
Sudah hampir tiga puluh menit Mala terus menatap wanita di depannya tanpa sepatah kata pun. Dan itu membuat sang wanita merasa takut. Wanita itu tak lain adalah Angel. Mala sengaja bertemu dengan wanita itu untuk meminta penjelasan. Kini ia berada di apartement Angel.
"I'm so sorry, Mala. Aku tidak tahu kalau dia itu suamimu. Aku tidak pernah mencari tahu sebelumnya. Kau tahu sejak dulu aku menyukai lelaki itu. Dia lelaki yang sering aku ceritakan itu." Angel menangkup kedua tangannya di dada. Mala terlihat mengerikan di matanya. Apa lagi hormon kehamilan membuatnya berada di pisisi tak aman.
"Seharusnya kau mencari tahu lebih dulu siapa lelaki yang ingin kau jebak, Angel. Bagaimana jika lelaki itu sudah punya istri dan anak? Apa kau akan tetap menjebaknya dalam perangkapmu?" Kesal Mala dengan nada penuh penekanan. Hal itu menambah rasa gugup dalam diri Angel. Ia tak menyangka akan terjebak dalam hal seperti ini. Apakah ini yang di namakan senjata makan tuan?
"K--kau tahu kan siapa aku? Aku tidak peduli siapa latar belakang orang itu, aku hanya ingin memilikinya walau hanya sesaat." Gugup Angel menatap Mala sendu.
"Cih, kau hampir menjebak suamiku, Angel. Bagaimana jika saat itu aku tidak datang? Kau akan meminta pertanggung jawabannya bukan? Kau akan membuat drama, dengan menangis di depan media dan mengatakan suamiku telah menodaimu? Trik murahan."
"Mala...."
"Aku belum selesai biacara, Angel. Kau masih beruntung tak kulaporkan ke polisi. Karena aku masih mengingat semua kebaikanmu padaku. Aku pikir kau sudah berubah, ternyata kau masih menjadi wanita licik. Menjerat lelaki hanya untuk kesenanganmu."
"Sorry, aku tak bisa meninggalkan hal itu. Itu sudah menjadi bagian hidupku." Sanggah Angel. "Mala, aku berjanji tak akan mengganggu suamimu lagi. Karena aku sudah punya target baru."
"What?" Mala memekik kaget mendengar perkataan teman gilanya itu. Padahal Angel adalah model cantik dengan jutaan penggemar. Namun tak ada yang tahu siapa wanita itu selain Mala.
Angel tersenyum samar. "Aku sudah punya target baru, saat keluar dari perusahaan suamimu. Aku bertemu dengan seorang Om tampan. Dia pemilik entertaiment terkenal di Tiongkok, seorang billioner. Dan kami terjebak percintaan satu malam. Aku harap benih itu segera tumbuh dalam rahimku. Aku memutuskan untuk jatuh cinta padanya."
"Kau gila Angel! Bagaimana jika lelaki itu sudah punya istri?" Seru Mala tidak habis pikir dengan jalan pikiran temannya itu.
"Aku sudah mencari tahu latar belakangnya, dia seorang duda kaya raya yang kesepian. Aku harap bisa memilikinya, dengan cara mengandung anaknya." Angel tersenyum penuh arti. Sedangkan Mala yang melihat itu mendengus kesal.
"Terserah padamu, aku harap kau tak mendapat karma dari apa yang kau lakukan selama ini. Aku harus pulang. Suamiku akan mencariku." Mala bangkit dari posisinya. "Beruntung aku masih bisa menahan emosi, jika tidak aku sudah merubah wajahmu menjadi buruk rupa karena sudah berani menyentuh milikku."
Angel yang mendengar itu malah tertawa renyah. "Aku tak akan melakukan itu lagi." Lalu pandangan Angel pun beralih pada perut buncit Mala. Ia mendekat dan mengelusnya dengan lembut.
"Apa hamil itu menyenangkan, Mala? Aku juga ingin merasakannya."
"Sebaiknya kau menikah lebih dulu sebelum hamil." Saran Mala.
