
"Kau mau kemana Jarvis?" Tanya Alexella yang baru bangun dari tidurnya. Sedangkan Jarvis terlihat sudah rapi dengan setelan kantornya.
"Kenapa kau masih bertanya? Bukankah sudah terbiasa melihatku seperti ini?"
Alexella palsu itu pun tersentak kaget. "Ah, aku hanya bertanya. Apa aku salah?"
"Jangan bertanya hal bodoh padaku?" Ketus Jarvis.
Sial! Kenapa dia selalu bersikap dingin padaku? Apa dia tahu aku bukan istrinya. Atau dia memang tak pernah mencintai istrinya? Bahkan malam tadi aku sudah menggodanya, tapi dia menolakku mentah-mentah.
"Jarvis, apa kau mencintaiku?"
Jarvis berbalik, menatap Alexella lekat. "Kau lupa surat perjanjian kita huh?"
Surat perjanjian? Jadi mereka tak saling jatuh cinta? Sial! Aku pikir Alexella adalah wanita yang dicintainya dan aku bisa memanfaatkan itu. Tapi apa sekarang? Kenapa hidupku sesial ini.
"Aku masih ingat, maafkan aku, Jarvis."
"Hm. Jangan lupa minum susunya. Aku juga sudah membuatkan sarapan untukmu." Kata Jarvis seraya memasang arloji di tangannya. Sedangkan Alexella menatap nampan di nakas. Kemudian seulas senyuman terbit dibibirnya.
"Ah iya, dua hari ini aku harus ke luar kota. Aku rasa kau tak akan keberatan aku tinggal kan?"
Alexella terkejut mendengar itu. "Ah, aku tidak apa-apa. Pergilah."
"Hm. Jaga pola makanmu, jangan sampai kau sakit. Bayi dalam perutmu masih dalam masa pertumbuhan."
"Ya. Aku akan mendengarkanmu." Alexella mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian meraih gelas susu itu dan meminumnya. Dan itu tak lepas dari pengawasan Jarvis.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Ucap Jarvis yang kemudian mengecup kening Alexella sebelum pergi.
Alexella menatap punggung Jarvis yang kini sudah menghilang di balik pintu. Kemudian wanita itu tersenyum miring.
"Not bad, setidaknya aku bisa merasakan sisi lain dalam dirinya. Jarvis, aku akan mendapatkanmu dalam waktu dekat. Setelah Nicholas bosan dengan istrimu, aku yakin dia akan membuang atau bahkan membunuhnya. Dan aku akan menjadi Alexella selamanya. Kau akan menjadi milikku, Jarvis."
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh di Grunewald. Sabrina dan Alexella masih tertidur dengan posisi duduk terikat di sebuah kursi besi.
Sabrina mengerang kesakitan, ia merasa sakit dibagian pinggang karena terlalu lama duduk dengan posisi terikat. Wanita itu terbangun dari tidurnya. Kemudian menatap Alexella yang masih tertidur. Ia merasa iba dengan penampilan wanita itu yang benar-benar kusut. Setelah memperhatikan Alexella, matanya kembali menerawang ke seluruh ruangan. Sepertinya tempat ini berbeda dari sebelumnya. Bahkan ruangan ini lebih bagus dan dilengkapi perapian.
"Xella." Panggil Sabrina dengan suara pelan. Bahkan tak ada lagi kain yang menutup mulut mereka.
Alexella sedikit bergerak. Namun matanya masih tertutup rapat. Bahkan terdengar jelas suara lenguhan wanita itu dengan ekpresi yang seolah tengah menahan rasa sakit.
"Xella, are you okay?" Bisik Sabrina berusaha membangunkan adik iparnya itu.
"Xella, kau harus bangun. Kita harus kabur dari sini." Sabrina terus bergerak dan berharap bisa melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.
Alexella mulai menbuka matanya. Wanita itu terlihat pucat pasi. "Sab, perutku sakit sekali." Keluhnya.
"Kau harus bertahan, Xella."
__ADS_1
"Ini sangat menyakitkan, Sab. Jika aku mati, apa kau akan memaafkan aku? Aku sudah berburuk sangka padamu. Bahkan menuduhmu dengan cacian yang terus aku lontarkan padamu. Mungkin ini balasan untukku karena selalu berpikir negatif pada semua orang. Maafkan aku, Sab."
"Berhenti bicara omong kosong, Xella. Kita pasti bisa melewati semuanya, aku yakin suamimu dan Kakakmu akan datang dalam waktu dekat. Aku percaya itu."
"Aku tahu." Alexella kembali memejamkan matanya.
