Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 21


__ADS_3

"Kau tahu, Sab? Aku rasa Mr. A menyukaimu. Buktinya dari ribuan seniman, hanya dirimu yang dia datangi. Bahkan dia berani menukar lukisan indah itu dengan lukisanmu. Ah, aku harap kau berjodoh dengannya, supaya aku punya dua pelukis yang luar biasa." Oceh Deena saat keduanya sampai di apartement Sabrina.


"Kau ini terlalu banyak menghayal, mana mungkin dia menyukaiku. Lagi pula kita tidak tahu dia sudah punya istri atau kekasih kah?" Sahut Sabrina seraya melepas topengnya dan meletakkan itu di atas meja. Kemudian ikut duduk di sebelah Deena.


"Aku rasa belum, dan dia memang menyuakimu. Aku juga tadi memperhatikan tatapannya padamu, begitu penuh arti."


"Aku tidak mau berharap, dia lelaki yang tak mungkin bisa aku gapai. Dengan mengagumi karyanya saja itu sudah cukup untukku. Dia juga terlalu misterius, sulit di tebak." Ujar Sabrina menatap Deena dengan senyuman manisnya.


"Hm, kau benar juga. Tapi kan, Sab. Jika memang dia benar-benar menyuakimu, itu artinya kau bisa terbebas dari pernikahan itu. Menikah saja dengan Mr. A. Aku rasa dia bisa membantumu lepas dari lelaki gila itu." Deena menatap Sabrina penuh harap.


Sabrina terdiam sejenak. "Bagaimana jika dia sudah punya istri huh? Bahkan kita tidak pernah mendengar berita tentangnya. Itu artinya kehidupan lelaki itu lebih rumit. Aku tidak mau terjebak dalam hubungan asmara seseorang."


Deena menatap Sabrina begitu dalam. "Aku harap kau mendapatkan jodoh terbaik, Sab. Lelaki yang akan melindungimu, menyayangi dan mencintaimu sepenuh hati. Satu lagi, bertanggung jawab yang lebih penting. Jangan seperti Daddymu, meninggalkan Ibumu yang tengah mengandung anaknya."


"De."


"Itu kenyataan, Sab. Ayahmu itu bukan lelaki bertanggung jawab. Beruntung dia mempunyai anak sebaik dirimu, kau masih mencintainya meski dia sudah membuang Ibumu. Aku tahu dia memberikan fasilitas mewah ini padamu, tapi aku melihat itu hanya sebagai belas kasihan. Dia hanya merasa bersalah pada Ibumu dan membayarnya padamu." Jelas Deena penuh kesedihan. Deena memang mengenal Sabrina sejak kecil. Karena itu ia tahu seperti apa kehidupan gadis ini.


Sabrina menunduk lemah. "Apa pun perasaan Daddy padaku, baik itu kasihan, rasa bersalah atau apa pun itu. Aku akan tetap mencintainya, De. Dia Daddyku, darahnya mengalir disetiap nadiku. Itu tak akan bisa dihilangkan."


Deena menghela napas berat. "Dia sangat beruntung mempunyai putri secantik dan sebaik dirimu. Tapi sayang dia memiliki istri sah dengan karakter yang buruk. Lihat apa yang terjadi, putra sulung mereka sendiri yang menghancurkan kehidupan mereka saat ini. Aku rasa itu balasan untuk mereka karena sudah menjahatimu."


"De, kau mengatai keluargaku." Protes Sabrina.


"Kau menganggap mereka keluarga, tapi mereka menganggapmu orang asing. Menyebalkan, jika aku ada di posismu maka aku akan memaki mereka setiap hari."


"De, kau ini kenapa? Kau sangat berisik hari ini." Sabrina menatap sahabatnya curiga.


"Entahlah, aku mendadak emosi. Mungkin saja PMS."


Sabrina tergelak mendengarnya. "Kau ini."


Tidak lama dari itu keduanya dikejutkan dengan suara bell pintu. Sabrina dan Deena pun saling menatap satu sama lain.


"Kau saja yang buka," pinta Sabrina pada Deena.


"Aku? Hey, kau pemilik tempat ini." Kesal Deena yang sebenarnya sudah dalam posisi nyaman dan tentu saja ia malas bergerak.


"Ck, dasar pemalas." Ledek Sabrina yang langsung bergegas ke depan. Sabrina mengintip dari lubang pintu untuk memastikan orang di luar bukan penjahat.


Dan ternyata itu seorang kurir. Dengan cepat Sabrina menbuka pintu.


"Ada kiriaman untuk, Anda Nona. Silakan tanda tangan di sini."


"Owh, okay." Sabrina langsung menandatangi bukti pengiriman itu. Lalu menerima barang dari sang kurir.


"Terima kasih."


"Sama-sama, Nona."


