
Violet terus merengek pada sang Mommy agar mobil kesayangannya tidak dijual. Ya, beberapa hari lalu Violet dan Jarvis memang kalah dalam pertandingan. Itu artinya mereka harus merelakan mobil kesayangannya untuk dijual. "Mom, please. Jual saja mobilku yang lain. Kau tahu kan Blue itu kesayanganku."
Jarvis yang menyaksikan itu cuma bisa tersenyum sembari menikmati secangkir kopi. Baginya tidak terlalu masalah menjual mobil kesayangannya itu. Toh dirinya sudah tak layak bermain di arena, saatnya untuk menikmati masa tua bersama sang istri.
"Tidak ada tawar menawar, besok mobil kalian akan dibawa oleh pembelinya. Mereka sudah membayar lunas harganya." Tegas Alexella seperti biasanya. Bukan tanpa alasan Alexella menjual mobil putrinya itu. Sudah cukup untuk Violet bermain-main lagi. Saatnya dia melanjutkan hidup yang sesungguhnya.
Seketika Violet pun lesu. Ia benar-benar menyesal karena sudah menjebak sang Daddy, alhasil ia pun harus menikmati akibat ulahnya sendiri. "Mom...."
"Besok kau sudah bisa melanjutkan posisi Daddymu di kantor, Vio." Sanggah Alexella yang berhasil membuat Violet terhenyak.
"Mom! Aku tidak mau posisi itu."
"Jika bukan dirimu, siapa lagi yang akan meneruskannya huh? Jangan konyol." Kesal Alexella menatap putrinya tajam. "Sudah cukup kau bermain-main selama ini."
Violet mendengus sebal. "Aku tidak mau."
Jarvis menghela napas. "Kalau begitu kau akan hidup sengsara kedepannya, Vio."
"Tentu saja tidak, aku akan mencari suami kaya raya. Jadi aku tidak perlu bekerja lagi." Sahut Violet dengan enteng. Kemudian ia pun kembali merengek soal Blue-nya.
"Baiklah, kalau begitu Daddy akan menyerahkan posisi ini pada Melvin. Punya anak satu-satunya tapi tidak mau bekerja, percuma Daddy menyekolahkanmu sampai magister."
Violet sama sekali tidak peduli. "Siapa bilang aku tidak mau bekerja. Aku akan bekerja mulai sekarang."
Mendengar itu Alexella dan Jarvis pun terlihat bahagia.
"Aku akan menjadi model." Imbuh Violet yang berhasil membuat kedua orang tuanya hampir serangan jantung.
"Apa kau bilang? Menjadi model?" Seru Jarvis. Violet pun mengangguk yakin.
"Daddy melarangmu." Tegas Jarvis.
"Daddy tidak bisa melarangku. Aku sudah dewasa dan berhak menentukan pilihan. Aku akan ikut Berlin fashion week bulan depan. Itu keputusanku dan tidak bisa diganggu gugat." Ujar Violet tidak kalah tegas.
Alexella memijat keningnya. Sepertinya keras kepalanya menurun pada anak itu. "Sudahlah Jarvis, biarkan dia. Sekeras apa pun kau melarangnya, dia akan tetap pergi."
"Ya, Mommy benar." Sahut Violet melipat kedua tangannya di dada. Jarvis pun memelototinya. Bukanya takut, anak itu malah membalasnya.
Alhasil Jarvis pun mengalah. "Baiklah, terserah kau saja. Aku lelah dengan sikap kerasmu itu. Kau dan Mommymu sama saja."
"Hey, aku tidak salah." Sanggah Alexella tak terima dibawa-bawa.
"Ya, sejak kapan kau salah? Kau itu selalu benar."
"Jarvis!" Kesal Alexella.
Violet terlekeh lucu melihat perdebatan orang tuanya itu. "Kalian sangat lucu."
"Apanya yang lucu?" Kompak Alexella dan Jarvis menatap putrinya nyalang. Sontak Violet pun langsung pergi dari sana sebelum mendapat amukan keduanya.
__ADS_1
"Dasar anak durhaka." Ucap Alexella menatap kepergian putrinya.
"Kita juga dulu anak durhaka." Jarvis tersenyum tipis.
"Kau yang membuatku jadi anak durhaka."
"Intinya kita sama, sayang."
"Terserah kau saja, Jarvis."
