
Alex berjalan dengan santai, memasuki sebuah kafe bernuansa Eropa. Lelaki itu terlihat tampan dengan pakaian kasual. Penampilannya jauh lebih rapih dari sebelumnya, ia sudah memotong rambut gondrong dan menyingkirkan bulu halus yang ada di bagian wajahnya. Alex terlihat lebih muda dan berkarisma.
Iris mata lelaki itu melebar saat menangkap seseorang yang tengah duduk di meja bagian pojok kanan kafe. Tanpa banyak berpikir, ia pun langsung menghampiri orang tersebut.
"Cih, satu jam lebih aku menunggumu di sini." Seorang lelaki bermata hazel dengan rambut gondrong menatap Alex kesal. Ia terus memperhatikan Alex yang duduk di hadapannya.
"Hah, kau merubah kembali penampilanmu?" lanjut lelaki itu menatap Alex remeh.
"Langsung pada intinya." Tegas Alex memberikan tatapan tak bersahabat.
"Come on, kita bisa santai di sini. Lagian aku masih lelah setelah bertempur semalaman. Tapi aku puas, Kau memang sahabatku." Lelaki bermata hazel itu tertawa lepas. Alex sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Cih, bukankah itu memang keinginanmu. Nafsumu terlalu berlebihan," ledek Alex pada lelaki itu.
"Tentu saja, seorang Gerald Schwarz tidak akan lemah hanya dengan melayani dua wanita. Bahkan sepuluh wanita pun aku sanggup." Lelaki bernama Gerald itu bicara dengan begitu angkuh.
"Kau memang tak akan pernah berubah, pikiranmu hanya wanita dan wanita. Tapi aku tidak peduli akan itu, tetap jalankan rencana kita." Alex memberikan tatapan licik. Tentu saja di balas dengan tatapan penuh muslihat oleh Gerald.
"Dengan senang hati, aku merasa terhormat mendapatkan dua wanita berstatus bangsawan seperti mereka. Biasanya aku akan membayar wanita malam untuk bersenang-senang. Tapi kali ini aku mendapat dua kupu-kupu menawan secara gratis, tanpa batas waktu." Gerald tertawa lagi. Ia merasa senang dengan apa yang sedang diperankannya saat ini. Tentu saja keuntungan demi keuntungan ada padanya.
"Tunggu! Bagaimana dengan wanitamu?" tanya Gerald pada Alex. Tentu saja pertanyaan itu membuat Alex terdiam.
"Cari dia, dan bawa kembali, Lex. Aku tahu, hanya wanita itu yang mampu merobohkan tembok baja di hatimu," lanjut Gerald. Kali ini ia terlihat lebih serius. Alex menatap Gerald cukup lama.
"Aku akan membawanya kembali saat semua masalah sudah tuntas. Kau tahu sendiri, akan sangat bahaya jika dia berada di sampingku." Alex memijat pelepisnya. Kepalanya terasa sakit jika kembali mengingat Sweet.
"Hah, terserah padamu. Kita lihat saja nanti, apakah dia akan kembali dalam pelukanmu atau tidak? Di antara kalian sama-sama keras, entah siapa yang akan lebih dulu melunak." Gerald tersenyum getir. Ia tahu betul bagaimana sifat sepasang suami istri itu.
Gerald adalah salah satu sahabat Alex, selain Hanz. Di antara mereka hanya Gerald lah yang lebih dekat. Lelaki itu memang terlihat acuh, namun cukup memperhatikan kedua teman kecilnya. Alex menyimpan kepercayaan penuh pada Gerald, karena lelaki itu cukup rapat dalam menyimpan rahasia. Berbeda dengan Hanz, lelaki itu lebih sering menghilang tanpa kabar. Bahkan tidak jarang mereka saling berbeda pendapat yang berakhir dengan pertengkaran.
"Jadi, kau sudah mendapat berita tentangnya?" tanya Gerald menatap Alex penuh selidik.
"Aku tidak tahu pasti, tapi aku sangat yakin. Seseorang melindunginya, dan menutup semua informasi tentang istriku." Alex bicara dengan nada frustrasi.
