
Pantai Moonstone, Cambria.
Alexella dan Jarvis terlihat sedang berjalan santai menyusuri bibir pantai. Sepasang suami istri itu juga tak mau kalah dari sang Kakak untuk berlibur beberapa hari di negeri paman Sam ini.
"Kau lelah, baby?" Tanya Jarvis saat melihat keringat mulai membanjiri pelipis sang istri. Namun Alexella menggeleng. Ia menikmati kebersamaannya dengan sang suami.
"Sudah lama aku tidak ke pantai. Aku ingin berlama-lama di sini." Jawabnya.
"Terserah padamu, jika kau merasa lelah. Kita istirahat sebentar."
Alexella pun mengangguk. Kemudian menghentikan langkahnya dan menghadap ke laut lepas. Jarvis pun melakukan hal yang sama tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Kadang, aku masih belum percaya kita akan berdampingan seperti ini. Bahkan sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak." Ujar Jarvis tersenyum manis.
Alexella menunduk dan mengelus permukaan perutnya. "Aku juga tidak menyangka akan menjadi seorang Ibu di usia ini. Di mana orang lain masih sibuk mencari kesenangan, tapi aku menikmatinya."
Jarvis menatap wajah sang istri lamat-lamat. "Aku harap kau tidak pernah menyerah untuk terus berada di sisiku. Aku tahu, aku bukan suami yang baik untukmu, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia."
Alexella menoleh dan tersenyum tipis. Kemudian mengangguk pelan. "Bagiku kau suami terbaik. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, istriku yang cantik." Balas Jarvis seraya mengecup punggung tangan Alexella.
"Awh." Alexella meringis saat bayi dalam perutnya menendang terlalu keras. Sontak Jarvis pun kaget dan panik.
"Ada apa? Perutmu sakit?"
"Tidak, dia menendang cukup keras. Itu lumayan sakit." Keluh Alexella memegangi perutnya.
"Wah, apa mungkin dia jagoan? Kau sudah tidak sabar ingin bermain bola huh?" Jarvis ikut mengusap perut buncit istrinya. Kemudian menghadiahi sebuah kecupan hangat. "Aku menunggu kehadiranmu."
"Bersabarlah Daddy, aku akan segera hadir." Alexella menirukan suara anak kecil dan selanjutnya tersenyum bahagia.
Jarvis kembali menegakkan tubuhnya. Menatap wajah sang istri lamat-lamat. Lalu mengusap pipinya lembut. "Sebaiknya kita kembali ke risort, kau lelah."
Alexella langsung menggeleng kuat. "Aku masih ingin di sini. Sebentar saja, aku bosan di kamar terus."
Jarvis menghela napas. "Baiklah, aku hanya tidak ingin kau lelah. Tidurmu selalu gelisah setiap malam, aku khwatir."
Alexella mengerut bingung. "Jadi kau selalu memperhatikanku tidur? Setiap malam?"
"Ya, itu sudah menjadi kebiasaanku setiap malam. Kau terlihat lebih cantik saat tidur."
Wajah Alexella merona. "Apa aku mendengkur? Atau mungkin ngiler?"
Jarvis tertawa renyah. "Sesekali, tapi kau benar-benar lucu saat tidur. Dan seperti anak kecil."
Alexella memukul lengan suaminya. "Jangan katakan lagi, aku malu."
__ADS_1
Lagi-lagi Jarvis tertawa, membuat Alexella semakin merona karena menahan rasa malu.
"Hentikan tawamu, Jarvis. Kau membuatku malu setengah mati."
"Hey, aku suamimu. Untuk apa lagi kau malu huh? Bahkan aku sudah tahu luar dalammu." Jarvis memberikan tatapan nakal.
"Hentikan! Kau memang mesum. Aku harap anakku tidak ikut sifatmu." Kesal Alexella melangkah cepat, meninggalkan Jarvis dibelakang.
"Baby, aku lapar. Sebaiknya kita kembali ke resort." Ajak Jarvis.
