
Seperti biasanya, setiap pagi meja makan akan dipenuhi para penghuni mansion. Saat ini mereka tengah menikmati hidangan pagi yang begitu nikmat. Berbagai jenis hidangan tersusun rapi di atas meja. Mulai dari makanan ringan, berat dan makanan penutup.
"Mommy, Lexa mau roti selai coklat." Rengek Alexa saat melihat Mala menyantap roti dengan selai coklat. Mala yang menyadari tatapan itu semakin ingin mengerjai adiknya itu.
"Ah, coklatnya sangat enak." Goda Mala sembari mengunyah roti itu dengan ekpresi nikmat. Alexa yang melihat itu semakin merengek tak terima.
"Tunggu sebentar, biar Mommy buatkan." Ucap Sweet mengambil roti tawar dan mengolesi selai coklat.
"Coklatnya yang banyak Mommy," rengek Alexa lagi. Semua orang yang melihat itu tertawa geli.
"Hey, anak kecil tidak baik terlalu banyak makan coklat. Nanti giginya berlubang." Ujar Bian ikut mengerjai kenponakannya.
"Enggak, Papa. Buktinya Kak Mala giginya bagus. Padahal setiap pagi makan roti coklat." Sahut Alexa dengan entengnya.
"Hey kecil, jadi setiap pagi kamu memperhatikanku huh?" Tanya Mala penuh selidik.
"Iya, soalnya Lexa suka coklat. Tapi Mommy selalu melarang Lexa makan coklat. Padahal coklat itu sangat enak." Oceh Alexa sembari menerima roti selai dari sang Mommy.
"Jangan banyak bicara, habiskan rotinya." Perintah Sweet mengecup pucuk kepala putrinya. Alexa pun mengangguk kuat. Lalu menyatap roti itu dengan lahap.
Semua orang tersenyum senang. Hampir setiap pagi meja makan itu selalu di penuhi kehangatan. Di tambah dengan ocehan Alexa yang semakin meraimaikan suasana.
"Hey kamu, tahu tidak? Sebentar lagi Mommy akan melahirkan seorang adik. Dan kamu, kamu, kamu... tidak mendapat kasih saya seperti ini lagi. Aku juga akan menyayangi adik kalian dari pada kalian." Acam Mala kembali mengerjai adik-adiknya.
"Mommy." Rengek Alexa yang takut dengan ancaman Kakaknya.
"Mala!" Tegur Sweet mulai kesal dengan sikap jahil Mala. Bahkan hampir setiap pagi ia melakukan itu. Hampir setiap hari juga Alexa menangis karena takut tak lagi di sayangi oleh kedua orang tuanya.
Mala tertawa riang, ia sangat senang karena berhasil mengerjai adik perempuannya. Sedangkan dua kurcaci lainnya sama sekali tak terpengaruh. Bian tersenyum geli melihat sifat asli istrinya. Ia tak pernah menyangka jika Mala bisa bersikap jahil seperti itu.
"Oh iya, Bian. Kapan kalian akan pulang ke Indonesia?" Tanya Nyonya Sasmitha saat mereka selesai sarapan. Semua orang pun mengalihkan perhatian pada Bian.
"Mungkin minggu depan," sahut Bian yang kemudian meneguk jus. Mala yang mendengar itu mengerut bingung. Pasalnya Bian tak pernah membicarakan itu sebelumnya. Ia juga belum rela meninggalkan tempat ini.
"Hah, itu artinya anggota kita akan berkurang." Ucap Sweet merasa sedih.
"Aku masih punya taggung jawab di sana, tidak mungkin terlalu lama di sini. Aku juga harus bekerja, saat ini aku punya tanggung jawab lebih." Sahut Bian melirik Mala yang masih terdiam.
"Apa kalian tidak ingin menunggu sampai Milan menikah?" Tanya Alex ikut nimbrung.
"Mama mau nikah?" Tanya Ara kaget.
"Iya, Sayang. Mama akan menikah bulan depan. Mungkin kita akan balik lagi ke sini." Sahut Arlan.
"Kenapa Hubby gak bilang sama Ara?" Rengek Ara yang berhasil mendapat perhatian semua orang. Mereka tersenyum geli melihat tingkah manja Ibu dua anak itu.
"Hubby mau bilang, cuma belum sempat." Jawab Arlan dengan santai. Ara yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya.
"Yang penting sekarang kamu sudah tahu," imbuh Arlan mengusap kepala istrinya. Ara yang mendapat perlakuan lembut pun tersenyum senang. Bahkan semua orang yang melihat itu ikut senang.
