
Waktu berlalu begitu cepat, sudah satu bulan lamanya Sweet meninggalkan dunia ini. Meski kesedihan masih menyelimuti mansion utama. Namun, semua orang mulai membiasakan diri tanpa kehadiran mendiang dan sudah kembali beraktivitas seperti biasanya.
Dari kejauhan, Melvin tampak memasuki mansion sambil bersenandung ria. Tidak lama Sabrina mendatanginya.
"Melvin, di mana Marvel?" Tanyanya merasa heran karena sudah hampir satu bulan putranya itu sangat jarang pulang ke mansion.
Sampai saat ini, Marvel memang belum mengungkap soal Noah pada keluarganya atas permintaan Emilia. Wanita itu masih takut Eveline akan mencelakainya. Beruntung anak-anak yang lain ikut bungkam dan tak ada yang membocorkannya termasuk Lucas sekali pun.
Melvin mengedikkan bahunya. "Aku hanya bertemu dengannya di kantor, Mom. Setelah itu aku tidak bertemu dengannya lagi." Jawab anak itu apa adanya. Lalu memeluk Sabrina manja.
Sabrina menghela napas. "Sepertinya dia sudah tidak menyayangiku lagi." Sedihnya.
"Ck, jangan bicara seperti itu. Si es balok itu sepertinya sedang mencoba merebut hati seseorang, Mom."
Mendengar itu Sabrina langsung menarik diri. Ditatapnya Melvin lamat-lamat. "Maksudmu?"
Melvin tersenyum lagi seraya menangkup wajah sang Mommy gemas. "Aku rasa menantumu akan bertambah lagi, Mom."
Mendengar itu wajah Sabrina pun langsung berseri. "Benarkah? Siapa gadis itu? Apa Mommy mengenalnya?" Tanyanya begitu menggebu.
Melvin terkekeh lucu. "Aku rasa tidak, kau akan tahu saat dia membawanya kemari."
"Baiklah. Aku akan menunggu anak itu pulang." Sahutnya begitu semangat. "Akhirnya anak itu menemukan seseorang juga. Mommy penasaran seperti apa gadis itu? Pasti dia hebat karena bisa meluluhkan hati beku anakku."
Mendengar itu Melvin tertawa lagi. "Kau akan segera tahu, Mom. Ya sudah, aku harus ke kantor sekarang."
Sabrina mengangguk. Kemudian keduanya pun keluar dari sana bersamaan.
****
Tengah malam Emilia terbangun karena mendengar Noah terus merengek tak jelas. Merasa ada yang aneh, Emilia langsung memeriksa suhu tubuhnya. Benar saja, ternyata Noah demam tinggi.
"Ya Tuhan!" Kaget Emilia segera menyibak selimutnya. Lalu mengambil stok obat demam anak di dalam laci nakas. Setelah itu ia memasukkan sebutir obat itu ke dalam mulut anaknya.
"Kunyah, Sayang." Pintanya. Beruntung Noah mengerti dan langsung mengunyahnya. Lalu Emilia kembali mengambil sesuatu dari dalam laci, yaitu plester kompres demam. Kemudian memasangnya di kening Noah dengan hati-hati.
Emilia kembali meraih gelas berisi air putih. "Minum sedikit sayang." Dengan hati-hati Emilia membantu Noah minum. Sayangnya anak itu langsung menolak.
__ADS_1
"Mami." Rengek Noah mulai menangis.
"Iya, Sayang. Mami di sini." Emilia menaruh kembali gelas itu di atas nakas. Lalu memeluk putranya yang terus menangis. "Sssttt, Mami di sini."
Karena tangisan Noah tak kunjung redam, Emilia pun memilih untuk bangun dan menggendongnya agar anak itu lebih tenang. Ia berjalan perlahan ke luar kamar sambil menenangkan Noah dengan mengusap-ngusap punggungnya.
Cukup lama Noah menangis dan merengek karena rasa pusing dan sakit disekujur tubuhnya. Membuat Emilia ikut merasakan hal itu. Dikecupnya kepala Noah dengan lembut.
Beberapa menit berikutnya, Noah pun mulai tenang meski panasnya belum turun. Perlahan anak itu kembali terlelap.
Karena pegal, Emilia pun duduk bersandar di sofa. Dan ikut memejamkan mata karena sangat mengantuk. Baru saja Emilia hampir terlelap, pintu rumah pun terbuka. Menampakkan Marvel yang langsung menatapnya bingung.
Emilia langsung memberi kode padanya untuk tidak berisik. Matanya terlihat sayu sangking mengantuknya.
Selama satu bulan ini, Marvel memang lebih sering datang ke kediaman Emilia meski dirinya sibuk sekalipun. Pergi dan datang sesuka hatinya seolah rumah itu adalah miliknya. Emilia tak bisa melarangnya, sekuat apa pun ia melarangnya. Marvel akan teguh dengan pendiriannya.