Jarvis tertawa geli melihat wajah kesal istrinya. "Aku mencintaimu, sayang."
"Hentikan itu, aku lelah, Jarvis. Aku ingin istirahat. Jangan menggangguku." Alexella pun beranjak dari sana. Meninggalkan Jarvis yang terus tersenyum geli. "Sangat manis." Katanya.
****
Hari pertunangan Dustin dan Sheena pun tiba. Sheena terlihat begitu cantik dengan balutan dress selutut berwarna gading, senada dengan tuxedo Dustin tentunya. Rambut panjangnya disanggul ala messy bun yang menambah kecantikannya hari ini.
Acaranya pun terbilang meriah, hampir seluruh ballroom dipenuhi para tamu undangan. Sebenarnya Sheena tidak terlalu menginginkan acara sebesar ini, cukup acara sederhana saja. Dan tentunya Alexa menolak hal itu dengan alasan semua orang harus tahu calon menantunya. Karena jika tidak heboh bukan Alexa namanya.
Sepasang kekasih itu pun bertukar cincin dan disambut oleh tepuk tangan semua orang. Dustin dan Sheena pun saling melempar senyuman bahagia. Terpancar jelas kebahagiaan dimata mereka.
"Ekhem." Deham Eveline menerik atensi keduanya. "So, tidak perlu berlama-lama lagi dong. Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan huh?" Godanya.
Dustin dan Sheena pun tersenyum lebar. "Secepatnya, aku juga tidak ingin ketinggalan terlalu jauh." Jawab Dustin merengkuh pinggang ramping kekasihnya. Sheena tersenyum malu mendengarnya.
Namun, sedetik kemudian Dustin terkejut saat matanya menangkap sosok Violet berdiri diantara keluarganya yang lain. Gadis itu tersenyum ramah, kemudian mengacungkan jempol padanya. Dustin masih tidak percaya gadis itu akan hadir, padahal ia sudah memintanya untuk tidak datang.
Sheena menghela napas panjang. Mencoba menenangkan suasana hatinya. Meski wajahnya terlihat gusar. Bahkan ia tidak sadar jika Dustin terus memperhatikan wajahnya.
"Kau cemburu?" Tanya Dustin yang berhasil membuat Sheena kaget. Cepat-cepat gadis itu menggeleng.
"Aku pikir kau cemburu. Katanya cemburu itu tanda cinta." Ledek Dustin tersenyum geli.
"Dustin!" Kesal Sheena memelototi kekasih hatinya itu. "Aku sedang berusaha untuk tidak cemburu pada sepupumu. Aku percaya padamu, Dustin."
Dustin tersenyum manis. "Sepertinya aku benar-benar terpikat oleh kebaikanmu, Sheena." Bisiknya yang kemudian mengecup punggung tangan Sheena. Sheena yang diperlakukan spesial pun merasa tersanjung. Ia semakin yakin jika suatu saat Dustin hanya akan mencintainya seorang.
Lain halnya dengan Violet, gadis itu berusaha menahan sesak didadanya. Bagaimana pun ia masih belum bisa menghilanhkan perasaan itu dalam waktu yang singkat. Namun, ia berusaha menutupinya dengan senyuman. Apa lagi seluruh keluarga besarnya hadir di sana.
Tidak. Kau tidak boleh lemah, Vio.
"It's okay, Baby. Kau tidak perlu menahannya, jika ingin menangis. Pundakku siap menjadi sandaran untukmu." Ujar Paul yang baru saja tiba.
Violet terkejut dan langsung menoleh. "Paul! Kau... sejak kapan di sini? Bukanya kau bilang tidak bisa datang karena sibuk?"
Paul tersenyum begitu menawan. "Tadinya begitu. Tapi aku terus memikirkanmu, sayang. Kita cari tempat lain?"
Violet tersenyum. "Baiklah, ayo." Ajaknya berinisiatif menarik Paul lebih dulu. Dan keduanya pun memutuskan untuk pergi ke halaman belakang hotel yang langsung berhadapan dengan laut. Sepoi angin malam pun menyapa wajah cantik Violet, sehingga rambutnya yang panjang pun melambai indah.
__ADS_1
Paul terus memandangi wajah cantik Violet yang tampak berseri.
"Ternyata tidak buruk juga melepaskan orang yang kita cintai. Meski rasanya sakit, tapi terselip rasa lega." Ujar gadis itu semakin mengembangkan senyumannya.