__ADS_1
"Jangan cemas, aku akan membantumu. Tentu itu tidak gratis," ujar Gerald tersenyum penuh arti.
"Hah, aku sudah menebak itu. Ambil saja dua wanita tak berguna itu untukmu, itu hadiah dariku." Setelah mengatakan hal itu, Alex pun bangkit dari kursi dan melangkah pergi. Tentu saja hal itu tak lepas dari pengawasan Gerald.
"Hah, kau selalu terjebak dalam masalah percintaan, Lex. Kali ini aku akan membantumu, aku harap kau menemukan kebahagiaanmu." Gerald menatap kepergian Alex dengan penuh iba. Sebagai sahabat, tentu ia tahu apa yang Alex pikirkan saat ini.
"Ah, kali ini kau memberikan dua penyihir padaku. Tentu saja aku senang karena mendapatkan barang segel, tapi aku tetaplah aku. Jika sudah bosan, aku akan membuang mereka dengan mudah." Gerald bangun dari posisinya, lalu mengikuti jejak Alex untuk meninggalkan tempat itu. Yang tak lain adalah kafe miliknya.
***
"Ana, sejak pagi Nenek perhatikan kamu belum menyentuh makanan apa pun, kamu harus makan agar kondisi kamu cepat pulih." Seorang wanita berusia enam puluhan menghampiri Sweet yang sedang termenung di depan jendela kamar.
Sweet menarik dirinya dari lamunan yang panjang, lalu menatap sang Nenek yang kini duduk di hadapannya. "Nek, tolong panggil aku, Sweet."
Tatapan Sweet begitu penuh luka, matanya berair. Menahan rasa sakit yang terus ia pendam selama hampir dua bulan.
Aku benci nama ini, saat mendengar nama itu, aku akan mengingatnya lagi dan lagi. Aku ingin melupakannya, dan melepas semua perasaan ini. Bahkan dia sama sekali tidak mencari keberadaanku saat ini. Bagaimana bisa aku mempertahankan semua perasaan ini.
Nyonya Sasmitha merasa sakit saat melihat sang cucu yang menyimpan begitu banyak luka di hatinya. "Baiklah, mulai saat ini kami akan memanggilmu, Sweet. Nama yang sangat manis, seperti kamu."
Sweet sedikit menggerakkan tubuhnya yang terasa nyeri. Bahkan matanya saja terasa berat untuk terbuka. Namun, perlahan tapi pasti kedua matanya terbuka sempurna. Dan yang pertama kali ia lihat adalah atap bercat putih. Indra penciumannya langsung menangkap aroma yang begitu menyengat. Bahkan pergelangan tangannya terasa nyeri, dan terasa berat untuk digerakkan.
Sweet menyadari saat ini ia berada di sebuah rumah sakit, kerena bisa mencium aroma obat yang cukup mengganggu indra penciumannya. Sweet juga melihat jarum infus masih terpasang di lengannya. Tubuhnya terasa kaku dan lemas. Potongan demi potongan ingatan pun memenuhi kepalanya.
"Grace," gumamnya dan hendak bangun. Namun tiba-tiba pintu pun terbuka, memperlihatkan seorang wanita yang membuat Sweet tak mampu bicara apa pun. Mulutnya terkatup rapat.
Ah, jadi aku sudah ada di surga? Pikir Sweet.
Wanita itu pun semakin mendekat, "kamu sudah sadar?"
Tunggu! Jadi aku belum mati, lalu siapa yang ada di hadapanku? Kenapa begitu mirip dengan almarhumah Nenek? Sweet terus berpikir keras, membuat kepalanya berdenyut hebat. Hingga tanpa sadar ia melenguh, membuat wanita itu merasa cemas. Lalu ia pun menekan sebuah tombol yang langsung menghubungkan ke ruangan Dokter.
"Sayang, kamu baik-baik aja kan? Tunggu sebentar, Dokter akan segera datang." Wanita itu mengusap kepala Sweet.
