Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 68


__ADS_3

"Honey." Alexa memanggil suaminya yang sedang sibuk membolak balik beberapa berkas kantor. Sedangkan dirinya terlihat santai dengan punggung bersandar di daun pintu kamar mandi. Dan hanya terbalut piyama tipis yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya. Mengabaikan suhu dingin yang akan membekukan nadi.


"Ada apa, Baby?" Sahut Winter tanpa melihat lawan bicaranya. Alexa berdecak sebal melihatnya. Ia pun memutuskan untuk mendekati Winter.


"Hampir satu bulan kita kembali ke sini dan kau hanya sibuk dengan berkas-berkasmu itu. Mengabaikan aku yang merindukan belaianmu." Omel Alexa beranjak duduk di pangkuan Winter. Mencoba untuk menggoda suaminya itu.


"Baby, aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Kau tahu aku tak bisa terus menerus mengabaikan tugasku. Daddy terus menerorku karena aku bolos berminggu-minggu. Dan sekarang aku dihidangkan dengan tumpukan berkas."


Alexa menghela napas gusar. "Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu."


Winter pun mengalihkan perhatian untuk sang istri yang kini sudah bergelayut manja di lehernya. "Ada apa huh?"


Alexa mengecup bibir suaminya sekilas. Kemudian meraih tangan Winter, menempelkan di perutnya. "I am preghnant. Kau akan menjadi Ayah."


"Wh__what?" Pekik Winter tak percaya. "Kau hamil? Sungguh?"


Alexa mengangguk antusias. Lalu ia beranjak menuju laci, mengeluarkan secarik kertas berlogo rumah sakit dan dua buah stick dengan tanda positif di dalamnya. Meyerahkan benda itu pada Winter. Dirinya juga kembali duduk di pangkuan sang suami. "Kemarin aku memeriksa diri karena merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Kau terlalu sibuk, karena itu aku pergi sendiri. Selamat, kau akan segera menjadi seorang Ayah."


Winter menatap surat itu dan membacanya dengan seksama. Ia masih tidak percaya Alexa sedang hamil. Namun hasil rumah sakit itu membuktikan kebenarannya, jika sang istri sedang mengandung buah hati mereka.


"Usianya baru dua minggu." Ujar Alexa tersenyum lebar. Lalu memberikan kecupan di kedua pipi suaminya.


Winter mulai berkaca-kaca sangking bahagianya. "Mom and Dad akan sangat senang mendengar ini. Ya Tuhan, aku akan menjadi seorang Ayah? Aku tidak percaya ini."


Winter meraih bibir istrinya, mencecapnya begitu lembut dan penuh perasaan. "Aku bahagia, Baby."


Alexa tersenyum penuh haru, terakhir kali ia melihat ekspresi suaminya seperti ini yaitu saat mereka menikah. Dan kali ini kabar kehamilan darinya membuat lelaki itu kembali menderai air mata haru. Itu yang Alexa sukai dari Winter. Lelaki itu berhati lembut dan penuh kasih sayang.


"Kau mau apa huh? Aku akan memberikan apa pun yang kau mau. Katakan, baby."


Alexa tersenyum geli. "Aku ingin dirimu, Winter. Kau selalu sibuk dengan pekerjaan, aku jengah sendirian di rumah ini kau tahu?"


Winter menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. "Besok aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Kita berkunjung ke mansion bagaimana?"


"Boleh. Aku merindukan Mommy." Jawab Alexa begitu semangat.


"Ah, aku masih belum percaya kau hamil, Baby. Ini seperti mimpi." Kata Winter tersenyum lebar. Ia benar-benar merasa sedang bermimpi jika dirinya berhasil menghamili sang istri. Ah, sejak pertama Winter memang menantikan kabar baik ini. Karena itu ia sangat bahagia saat tahu Alexa tengah berbadan dua.


"Aku juga tidak percaya kalau di perutku ada makhluk mungil. Aku harap dia sehat selalu dan lahir dengan selamat." Ucap Alexa penuh harap.


"Dia akan sehat jika kamu juga sehat. Mulai sekarang aku akan mengutus beberapa pengawal untuk melindungimu. Menambah beberapa pelayan untuk mengontrol pola makanmu."