"Xella, kau tak boleh seperti ini. Kau tidak boleh pingsan. Tarik napas dalam-dalam, lalu buang perlahan. Sakitnya akan menghilang perlahan. Aku pernah membaca buku tentang kehamilan. Jika mengalami kontraksi atau kram perut, kau harus lebih rileks dan tenang." Jelas Sabrina.
Alexella membuka matanya. Kemudian menatap Sabrina.
"Lalukan apa yang aku katakan, Xella. Tenangkan dirimu, rileks okay? Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan." Titah Sabrina menatap Alexella serius.
Alexella pun mengikuti perintah Kakak iparnya. Berulang kali ia melakukan hal itu sampai rasa sakit itu perlahan menghilang.
"Bagaimana? Apa sakitnya hilang?"
"Sedikit."
"Okay, kau harus tenang dan jangan panik."
"Bagaimana aku bisa tenang, Sab? Kau lihat sendiri apa yang lelaki itu lakukan padaku. Dia terus menyentuhku seolah aku ini wanita murahan. Aku tak pantas hidup, Sab. Jarvis akan membenciku jika dia tahu aku sudah kotor." Lirih Alexella.
"Percayalah, Jarvis tak akan membencimu. Jika dia mencintaimu, dia akan menerimamu dalam keadaan apa pun." Sabrina berusaha meyakinkan adiknya itu.
"Dia tak mencintaiku, Sab. Dia hanya mencintai tubuhku. Bahkan dia tak menginginkan anak ini. Terkahir kali kami bertengkar karena dia masih berusaha untuk menggugurkan darah dagingnya sendiri." Jelas Alexella. Sontak Sabrina terkejut mendengar itu.
"Dia akan membuangku, Sab." Imbuh Alexella.
Alexella terdiam sejenak. "Ini sangat menyakitkan bagiku, Sab."
"Aku tahu. Apa kau mengenal lelaki yang menculik kita? Kenapa dia melakukan itu padamu?"
Alexella mengangguk lemah. "Dia Paman kami."
"Apa? Jadi benar musuh kalian selama ini masih keluarga Digantara?"
"Tidak, dia keluarga dari sebelah nenekku. Tidak ada hubungannya dengan keluarga Digantara."
"Lalu, kenapa dia menargetkanku? Dan juga... dia hanya melecehkanmu." Tanya Sabrina dengan ragu.
"Sejak dulu dia menyukaiku, bahkan sejak kecil dia berusaha melecehkanku. Tapi aku sealu berhasil menghindar. Aku menyembunyikannya dari keluargaku. Aku tak ingin terjadi permusuhan antara keluarga lagi. Tapi aku salah, tiga tahun lalu. Dia datang ke perusahaan, meminta bantuan Kakakku, suamimu. Dia meminta suntikan dana pada perusahaannya yang sudah diambang kehancuran. Tapi Kak Arez menolak karena Pamanku itu tukang judi. Dan itu yang membuatnya memiliki dendam pada keluarga Digantara." Jelas Alexella panjang lebar. Untuk pertama kalinya ia bicara sepanjang itu.
Sabrina sama sekali tak mengerti dengan silsilah keluarga suaminya itu. Semuanya terlalu sulit dipahami.
"Bisa dikatakan sejarah silam kembali terulang. Ayah dari Pamanku ini pernah membunuh Kakaknya sendiri, Kakek dan Nenekku. Hanya demi harta Digantara. Dan keluarga Mommyku ikut menjadi korban. Karena dua keluarga ini saling berhubungan erat. Mereka bersahabat sejak lama dan mencapai puncak kejayaan dalam waktu bersamaan pula. Karena itu banyak yang menginginkan kekayaan keluarga kami." Timpal Alexella.
"Aku tidak mengerti dengan keluarga konglomerat seperti kalian. Semuanya terdengar rumit."
"Kau akan mengerti setelah mengenal keluargaku lebih jauh. Dan kau harus tahu karena kau akan menjadi Nyonya besar Digantara selanjutnya. Kau harus terbiasa dengan kehidupan kami."
__ADS_1
"Aku tidak yakin, aku dan Kakakmu belum tentu hidup bersama selamanya. Tidak ada cinta di antara kami. Maksudku... dia tak mencintaiku."
"Kakakku mencintaimu, hanya saja dia bukan lelaki yang pandai menunjukkan cinta pada wanita. Dia tak akan melindungimu jika kau tak ada di hatinya." Tegas Alexella.
"Apa yang sedang kalian bahas huh?"
Kedua wanita itu terkejut karena tiba-tiba Nicholas sudah bersandar di tiang pintu dengan senyuman devilnya. "Kalian berencana untuk kabur huh?"
Alexella memasang wajah datar nyaris tanpa ekspresi.