Sabrina tersenyum, kemudian menutup pintu. Ia membawa barang berukuran besar itu ke dalam kamarnya. Lalu meletakkan benda itu dengan hati-hati di atas ranjang.


"Wow, apa itu lukisan si Mr. A?" Tanya Deena terlihat antusias.


"Sepertinya." Sahut Sabrina. Kemudian ia pun langsung mengoyak kertas pembungkus itu dengan semangat.


"Wah, ternyata aslinya lebih bagus. Ini luar biasa." Pekik Sabrina terlihat bahagia.


"De, bantu aku memajangnya. Di mana ya? Ah, sebelah sana." Pinta Sabrina sambil menunjuk dinding yang masih kosong. Kemudian dua gadis itu langsung memajang lukisan di dinding.


"Huh, akhirnya kamarmu dipenuhi oleh lukisan lelaki itu, Sab. Jika dia tahu, mungkin dia akan memberikan penghargaan padamu."


Sabrina tertawa renyah. "Aku menyukai gayanya melukis, dia memilih gaya nonrepresentatif. Sama sepertinya, sulit di tebak dan dipahami. Tapi cukup membuat orang-orang penasaran. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahaminya."


"Dan kau salah satunya, Sab." Sabrina tersenyum simpul mendegar itu. "Aku hanya menyimpulkan saja, tidak semuanya yang aku pikirkan sama dengan sipelukis." Sahut Sabrina.


"Hm. Apa arti lukisan itu? Kenapa dia menggabarnya seperti itu? Apa dia sedang bad mood?"


"Tidak, lukisan ini menggambarkan sebuah kasih sayang yang mendalam. Hanya saja perasaan itu terbelenggu dalam sebuah situasi. Aku rasa makna ini ditujukan untuk salah satu keluarganya. Atau mungkin Ibunya?"


"Wah, itu artinya dia penyayang dong? Aku dengar, lelaki yang menyayangi Ibunya itu memiliki jiwa tanggung jawab yang besar."


"Kau benar." Sabrina tersenyum. Dan entah kenapa wajah tampan Arez tiba-tiba muncul dalam pikiranya. Sabrina langsung menggeleng dan menepis pikiran gilanya.

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan, kenapa aku malah membayangkannya?


"Kau kenapa Sab?" Tanya Deena merasa aneh dengan tingkah sahabatnya itu.


"Entahlah, tiba-tiba saja wajah lelaki itu melintas dalam benakku."


"Lelaki mana?"


"Alfarez, dia muncul dalam bayanganku." Jawab Sabrina jujur.


"Huh, aku rasa kau mulai jatuh cinta padanya." Ketus Deena beranjak menuju ranjang. Sabrina pun mengikuti jejak sahabatnya itu.


"Itu tidak mungkin."


"Tidak ada yang tidak mungkin. Aku peringatkan padamu, jangan sampai kau yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Bisa saja dia membuangmu kapan dia mau. Dan saat itu juga kau akan hancur."


Sabrina tersenyum. "Aku akan mengingat perkataanmu, De. Karena aku menyayangimu." Ucapnya yang kemudian memeluk sahabatnya dari samping.


"Aku juga menyayangimu, karena itu aku akan selalu mengingatkanmu."


"Aku tahu dan aku akan selalu mendengarkanmu."


****


"Sayang, bagaimana perasaanmu?" Tanya Arel memeluk Sky yang baru selesai membersihkan wajahnya dari make up. Benar, beberapa jam yang lalu keduanya sudah sah menjadi pasangan halal. Arel sudah mengikrarkan kalimat cintanya dihadapan Sang Illahi. Tak ada lagi pengahalang cinta di antara mereka berdua.


Sky menatap pantulan dirinya dan sang suami dari balik cermin. Mengulas senyuman penuh kebahagian. "Tentu saja aku bahagia, Arel. Kini sudah tak ada lagi yang perlu kita takutkan untuk saling menyatkan cinta."


"Hm. Dan sekarang aku juga bisa bebas menyentuhmu, Sayang." Bisik Arel menggoda sang istri.


"Ck, yang kau pikirkan memang cuma itu, Arel." Kesal Sky mengerucutkan bibirnya.


"Jangan manyun sepeti itu, membuatku tidak tahan saja."


"Berhenti memikirkan hal mesum, Arel."


"Ini semua salahmu, kau yang dulu mengajarkan aku berbuat mesum. Jadi sekarang aku sudah pintar, giliran kau yang akan aku ajarkan bagaimana menjadi istri dari lelaki mesum sepertiku, Sayang." Ujar Arel yang kemudian mengecupi pundak sang istri dengan lembut.


"Tentu saja, memangnya apa bedanya kita dengan pengantin lainya huh?"


"Em, kita kan sudah punya Gabriel. Aku tidak mungkin meninggalkannya, dia masih membutuhkan asi." Sky memutar tubuhnya menghadap sang suami. Lalu mendongak agar bisa melihat wajah tampan lelaki pujaan hatinya.