"Itu berlebihan, sayang. Aku bukan anak presiden yang harus di jaga pengawal." Protes Alexa.

__ADS_1


"Kau istriku, bahkan dirimu lebih berharga dari presiden." Gurau Winter. Alexa terkekeh geli.


"Sayang, ini sudah hampir jam sembilan. Ayok."


Winter mengerut bingung. "Kemana?"


Alexa menghela napas lemas. "Aku merindukanmu, Winter. Ayok, baby juga ingin dijenguk oleh Daddynya."


Winter tergelak mendengar jawaban istri menggemaskannya itu. "Aku pikir kau akan mengajakku mencari makanan yang sulit di dapat."


"Ck, ini sudah malam untuk keluar. Sudah aku katakan aku hanya ingin dirimu, Winter. Aku merindukanmu, sungguh." Rengek Alexa dengan bibir manyun. Dan itu benar-benar membuat Winter gemas.


"Boleh aku selesaikan dulu pekerjaanku? Sedikit lagi." Mohon Winter.


"Jadi pekerjaan lebih penting dariku? Sudah berapa malam kau mengabaikanku huh? Kau jahat sekali, Winter." Mata Alexa mulai berkaca-kaca. Membuat Winter panik setengah mati.


"Okay, aku minta maaf. Ayok kita tidur, sebelum itu izinkan aku merapikan berkas-berkas lebih dulu."


"Ya, tapi jangan lama." Alexa beranjak dari pangkuan Winter. Melangkahkan kakinya menuju ranjang. "Cepat, sayang."


"Tunggu sebentar." Sahut Winter yang masih sibuk merapikan meja kerjanya. Usai itu ia pun segera menghampiri istrinya.


"Kau sengaja menggodaku dengan berpakaian seperti itu huh?" Winter baru menyadari penampilan istrinya yang terlihat begitu menggoda. Dua gunung kembar milik Alexa terlihat menyembul keluar karena baju tidur yang dikenakannya terlihat kekecilan. Tanpa banyak berpikir lagi Winter merangkak naik ke atas ranjang.


"Aku merindukanmu." Bisik Alexa seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Winter. Kemudian memberikan kecupan hangat di bibir seksi sang suami. Hormon kehamilan membuat dirinya semakin bergairah. "Sentuh aku, sayang."


"Aku menerimanya." Bisik Alexa begitu menggoda. Winter mengecupi kening, hidung, bibir, leher dan berakhir di dada seksi sang istri. Memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana. Alexa yang sudah tenggelam dalam kabut gairah pun mulai meloloskan des*h*n menggoda. Bahkan jemarinya menyisir rambut acak-acakan sang suami.


Tangan Winter terus bergerak menyentuh titik sensitif istrinya. Membuat wanita itu menggelinjang kenikmatan. "Sudah sangat basah, baby."


"I want you, Winter. I miss you so much."


"I am yours, baby. You are free to touch me." Bisik Winter begitu penuh sensual. "Aku tak akan membiarkanmu tidur malam ini. Kau membangunkan juniorku."


"Aku tidak tahan." Rengek Alexa menyentuh dada Winter yang masih tertutup kaos. Napasnya tersengal karena menahan gairah yang membuncah.


Winter tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah merona istrinya. Wanita itu benar-benar seksi apa lagi dengan mata terpejam seperti ini. Dengan secepat kilat Winter menanggalkan kain yang menutupi tubuhnya. Setelah itu ia menyambar bibir mungil Alexa penuh penuntutan. Menakan dan memberikan gigitan kecil di sana.


"Aku akan memulainya." Alexa mengangguk setuju. Keduanya pun mend*s*h bersamaan saat berhasil melakukan penyatuan. Malam yang dingin berubah menjadi panas dan penuh kehangatan. Ditambah suara erangan dan des*h*n mereka yang semakin menghangatkan suasana. Dan dunia seolah milik mereka berdua.


****


Keesokan hari, Winter menepati janjinya untuk membawa Alexa ke mansion. Bertemu kedua orang tuanya untuk memberi kabar baik.

__ADS_1


"Ah, akhirnya kalian datang juga." Nyonya Winston memeluk Alexa penuh kerinduan.