"Itu tidak mungkin, aku masih ingin mengejar mimpi. Tapi aku juga ingin memiliki anak, supaya hidupku tak kesepian lagi."
"Lalu kau akan membiarkan anakmu tak memiliki ayah?"
"Aku tidak tahu, lelaki malam kemarin sepertinya sulit ditaklukkan. Dia seorang billioner, akan sangat sulit bertemu dengannya lagi. Karena itu aku menahan benihnya dalam rahimku tanpa sepengetahuannya. Aku juga sudah minum pil kesuburan."
Mulut Mala sedikit terbuka saat mendengar itu. Angel benar-benar membuatnya tercengang.
"Jika aku benar-benar hamil dan melahirkan, bagaimana jika kita menjodohkan anak kita? Aku tak dapat menikahi Ayahnya, mungkin saja bisa menikahkan anakku dengan anaknya."
Mala terkejut mendengar itu. "Omong kosong. Aku tak akan membiarkam anakku menjalin hubungan dengan orang sepertimu."
Angel terkekeh geli. "Akan aku pastikan mereka jatuh cinta saat besar nanti." Kata Angel begitu yakin.
"Bagaimana jika anak kita sama-sama laki-laki huh? Kau akan tetap menjodohkannya?"
Lagi-lagi Angel terkekeh geli. "Aku akan melahirkan anak perempuan dan kau laki-laki. Kau tahu mulutku ini sangat asin."
"Terserah padamu, aku tidak peduli itu. Satu hal yang harus kau ingat, jangan menganggu suamiku lagi. Kalau kau berani melakukannya, aku akan memotong lehermu." Ancam Mala dengan tatapan serius.
"Aku menyayangimu, Mala. Kau satu-satunya orang yang mau berteman denganku meski kau tahu latar belakangku. Aku berjanji tak akan menganggu rumah tanggamu. Tapi tolong, katakan pada suamimu untuk tidak mencabut kontraknya. Aku membutuhkan pekerjaan itu. Bagaimana jika aku hamil beneran? Aku butuh uang untuk persalinan."
Mala memutar bola matanya jengah. "Kau bicarakan itu sendiri dengan suamiku. Tapi jangan coba-coba menjebaknya lagi."
__ADS_1
"Ck, sudah aku katakan kan? Aku sudah tak menginginkan suamimu lagi. Aku sudah punya gebetan lain. Bantu aku ya?" Angel menggenggam tangan Mala begitu erat.
Mala menatap mata hazel itu lamat-lamat. Bagaimana pun Angel teman baiknya. Perkataan wanita itu bisa dipegang. Tujuh tahun lebih Mala mengenalnya. "Akan aku bicarakan itu. Aku harap kau merubah pola pikiranmu, Angel. Kau teman baikku, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu."
Angel tersenyum senang dan langsung memeluk Mala. "Kau teman terbaikku, Mala. Maafkan aku karena hampir membuat kesalahan besar."
"Sudahlah, lupakan itu. Kau harus hidup dengan baik. Dan lepaskan pelukanmu, perutku terjepit," keluh Mala. Angel yang mendengar itu langsung melepas pelukannya.
"Oh... i'm so sorry, Baby. Aunty tak sengaja menjepitmu." Ucap Angel mencium perut buncit Mala. "Hey, Boy. Tumbuh dengan baik di dalam sana. Tunggu kekasihmu hadir." Bisik Angel yang masih dapat Mala dengar.
"Mereka kembar." Kata Mala yang berhasil membuat Angel terkejut.
"Baby twins? Wow, itu keren. Itu artinya aku bisa memilih salah satu di antara mereka."
"Hentikan omong kosongmu. Aku harus pulang, jaga diri baik-baik. Berhenti menjebak lelaki tak berdosa."
Angel tertawa renyah mendengar omelan Mala. "Aku tak akan berhenti sampai perutku membuncit sepertimu."
"Kau gila, Angel. Sepertinya aku harus segera pergi dari sini. Bisa-bisa aku tertular gila sepertimu." Mala pun bergegas pergi dari sana.
