebenaran akan selalu terungkap cepat atau lambat. Urus saja masalah kalian, aku pusing. Ayo, Baby." Melvin pun langsung membawa Claire pergi dari sana karena sejak awal tak sependapat untuk menyembunyikan semuanya.


Violet baru sadar apa yang terjadi sebenarnya, ia bisa menebak Emilia menangis pasti karena Eveline yang menemuinya. Buru-buru dia pergi ke kamar sahabatnya itu.


Sabrina menatap Marvel lekat. "Kenapa kau tidak mengatakan hal itu pada Mommy, Marvel?"


Marvel tidak menyahut.


"Jika kau tahu Emilia yang melakukan itu, lalu kenapa kau menikahinya, Marvel? Itu sama saja kau melindungi pembunuh." Alexella kembali melayangkan pertanyaan menohok pada Marvel.


Marvel menantap Alexella datar. "Aku punya alasan."


"Apa karena wanita itu yang melahirkan putramu? Ya Tuhan, Marvel. Bisa saja dia sengaja menjebakmu, dia pasti punya niat terselubung." Sembur Alexella lagi.


"Dia bukan wanita seperti itu, Aunty." Sahut Lea. "Emilia terpaksa melakukan itu karena Noah disekap oleh Rose. Dia dibawah ancaman. Jika aku diposisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Saat orang lain menculik dan mengancam akan membunuh anak kita, apa kita akan diam saja? Posisinya saat itu tak berdaya, Aunty. Emilia tak punya siapa-siapa dan kekuatan untuk melawan musuh. Dia dan Eveline sama-sama korban, mereka memanfaatkan putranya untuk menghancurkan keluarga kita. Padahal Emilia bukan siapa-siapa kita saat itu. Bahkan dia tidak tahu putranya adalah anak Marvel."


Mendengar penjelasan panjang Lea, semua orang pun mendadak bungkam.


"Di sini kitalah yang bersalah pada Emilia, karena menariknya dalam penderitaan. Bahkan wanita itu dengan segenap penderitaannya sudah membesarkan darah daging keluarga ini. Apa salah jika Marvel ingin bertanggung jawab padanya? Menikahi dan memberikan tempat perlindungan untuknya?" Imbuh Lea dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa ia merasa kasihan pada Emilia.


"Wajar dia membesarkan anak itu, karena dia anaknya, Lea. Tapi membunuh darah daging keluarga ini itu artinya dia punya nyali." Balas Alexella menatap Lea sengit.


Lea tersenyum getir. "Aunty berpikir seperti itu karena punya segalanya." Ditatapnya semua orang bergantian. "Kita semua dibesarkan oleh keluarga yang memiliki segala hal, mudah bagi kita untuk melawan siapa pun yang ingin menghancurkan nama keluarga ini. Tapi tidak untuk Emilia, dia hidup sebatang kara. Membesarkan seorang anak saja sudah membuatnya menderita karena harus susah payah membanting tulang. Lalu ia dihadapkan dengan masalah seberat itu, Rose menculik putranya dan mengacamnya. Ia dibawah tekanan terpaksa melakukan semua itu. Demi menyelamatkan satu-satunya harta yang ia punya. Noah hartanya yang paling berharga, Aunty. Sebagai seorang Ibu, aku rasa Aunty tahu bagaimana perasaannya."

__ADS_1


Lagi-lagi penjelasan Lea berhasil membuat Alexella kalah telak. Bahkan tak ada lagi yang berani mencerca Emilia.


"Eveline memang korban yang sangat kita sayangkan karena dia kehilangan calon anaknya, dan dia keluarga kita. Lalu bagaimana dengan Emilia yang hampir kehilangan putranya? Jika semua ini tidak terjadi, kita tidak akan pernah tahu jika Noah adalah darah daging keluarga kita. Untuk masalah Eveline, dia hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. Salah kami juga karena sejak awal menyembunyikan kebenaran ini." Lea menghela napas panjang. Tak pernah menyangka ia akan banyak bicara seperti ini hanya karena masalah pelik saudaranya itu.


"Aku mohon jangan hakimi Emilia sepihak. Juga jangan membencinya meski dia bersalah sekali pun. Dia sudah kehilangan satu ginjalnya akibat kemarahan Lucas. Aku rasa itu sudah cukup membalas perbuatannya." Setelah mengatakan itu Lea pun beranjak pergi dari sana. Meninggalkan semua orang yang terdiam membisu.


Marvel menatap sang Mommy lekat. "Eveline mungkin putrimu, Mom. Tapi Emilia istri dan Ibu dari putraku. Aku akan terus melindunginya apa pun yang terjadi. Meski aku harus melawan restumu." Setelah mengatakan itu Marvel pun ikut meninggalkan mereka semua.


Tubuh Sabrina semakin lemas. Dengan sigap Arez menggendong dan membawanya pergi dari sana. Sedangkan yang lain masih ditempat dengan raut bingung.


Di kamar, Violet terus memeluk Emilia yang tersedu dan masih ketakutan.


"Sudahlah, aku akan selalu berada di pihakmu. Kau tidak perlu takut. Suamimu juga akan melindungimu dan Noah. Dia lelaki bertanggung jawab sejauh ini." Violet berusaha meyakinkan Emilia.


"Tapi aku sudah menghancurkan hubungan keluarga ini, Vi. Aku tidak seharusnya berada di antara kalian. Aku hanya datang dan menjadi pengacau. Ayahku benar, aku hanya pembawa sial bagi semua orang." Lirih Emilia.


"Berhenti bicara omong kosong." Protes Violet tak setuju dengan ucapan sahabatnya itu.


