
Alexella berjalan pasti menuju perusahaan. Memasuki sebuah ruangan besar dengan berbagai jenis kamera di sana.
"Cla, aku ingin bicara padamu." Alexella menarik Clara yang tengah melakukan foto shoot ke ruang rias. Gadis itu cukup kaget dengan apa yang Alexella lakukan. Beruntung yang melakukan itu Alexella, jika bukan mungkin semua orang akan memakinya.
"Xella, apa yang kau lakukan? Aku sedang bekerja." Kesal Clara menjauhkan tangan Alexella darinya.
Alexella duduk di sebuah kursi dengan kaki tersilang. Menatap gadis cantik berpakaian mini itu dengan seksama. "Bantu aku untuk yang terakhir kalinya."
Clara memutar bola matanya malas. "Jika itu menyangkut Kakakmu, aku menyerah. Aku sudah mundur sejak awal." Tegas Clara.
"Bukan itu, aku punya sesuatu yang harus di buktikan. Bantu aku kali ini saja, aku rasa kau bisa membantuku kali ini." Ujar Alexella penuh teka teki.
"Apa lagi yang kau rencanakan? Kakakmu sudah bahagia dengan pilihannya. Kakakku yang mengatakan itu sendiri. Dia sudah menikah, aku tidak punya harapan." Ketus Clara yang sebenarnya cukup malas berhubungan dengan keluarga itu lagi.
"Kali ini bukan tentang Kakakku. Aku tidak bisa membicarakan itu di sini. Datanglah ke alamat yang akan aku kirim padamu malam ini." Alexella bicara sedikit berbisik. Sedangkan Clara mengerut bingung.
"Jangan menyembunyikan apa pun dariku, Cla. Aku tahu apa yang sedang kau lakukan dibelakangku saat ini." Timpal Alexella merubah raut wajahnya menjadi sedingin es. "Kau sudah berani bermain api dengan keluargaku."
Clara terhenyak mendengar itu. "Apa maksudmu?"
"Jam sembilan, aku akan menunggumu. Jika kau tidak datang, maka rahasiamu akan terbongkar." Pungkas Alexella beranjak pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Clara yang masih bergeming dengan wajah pias.
Alexella membenamkan wajahnya di setir. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan masalahnya saat ini. "Sialan kau Jarvis." Umpatnya seraya memukul setir dengan keras. Cukup lama Alexella terdiam di sana.
Setelah perasaanya jauh lebih tenang, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Amarah dihatinya masih belum padam. Bayangan Jarvis bersenggama dengan salah satu model perusahaan membuatnya terbakar api cemburu. Ya, tadi ia sempat melihat Jarvis sedang berbuat mesum di toilet bersama salah seorang model.
"Berubah kau bilang? Sejak lahir sudah ditakdirkan brengsek ya brengsek saja." Alexella terus mengomel sepanjang jalan. Mungkin dulu ia tidak akan semarah ini, tetapi saat ini Jarvis sudah berjanji padanya untuk tidak meyentuh j*l*ng lagi. Namun semua itu hanya bualan karena Jarvis masih berani menyentuh wanita murahan.
Alexella menyeringai, memutar haluan menuju kediaman. Menukar mobil ferrari cantik miliknya dengan mobil Lambhorgini Huracan Spyder berwarna hitam pekat miliknya yang sudah lama tak ia gunakan. Terakhir kali ia menggunakan mobil itu saat dirinya merayakan kelulusan dengan teman-temannya di area balapan liar. Kali ini ia akan menggunakannya lagi.
Alex menghadiahi Lambhorgini itu karena Alexella terus merengek ingin memilikinya. Dan tak pernah menyangka Alexella menggunakan kendaraan itu untuk balapan liar di usianya yang masih dibawah umur.
"Hy Spyder, aku harap kau masih memberikan keberuntungan padaku." Alexella mamasuki mobil itu dengan perasaan senang. Melajukan kendaraan mewah itu dengan kecepatan penuh. Dan tak menyadari sang Daddy melihat kepergiannya dari lantai atas.
