Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (35)


__ADS_3

Bruk!


Melvin membanting pintu kamar hotel dengan kasar. Lalu mendorong tubuh ramping itu hingga punggungnya membentur dinding yang dingin. Dengan sekali gerakan Melvin mengurungnya.


"Akhh." Keluh Claire merasakan nyeri dibagian punggunggunya.


"Kenapa kau ada di sini?" Geram Melvin. "Bukankah aku sudah bilang padamu huh? Tunggu sampai aku menjemputmu."


Mendengar itu Claire langsung melayangkan tatapan sengit. Bahkan berani memukul dada Melvin bertubi-tubi. "Tunggu kau bilang? Apa kau tahu huh? Aku menunggumu sepanjang waktu di sana seperti orang bodoh. Aku berharap kau datang dan menjemputku. Tapi apa? Kau malah sibuk dengan pacar barumu. Brengsek kau, El." Sembur Claire dengan mata memerah antara menahan tangisan dan amarah.


Tatapan tajam Melvin perlahan mengendur.


"Apa aku salah jika aku berpaling hati huh? Aku butuh pelindung, aku butuh seseorang yang bisa membantuku untuk mencapai tujuan. Kau tahu semua tentangku, tapi kau diam saja, El. Kau itu jahat." Tangisan Claire pun pecah. Tangannya yang sejak tadi terus memukul pun perlahan melemah. "Sekarang aku tidak punya siapa-siapa di sana. Apa aku salah menerima tawarannya huh?"


Melvin terdiam.


"Lepaskan aku, aku tahu kau tidak mungkin menerimaku karena statusku yang tidak jelas. Birkan aku memilih jalan sendiri. Gabriel bisa membantuku untuk mencapai semua tujuanku."


Melvin mengeratkan rahangnya. Entah mengapa ia tidak terima Claire lebih memilih sepupunya. "Jangan lupa, kau itu kekasihku, Claire." Tegasnya.


"Lebih tepatnya aku mainanmu, El." Ralat Claire.


Melvin memejamkan matanya sejenak, kemudian dengan cepat ia menyambar bibir Claire. Tentu saja Claire kaget.


Oh God! Apa dia termakan omonganku yang penuh bualan itu? Claire tertawa dalam hati. Ia pura-pura menolak ciuman Melvin. Namun, lelaki itu sepertinya tidak mau melepaskannya. Alhasil Claire pun mengalah dan mulai mengikuti permainan lelaki itu.


"Hah...." napas Claire memburu ketika Melvin menyudahi ciumannya. Bibir ranum itu membengkak dan terlihat basah. Jemari besar Melvin mendarat dibibirnya. Lalu menyentuhnya dengan sensual.


"Kau milikku, Claire." Bisik Melvin menyatukan dahi mereka. "Jangan pernah coba-coba permainkan aku."


Claire tertawa penuh kemenangan dalam hati karena Melvin terpancing dalam jebakannya. "Mempermainkanmu? Ayolah, apa tidak terbalik? Aku tidak mau lagi menjadi kekasihmu, El. Kau tidak menganggapku."


"Kau tidak punya hak untuk membuat pilihan," sahut lelaki itu penuh otoriter.


"Tentu saja bisa, ini hidupku."


"Hidupmu adalah milikku." Dengan sekali gerakan Melvin membopong tubuh ramping itu ke tempat tidur. "Hari ini, akan menjadi saksi jika kau hanya milikku, Claire."


Claire mengerutkan dahi. "A-apa maksudmu? Aaaa...." ia memekik kaget karena Melvin melemparnya begitu saja ke atas pembaringan. Dan mulai gugup saat Melvin melepas jas putih itu, lalu melemparnya asal.


"Hey, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Claire bergerak mundur.


Melvin merangkak naik ke atas pembaringan. Lalu menarik kaki gadisnya itu agar mendekat. Karena tarikan itu Claire pun kembali terlentang.


Apa kita akan melakukan itu sekarang?


Bruk!


Tubuh Melvin ambruk di sisinya. "Hah, aku sangat lelah." Keluh Melvin seraya memeluk Claire dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.


"El?"


"Diamlah, aku benar-benar lelah."


"Lelah? Memangnya apa yang kau lakukan selama ini? Bukankah kau bersenang-senang dengan para wanitamu itu?"