__ADS_1
Sweet benar-benar membisu, semua yang ia lihat itu sangat nyata. Sang Nenek yang ia anggap sudah tiada, saat ini masih berdiri dengan sehat di depan matanya.
"Nenek?" Akhirnya Sweet mengeluarkan suara. Wanita itu pun tersenyum dan mengangguk.
"Iya, ini Nenek, Sayang. Maaf, Nenek membohongi kamu selama ini." Wanita yang berstatus sebagai Nyonya Sasmitha itu pun mengecup kening Sweet dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa Nenek melakukan ini?" tanya Sweet dengan air mata sedikit lagi akan tumpah.
"Maaf, Nenek cuma ingin melindungi kalian. Tapi semua salah, Nenek memberikan kamu pada orang yang salah. Dia terlalu lemah untuk melindungi kamu," ujar Nyonya Sasmitha penuh penyesalan.
"Apa maksud Nenek?" tanya Sweet penasaran. Namun rasa penasaran itu harus ia tunda beberapa saat. Karena sang Dokter masuk untuk memeriksa keadaannya. Butuh waktu beberapa menit, dokter itu sudah selesai memeriksa keadaan Sweet.
"Sejak kemarin tekanan darah Nona Ana sangat rendah, perlu istirahat yang cukup dan perlu makan-makan yang bergizi... Karena kondisi seperti ini akan sangat...."
"Dokter, saya akan memastikan cucu saya cukup istirahat dan makan sesuai yang anda katakan." Nyonya Sasmitha memotong penjelasan sang Dokter. Seakan tidak ingin Dokter itu melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, jika ada keluhan tolong beri tahu kami. Tiga jam sekali perawat akan mengawasi keadaan Nona," ujar sang Dokter yang faham dengan tatapan Nyonya Sasmitha. Lalu Dokter pun meninggalkan ruangan Sweet.
Sweet sama sekali tidak mempertanyakan hal itu, ia tidak ingin mengambil pusing masalah baru. Saat ini saja, kepalanya seakan hampir pecah.
"Nenek akan mengatakan semuanya padamu," Nyonya Sasmitha pun duduk di samping Sweet.
"Mereka bukan orang tua kandung kamu, Ayah dan Ibumu meninggal setelah beberapa bulan kamu lahir. Sejak itu keadaan keluarga kita kacau, Kakekmu ikut pergi untuk selamanya. Beliau cukup kaget saat mendengar kabar kematian putra bungsunya," jelas Nyonya Sasmitha dengan tatapan penuh luka.
Mendengar itu, dada Sweet terasa sesak. "Itu tidak mungkin."
"Itu kenyataannya, sejak awal keluarga kita memang sudah hancur. Banyak hal yang harus kamu tahu, tapi tidak sekarang. Setelah keadaan kamu lebih baik, Nenek akan menceritakan semuanya." Nyonya Sasmitha mengusap rambut Sweet dengan lembut. Lalu, suara pintu terbuka pun berhasil menarik perhatian mereka. Seorang lelaki duduk di atas kursi roda pun masuk dengan sang asisten.
"Dia Kakak sepupumu, Bian Permana. Kalian berdua lah harta yang Nenek punya saat ini." Nyonya Sasmitha tersenyum senang. Kini kedua cucunya sudah bersatu kembali.
"Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Bian menatap Sweet lekat. Lelaki tampan itu meminta asistennya untuk mendorong kursi roda agar lebih dekat pada Sweet.
"Baik," jawab Sweet singkat. Ia masih merasa asing saat melihat Bian.
__ADS_1
"Aku harap, kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik. Kau bisa bertanya apa pun itu, agar kita saling mengenal lebih dekat." Bian tersenyum tulus.
"Bian, untuk saat ini biarkan adik kamu istirahat lebih dulu. Keadaannya belum membaik. Setelah dia sembuh, kalian bisa sepuasnya mengobrol." Ujar Nyonya Sasmitha. Bian tersenyum seraya mengangguk patuh. Lalu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Sweet menutup matanya kembali, karena rasa pusing yang tak kunjung hilang.