
Bruk!
Claire membentur dada bidang seseorang saat dirinya hendak keluar dari lorong rumah sakit. Sontak ia pun langsung mendongak, seketika matanya membulat saat melihat mata tajam milik Melvin.
"Apa kau tidak punya mata?" Sinis Melvin.
"Ada, buktinya aku bisa melihatmu." Sahut Claire dengan santai dan tersenyum manis. Seketika tubuh Melvin menegang.
"Menjauh." Melvin mendorong gadis itu dengan kasar. Bisa gila jika gadis itu terus menempel padanya.
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Cih, dasar aneh." Ketus Melvin yang langsung beranjak dari sana.
"Eh, tunggu!" Seru Claire. Sontak Melvin pun berhenti dan kembali menoleh.
Gadis itu berlari kecil ke arah Melvin. "Em... terima kasih karena kau membawaku ke sini. Juga soal kemarin. Oh iya, namaku Claire." Ia menjulurkan tangannya pada Melvin.
Melvin menatap uluran tangan gadis itu, bukannya membalas ia justru melongos pergi. Sontak Claire pun termangu.
"Hah? Dia mengabaikan dan meninggalkanku begitu saja? Cih... dasar sombong. Lihat saja, aku pasti bisa mendapatkanmu. Huh, aku suka yang arogan sepertinya. Kita lihat, seberapa sombongnya dirimu, Tuan." Claire tersenyum miring. Setelah itu ia pun beranjak dari sana.
"Sial! Kenapa di dunia ini bisa ada wanita segila dia?" Gerutu Melvin melangkah pasti menuju ruang rawat Lucas. Namun, ia terkejut saat melihat Marvel dan Eveline ada di sana. Ia pun menghampiri keduanya.
"Hey, kalian di sini? Kenapa tidak ajak-ajak?"
Marvel dan Eveline pun menoleh bersamaan.
"Kompak sekali kalian?" Melvin melewati keduanya. Lalu berdiri di depan dinding kaca, menatap Lucas lamat-lamat. "Apa dokter mengatakan sesuatu padamu?" Tanyanya pada Marvel.
"Hm."
"Aku harap operasinya berjalan dengan lancar. Dia putra kesayangan Aunty. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia mati."
"Aku tidak akan membiarkannya mati." Sahut Eveline dengan nada tegas.
"Apa kau Tuhan yang bisa mengatur hidup seseorang?"
Eveline meremat tangannya sendiri. "Aku ingin bertemu denganya, bisakah kalian membantuku. Sebentar saja."
Keduanya terdiam.
"Please."
"Dia tidak bisa ditemui sampai operasi besok."
"Hanya sebentar."
"Biarkan dia masuk." Ketiganya menoleh saat mendengar suara itu. Dan ternyata itu Winter.
"Uncle." Gumam Eveline.
Winter tersenyum. "Masuklah, dia butuh dukunganmu. Berikan dia semangat hidup, aku percaya kau bisa, Eve."
Eveline mengangguk kecil. "Terima kasih."
Saat ini Eveline sudah duduk di sisi Lucas. Ditatapnya wajah pucat itu dengan seksama. "Dasar bodoh."
Eveline meraih tangan Lucas dan ditempelkan di perutnya. "Kau harus sembuh, dia membutuhkan Ayahnya, Luc. Kau harus bertanggung jawab."
Eveline terdiam sejenak. "Maafkan aku karena meragukan cintamu."
__ADS_1
Cukup lama Eveline berada di sana. Menatap wajah Lucas dengan penuh kerinduan. Dua minggu lamanya ia tak melihat Lucas. Rasa rindunya itu benar-benar menggebu. Bahkan semakin membuncah saat berdekatan dengannya. Eveline mendekatkan bibirnya dengan bibir Lucas. Dikecupnya bibir itu dengan lembut. "I miss you, Luc. Kau harus berjanji akan bangun setelah ini. Aku menunggumu. Tidak peduli berapa lama aku harus menunggu."
Melvin melihat itu pun langsung pergi dari sana. Sedangkan Melvin dan Winter justru tersenyum bahagia.
****
Pagi hari Eveline mengalami morning sickness. Ia terus muntah-muntah meski tubuhnya sudah sangat lemas. Marvel yang sejak tadi menemaninya pun mulai bingung dan hanya bisa memijit tengkuk dan memegangi rambut adiknya itu.
"Apa semua wanita hamil seperti ini?" Tanyanya.
Eveline tidak menjawab karena sedang fokus merasakan pusing dan mual.
"Gugurkan saja jika dia menyiksamu seperti ini."
Mendengar itu Eveline langsung melayangkan tatapan membunuh pada Marvel.
"Haish... aku hanya cemas dengan kondisimu. Maafkan aku."
Eveline membasuh mulut dan wajahnya. "Bantu aku."
Dengan sigap Marvel menuntun Eveline ke brankar. Lalu membaringkan adiknya itu dengan hati-hati, seolah tak ingin sedikit pun menyakitinya. "Tidurlah, ini masih sangat pagi."
"Jam berapa operasinya?"
"Mungkin jam tujuh."
"Apa dia akan baik-baik saja?" Eveline mulai cemas. "Dia tidak akan meninggalkanku kan?"
Marvel mendengus sebal. "Meski pun dia meninggalkanmu, disisimu masih banyak tangan yang terulur."
"Ck, tetap saja aku butuh dia." Ketus Eveline memejamkan matanya. "Anak dalam perutku butuh sosok Ayah."