"Mas, mereka sangat mesra. Aku juga mau seperti itu." Bisik Sweet pada suaminya.
__ADS_1
"Jadi selama ini aku kurang mesra? Bahkan hampir setiap hari aku memanjakanmu, Sayang." Balas Alex berbisik di telinga istrinya.
"Memanjakan versi kamu mah beda, gak semanja mereka. Kalau kamu kebanyakan di ranjang."
Alex yang mendengar itu tersenyum geli. "Tapi kamu menyukai itu, Sayang."
"Jangan bicara lagi." Kesal Sweet.
"Aku ingin bulan madu lagi, Sayang." Bisik Alex yang berhasil membuat wajah Sweet memerah.
"Mas! Mereka masih ada di sini." Sweet mencubit pelan perut suaminya. Lalu melirik semua orang yang ternyata tengah memperhatikan mereka. Sweet yang menyadari itu pun tersenyum kikuk.
"Mom, aku ingin ke studio." Pamit Arez turun dari kursi.
"Boleh kami ikut?" Tanya Ichal. Arez pun mengangguk.
"Aku juga mau ikut," imbuh Arel mengikuti langkah Kakaknya. Lalu mereka pun beranjak menuju studio.
"Kak... Lexa juga mau ikut." Rengek Alexa langsung mengejar keempat lekaki itu.
"Huh, sepertinya si pangeran es akan menjadi pemimpin handal. Masih kecil saja sudah keliatan." Ujar Mala.
"Sepertinya kalian juga sudah bisa menambah anggota keluarga kita. Bian segera beri kabar baik untuk Nenek. Usia Nenek sudah tidak muda lagi." Ujar Nyonya Sasmitha.
Mala yang mendengar itu seketika membeku. Bian yang melihat itu langsung menggengam tangan Mala dengan erat, menatap istrinya yang masih menunduk.
"Nek, biarkan aku dan Mala saling mengenal satu sama lain. Untuk masalah anak, kami akan membicarakan itu lain waktu. Lagi pula kami belum sepenuhnya mengenal satu sama lain. Kami ingin bebas berpacaran dulu. Iya kan, Sayang?"
"Sayang?" Panggil Bian saat tak mendapat sahutan dari Mala. Mala tersentak kaget.
"Ah iya." Sahut Mala tersenyum simpul.
"Huh, jika itu keputusan kalian. Nenek menghargainya. Tapi jangan terlalu lama menunda hal baik, Bian."
"Iya, Nek." Ucap Bian semakin mengeratkan genggamannya.
Lalu mata Mala pun tak sengaja bertemu dengan sepasang mata Milan. Seketika Mala kembali menunduk. Ia tahu arti dari tatapan Milan. Mamanya itu sudah pasti tahu jika dirinya belum bisa menerima Bian.
Huh, Mama harap kamu bisa segera membuka hati, Mala. Bian begitu baik, semoga dia selalu menjaga kamu.
"Aku setuju dengan keputusan, Bian. Biarkan mereka menghabiskan waktu bersama. Mungkin kehadiran buah hati mereka akan segera hadir seiring berjalannya waktu." Ujar Alex ikut menimpali.
"Bener itu, dulu Ara dan Alan juga gitu. Lagian pacaran setelah nikah itu enak banget loh, bebas mau ngapain aja." Ujar Ara.
"Lebih tepatnya, nikmati saja dulu waktu berdua. Karena setelah ada anak, dijamin cinta istri akan terbagi." Timpal Arlan yang disambut tawa semua orang.
Setelah mengobrol hangat, semua orang pun kembali ke kamar masing-masing. Tak terkecuali untuk sepasang pengantin baru. Mala duduk di tepi ranjang. Ia masih memikirkan perkataan sang Nenek tadi.
Apa aku terlalu egois? Semua orang mengharapkan kebahagianku, tapi aku sendiri malah menutup hati untuk menyambut kebahagiaan itu.
"Sayang?" Panggil Bian saat melihat Mala begitu jauh termenung. Namun gadis itu masih bergeming. Bian bangkit dari kursi roda, lalu mendekati istrinya. Duduk di sebelah Mala.
__ADS_1
"Mala." Panggil Bian lagi dan kali ini ia menarik dagu istrinya. Mala yang terkejut pun langsung menatap suaminya.
