Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 57


__ADS_3

Jarvis terus melayangkan peluru pada semua musuh yang berusaha menghalangi jalannya. Wajahnya terlihat begitu mengerikan saat tengah diselimuti amarah yang mendalam.


"Jarvis, cari adikku di dalam. Kami akan menghalau mereka dari sini." Perintah Alexa yang begitu lihai dalam menggunakan senjata api.


"Sial! Kenapa banyak sekali anak buah mereka? Peluruku hampir habis." Kesal Winter yang notabennya anak baru di Red Moon.


"Pakai punyaku." Jarvis melempar sebuah pistol pada Winter sebelum dirinya masuk ke dalam gedung tua yang masih terawat itu. Tidak lama terdengar suara tembakan yang menggema dari dalam. Menandakan Jarvis tengah melakukan perlawanan.


"Sebaiknya kau ikut masuk, Arel." Pinta Alexa pada sang Kakak.


"Apa kalian yakin bisa menepis mereka semua?" Tanya Arel karena mereka sudah kehabisa banyak anak buah.


"Jangan pedulikan kami, Xella membutuhkan pertolongan."


"Baiklah." Arel pun mengikuti jejak Jarvis. Dan kini hanya tersisa Winter, Alexa dan beberapa anak buahnya di sana.


Di dalam, tanpa rasa ragu Jarvis dan Arel menembaki para anak buah Nicholas.


"Jarvis, segera cari adikku. Biarkan aku yang melawan mereka. Aku percaya padamu." Titah Arel.


"Baiklah." Kemudian Jarvis pun menerobos masuk ke ruangan demi ruangan untuk mencari keberadaan istrinya. Sampai di sebuah ruangan yang dilengkapi perapian. Jarvis menemukan Nicholas tengah duduk santai di sebuah sofa sambil menyesap cerutu. Jarvis menodongkan pistol pada lelaki itu.


"Selamat datang di rumahku, Tuan Schwarz. Anda sangat tidak sopan masuk ke rumahku, menghabisi anak buahku dengan kejam."


"Tidak perlu basa-basi, di mana istriku?"


"Istrimu? Kenapa kau menanyakan istrimu padaku?" Nicholas bangun dari posisinya. Melempar cerutu itu ke lantai dan menginjaknya dengan gaya sensual seraya menatap Jarvis remeh.


"Berhenti bermain-main denganku, berikan dia padaku atau...." Jarvis sengaja menggantung ucapannya yang diiringi dengan senyuman licik. Ia mengeluarkan ponselnya. Lalu menunjukkan sebuah video pada lelaki itu.


"Hentikan, jangan sentuh aku. Aku sedang hamil. Nich, tolong aku." Teriak seorang wanita yang ada di dalam video. Mata Nicholas melebar saat melihat dengan jelas siapa wanita yang ada di dalam sana yang tak lain adalah istrinya. Jarvis yang melihat itu tersenyum senang.


"Brengsek! Lepaskan istriku." Geram Nicholas yang tak ingin aset berharganya mati di tangan Jarvis.


"Maka lepaskan juga istriku. Atau aku akan membunuh istri bersama calon anakmu. Kau berani melangkah, maka aku akan melangkah lebih maju darimu. Los Angeles adalah rumah keduaku asal kau tahu itu. Anggap saja kau sedang bernegosiasi padaku. Kau jual, maka aku beli." Ujar Jarvis duduk di sofa dengan gaya sensual. Seolah menantang lelaki di hadapannya.


"Kau terlambat, aku sudah meniduri istrimu. Kau kalah, Jarvis." Nicholas tertawa kencang. Dan tanpa disangka Jarvis pun ikut tertawa.


"Kau yang kalah, sepuluh orang sudah meniduri istrimu." Jarvis menggulir video berikutnya.


Nicholas terkejut melihat istrinya yang tengah digilir oleh beberapa pria.

__ADS_1


"Wajah istrimu terpampang jelas. Jika aku mempostingnya, cobak tebak apa yang akan terjadi?"


Sialan!


"Okay, aku akan melepaskan istrimu. Irene, bawa wanita itu keluar." Teriak Nicholas.


