Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (19)


__ADS_3

Marvel mengeratkan rahangnya saat mendengar ungkapan sang adik. "Kau harus menjauhinya."


"Kenapa? Apa karena permasalahanmu dengannya?" Tanya Eveline


Marvel tidak menjawab.


"Biarkan aku bertemu dengannya, Kak. Jangan libatkan aku dalam masalah pribadi kalian. Dia sudah menyelamatkan nyawaku. Bairkan aku bertemu dengannya walau hanya sekali. Aku mohon." Lirih Eveline.


Marvel bangun dari posisinya. "Kau harus istirahat."


"Please."


Marvel tidak menggubrisnya dan berlalu begitu saja. Dan itu membuat Eveline kecewa. "Maafkan aku, Luc. Aku harap kau baik-baik saja."


Eveline mengusap perutnya dengan lembut. "Aku menyesal karena menjadi manusia lemah."


Tidak berapa lama pintu kembali terbuka, menampakkan Melvin dan Claire. Eveline bernapas lega saat melihat Claire di sana.


Gadis cantik itu pun berlari menghampiri Eveline. "Eve. Syukurlah kau baik-baik saja."


Eveline meraih tangan Claire. "Aku juga senang Kakakku membawamu ke sini."


Claire melirik Melvin yang sudah berdiri di seberangnya. "Aku yang memaksa ikut." Bisiknya.


Eveline tersenyum tipis. "Apa dia menyakitimu?"


"Tidak, bahkan dia tidak banyak bicara." Lagi-lagi Claire melirik Melvin yang juga tengah menatapnya.


"Aku tidak menyangka kau punya teman gila." Celetuk Melvin. Sontak Claire mendelik.


"Hey! Kau mengataiku gila? Aku ini waras tahu." Protesnya.


Melvin mendengus sebal.


Eveline menatapnya lekat. "Kak, aku ingin bertemu Lucas. Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu, belum melihatnya."


"Please, biarkan aku menemuinya."


"Kau harus sehat dulu, kodisimu saja masih lemah, Eve."


Eveline memasang wajah sedih. "Aku hanya ingin melihatnya, Kak. Sebentar saja. Kenapa kalian seolah ingin memisahkanya dariku?"


Melvin menatap Eveline lekat. "Bukan aku, tapi Lucas yang memintanya."


"Apa?" Kaget Eveline.


Melvin mengehela napas berat. "Istirahatlah, Daddy dan Mommy akan datang ke sini." Setelah mengatakan itu Melvin pun beranjak pergi.


"Please, biarkan aku bicara sebentar."


Langkah Melvin tertahan. "Aku rasa kau tidak akan bisa bicara padanya dalam jangka yang panjang."


"Apa maksudmu?"


Melvin berbalik. "Lucas sedang sakit parah saat menolongmu, dan sekarang dia juga terluka. Kemungkinan besar...."


"Cukup! Kau bercanda kan?" Sanggah Eveline. "Aku ingin bertemu dengannya."


"Kau sangat keras kepala, Eve. Lucas koma saat ini."


Deg!

__ADS_1


Jantung Eveline seakan berhenti berdetak saat mendengar itu.


Lucas koma? Bagaimana mungkin?


"Sudah aku katakan, dia sedang sakit."


"Sakit? Sakit apa, katakan padaku."


"Lucas terkena penyakit sirosis, dia tidak berhenti minum sejak kau meninggalkannya di Villa. Tanpa minum dan makan."


Tubuh Eveline lemas seketika.


"Sebenarnya kemarin jadwal pencakokan, tapi dia lari dari rumah sakit saat tahu kau dalam bahaya." Jelas Melvin lagi.


Eveline mulai pusing. "Ya Tuhan, Lucas. Apa dia sudah gila?"


"Ya, dia tergila-gila padamu, Eve."


Napas Eveline tercekat. Matanya mulai berkabut. "Maafkan aku."


Claire memeluk Eveline dengan penuh kasih sayang. "Dia baik-baik saja, percayalah."


"Ini salahku, Claire. Aku... aku selalu menolaknya. Padahal aku tahu dia selalu berusaha melindungiku. Maafkan aku, Luc. Aku pikir dia tidak akan mencintaiku sampai separah ini."


Melvin menghela napas berat. "Aku pergi, tolong jaga adikku."


Claire mengangguk. Lalu Melvin pun benar-benar pergi dari sana.


****


Arez menyentuh dinding kaca raksasa itu dengan kuat, menatap Lucas yang masih terbaring lemah di atas brankar. Dan untuk yang kesekian kalinya ia menghela napas berat.


"Dasar bodoh," umpatnya.


"Kenapa kalian membiarkannya pergi?" Tanya Arez.


"Kita sedang tidak di rumah sakit," sahut Winter. "Kau tahu sendiri Alexa tidak bisa terlalu lelah, jadi kami meninggalkannya bersama Dustin."


"Hah, dia sangat keras kepala."


"Lalu bagaimana dengan pembicaraan kita minggu lalu, Rez? Apa kau tidak akan mempertimbangkan putraku. Kau bilang ingin melihat keseriusan putraku kan? Sekarang kau sudah melihatnya sendiri. Aku menagih janjimu."


Minggu lalu....


Arez terkejut saat melihat Winter mengunjungi perusahaannya. Lelaki itu bangkit dari posisinya dan menyalami Winter. "Apa kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Jawab Winter tersenyum ramah.