"See you, Baby. Jangan lupa bujuk suamimu untuk tetap mengontrakku." Teriak Angel yang masih dapat Mala dengar.
"Ah... aku bahagia ternyata kau sudah mendapatkan cintamu lagi, Mala. Dan bodohnya aku hampir merebutnya darimu. Seharusnya kau menghajarku, Mala. Tapi kau hanya memarahiku. Aku semakin menyayangimu." Angel menteskan buliran bening dipelupuk matanya. Lalu menghampusnya perlahan.
"Baby, apa kau sudah hadir di dalam sana? Mommy harap kamu segera hadir, supaya Mommy bisa melanjutkan perjodohan itu. Dan tentang Ayahmu, aku akan mencarinya setelah semua urusanku selesai. Kau setuju kan?" Angel terus tersenyum sambil mengelus perut ratanya. Sepertinya wanita itu memang benar-benar gila.
***
"Sayang, dari mana aja sih? Dari tadi aku mencarimu. Jangan buat sumamimu ini cemas." Kesal Bian saat Mala pulang setelah sekian lama. Sudah tiga jam ia menunggu istrinya di rumah dan memutuskan untuk tidak balik ke kantor.
Mala menatap suaminya sekilas, lalu duduk di sofa karena merasa lelah. Ia mengusap perutnya yang sedikit kram karena terlalu banyak bergerak.
"Apa yang kamu lakukan pada wanita itu? Kamu tidak membunuhnya kan?"
"Ck, aku tidak mungkin melakukan itu, Sayang. Cuma memperingatinya supaya tidak mengganggumu lagi." Jawab Mala sembari memejamkan matanya.
"Kalian tidak baku hantam kan?" Tanya Bian lagi merasa penasaran. Ia tahu betul temprament istrinya akhir-akhir ini.
Mala menghela napas panjang, lalu duduk dengan kaki terlipat. "Honey, apa aku kelihatan babak belur? Aku cuma bicara empat mata dengannya. Dan kamu tahu apa yang dia katakan?"
Bian menggeleng pelan.
"Angel sudah punya target baru, dia terlibat cinta satu malam dengan seorang billioner asal Tiongkok."
"What? Apa dia sudah gila?" Pekik Bian terkejut mendengarnya.
"Hm. Sejak SHS Angel memang memiliki kebiasaan itu. Sejak kecil Angel di telantarkan orang tuanya di panti asuhan. Dia selalu bilang, akan mencari laki-laki kaya untuk dinikahinya apa pun caranya. Dia tak ingin anaknya kelak bernasib sama. Aku juga tak memahami jalan pikirannya. Kali ini dia semakin parah, dia ingin melahirkan anak lelaki itu." Jelas Mala.
"Apa dia benar-benar gila? Bagaimana jika lelaki itu sudah beristri? Bukankah dia seorang model? Dia bisa mendapatkan lelaki sukses." Protes Bian tidak habis pikir.
"Dia sudah menyelidiki lelaki itu, seorang duda kesepian katanya. Aku juga tidak tahu benar atau tidak. Aku harap dia mendapatkan jodoh yang baik. Sejak kecil dia berusaha menghidupi dirinya sendiri. Sayang, apa kamu masih ingin memutus kontrak dengannya?"
Bian menatap Mala lamat-lamat. "Ya, aku tidak ingin berhubungan dengan wanita gila itu. Meski dia seorang model papan atas, reputasinya benar-benar tidak baik."
"Sayang, apa bisa pertimbangkan itu lagi? Angel membutuhkan pekerjaan itu." Mala memberikan tatapan memohon.
__ADS_1
"Apa dia yang memintamu bicara seperti itu?" Tanya Bian.
Mala mengangguk pelan. Bian tersenyum geli. "Kemarin kamu terlihat emosi, sekarang malah membantunya? Baik banget hati kamu, Sayang."
"Honey, bagaimana pun Angel itu temanku. Bantu dia kali ini aja, boleh ya?"
Bian terlihat berpikir keras. Kemudian mengangguk pelan. Mala pun terlihat senang dan langsung berhambur dalam pelukan suaminya. "Tapi ada syaratnya."