"Aku hanya ingin hidup tenang bersama putraku, hanya itu yang aku inginkan dalam hidupku." Tangisan Emilia pun semakin dalam. Ia sangat sedih dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Kenapa Tuhan begitu kejam padaku, Vi? Dia mengambil Ibuku, satu-satunya orang yang mencintaiku sepenuh hati. Lalu dia mengirim malaikat kecil padaku, tapi Tuhan juga memberikan ujian yang amat sulit aku hadapi. Kenapa hidupku tak pernah seberuntung orang lain? Apa aku benar-benar manusia pembawa sial? Bahkan dalam kehidupanku sendiri. Jika aku bisa memilih, aku tak ingin dilahirkan ke dunia yang kejam ini, Vi. Aku tidak percaya Tuhan itu adil."


Emilia dan Violet belum sadar jika Marvel sejak tadi sudah berdiri di ambang pintu. Mendengarkan semua pembicaraan mereka. Hatinya tercubit saat mendengar perkataan sang istri. Pelan tapi pasti Marvel mendekat ke arah mereka.


Violet yang menyadari kehadiran sepupunya itu langsung menoleh. Lalu memberikan tatapan sedih padanya.


Emilia menarik diri dari dekapan Violet, lalu menatap suaminya lekat. "Ceraikan aku, Marvel." Pintanya dengan nada pelan. Sontak Marvel dan Violet kaget mendengarnya.


"Aku tidak mau hidup kalian juga ikut sial karenaku." Emilia terlihat depresi, ia menghapus jejak air matanya. "Biarkan aku pergi, jaga Noah untukku."


"Em." Violet kembali memeluknya. "Jangan bicara seperti itu." Tangisan Violet pun pecah.


Marvel menatap istrinya itu lekat. "Sudah cukup." Katanya kemudian.


Emilia menatapnya dengan tatapan kosong. Tak ada lagi secercah harapan di sana, dan itu sangat melukai hati Marvel. Ia tahu kejadian hari ini membuat Emilia sangat terguncang.


Violet menarik diri, lalu menyeka air matanya. Digenggamnya tangan Emilia lembut. "Tolong jangan berpikir untuk pergi, Em. Aku dan Marvel akan selalu ada dipihakmu selepas apa pun yang terjadi kelak. Kau tidak bersalah. Aku harus pergi. Tolong pikirkan lagi semuanya."

__ADS_1


Violet pun bangkit dari duduknya, lalu bergegas pergi dari sana. Memberikan ruang pada mereka.


Sepeninggalan Violet, Marvel duduk di sebelah istrinya yang masih diam mematung. Digenggamnya jemari Emilia lembut. "Sudah cukup, kau harus istirahat. Setelah itu ayo kita pergi."


Mendengar itu Emilia pun menoleh. "Di mana Noah?" Tanyanya panik karena baru ingat putranya itu sejak tadi tak terlihat.


"Dia bersama Zhea dan putranya." Jawab Marvel menyeka sisa air mata di pipi Emilia. Seketika rasa panik Emilia pun berkurang.


Emilia meremat jas suaminya. "Bawa dia kemari, Marvel." Pintanya penuh harap. Ia hanya ingin melihat putranya baik-baik saja.


Marvel mengangguk. "Tunggu sebentar." Diusapnya pipi Emilia lembut. Emilia mengangguk kecil, lalu Marvel pun beranjak dari sana.


Emilia pun menunggunya dengan sabar. Dan tidak perlu lama Marvel sudah kembali bersama putra mereka.


"Mami!" Teriak anak itu dengan senyuman polosnya ia menatap Emilia bahagia. Sebagai anak kecil tentu saja ia tak tahu menahu soal kejadian yang menimpa orang tuanya.


Emilia tersenyum bahagia karena Noah baik-baik saja. Bahkan anak itu terlihat tampan dengan pakaian formalnya. Marvel duduk kembali di sebelah Emilia, lalu Noah pun berpindah dalam pelukan sang Mami.


"Mami rindu, Sayang." Dikecupnya anak itu penuh sayang, lalu kemudian memeluknya erat.


Noah tersenyum seraya memeluk Maminya erat. "Noah tadi main dengan Kakak Prince, Mami." Adunya.


Emilia tersenyum seraya melerai pelukan dan menatap wajah tampan putranya. "Oh ya? Main apa saja?"


Noah pun mulai berceloteh ria, dan itu berhasil membuat Emilia kembali tertawa. Tentu saja Marvel bahagia melihatnya. Sekarang ia semakin sadar jika Noah tak akan pernah bisa ia tandingi. Bahkan dalam sekejap anak itu bisa merubah suasana hati istrinya.


Marvel mengacak rambut putranya itu karena gemas. "Ayo kita pergi bersama." Ajaknya yang berhasil membuat keduanya menoleh. Terutama Emilia, ia menatap Marvel bingung.


"Sudah seharusnya aku membawa kalian bersenang-senang." Diusapnya kepala Emilia lembut. Siapa sangka wanita itu tersenyum lebar.


"Ke mana?" Tanyanya kemudian.


Marvel terdiam sejenak. "Ke tempat yang kau sukai." Jawabnya.


Emilia tertawa kecil. "Apa kau ingin mengajak kami liburan?"


"Jadi kau ingin liburan?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu senyuman di wajah Emilia pun langsung hilang digantikan dengan raut kesal. "Kau tidak akan pernah berubah, menyebalkan." Ketusnya yang berhasil membuat Marvel bingung.


Apa aku salah bicara?


__ADS_2