"Sebentar lagi, aku belum lapar."
Jarvis menghela napas pasrah. Bumil yang satu itu memang sulit diprediksi. Mungkin Jarvis harus lebih ekstrak bersabar.
****
Hampir lima belas menit Jarvis terus menatap sang istri yang begitu lahap menyantap hidangan. Padahal beberapa menit yang lalu ia mengatakan tidak selera makan. Sekarang semua makanan sudah hampir habis, bahkan milik Jarvis pun ikut masuk ke dalam perut buncitnya.
"Kau lapar atau doyan huh?" Tanya Jarvis seraya mengusap ujung bibir sang istri yang terkena saus.
"Aku tidak tahu, mendadak aku sangat lapar dan rasanya ingin menghabiskan semuanya." Jawab Alexella dengan mulut yang masih dipenuhi makanan.
"Habiskan dulu makanan dalam mulutmu, dasar bocah."
"Kau yang salah karena mengajakku bicara."
Alexella manggut-manggut sambil terus menyantap sisa makanan.
Jarvis tersenyum senang melihat istrinya banyak makan. Karena selama ini Alexella sangat jarang menyentuh makanan. Ia akan memuntahkan semua makanan yang masuk ke dalam perut. Namun akhir-akhir ini rasa mual itu sepertinya mulai berkurang. Jarvis bersyukur akan hal itu.
"Xella!" Seru seseorang yang entah sejak kapan berada di sana. Menatap takjub ke arah Alexella. Refleks sepasang suami istri itu menoleh bersamaan. Alexella membulatkan matanya saat melihat lelaki yang saat ini memberikan senyuman menawan padanya. Sedangkan Jarvis memberikan tatapan bingung.
"Aaric? Sedang apa kau di sini?" Tanya Alexella bingung bercampur kaget. Lelaki itu tak lain adalah teman semasa sekolah dulu. Dan lelaki itu sejak lama tertarik padanya. Bahkan ia kerap mengungkapkan perasaanya pada Alexella. Namun wanita itu selalu saja menolak karena dihatinya sudah ada seseorang yang tak lain adalah Jarvis.
"Aku sedang berlibur, kebetulan kita bertemu. Sebuah keberuntungan untukku." Sahut lelaki bernama Aaric itu. Mata lelaki itu terus tertuju pada Alexella, seolah mengabaikan keberadaan Jarvis yang notabennya suami Alexella.
"Hm." Alexella pun mengangguk sembari melirik suaminya yang sejak tadi terus memberikan tatapan aneh. Sepertinya Jarvis cemburu.
"Apa aku boleh bergabung?" Tanya lelaki itu tanpa malu sedikit pun.
"Tidak." Sahut Jarvis dengan nada cepat, tetapi penuh penekanan. "Ah, maksudku kami sudah selesai. Sebaiknya kau mencari meja lain. Di sini masih berantakan."
Aaric menatap Jarvis dengan senyuman penuh arti. "Jadi kau lelaki yang menikahi wanitaku?"
Alexella terkejut setengah mati mendengar itu. Ia hendak protes, tetapi Jarvis lebih dulu menyela.
"Siapa yang kau sebut wanitamu huh? Dia istriku, Tuan. Aku tidak tahu siapa dirimu, dan aku tidak pernah mau tahu. Tapi aku ingatkan padamu, jangan menantangku."
"Jarvis, please. Kita pergi ya?" Ajak Alexella mulai tak nyaman dengan situasi seperti ini. Selera makannya juga hilang sejak lelaki tak diundang itu hadir. Alexella dan lelaki itu memang memiliki masa lalu yang tak enak untuk diingat.
__ADS_1
"Xella, aku harap kau tidak lupa kenangan kita di gudang sekolah dulu. Aku masih mengingat betapa manisnya dirimu saat itu."
Alexella memelototi lelaki itu. Kemudian langsung menatap suaminya. Dan sang empu juga tengah memberikan tatapan tajam padanya. Alexella menggeleng pelan, ia tak ingin suaminya itu salah paham.