Marvel mendatangi keduanya. Lalu memeriksa kondisi putranya. Dan langsung terkejut saat tahu Noah tengah demam. Cepat-cepat ia memeriksa kembali tubuh anaknya. Lagi-lagi ia kaget saat melihat tangan Noah terdapat banyak bintik merah.
"Kenapa kau diam saja?" Kesalnya tertahan dan langsung mengambil alih Noah dalam gendongannya. Noah yang kaget pun kembali menangis. Tentu saja Emilia kesal dibuatnya.
"Sudah aku katakan jangan berisik, dia baru saja tidur."
"Hei, ke mana kau akan membawanya? Ini sudah larut malam." Protes Emilia terus mengikuti langkah besar Marvel.
"Stop, Marvel! Noah akan kedinginan." Seru Emilia yang berhasil menahan langkah Marvel. Lelaki itu pun langsung berbalik.
"Dan kau akan terus membiarkannya seperti ini? Aku akan membawanya ke rumah sakit. Berhenti melarangku." Kesal Marvel yang bergegas membawa putranya pergi. Membuat Emilia terdiam di posisinya untuk beberapa saat hingga akhirnya ikut menyusul.
Dan kini mereka sudah berada di rumah sakit elit. Dokter pun langsung memeriksa kondisi Noah. Marvel terus menatap dokter itu dengan seksama, sedangkan Emilia duduk cemas di ujung brankar.
"Jika boleh tahu sejak kapan dia demam? Panasnya sangat tinggi sekali. Di beberapa bagian tubuhnya juga terdapat bintik merah. Sepertinya putra kalian mengalami gejala dengue hemorrhagic fever." Ujar sang dokter yang berhasil membuat Emilia syok.
"Lakukan apa pun agar putraku baik-baik saja, dok." Sambar Marvel menatap dokter itu penuh harap. Begitu pun dengan Emilia.
"Tuan dan Nyonya jangan panik, ini masih gejala. Kita belum tahu penyakit sebenarnya, sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut supaya lebih pasti." Imbuh sang dokter.
"Lakukan, Dok." Sahut Marvel lagi. Dokter pun mengangguk dan segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah itu berpamitan dan mengatakan akan kembali setelah hasil keluar. Tentu saja Marvel dan Emilia pun setuju.
__ADS_1
Emilia berpindah duduk di sebelah Noah, lalu mengusap kepala anak itu dan mengecup keningnya lembut. Marvel cuma diam di posisinya.
Beberapa menit kemudian, dokter pun kembali bersama dua suster.
"Hasil pemeriksaan sudah keluar, putra kalian positif terkena dengue hemorrhagic fever. Trombositnya sangat rendah, dia harus dirawat." Jelas sang dokter sembari memberikan kertas hasil pemeriksaan pada Marvel. Ditatapnya benda itu dengan nanar.
Marvel menatap putranya sekilas. Kemudian kembali menatap sang dokter. "Lakukan perawatan terbaik untuknya."
Dokter itu pun mengangguk dengan senyuman ramah.
Noah pun dipindahkan ke ruang rawat vip agar mendapat perawatan intensif. Sejak tadi, Marvel terus duduk disisinya. Menatap wajah pucat putranya dengan datar.
Sedangkan Emilia duduk di sisi lainnya. Terus mengusap kepala putranya penuh sayang.
Marvel beralih menatap Emilia. "Setelah dia sembuh aku akan membawanya kembali ke Berlin."
Mendengar itu Emilia spontan menoleh.
"Apa yang kau bicarakan?"
Marvel menatapnya tajam. "Kejadian hari ini meyakinkanku jika kau tak bisa merawatnya dengan baik."
Emilia terdiam beberapa saat. Hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan Marvel.
"Dia putraku, kau...."
"Dia juga anakku," sergah Marvel. "Aku sudah memutuskan semuanya, dia akan ikut bersamaku. Dengan persetujuanmu ataupun tidak." Tegasnya dengan sorot mata yang semakin menajam.
Emilia menatap Marvel dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimana bisa kau memisahkan Ibu dan anak, Marvel? Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, dan merawatnya dengan sepenuh hati. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Please, jangan pisahkan aku dengannya. Dia satu-satunya harta yang aku punya."
Marvel kembali menatap putranya. "Dua kali kau membahayakan nyawanya. Aku tidak akan membiarkan ketiga kalinya."
Emilia menggeleng. "Ini bukan keinginanku, Marvel. Tidak ada Ibu di dunia ini yang ingin anaknya sakit. Kau tidak akan mengerti perasaanku karena kau tidak akan pernah berada diposisiku."
Marvel tidak menggubrisnya. Membuat Emilia begitu frustrasi.
"Please, biarkan aku hidup bersamanya di sini. Jika kau ingin memisahkan kami, sebaiknya kau bunuh saja aku. Buat apa aku hidup jika putraku tidak ada. Sejak awal tidak ada...."
__ADS_1
"Kau bisa ikut denganku, Emilia. Tawaranku masih berlaku." Potong Marvel yang berhasil membuat Emilia seketika bungkam.