"Baby, jangan menatapku seperti itu. Kita sudah menghabiskan malam yang panjang. Seharusnya kau mulai menumbuhkan benih cinta dalam hatimu. Ah, atau mungkin benihku akan segera tumbuh dalam rahimmu."
Jadi dia tidak tahu Alexella sedang hamil. Bukankah itu lebih baik. Pikir Sabrina yang kemudian menatap Alexella.
Lelaki itu pun mengalihkan perhatian pada Sabrina. Kemudian melangkah pasti mendekatinya. "Aku tak menyangka keponakanku memiliki istri secantik dirimu. Siapa namamu? Sabrina, apa aku benar?"
Sabrina mendengus kesal dan memalingkan wajahnya dari lelaki itu.
"Ah, aku suka wanita sombong. Sama seperti keponakanku yang cantik." Nicholas melirik Alexella dengan senyuman nakal.
"Bagaimana jika kau juga bermain denganku, Sweety? Kita buktikan siapa yang lebih jago di atas ranjang, aku atau suamimu." Nicholas mengelus rambut Sabrina. Namun tatapannya masih tertuju pada Alexella. Wanita itu memberikan tatapan membunuh yang kental.
"Cih, bahkan milikmu sangat kecil sampai aku tak merasakan apa pun." Tukas Alexella.
"Ah, benarkah? Jadi aku tak memuaskanmu, Baby?" Nicholas tersenyum nakal. "Apa kita perlu mengulang kejadian malam tadi? Dimana kau menjerit kesakitan dibawahku."
Alexella mengeratkan giginya.
Nicholas tertawa kencang. Kemudian dengan sekali sentakan ia menarik rambut Sabrina. Membuat sang empu meringis kesakitan. "Kau tahu, ingin sekali rasanya aku mencabik-cabik wajah cantikmu. Dan melihat suamimu berteriak frustasi saat melihat wajah hancurmu."
"Lakukan saja, aku tak takut pada pengecut sepertimu. Kau banci karena berani melawan wanita lemah." Cerca Sabrina yang sama sekali tak merasa takut dengan tatapan Nicholas. Lelaki itu mengeratkan rahangnya karena mendapat hinaan dari Sabrina.
"Banci? Kau mengataiku banci." Terlihat jelas kilatan amarah dimata lelaki itu.
Sabrina tersenyum lebar. "Kau marah? Jadi kau mengakui dirimu banci?" Tantang Sabrina.
Plak! Wajah Sabrina tertoleh karena mendapat tamparan keras dari lelaki itu. Bahkan sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar. "Bagaimana rasanya huh? Apa tamparan banci ini kurang kuat?"
Sabrina menatap lelaki itu masih dengan senyuman lebar. "Sabrina Alicia Roberto, tak pernah goyah hanya dengan sebuah tamparan."
"Owh, wonder women huh?" Plak! Untuk yang kedua kalinya Sabrina mendapat tamparan keras sampai kepalanya berdenyut sakit. Alexella memejamkan mata saat melihat itu. Seakan ia marasakan apa yang Sabrina rasakan.
"Bagaimana?" Tanya Nicholas mengusap pipi Sabrina yang memerah akibat ulahnya. Kemudian usapan itu berubah menjadi tepukan. Sabrina berdesis karena merasakan perih dipipinya.
"Aku benci wanita sok kuat, selera keponakkanku sungguh murahan. Menikah wanita hasil hubungan gelap bahkan tak diakui oleh keluarganya sendiri. Kau lebih pantas menjadi j*l*ng dari pada seorang istri. Karena j*l*ng hanya akan melahirkan j*l*ng selanjutnya." Cerca Nicholas seraya menyelipkan rambut Sabrina ke telinga.
"Dan b*jing*an akan menghasilkan b*jing*n selanjutnya. Apa aku benar?" Balas Sabrina yang berhasil membuat amarah Nicholas meledak. Lelaki itu mencengkram rahang Sabrina. Kemudian melepas tali yang mengikat tubuhnya. Menarik wanita itu dan melemparnya dengan kasar ke lantai.
Alexella memekik kaget melihat itu. "Sialan! Lepaskan dia. Kau hanya berurusan dengan keluargaku." Teriak Alexella yang sama sekali tak digubris oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Kau buktikan sendiri apakah ucapanmu benar atau tidak, Sweety." Nicholas mulai melepaskan sabuk celananya. Sedangkan Sabrina terus bergerak meundur dengan posisi setengah terlentang. Tangan sebelahnya masuk ke dalam saku hoodie. Menggenggam sebuah benda kecil yang ada di dalamnya. Matanya ikut menajam mengikuti pergerakan lelaki itu.
"Menjeritlah sekuat tenagamu, saat kau tahu seb*jing*n apa diriku."