"Kau tidak perlu tahu. Diamlah, cukup temani aku isirahat. Kau harum sekali, baby." Melvin semakin mengendus kulit halus kekasihnya itu.


"Gabriel membelikan aku parfum baru." Ujar Claire yang berhasil membuat Melvin terdiam sejenak.


"Kalau begitu tidak jadi wangi, sana mandi. Bersihkan tubuhmu dari jejak lelaki itu."


"El, dia itu sepupumu."


"Tapi dia hampir merebut kekasihku." Tangan Melvin mulai bergerak nakal mengusap perut Claire.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Claire menepis tangan Melvin.


"Hanya membayangkan, apa gadis seusiamu bisa hamil? Kau kan masih bocah ingusan."


Mata Claire melotot. "Aku rasa kau tidur saat sekolah dulu."

__ADS_1


"Bukan tidur, tapi aku bolos. Sejak umur lima belas tahun aku sudah balapan liar saat anak-anak seusiaku memilih sibuk belajar."


"Ck, pantas saja."


"Apanya yang pantas? Apa aku sudah pantas menjadi seorang Ayah?" Tanya Melvin dengan mata terpejam.


"Tidak, kau tidak pantas. Aku tidak ingin hamil saat kau masih bermain wanita."


Melvin tertawa remeh. "Memangnya siapa yang ingin punya anak denganmu? Percaya diri sekali."


Claire menyebik. "Ya sudah, aku bisa mencari calon Ayah untuk anak-anakku yang lebih baik darimu. Memangnya di dunia ini lelaki itu dirimu saja? Bahkan saat ini aku masih punya Gabriel yang bersedia menikahiku dan memberikan aku banyak anak-anak lucu."


"Coba saja kau menikah dengannya, aku akan menghamilimu di depan matanya."


Mendengar itu Claire tertawa renyah. "Memangnya kau bisa? Sepupumu tidak mungkin sebodoh itu membiarkan istrinya disentuh orang lain. Lagi pula, aku rasa milik Gabriel lebih besar dari milikmu. Dari postur tubuh kalian saja berbeda. Gabriel memiliki dada yang lebar, perawakan besar dan lebih tinggi darimu."


Melvin mendengus sebal karena Claire berani-beraninya membandingkan miliknya dengan milik Gabriel yang sudah pasti berbeda.


Jelas punya dia besar, keseringan masuk lubang. Sinis Melvin dalam hati.


"Kau ingin mencoba milikku?" Tawar Melvin.


"Apa boleh?" Tanya Claire dengan polosnya.


"Tentu saja," jawab Melvin tersenyum penuh arti.


"Tidak ah, aku ingin melakukan itu setelah kita menikah. Aku tidak ingin punya anak haram, sepertiku." Suara Claire melemah di ujung kalimat. Dan itu membuat Melvin membuka matanya.


"Kau bukan anak haram, Claire."


Claire menatap langit-langit dengan tatapan sedih. "Jika aku bukan anak haram, kenapa Mommy membuangku seakan aku ini tidak penting?"


"Mereka berpikir kau sudah tiada."


Mendengar itu Claire langsung menoleh. Hingga wajah mereka tidak ada jarak. "Kau sudah menyelidikinya?"


Melvin mengecup bibir seksi Claire. "Kau tahu wanita yang tadi bersamaku?"


"Bukan, dia adalah mata-mata suruhanku. Aku sengaja membuat pengumuman ke publik karena identitasnya hampir terbongkar. Jadi aku mengalihkan perhatian mereka seolah dia adalah mainan baruku. Yang tahu rahasia ini hanya aku, dia dan dirimu, Claire. Jika rahasia ini terbongkar, itu artinya kau pelakunya." Melvin memberikan tatapan tajam.


"Jadi kau juga tidak percaya padaku?" Mata Claire berkaca-kaca. "Sepertinya kita memang tidak cocok, kau tidak pernah serius padaku. Maaf jika aku memaksamu. Aku akan menjauh darimu mulai sekarang." Tuturnya dan hendak beranjak dari sana. Akan tetapi Melvin langsung menahan itu dengan memeluk pinggang ramping Claire.


"Kau itu wanita bodoh yang pertama kali aku temui, Claire."