"Dasar anak nakal." Alex tersenyum simpul. Kemudian meninggalkan balkon dengan langkah pelan. Alex begitu menyayangi Alexella, bohong jika ia tak tahu apa yang putrinya lakukan selama ini. Hanya saja ia memilih diam, membiarkan Alexella mencari jati dirinya sendiri. Asalkan tidak melewati batas. Dan Alex menyembunyikan kenakalan putrinya dari Sweet. Istrinya itu terlalu keras dalam mendidik anak-anaknya, karena itu ia selalu memberikan kesempatan untuk Alexella mengenal dunia luar. Namun saat di rumah, Alex akan membiarkan istrinya yang memegang kendali.
Alexella menekan rem di tempat tujuan yang disambut sorak sorai semua orang. Tempat dimana berbagai jenis mobil mewah dan beranekan ragam anak manusia di sana. Tidak terkecuali Jarvis yang saat ini tengah duduk di kap mobil mewahnya. Menyesap rokok dengan gaya sensual. Menatap ke arah Lambhorgini milik Alexella yang masih asing di matanya.
Alexella keluar dari dalam mobil dengan penuh keanggunan. Surai coklat keemasan miliknya melambai indah seolah menyapa setiap mata yang memandang. Suara cuitan dan siulan para lelaki menggema kala melihat bidadari cantik itu berjalan dan duduk di kap mobil dengan gaya sensual. Alexella membuka kaca mata hitam yang bertengger indah di hidungnya yang mancung. Sontak Jarvis tersentak dengan netra yang melebar.
Sial! Umpatnya dalam hati. Ia tak pernah menyangka gadis itu berani datang ke area terlarang itu seorang diri. Dengan amarah yang memuncak, Jarvsi menghampiri calon istrinya. Menarik gadis itu ke sebuah pojok gedung. Mendorong Alexella sampai punggung gadis itu membentur dinding. Namun Alexella sama sekali tak terkejut atau mengeluarkan suara.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Desis Jarvis dengan mata yang menajam dan rahang yang mengerat.
Alexella melipat tangannya di dada. "Memangnya apa yang dilakukan orang-orang datang ke sini huh? Mencari jodoh?"
Jarvis menggeram kesal. Dengan kasar ia mengapit dagu Alexella dan mencium bibir gadisnya dengan kasar. Alexella terkejut dan mendorong lelaki itu dengan kasar.
__ADS_1
"Brengsek! Menjijikan, kau mencium orang lain dan sekarang menyentuhku huh? Sialan!"
Alexella terus mengumpati lelaki itu dengan berbagai jenis nama binatang yang ada di dunia ini. Bukannya marah, justru Jarvis tersenyum geli. Gadis itu benar-benar sangat lucu saat mengeluarkan umpatan dari bibir tipisnya. Ingin sekali rasanya ia melahap habis gadis dihadapannya.
"Kau marah padaku karena itu? Kau cemburu, Honey?"
"Cih, aku tidak pernah cemburu pada lelaki brengsek sepertimu." Sinis Alexella memalingkan wajahnya. Dan dengan cepat Jarvis menarik dagunya.
"Kau ingin ikut balapan huh? Apa taruhanmu?"
Alexella menyeringai. "Jika aku menang, pernikahan kita batal. Bagaimana?"
Jarvis tersenyum miring, lalu menatap Alexella dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Aku tidak pernah takut dengan tantangan. Dan kau akan membayar dengan tubuhmu jika aku berhasil megalahkanmu."
Mata Alexella terbelalak mendengar itu. "Kau...."
"Bayaran harus setimpal."
"Brengsek!"
"Sepakat? Atau kau di anggap kalah." Jarvis tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar licik. Kau pikir aku takut huh? Aku terima tantanganmu." Balas Alexella yang tak pernah mau kalah.
"Malam ini kau akan menjerit dibawahku, Sayang. Aku menantikan itu." Bisik Jarvis sebelum pergi meninggalkan gadis itu.
"Dasar brengsek." Teriak Alexella menahan kejengkelannya. "Akan kupastikan kau kalah, Jarvis."
Alexella melirik Jarvis sekilas, lalu menaikkan kaca sambil membunyikan deru mobilnya seolah menantang Jarvis.
Kini kedua mobil itu sudah siap untuk melakukan balapan. Mata tajam Alexella fokus pada jalananan lengang di penghujung kota Berlin. Mencengkram erat setir mobil dan siap membelah jalanan tak berpenghuni itu. Menunggu aba-aba dari seorang wanita berpakain seksi yang tengah mengacungkan sebuh pistol ke udara.