"Ya." Sahut Paul masih setia memandanginya. Ia benar-benar tenggelam dalam pesona Violet.
Violet pun menoleh, sebelah alisnya terangkat saat melihat tatapan Paul untuknya. "Hei, kenapa manatapku seperti itu huh? Apa ada sesuatu diwajahku?"
Paul mengangguk, kemudian menyentuh pipi gadis itu dengan lembut. "Cantik."
Mendengar itu Violet pun tertawa geli. "Aku tahu, sejak lahir aku memang cantik." Ucapnya ikut menyentuh punggung tangan lelaki itu.
"Ayo kita menikah, Vio." Ajak lelaki itu dengan dengan penuh harap. "Aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Rasanya aku tersiksa saat kau tak disisiku."
Violet tertawa geli mendengar perkataan Paul. "Kau tidak terlihat tulus, Paul. Lagi pula aku suka sesuatu yang romantis." Kodenya.
Mendengar itu tatapan Paul langsung berbinar. "Jadi kau ingin aku melamarmu secara resmi huh?"
Violet mengangguk. "Buktikan ucapanmu dengan tindakan, Paul. Aku lebih suka tindakan ketimbang omongan belaka."
"Sungguh? Kau akan menerimaku jika aku melamarmu?"
Lagi-lagi Violet mengangguk. Lalu kedua tangannya ia kalungkan dileher lelaki itu. "Aku sudah memutuskan untuk mencoba menerimamu, Paul. Lagian aku sudah tua, sudah saatnya untuk menikah."
Mendengar itu mata Paul berkaca-kaca, sejak lama ia ingin mendengar kata-kata itu dari mulut gadis pujaan hatinya itu. "Aku akan melakukan apa pun yang kau mau, Vio. Akan aku lakukan."
Entah siapa yang memulai, yang jelas keduanya kini sudah terlibat ciuman panas. Sampai tak sadar jika sejak tadi seseorang menyaksikan perbuatan keduanya. Yang tak lain adalah Dustin.
Lelaki itu berniat untuk menemui Violet secara pribadi dan meminta maaf langsung. Namun ia tak pernah menyangka akan menyaksikan hal itu. Dustin merasa lega karena Violet benar-benar ingin membuka hatinya untuk orang lain. Itu artinya ia tak harus memendam perasaan bersalah lagi.
Tidak ingin mengganggu keduanya, Dustin pun memutuskan untuk kembali ke ballroom.
Sedangkan masih di ballroom, Sheena terlihat berjalan sendirian menuju area resto. Perutnya agak lapar dan berniat untuk makan sesuatu di sana. Namun, belum sempat dirinya sampai di sana. Tiba-tiba ia merasakan nyeri diperutnya. Spontan Sheena pun menyentuh perutnya.
"Akhh!" Lenguhnya saat rasa sakit itu semakin menjadi. Bahkan ia merasa ada sesuatu yang mengalir dikakinya. Refleks ia pun melihat ke bawah, benar saja darah mengalir dikakinya. "Akhh!"
Pandangan Sheena pun mendadak buram seiring dengan darah yang terus mengalir dikakinya.
"Sheena." Panggil Dustin yang baru kembali. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat mimik wajah Sheena yang terlihat manahan rasa sakit. "Hey, kau kenapa?"
Sheena mencengkram erat tangan Dustin. Rasa sakit diperutnya membuat ia sulit bicara.
"Ya ampun, Darah!" Pekik Lea saat melihat darah dikaki Sheena. Sontak Dustin pun langsung melihat ke bawah.
"Ya Tuhan, Sheena?"
"Dustin, maaf." Ucap Sheena sebelum hilang kesadaran. Refleks Dustin menangkap tubuh kekasihnya. "Sheena?"
Tidak ingin membuang waktu Dustin pun langsung menggendongnya. "Luc, bawa aku ke rumah sakit." Teriaknya.
__ADS_1
Lucas pun langsung berlari dan membantu kembarannya. Begitu pun dengan Mike yang ikut menyusul mereka.
Kini acara yang seharusnya dipenuhi kebahagian pun mendadak berubah riuh dan panik. Bahkan keluarga besar pun terpaksa membubarkan acara sebelum waktunya dan ikut menyusul Dustin untuk melihat kondisi Sheena.