"Apa kabar, Mom?" Tanya Alexa seraya menarik diri dari pelukan sang Ibu mertua.


"Baik, kamu bagaimana? Mommy perhatikan kamu pucat, sayang. Kamu sakit? Apa Winter tidak membiarkanmu istirahat dengan baik? Nyonya Winston langsung melayangkan tatapan tajam pada putra semata wayangnya.


"Lexa baik-baik saja, Mom. Winter juga selalu memperhatikanku setiap saat. Hanya saja pagi tadi Lexa mual terus."


"Mual? Apa jangan-jangan kamu hamil?"


Alexa menatap suaminya sekilas. Kemudian keduanya pun mengangguk bersamaan.


"Ya Tuhan! Apa aku bermimpi? Aku akan punya cucu?" Pekik Nyonya Winston kegirangan.


"Ini nyata, Mom. Kau akan menjadi grandma." Kata Winter meyakinkan.


"Ada apa ribut-ribut?" Seru Tuan besar Winston yang tiba-tiba muncul.


"Honey, kau harus mendengar kabar baik. Kita akan segera menimang cucu." Sahut Nyonya Winston antusias.


"Benarkah? Aku akan menjadi grandpa?" Tuan besar Winston mengikis jarak antara dirinya dan Alexa. Kemudian mengecup kening menantunya begitu lembut. "Terima kasih sudah menghadirkan kebahagian dalam keluarga ini, Sweety."


Alexa tersenyum dan mengangguk kencang. Kemudian memeluk lelaki paruh baya itu dengan penuh perasaan. "Aku sayang kalian."


"Kami juga, sweety. Kehadiranmu benar-benar memberikan warna dalam mansion ini. Sejak lama kami menantikan anak perempuan. Dan Winter menemukan dirimu. Kami sangat bersyukur."


"Winter, sebaiknya kalian tinggal di sini saja. Mommy butuh teman mengobrol. Lagi pula kau bekerja dan Lexa pasti kesepian di rumah. Benarkan, sayang?"


Alexa menatap suaminya untuk meminta jawaban. Apa yang Nyonya Winston katakan memang ada benarnya. Kadang Alexa bosan dan kesepian di rumah sendirian. Apa lagi Winter sering pulang malam.


"Akan aku pikirkan lagi," sahut Winter.


"Jangan terlalu lama berpikir, biarkan Mommy menghabiskan sisa umur bersama menantu dan cucu di sini. Lagipula mansion ini akan menjadi milik kalian setelah kami menghadap Tuhan."


"Mom, aku tak ingin mendengar itu. Baiklah, kami akan tinggal di sini bersama kalian." Winter merengkuh pundak sang Mommy. Alexa tersenyum bahagia mendengar jawaban sang suami.


"Mommy senang mendengar itu. Kalau begitu ayok kita makan siang. Mommy sengaja meminta pelayan menyiapkan banyak hidangan karena tahu kalian akan datang."


"Ah, kebetulan aku sudah sangat lapar. Istriku tidak pandai memasak." Alexa melotot mendengar ledekan suaminya itu.


"Hey, kau menikahi seorang putri konglomerat. Bukan seorang pelayan." Cetus Sang Mommy menepuk bahu Winter.


"Lagi pula buat apa menantuku memasak, di sini ada lusinan pelayan yang akan melayaninya. Tangan halus menantuku tidak cocok memegang dapur." Tuan besar Winston pun ikut menimpali. Alexa merasa bangga karena kedua mertuanya berpihak pada dirinya. Ia menjulurkan lidah pada suaminya dan tersenyum penuh kemenangan. Winter mendengus sebal melihatnya.

__ADS_1


"Kalian terus membelanya. Lihat, dia jadi besar kepala." Ketus Winter melangkah pergi menuju ruang makan, perutnya benar-benar keroncongan sejak pagi belum terisi apa pun. Pagi tadi mereka memang melanjutkan kembali aktivitas malam yang terpotong karena Alexa kelelahan.


"Jangan pedulikan dia, anak itu cemburu padamu. Ayok, kau harus makan banyak supaya cucu kami gemuk." Ajak Nyonya Winston meraih tangan Alexa. Lalu mereka pun mengiuti jejak Winter untuk menikamati makan siang bersama.


__ADS_2