Mala yang mendengar itu langsung menjauh dari suaminya. "Syarat?"
"Hm. Wanita itu harus datang padaku dan meminta maaf secara langsung di hadapanmu. Aku akan menyiapkan kontrak baru untuknya. Banyak syarat yang harus dia terima karena berani menjebakku. Mau atau tidak, itu urusannya." Tegas Bian. Mala yang mendengar itu tercengang.
"Aku akan bicarakan itu denganya." Mala tersenyum kikuk. Bian terlihat mengerikan saat serius seperti itu.
"Ah iya, apa kamu sudah tahu Mommy sudah melahirkan?" Tanya Mala yang baru mengingat kabar baik itu.
"Sudah, Nenek menghubungiku kemarin."
"Aku tidak sabar untuk pulang dan menggendongnya. Dia sangat mirip dengan Alexa. Aku harap tak secerewet gadis itu."
Bian tersenyum mendengarnya. "Kita pulang setelah kamu melahirkan anak-anak. Untuk saat ini aku tak akan mengambil resiko. Bersabarlah sedikit."
"Aku tahu. Aku akan bersabar dan menunggu sampai Baby twins lahir. Aku juga tak sabar menunggu mereka lahir dan mendengar tangisan mereka memenuhi rumah ini."
"Kamu tahu, merawat bayi kembar itu tak semudah yang kita bayangkan. Aku melihat itu saat Ana melahirkan tiga kurcaci itu. Dia sering menangis karena kelelahan merawat mereka dan bekerja sekaligus. Karena itu aku tak ingin kamu bekerja, fokuslah merawat Baby twins. Aku juga akan selalu membantumu."
Mala tersenyum penuh haru. "Aku ingin merasakan hal itu. Saat aku lelah, mungkin aku tidak akan menangis. Aku akan melampiaskan itu padamu."
"Siapa takut? Aku akan menampungnya, Sayang."
Mala tertawa lepas mendengar itu. Ia kembali memeluk suaminya. "I love you, My hubby."
"Love you to." Balas Bian. Lalu keduanya terdiam cukup lama.
"Sayang," panggil Bian kembali membuka pembicaraan. Mala sama sekali tak melepas pelukannya. Justru ia berpindah duduk di pangkuan suaminya. Menghirup aroma parfum suaminya.
"Hm."
"Bisa tidak mulai saat ini kamu mengubah panggilan untukku. Aku ingin kamu memanggilku dengan nama sayang."
Mala terdiam sejenak, untuk memikirkan panggilan apa yang cocok untuk suaminya. "Bagaimana jika aku panggil kamu Phiu dan kamu panggil aku Mhiu? Itu sangat manis, Sayang."
"Phiu Mhiu, tidak buruk? Itu artinya Pipi dan Mimi Bukan?"
"Hm." Mala mengangguk antusias.
"Kalau begitu, anak-anak akan memanggil kita Pipi dan Mimi. Itu jauh lebih baik."
"Yap, aku suka panggilan itu. Mereka pasti sangat lucu saat memanggil kita nanti. Pipi... Mimi... adek mau cucu." Mala memeragakan suara anak kecil. Dan itu membuat Bian tertawa lepas. Apa yang istrinya lakukan membuatnya sangat gemas.
"Aku tidak sabar mendengar suara cempreng mereka saat memanggil kita berdua."
Mala mengangguk antusias.
"Mhiu, Phiu lapar. Sepertinya Phiu ingin makan acar pedas." Pinta Bian yang tiba-tiba menginginkan makanan itu.
__ADS_1
"Phiu ngidam lagi? Kok Phiu terus sih yang ngidam? Mhiu juga pengen rasain. Baby twins tidak adil, lebih sayang Pipi dari pada Mimi." Rengek Mala sambil mengelus perutnya.
"Itu artinya mereka tahu, kalau Pipinya yang lebih banyak berperan saat membuat mereka." Gurau Bian yang berhasil mendapat cubitan dari sang istri. Bian pun meringis kesakitan sambil tertawa riang.