"Serahkan saja si gembul pada Mommy, dia bisa minum susu formula kan? Dan biarkan aku yang menggantikan posisinya mulai saat ini." Jawab Arel sekenannya.


"Kau ini, sama sekali tak memikirkan putramu. Dia masih sangat kecil dan tidak bisa minum susu formula. Aku sudah mencobanya dulu, dia malah muntah-muntah dan demam. Dokter bilang dia alergi susu."


Arel tersenyum lebar. "Kalau begitu kita bawa dia saat honeymoon nanti. Lagi pula tadi itu aku hanya bercanda, Sayang. Kau tahu aku tak bisa jauh darinya kan? Dia sudah seperti separuh jiwaku dan kau separuhnya lagi. Jadi seluruh jiwaku saat ini adalah kalian. Aku akan selalu membawa kalian ke mana pun aku pergi."


Hati Sky tersentuh mendengar ketulusan suaminya. "Aku mencintaimu, Suamiku."


"Aku juga mencintiamu, Istriku." Balas Arel mulai mencecap bibir sang istri penuh kerinduan. Tentu saja kali ini Sky membalasnya dan mengalungkan kedua tanganya di leher Arel. Kini keduanya semakin terhanyut dalam kobaran cinta. Namun api cinta itu mendadak padam saat mendengar suara ketukan pintu. Sontak keduanya pun menoleh ke arah pintu dengan napas yang masih tersengal.


"Ekhem... maaf aku mengganggu. Harap tutup pintu jika ingin melakukan adegan dewasa." Kata Alexa yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. Gadis itu terlihat begitu santai seolah tak melihat apa-apa.


"Kau tidak menutup pintunya?" Bisik Sky dengan nada geram.


"Aku lupa, Sayang." Sahut Arel tersenyum kikuk.


"Jangan berdebat, aku ke sini atas perintah Mommy dan Daddy. Ini sudah waktunya makan siang dan turunlah segera. Sebaiknya kalian melakukan itu di malam hari, supaya tak ada yang menganggu." Ujar gadis itu yang langsung melenggang pergi tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Ck, kau membuatku malu, Arel." Kesal Sky yang langsung beranjak menuju walk-in closet untuk mengambil kerudung. Sedangkan Arel hanya tersenyum kikuk sambil menunggu sang istri keluar.


"Duduk." Perintah Alex saat melihat sepasang pengantin baru itu baru muncul.


"Sorry Dad, Mom. Kami membuat kalian menunggu." Kata Arel memberikan kecupan di pipi Sweet, kemudian duduk disebelahnya. Lalu melirik kedua adiknya yang sedang menyantap buah.


"Kalian tidak makan, kenapa hanya makan buah? Diet huh?" Tanya Arel untuk kedua adiknya.


"Jangan menganggu mereka, Arel. Ayok makan. Nanti makanannya dingin." Sweet mencubit lengan Arel pelan. Ia tahu putranya itu sangat senang mengganggu kedua adiknya.


"Baik, Mommy sayang." Sahutnya dengan nada yang dibuat-buat.


"Kau lihat itu, Sky? Dia masih seperti anak kecil. Jika aku jadi dirimu, aku akan sangat menyesal karena sudah menikahi bayi tua sepertinya." Sinis Alexa.

__ADS_1


"Tidak perlu iri padaku, kau minta saja pada Mommy untuk langsung menikah sepertiku. Mudah kan?"


"Berhenti berdebat, Alexa dan Winter harus menjalankan dua prosesi yang berbeda. Jadi tidak mungkin menikah dalam waktu singkat sepertimu, Arel. Lagi pula Winter bisa menahan gairahnya, tidak sepertimu." Ketus Sweet.


"Kau dengar itu? Winterku memang paling the best." Kata Alexa dengan angkuh.


"Ya, ya... Wintermu itu memang segala-galanya, dan aku juga punya Sky yang selalu menghiasi hariku. Lalu kau apa, Xella?" Arel melayangkan pandangannya pada sang adik bungsu. Namun gadis itu sama sekali tak menanggapinya.


"Jangan terlalu dingin, kau akan membeku karena sikapmu sendiri. Aku tahu kau tidak menyukai Jarvis, kuakui dia memang lelaki brengsek. Tapi aku percaya dia bisa berubah untukmu, aku bisa melihat benih cinta mulai tumbuh dihatinya. Kau tahu apa, Xella? sudah hampir dua minggu dia tak pernah meniduri j*l*ng lagi. Aku rasa dia sedang latihan untuk menjadi suami yang baik." Jelas Arel panjang lebar. Tentu saja hal itu menarik perhatian Alexella.


"Manusia tak akan berubah semudah itu." Sahutnya dengan nada datar. Alex yang mendengar itu langsung menatap putrinya.