Tidak lama seorang wanita seksi bernama Irene itu membawa Alexella keluar dengan keadaan masih terikat. Alexella berjalan tertatih sembari menatap Jarvis sendu. Wanita itu terlihat sangat kacau. Penampilannya sudah tak lagi menentu. Bahkan wajahnya begitu sembab. Jarvis yang melihat itu meggeram penuh amarah.


"Pergilah, Jarvis." Lirih Alexella dengan air mata yang mengalir deras. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada suaminya. Mata Jarvis memerah karena menahan amarah.


"Barikan dia padaku, atau aku akan meminta anak buahku untuk melenyapkan istrimu." Ancam Jarvis.


"Kita lakukan bersama, lepaska istriku maka aku akan melepaskan istrimu." Sahut Nicholas menarik Alexella dalam genggamannya. Mendekap leher wanita itu dengan ujung pistol yang menempel di kening Alexella.


"Pergilah Jarvis, jangan pedulikan aku." Teriak Alexella terlihat frustasi.


"Aku akan pergi bersamamu, Xella." Sahut Jarvis.


"Nich... tolong aku."


Nicholas tersentak saat mendengar suara istrinya. Ia pun langsung melihat ke layar ponsel Jarvis yang tengah melakukan video call. Dan kamrena mengarah padanya.


"Sialan kau Nich! Apa yang kau lakukan? Siapa wanita itu? Siapa lagi yang kau usik? Kau membahayakanku dan calon anak kita."


"Kau sialan, jika kau tak kembali. Aku akan mencabut semua asetmu." Ancam sang istri.


"This is real. Berani menyakitinya, maka dia akan celaka." Ucap Jarvis tersenyum dan langsung mengakhiri panggilan.


Nicholas menggeram sebal. "Lepaskan dia, aku menyerah." Ia mendorong Alexella pada Jarvis. Dengan sigap Jarvis menahan tubuh wanitanya. Dan dengan gerak cepat pula Nicholas menekan pelatuk. Peluru panas itu berhasil menembus lengan Jarvis karena lelaki itu melindungi istrinya.


Tidak lama terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali. Seketika tubuh Nicholas dan wanita seksi yang diketahu namanya itu ambruk. Jarvis dan Alexella pun menoleh ke belakang. Di sana sudah berdiri Arel, Alexa dan Winter yang masih menodongkan senjata ke arah Nicholas.


"Sialan." Umpat Nicholas meringis kesakitan karena kaki dan tangannya terkena peluru. Kemudian ia menatap wanita di sebelahnya yang sudah tak bernyawa.


Alexa melangkah pelan mendekati Nicholas. Kemudian duduk di bibir sofa. Menatap lelaki tak berdaya itu dengan senyuman miring.


Nicholas hendak meraih pistolnya. Namun dengan sigap Alexa menendang benda itu sampai terlempar tepat di depan Jarvis. Wanita cantik itu sedikit menyondongkan tubuhnya. "Kau harus membayar perbuatanmu, Paman. Mungkin kami akan langsung membunuhmu jika saja Kakakku tak meminta kau hidup-hidup. Kami tak peduli siapa dirimu, Paman. Kau berhutang nyawa pada kami."


Alexa tertawa renyah. "Kesalahan besarmu hanya satu, Paman. Kau mengusik singa tidur. Bahkan kau tak pernah mendengar auman itu, tapi kau berani masuk ke sangkar kami."


"Jarvis." Alexella menatap wajah suaminya begitu dalam. "Jauhi aku, Jarvis."

__ADS_1


"Berhenti bicara, aku lebih suka kau diam." Jarvis bangun dari posisinya. Menggendong Alexella keluar dari ruangan itu.


"Bawa dia ke markas dan kirim semua mayat-mayat itu ke penangkaran. Jangan sampai ada jejak. Jacky dan Blacky sepertinya akan makan besar." Perintah Arel pada anak buahnya. Namun tatapan tajamnya masih tertuju pada Nicholas.