"Kamu masih memikirkan hal tadi huh? Jangan terlalu dipikirkan. Kita jalani semuanya sesuai keinginanmu, okay?" Ujar Bian dengan senyuman tulus.
Mala menatap mata coklat suaminya begitu dalam. "Bian, apa kau menginginkan seorang anak dariku?"
Bian terkejut mendengar petanyaan itu. Namun itu tak memudarkan senyuman di wajahnya. "Tentu saja aku menginginkannya. Tapi aku tidak ingin anak itu hadir sebelum perasaanmu terhadapku hadir, Mala. Aku akan menunggumu."
"Tapi kita sudah membuat kesepakatan, pernikahan ini akan berakhir setalah satu tahun."
"Bagaimana jika kamu lebih dulu mencitaiku, Mala? Apa kau tetap menginginkan perpisahan itu?" Tanya Bian menatap istrinya penuh arti.
Mala terdiam cukup lama. "Maafkan aku, Bian. Aku... aku masih mecintai mendiang suamiku. Dia begitu berharga untukku." Ujar Mala mulai meneteskan air matanya. Bian yang melihat itu langsung memeluk istrinya.
"It's okay. Aku mengerti perasaanmu. Aku juga tak pernah memintamu untuk menghilangkan perasaan itu. Tapi beri aku kesempatan untuk bisa mendapatkan hatimu, Mala. Aku mencintaimu."
Mala membenamkan wajahnya di dada bidang Bian. Bahkan tangisannya semakin pecah. "Kenapa kau harus mecintai aku, Bian?"
"Aku sendiri tidak tahu. Perasaan itu hadir begitu saja dan setiap kali aku melihatmu, perasaan itu tumbuh semakin subur." Sahut Bian sambil mengusap punggung istrinya. Lau tak ada lagi pembicaraan di antara keduanya.
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu. Terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Mala menarik diri dari dekapan suaminya. Dan kembali menatap mata itu dalam-dalam. "Bian, jika suatu hari nanti kau menemukan wanita lain yang lebih baik dariku. Dan mungkin kau mencintainya, pergilah bersamanya. Aku...."
"Bagaimana jika aku tak menemukannya huh?" Potong Bian.
Mulut Mala terkatup rapat.
"Kau belum mencoba untuk mencintaiku, Mala. Aku harap kau mencobanya dulu. Jika memang kau tak bisa mencitaiku, aku akan mundur." Ujar Bian penuh ketulusan. Mala menatap Bian seakan tak rela. Entahlah, ia merasa kecewa dengan perkataan suaminya itu. Apa ia mulai terbiasa dengan sikap manis Bian? Lalu merasa tak rela jika lelaki itu pergi? Kepala Mala serasa ingin meledak.
"Katakan jika kau mulai mencintaiku meski itu hanya sedikit. Aku akan bertahan disisimu, sampai kau menerimaku sepenuhnya."
Lagi-lagi Mala terdiam. "Aku... aku akan mecobanya. Tapi... jika perasaan itu tak juga hadir, kita akan tetap berpisah. Aku tidak ingin menjebakmu dalam hubungan tak pasti ini. Aku ingin kau bahagia, Bian."
"Aku akan menghargai apa pun keputusanmu." Ucap Bian yang kemudian memberikan kecupan di kening Mala cukup lama. Mala memejamkan matanya, mencoba meresapi kehangatan itu.
"Bian." Panggil Mala saat Bian hendak bangun dari posisinya.
"Ya?"
"Bagaimana jika aku tidak ingin ikut ke Indonesia?" Tanya Mala yang berhasil membuat Bian kaget. Lelaki itu terdiam cukup lama.
"Seperti yang aku katakan, aku akan selalu menghargai keputusanmu." Jawab Bian mengusap pipi istrinya. Meski sebenarnya ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya. Namun ia tak ingin membuat Mala merasa terbebani selama masih menjadi istrinya.
Bian beranjak dari posisinya dan hendak masuk ke kamar mandi.
"Bian, aku ingin di sini sampai Mama menikah. Setelah itu aku akan menyusulmu." Ujar Mala yang berhasil menahan langkah Bian. Lelaki itu berbalik, lalu tersenyum ramah.
"Aku akan menunggumu." Ucap Bian sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi. Sedangkan Mala masih terdiam membisu.
Kenapa kau selalu menuruti keinginanku, Bian? Dan... aku sedikit kecewa saat kau tak memintaku untuk tetap ikut bersamamu. Apa aku mulai menerima kehadiranmu?
__ADS_1