"Aku tahu. Karena itu lepaskan aku."


Melvin menghela napas berat. "Tatap aku, Claire."


Claire masih membelakangi Melvin.


"Claire." Panggil Melvin lagi.


Perlahan Claire berbalik. Ditatapnya mata elang Melvin begitu dalam.


"Aku mengatakan rahasia padamu, itu artinya aku percaya padamu. Kenapa kau sangat bodoh huh?"


Claire menghela napas pendek. "Menurutmu, apa orang tuamu akan setuju dengan hubungan kita? Emm... mungkinkah kau akan menikahi aku?"


"Aku tidak tahu, aku belum ingin menjalin hubungan serius."


Claire mengangguk. "Aku tahu."


Melvin menatap wajah cantik kekasihnya yang sedikit di poles itu. "Siapa yang mendandanimu? Kau sangat jelek."


"Aku tidak tahu. Gabriel yang membawaku. Aku hanya terima beres."


"Bagaimana kalian bisa bertemu? Kenapa dia begitu tergila-gila padamu?"


"Tidak tahu. Aku bertemu dengannya kemarin, tapi dia bilang kami pernah bertemu di rumah sakit. Tapi aku tidak ingat. Di rumah sakit aku bertemu banyak orang." Jelas Claire tidak dibuat-buat. Dan itu membuat Melvin tenang.


"Kau menyukai Gabriel?"

__ADS_1


"Tidak, aku hanya menyukaimu. Kau itu cinta pertamaku, super heroku. Aku menerima tawaran Gabriel karena ingin bertemu denganmu."


Melvin tersenyum puas. "Ternyata kau tidak terlalu bodoh."


"Aku rasa... aku harus meminta maaf padanya, El. Aku takut dia berharap padaku."


"Tidak perlu, biarkan saja. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan untuk merebutmu."


Claire terdiam seraya menatap Melvin lekat.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Melvin keheranan.


"Kau senang aku direbut orang lain?" Wajah Claire berubah sendu.


Ck, sial. Kenapa wajahnya membuatku tak kuasa?


"El, apa aku tidak terlalu penting untukmu?" Tanya Claire lagi.


"Kenapa kau sangat berisik huh? Pertanyaanmu itu konyol, Claire."


"Konyol bagimu, tapi tidak untukku, El."


Melvin terdiam cukup lama.


"Lupakan itu. Aku haus, lepaskan aku." Melvin menyingkirkan tanganya dari pinggang Claire. Kemudian gadis itu bangun dari posisinya. Meraih botol air mineral di atas nakas. Melvin merebutnya, lalu membukakan penutupnya. Dan kembali memberikannya pada Claire.


"Terima kasih." Ucap Claire.


"Minumlah sampai puas, sebelum kita benar-benar bermain."


Uhuk!


Claire tersedak sampai matanya berair.


"Apa yang kau pikirkan huh?" Melvin tersenyum jahil.


"Kau bilang kita...."


"Aku membutuhkan jarimu yang cantik itu untuk bermain, sayang. Aku punya sesuatu yang harus kau lihat."


"Apa itu soal keberadaan Mommyku?"


"Mungkin," sahutnya.


"Benarkah? Jadi selama kau hilang. Kau sedang mencari informasi?"


"Ya, dan kau datang ke sini mengacaukan segalanya."


Claire tersenyum haru dan berhambur dalam pelukan Melvin. "Terima kasih. Aku akan bekerja keras untuk mendapatkan keberadaan Mommyku. Aku mencintaimu, El."


"Hadiah apa yang akan kau berikan untukku kali ini?"


Claire tersenyum. "Apa pun yang kau minta, El."


"Termasuk tubuhmu?"


"Tidak untuk itu, nikahi aku dulu. Baru kau boleh menyentuhku." Jawab Claire.


"Cih, dasar pemberi harapan palsu."


"Bukankah itu juga prinsipmu? Kau hanya akan memberikan senjatamu padaku, istrimu."


"Cih, percaya diri sekali Anda, Nona."


"Jika aku tidak percaya diri, aku tidak akan bisa berdiri di sisimu. Ayo kita menikah."


"Tambah dulu usiamu, kau terlalu bocah. Aku rasa lubangmu belum siap menerimaku."


"Brengsek." Claire tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu, El."


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2