"Tapi itu tak menutup kemungkinan, Sayang. Ayahnya juga dulu seperti itu, dia tidak lagi tidur dengan wanita lain setelah menikah. Tapi sayang, Ibu Jarvis membuatnya kecewa dan pada akhirnya mereka bercerai."


"Dan Daddy kalian lah yang menyebabkan mereka bercerai. Ibunya Jarvis sejak lama menyukai Daddymu dan setelah menikah pun ia masih menggodanya. Menyebalkan." Sweet pun ikut menimpali. Alex tertawa renyah mendengar itu.


"Dan Mommy kalian sangat camburu saat itu, dia merajuk dan terus memarahi Daddy kalian ini. Padahal Daddy selalu menghindari wanita gila itu. Mommy kalian itu pecemburu berat." Ledek Alex mulai menghangatkan suasana.


"Tentu saja, kau suamiku dan aku pasti marah saat ada wanita lain yang menggodamu." Ketus Sweet menatap Alex malas.


"Wow, aku tak pernah menyangka kisah cinta kalian sangat mengesankan. Sayang, kau jangan marah ya saat ada wanita lain menggoda suamimu ini." Kata Arel melirik sang istri yang masih fokus makan.


"Tentu saja tidak," sahut Sky dengan santai.


"Syukurlah."


"Karena aku akan langsung membunuhnya, buat apa aku memarahinya? Dia tak akan jera." Imbuh Sky yang berhasil mengundang tawa semua orang. Kecuali Alexella tentunya.


"Mommy setuju padamu, Sky."


"Kalian memang mertua dan menantu yang kompak, aku salut." Kata Alex masih tertawa geli.


"Huh, aku merindukan putra sulungku. Sejak hari itu dia tidak mau pulang lagi ke mansion ini. Itu memang salahku, tidak seharusnya aku memaksanya." Kata Sweet yang berhasil membuat suasana menjadi hening. Arel, Alexa dan Alexella pun saling melempar pandangan. Alexa mengangguk, kemudian menatap sang Mommy.


"Mom, aku akan menemuinya. Mungkin saja sekarang dia juga sedang sibuk mempersiapkan acara peluncuran produk baru. Dia akan pulang dan berkumpul dengan kita lagi. Tapi saat dia pulang, tolong jangan bahas masalah perjodohan itu lagi." Pinta Alexa penuh harap.


Sweet menatap ketiga anaknya bergantian. "Mommy dan Daddy sudah membatalkan perjodohan itu."


"Apa?" Pekik ketiganya kaget. Terutama Alexella yang sangat mendukung perjodohan itu.


"Akh, syukurlah." Alexa mengela napas lega.


"Kenapa dibatalkan, Mom?" Tanya Alexella kecewa.


"Karena Mommy tak ingin kehilangan putra Mommy, dia bukan orang yang mudah di ajak kompromi. Mommy dan Daddy sadar, kami terlalu egois dan ingin menang sendiri. Sampai melupakan kebahagiaan kalian." Jawab Sweet memasang wajah penuh penyesalan.


Arel menggenggam tangan sang Mommy dengan lembut.


"Kalian membatalkan perjodohan mereka dengan mudah. Lalu bagaimana denganku?" Tanya Alexella datar.


"Terserah padamu, jika masih ingin berlanjut ya lanjutkan. Apa perlu Daddy membatalkannya? Jika itu yang kamu inginkan, Daddy akan langsung menghubungi Gerald, membatalkan pernikahan kalian." Jawab Alex menatap putrinya lamat-lamat.


"Aku__ aku tidak tahu, Dad." Sahut Alexella tampak gugup. Alex tersenyum penuh arti.


"Temui Daddy setelah ini."


Alexella menatap sang Daddy cukup lama, kemudian menggangguk pelan.


"Sudah, lanjutkan makan kalian. Oh iya, Sky. Gabriel masih tertidur di kamar Mommy. Sepertinya dia kecapekan karena terlalu asik bermain dengan grandpanya."


"Ya, Mom. Akhir-akhir ini Gabriel semakin aktif. Kadang aku kewalahan menjaganya."


"Mulai saat ini aku akan membantumu, Sayang. Jangan khawatir. Lagi pula setelah resepsi nanti aku akan membawa kalian pindah."


"Apa? Mommy tidak setuju." Pekik Sweet tak terima dengan keputusan Arel.


"Sorry, Mom. Mereka anak dan istriku. Jadi aku bebas membawanya ke mana pun. Lagian salah Mommy sendiri sudah berani memisahkan kami cukup lama."


"Arel! Jadi kau ingin membalas dendam pada Mommy huh?" Pekik Sweet memukul lengan putranya.


"Anggap saja seperti itu, Mom."


"Arel!"

__ADS_1


__ADS_2