"Duduklah." Titah Arez. Lalu keduanya pun duduk saling berhadapan. "Tumben kau datang kemari, ada apa?"


"Hah, kau masih saja to the point, Rez. Sepertinya aku tidak ingin basa-basi lagi denganmu. Ini masalah putraku, Lucas."


Arez mengerut bingung. "Ada apa? Apa dia membuat ulah lagi?"


"Ya, tapi kali ini penyebabnya itu putrimu." Jawab Winter. Arez pun terdiam beberapa saat, tentu saja ia tahu ke mana arah pembicaraan iparnya itu.


"Lalu?"


Winter menghela napas berat. "Biarkan mereka bersama, Rez. Aku tahu ini salah, tapi apa salahnya jika mereka bersatu. Lucas sangat mencintai Eveline, aku rasa kau tahu itu."


Arez masih juga diam.


"Lucas mulai menggila sejak anak-anakmu membawa Eveline kembali. Aku tidak tahu masalah sebenarnya apa, tapi dia benar-benar menggila. Dia terus minum dan mengabaikan ucapan kami. Bahkan Alexa sampai jatuh sakit karena memikirkan putranya."

__ADS_1


"Lucas mencintai putriku, tapi aku tidak yakin Eveline menyukainya. Kau tahu Eveline sudah memiliki kekasih."


"Dan kekasihnya bukanlah orang baik, kau juga tahu itu."


Arez mendengus kecil. "Kau pikir putramu juga baik? Dia menodai putriku."


Winter terdiam sejenak. "Setidaknya putraku tulus pada putrimu."


Arez menghela napas panjang. "Aku ingin melihat kesungguhanya. Benar atau tidak dia mencintai putriku, kita akan lihat kedepannya. Seseorang akan menculik putriku dalam waktu dekat. Aku tidak akan menghentikannya. Jika dia benar-benar mencintai Eveline, dia pasti tahu dan akan menyelamatkannya. Jika dia gagal, aku tidak akan pernah mengizinkannya mendekati anakku lagi."


"Tapi kondisinya tidak sebaik dulu."


"Itu kesalahannya. Aku tidak pernah ikut campur dalam urusan pribadi anak-anakku, tapi karena kegilaan putramu aku harus turun tangan." Kesal Arez.


Winter memijat kepalanya yang terasa sakit. "Semuanya menbuatku pusing. Kenapa harus putrimu?"


"Tanyakan itu pada putramu."


"Baiklah, kau harus menepati janjimu."


"Kau bisa pegang ucapanku."


Arez memejamkan matanya sejenak, lalu ditatapnya Lucas dengan seksama. "Aku tidak pernah menyangka dia bisa sakit separah ini. Tapi anak itu masih saja keras kepala, dia pikir dengan mati dia bisa memiliki putriku? Dasar bodoh. Padahal aku sudah mengirim Melvin dan Marvel untuk menyelamatkannya."


"Dia sangat mencintai Eveline, itu yang aku tahu." Ujar Alexa.


"Aku tahu. Aku akan menepati janjiku."


"Janji?"


Arez berbalik saat mendengar suara istrinya. Benar saja, Sabrina sudah berdiri tak jauh darinya.


Sabrina berjalan mendekat. "Janji apa, Al?"


Winter dan Alexa tidak berani bersuara karena Sabrina memang belum tahu hubungan antara Lucas dan Eveline.


Arez menatap istrinya lekat. "Kita akan bicarakan ini di hotel. Kau sudah menemui putrimu?"


"Ya, dia baik-baik saja." Sahutnya. Lalu ditatapnya Lucas penuh iba. "Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah dia sedang sakit? Kenapa dia ikut menyelamatkan Eveline?"


"Karena putraku mencintai anakmu, Sab." Sahut Alexa yang berhasil membuat Sabrina dan Arez kaget. Ini tidak sesuai kesepakatan.


"Apa maksudmu?" Sabrina menatap Alexa bingung.


"Lucas mencintai Eveline, Sab. Karena itu dia melakukan ini semua." Jawab Alexa tak kuasa menutupi semuanya lagi. "Lucas hanya ingin hidup bersamanya."


Sabrina menggeleng. "Bagaimana mungkin? Mereka bersaudara, Lexa."


Alexa memeluk Winter. "Biarkan mereka bersatu, Winter. Aku tidak sanggup melihatnya menderita lagi. Aku tidak peduli mereka bersaudara sekali pun. Lucas sudah menunjukkan cintanya pada Eveline. Bahkan dia rela mati hanya untuk menyelamatkannya. Apa tidak ada yang menghargai usahanya itu?"


Sabrina tersenyum hambar. "Ini tidak mungkin. Kalian bercanda?"


Arez merengkuh istrinya. "Kita bicarakan ini di hotel, sayang. Ayo."


Sabrina menatap Arez. "Al...."


"Aku akan menjelaskan semuanya. Kita kembali ke hotel." Arez pun langsung membawa Sabrina pergi dari sana.


"Bagaimana ini bisa terjadi, Al?"


"Sudah aku katakan aku akan menjelaskannya nanti."


Sabrina pun mengalah dan membiarkan Arez membawanya ke hotel. Ia masih bingung dan syok. Juga tidak sabar mendengar penjelasan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2