"Aku ingin ke kamar, Jarvis." Lirih Alexella.
"Ah, jadi kau belum mengatakan pada suamimu apa saja yang pernah kita lewati? Aku rasa...."
"Cukup!" Alexella meninggikan suaranya. Juga menatap lelaki itu tajam. Dan apa yang Alexella lakukan itu berhasil menarik semua perhatian pengunjung lainnya. "Apa maumu sebenarnya huh?"
Aaric pun tersenyum miring. "Dirimu. Aku ingin melanjutkan kisah cinta kita yang sempat terputus."
"Kita tidak pernah terlibat hubungan apa pun."
"Tapi kita hampir melakukannya saat itu."
"Itu karena kau menjebakku." Bentak Alexella mulai tersulut emosi.
"Ya, tapi aku hampir memasukimu andai saja kau tidak sadar saat itu. Akh, andai saat itu aku berhasil, mungkin di dalam perutmu itu adalah darah dagingku."
Jarvis yang mendengar itu mengeratkan rahangnya. Kemudian menarik Alexella pergi dari sana.
Alexella sedikit terhuyung saat Jarvis menariknya dengan langkah cepat menuju kamar mereka. Kemudian mendorongnya sampai Alexella terjatuh di atas pembaringan.
Jarvis menatap Alexella dengan mata memerah. "Jelaskan apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kau tidak pernah mengatakan itu padaku."
"Kau tidak pernah bertanya padaku, Jarvis." Sahut Alexella dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi aku harus bertanya dulu baru kau bicara huh? Bagaimana jika lelaki itu tidak ada? Kau akan menyembunyikan semuanya begitu, Xella?"
Alexella terdiam sejenak. "Aku pikir kau tidak perlu tahu masalah itu, tidak terjadi apa pun pada kami saat itu. Dia menjebakku, Jarvis. Itu hanya masa lalu."
"Menjebak seperti apa, Xella? Bagaimana bisa wanita pintar sepertimu terjebak oleh lelaki brengsek sepertinya huh? Bahkan aku selalu menahan gairah untuk tidak menyentuhmu. Tetapi lelaki itu nyaris menyentuhmu, Xella. Sialan!"
Alexella memicingkan matanya. "Kau tidak percaya padaku?"
"Bagaimana aku percaya padamu? Kau tidak terbuka padaku, Xella."
"Dari mana aku harus bercerita padamu soal masa laluku, Jarvis? Kau tidak pernah menyinggungnya. Kau tidak pernah mau tahu apa yang aku lalui selama ini. Bukan hanya dirimu, keluargaku juga tidak ada yang tahu masalah ini." Tangisan Alexella pun pecah.
"Kenapa kau menyembunyikan masalah besar ini, Xella? Kenapa? Apa kau senang disentuh olehnya?"
Deg! Tuduhan yang Jarvis lontarkan bagaikan batu besar yang menghantam Alexella. Hatinya teramat sakit karena Jarvis sama sekali tak mempercayainya.
"Karena aku takut kejadian Lexa akan terulang kembali. Kak Arez hampir membunuh lelaki yang sudah melecehkan Lexa. Aku tidak mau Kakakku mendapat masalah lagi. Saat itu dia hampir masuk penjara asal kau tahu, Jarvis. Aku tidak ingin mempersulit keluargaku lagi. Kau tidak tahu apa pun, Jarvis. Kejadian itu terjadi begitu cepat, aku dijebak oleh teman sebangkuku. Orang yang amat aku percaya. Dia menaruh obat tidur dalam minumanku. Sejak itulah aku tidak pernah percaya pada siapa pun. Maafkan aku, Jarvis."
Seketika suasana pun hening. Dan sesekali terdengar suara isakkan Alexella.
Jarvis mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Alexella sendirian. Sedangkan Alexella menangis dalam diam. Mungkin mereka memang butuh waktu sendiri untuk menenagkan hati masing-masing.
__ADS_1