"Sejak lama permasalahan keluarga Digantara selalu sama, yaitu musuh dalam selimut. Saharusnya Daddy tak melepaskan keturunan kalian. Daddy terlalu baik karena memikirkan Grandma. Jika tidak kau sudah mati, Paman. Aku tahu kau masih memiliki banyak anak buah diluar sana yang siap untuk membunuh kami. Tapi kami sudah siap untuk berperang."


"Berperang apanya? Mereka semua terjebak ranjau di perbatasan. Siapa suruh mengusik rumah kita." Timpal Alexa yang berhasil membuat Nicholas kaget.


"Kau tahu, Tuan? Apa yang kau lakukan itu terlalu gegabah. Membunuh kepala keluarga Digantara sama saja menyerahkan dirimu sendiri. Bahkan kau menggunakan trik murahan dengan menyewa wanita untuk menggantikan Alexella. Huh, kau benar-benar bodoh." Ledek Winter.


"Dia bukan bodoh, hanya saja tak memiliki kekuatan. Mengandalkan uang istrinya untuk melakukan kejahatan. Tanpa itu dia tak bisa apa-apa, sepertinya dia belum mempelajari trik mendiang Ayahnya. atau mungkin tak belajar dari pengalaman. Ayahnya begitu licik dan penuh muslihat, bahkan bisa bersembunyi selama tiga puluh tahun dari kesalahannya. Tapi apa yang lelaki ini lakukan? Tiga tahun lamanya hanya bersembunyi dibawah ketiak wanita kaya raya." Timpal Alexa tertawa hambar.


"Wanita sialan! Aku akan membuhmu." Ancam Nicholas menunjuk Alexa.


"Lalukan itu bersama Ayahmu di neraka. Ikat dan bawa dia." Alexa bangun dari posisinya. Kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan itu yang diikuti oleh Winter. Sedangkan Arel masih tinggal di sana. Lelaki itu menunggu anak buahnya mengikat lelaki itu. Lalu hendak membawanya keluar, tetapi ia menahannya sebentar.


"Apa kau tahu kenapa pergerakanmu begitu mudah dibaca, Paman?" Tanya Arel tepat di telinga Nicholas.


"Itu karena kami belajar dari pengalaman dahulu, Paman. Kami selalu waspada terhadap keluarga sendiri. Termasuk orang terdekat sekali pun." Lanjut Arel yang kemudian beranjak dari sana dengan senyuman miring.


****


Plak!


Untuk yang kesekian kalinya Arez melayangkan tamparan di wajah Nicholas yang kini terikat di sebuah kursi kayu. Lelaki itu dibiarkan terkena suhu dingin, terlihat jelas tubuhnya yang menggigil.


"Bayaran untukmu karena berani menyentuh wanitaku, dan ini...." Arez mengarahkan pistolnya dikepala Nicholas.


Sabrina memeluk suaminya saat melihat aura kemarahan dalam diri Arez. "Jangan lalukan lagi. Aku baik-baik saja, Al."


"Lepaskan aku, Sabrina. Dia harus mendapat pelajaran. Berani sekali dia mencelakai semua orang yang tak bersalah. Dia pantas mati, aku akan...."


"Tidak, aku tidak mau kau membunuh orang lagi. Aku mohon, demi aku dan anak kita. Please." Potong Sabrina yang berhasil menarik perhatian semua orang.


"Jauhkan benda itu, Al. Jangan menyentuhnya." Pinta Sabrina dengan suara bergetar.


"Arez, istrimu trauma dengan benda itu." Kata Deena.


Arez memejamkan matanya sebelum menurunkan benda itu. Deena yang memahami situasi pun menarik pistol dari tangan Arez. Kemudian mundur beberapa langkah.


"Aku ingin pulang, bawa aku pulang, Al."

__ADS_1


"Baiklah. Bereskan semuanya. Kita bubar." Perintah Arez yang dijawab anggukkan semua orang.


Mereka pun keluar dari hutan itu tepat pukul satu siang. Arez membawa istrinya kembali ke apartemen. Dan kini tak ada lagi penjaga yang kemarin. Suasana tempat itu kembali seperti semula.


__ADS_2