"Jika kau membutuhkannya kenapa kau benyak memainkan drama, dasar aneh." Omel Marvel.
"Dasar gengsian." Cibir Marvel beranjak duduk ke sofa.
Beberapa saat kemudian Sabrina dan Arez pun datang.
"Bagaimana kondisimu, Eve?" Tanya Sabrina menghampiri putrinya. Mengusap kepala putrinya itu dengan lembut. Eveline membuka matanya perlahan.
"Aku baik-baik saja, Mom."
"Kau sangat pucat, sayang."
Eveline menatap Marvel, dan lelaki itu menggeleng. Memberi tahu jika Sabrina tidak tahu soal kehamilannya.
"Mungkin dia masih syok." Jawab Arez. Sontak Eveline langsung menatap sang Daddy.
Apa Daddy tahu aku hamil? Jika benar, kenapa Daddy tidak marah?
"Kau harus banyak istirahat, sayang. Mommy tahu kau mengalami guncangan karena hal yang terus menimpamu." Sabrina menatap Eveline iba.
"Ya, Mom."
"Jangan memikirkan Lucas, dia pasti baik-baik saja."
Eveline mengerut bingung. "Mom...."
"Daddymu sudah mengatakan semuanya. Kau memang bodoh, kenapa tidak bilang jika kau menyukai anak nakal itu huh?"
Eveline menatap Sabrina lekat. "Apa Mommy tidak marah?"
__ADS_1
"Bodoh, bagaimana Mommy bisa marah jika itu menyangkut kebahagianmu. Kecuali kau merebut suami orang baru Mommy marah. Si nakal itu kan belum menikah."
Eveline tersenyum bahagia, dipeluknya sang Mommy dengan mesra. "Maafkan aku, Mom. Aku tidak bisa menjadi anak seperti yang kalian harapkan. Justru aku membuat kalian kecewa."
"Apa yang kau katakan huh? Kau adalah sumber kebahagian kami, Eve."
"Thank you, Mom, Dad. Aku cinta kalian."
Arez mengusap kepala putrinya itu. "Daddy akan melakukan apa pun untuk kebahagianmu. Kau putriku satu-satunya."
"Dan anak satu-satunya, lupakan aku dan Melvin." Ketus Marvel. Sabrina yang mendengar itu tertawa renyah.
"Kau ini, cepat bawa menantu untukku. Usiamu sudah pantas untuk menikah."
"Aku masih muda, Mom. Masih banyak waktu untukku." Sahut Marvel yang tidak pernah tertarik membahas pernikahan.
"Lihat dia, Al. Bukankah dia sangat mirip denganmu dulu? Kau bilang tidak ingin menikah, tapi kau menikahiku saat itu."
"Aku terpaksa saat itu. Kau dan aku sama-sama terjepit." Sahut Arez dengan santai.
"Cih, terpaksa apanya. Kau terus mencumbuku sampai Melvin dan Marvel lahir." Cibir Sabrina.
"Berhenti berdebat, ini rumah sakit." Tegur Marvel mulai jengah dengan pembicaraan konyol orang tuanya.
"Jadi... kau akan mengikuti jejak Daddymu huh? Menikahi seorang gadis tanpa memberitahu keluargamu. Jika itu terjadi, aku akan memotong burungmu." Ancam Sabrina.
Marvel mendengus sebal. "Aku bukan Daddy."
"Hey." Tegur Arez. Sontak Sabrina tertawa renyah.
"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Biarkan putriku istirahat."
Marvel menghela napas berat, kemudian bangkit dari posisinya. Lalu beranjak dari sana.
"Mau kemana? Mencari jodoh dokter ya?" Ledek Sabrina.
"Mom, jangan menggodanya terus." Protes Eveline. Lagi-lagi Sabrina tertawa renyah. "Mommy senang sekali menganggunya, dulu dia tidak sekaku itu. Sekarang dia mirip sekali dengan Daddymu. Beruntung kau tidak sedingin dulu lagi, Eve."
Eveline memeluk Sabrina dengan lembut. "Aku mengantuk, Mom."
"Tidurlah, Mommy akan menemanimu di sini." Sabrina membantu Eveline berbaring. Kemudian menghadiahi kecupan hangat di keningnya. Arez yang melihat itu tersenyum tipis, lalu duduk di ujung brankar. Mengelus lembut kaki putrinya.
****
Operasi Lucas pun berjalan dengan lancar. Alexa dan Winter bernapas lega saat dokter mengatakan Lucas sudah melewati masa kritisnya. Sekarang Lucas hanya tinggal dalam masa pemulihan. Namun, ia masih belum dipindahkan ke ruang perawatan dan masih berada di ruang transisi untuk penanganan lebih lanjut.
Alexa tersenyum lebar saat melihat kedatangan Eveline, Sabrina dan Arez.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Sabrina pada Alexa.
"Dokter bilang semuanya aman," jawab Alexa tersenyum lega.
"Syukurlah." Ucap Sabrina ikut bernapas lega.
Eveline berjalan pelan mendekati pintu, mengintip kondisi Lucas dari kaca kecil.
Aku senang kau baik-baik saja, Luc. Cepat sadar, aku merindukan senyumanmu.
Alexa dan Winter pun saling memandang. "Apa kau mencintai Lucas, Eve?"
Deg!
__ADS_1
Jantung Eveline berdegup kencang saat mendapat pertanyaan itu. Ia berbalik, menatap semua orang bergantian.