"Are you ready?" Teriak wanita itu.
Baik Jarvis maupun Alexella membunyikan deru mobil mereka. Memberi tanda jika mereka sudah siap.
One....
Two....
Dan pada hitungan ketiga bersamaan dengan letusan di udara. Kedua mobil itu melesat cepat membelah jalanan Berlin tak berpenghuni, sama-sama berambisi untuk saling memenangkan pertandingan.
Sial! Untuk yang kesekian kalinya Jarvis mengumpat saat mobil kekasihnya melesat lebih cepat di depannya. Seolah tak terima, Jarvis memindahkan gigi dan menambah kecepatan dengan tatapan tajam yang terpatri pada mobil hitam sang kekasih.
"Sialan! Kenapa aku tidak tahu dia segila ini?" Jarvis tersenyum saat mobilnya hampir mengimbangi kecepatan mobil milik Alexella. "Blacky tak akan pernah mengkhianatiku."
Tepat di tikungan, Jarvis berhasil mendahului mobil Alexella. Gadis itu menggeram kesal dan sekuat tenaga menekan pedal gas sampai batas maksimum. Namun mobil Jarvis tak dapat ia kejar dan melesat jauh di depannya.
__ADS_1
*"Please*, Spyder. Bantu aku kali ini." Alexella masih berusahan mengejar mobil Jarvis dengan jantung yang berdetak kencang.
Alexella harus menelan kekecewaan karena mobil hitam Jarvis lebih dulu melewati garis finish. Kali ini ia benar-benar habis.
"Sialan kau Jarvis." Umpatnya seraya menepikan mobil tepat di sebelah mobil kekasihnya. Alexella bisa melihat Jarvis keluar dari dalam mobil dengan senyuman lebar yang mengarah padanya. Alexella menggeram kesal dan tak berniat untuk turun. Jarvis berjalan ke arah jendela kacanya. Mengetuk kaca itu beberapa kali. Dengan kesal Alexella menurunkan kaca mobil.
"Jangan lupa dengan taruhan kita, Sayang."
Alexella memberikan tatapan membunuh dengan dada yang naik turun karena menahan emosi. "Malam ini aku ada urusan, selesaikan dengan cepat."
Jarvis menyeringai. "Di tempatmu atau di tempatku?"
Alexella terdiam cukup lama. "Terserah."
"Turun dan masuk ke mobilku." Titah Jarvis merubah raut wajahnya menjadi serius.
"What? Ki__kita melakukannya di dalam mobil?"
Tak! Jarvis menyentil kening gadis itu karena geram. Membuat sang empu meringis kesakitan. "Kau pikir aku lelaki gampangan yang akan meniduri wanita di dalam mobil?"
Alexella mendengus kesal. Jantungnya berpacu hebat. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apa dia benar-benar ingin melakukan itu denganku? Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Jangan berpikir terlalu lama, atau aku akan melakukan itu di sini dan saat ini juga."
"Ok, fine. Aku turun." Alexella mendorong pintu mobilnya tanpa menunggu Jarvis menyingkir. Membuat lelaki itu mengumpat karena pintu itu mengenai tulang keringnya.
Rasakan itu. Siapa suruh kau sangat brengsek.
"Bagaimana dengan mobilku?" Tanya Alexella menatap Jarvis serius.
Jarvis mengambil kunci mobil Alexella dan melemparkan itu pada salah satu temannya yang kini tengah duduk di kap mobil Jarvis. "Antar mobil ini ke kediaman Digantara."
"Okay." Sahut lelaki itu menatap Alexella dengan senyuman nakal. Lalu beranjak menuju mobil indah itu.
"Masuk ke mobilku sekarang, Xella." Titah Jarvis dengan nada tegas. Alexella tidak banyak bertanya dan langsung masuk ke dalam Lambhorgini milik Jarvis. Begitu pun dengan lelaki itu yang langsung masuk ke sana dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Kemana kau akan membawaku, Jarvis?" Tanya Alexella penasaran. Namun lelaki itu sama sekali tak menjawabnya. Pada akhirnya Alexella memilih diam dengan perasaan yang tak karuan.
To be continue...
Terima kasih sudah setia mengikuti jejak mereka.
Nih aku kasih cast Alexella sama Jarvis
...Alexella ...
__ADS_1
...Jarvis...