Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (79)


__ADS_3

Suara tawa Melvin pun memecah keheningan ruang rawat itu. Spontan semua mata pun berlalih padanya.


"Ya ampun, apa kau tidak salah? Marvel itu tidak pernah punya kakasih tahu. Lalu siapa orang yang kau maksud hm?" Ujarnya dan kembali tertawa seolah menjejek kembarannya.


Marvel mendengus sebal.


Emilia pun terlihat bingung. "Tapi dia mengatakan itu padaku, dia kekasih Marvel Digantara. Bahkan dia menunjukkan foto kalian berdua." Lirihnya.


"Jangan bercanda." Kesal Marvel menatap Emilia tajam.


"Aku tidak bercanda, dia mengatakan itu padaku." Emilia langsung memandang Violet dan menggenggam tangannya. "Vi, kau harus percaya padaku. Dia mengatakan itu padaku. Bahkan aku masih ingat wajahnya."


Violet menatap Marvel. "Katakan, siapa kekasihmu sekarang?"


Marvel mendengus kecil. "Berhenti omong kosong. Sebaiknya kau tanyakan seperti apa wajah orang itu. Semua orang bisa mengaku kekasihku."


Violet pun kembali menatap Emilia bingung.


Lea menghela napas, lalu mengeluarkan ponselnya. Kemudian menunjukkan beberapa foto wanita yang pernah terlibat scandal dengan lelaki itu.


Emilia terus menggeleng saat Lea menggulir satu per satu foto wanita. Dan tidak ada satu pun orang yang Emilia maksud.


Lea tampak berpikir, dan tidak lama ia terlihat mengotak atik ponselnya. "Apa ini?" Tanyanya kembali menunjukkan sebuah foto.


Emilia terdiam beberapa saat, lalu mengangguk. Sontak Marvel pun merbut ponsel Lea. Dan betapa kagetnya lelaki itu saat melihat foto wanita itu, yang tak lain Rose.


Lucas yang penasaran pun bangkit dari posisinya, lalu mengambil alih ponsel Lea. Dia juga tak kalah kaget dari Marvel. Bagaimana pun wanita itu yang selalu terlibat di antara dirinya dan Marvel. Tapi sejauh ini Lucas tidak pernah melihat gelegat aneh darinya.


"Kau yakin?" Tanya Lea meyakinkan Emilia.


"Ya, aku sangat yakin. Kami bertemu dua kali. Aku tidak mungkin salah mengenali orang itu. Bahkan dia orang yang memberikan obat itu langsung padaku." Sahut Emilia begitu yakin. Dan sampai detik ini ia tak mengenali siapa Rose. Karena memang tak pernah mencari tahu soal kehidupan keluarga Digantara. Hidupnya saja sudah cukup rumit. Justru ia sendiri bingung kenapa malah dirinya yang dijadikan sasaran empuk wanita itu, padahal dirinya tak pernah menyinggung siapa pun.


Marvel menatap Emilia penuh arti, dan itu membuat si empu merasa terintimidasi.


Lucas mengeratkan rahangnya. Kemudian langsung menghubungi salah anggota gengnya. "Bawa Rose ke markas sekarang." Perintahnya dan langsung menutup panggilan.

__ADS_1


Ditatapnya Emilia tajam sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. Disusul oleh saudara-saudaranya yang lain. Termasuk Marvel tentunya.


Violet menghela napas lega, karena dugaannya benar. Emilia pasti terpaksa melakukan semua itu. Ia sangat mengenalnya, gadis itu tidak pernah berbuat buruk sejak ia mengenalnya.


"Tenanglah, putramu pasti baik-baik saja. Kau hanya perlu istirahat supaya kondisimu membaik." Violet tersenyum tulus.


"Terima kasih." Ucap Emilia pelan.


Lea menghela napas panjang. "Hubungan yang aneh, dulu wanita itu yang menyebabkan Lucas dan Marvel bermusuhan. Dan sekarang lihat, dia kembali membuat ulah yang lebih mengerikan. Aku tidak tahu dia masih bisa hidup atau tidak setelah ini." Gerutunya panjang lebar.


Emilia menatapnya lekat. "Maafkan aku, aku sudah mencelakai saudari kalian. Harusnya biarkan saja aku mati terbunuh. Aku tak pantas mendapat perlakuan baik dari kalian."


Violet menatapnya iba. "Kami tahu kau terpaksa melakukan itu semua, Em. Jika aku diposisimu, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku tahu kau tak berdaya untuk putramu. Kenapa tidak bicara padaku sebelumnya, Em? Kau lupa aku sahabatmu hm?"


Emilia menatap Violet sedih. "Maaf."


Violet menghela napas, lalu memeluknya lagi. Dan tangisan Emilia pun kembali pecah. Lea yang menyaksikan itu pun cuma bisa menghela napas.


****


Marvel dan yang lain pun memilih diam dan menyaksikan semua itu. Dan tak berniat ikut campur.


"Ikat dia." Perintah Lucas. Dengan perasaan campur aduk William dan Harry pun mengikuti perintah Lucas. Meski merasa tak tega karena teman baik mereka disiksa seperti itu.


Sekarang Rose dalam keadaan berdiri dengan kedua tangan merentang karena terikat di setiap sudut. Wanita itu mengangkat wajahnya yang babak belur, lalu tersenyum mengejek.


Melihat itu, kemarahan Lucas pun semakin memuncak. Ia hendak menampar Rose lagi, tetapi Marvel langsung menahannya. Rose tersenyum senang karena berpikir Marvel membelanya. Namun sepertinya ia salah karena bukan itu tujuan Marvel.


"Jangan memukulnya lagi, dia harus tetap hidup karena anak itu masih bersamanya."


Rose mendengus kecil mendengar itu. "Aku sudah membuang anak itu." Dan tawanya pun seketika menggelegar.


Sontak semua mata pun langsung menatapnya tajam.


Lucas menarik kasar kerah baju wanita itu. "Apa tujuanmu sebenarnya hah?" Bentaknya seraya mendorong wanita itu dengan kasar. Namun Rose justru tertawa semakin kencang, seolah pukulan yang diterimanya itu tak berarti apa-apa.

__ADS_1


"Tujuanku hanya satu, menghancurkan kalian berdua, Luc. Aku muak padamu dan kau juga, Marvel. Kalian berdua b*j*ng*n yang terus mempermainkanku seolah aku ini j*l*ng. Kalian pikir aku tidak punya perasaan hm?"


Marvel menatap wanita itu tajam. Namun Rose masih tak goyah, wanita itu tertawa lagi.


"Kalian tahu apa?" Wanita itu meludahkan darah sebelum lanjut bicara. "Aku berhasil menyingkirkan keturunan kalian berdua dalam waktu bersamaan." Tawanya pun kembali pecah.


Tentu saja semua orang merasa bingung dengan ucapan Rose barusan.


"Apa maksudmu?" Tanya Marvel menatap wanita itu tajam.


Rose meludah ke arah lelaki itu. Tentu saja Marvel langsung mundur beberapa langkah. "Kau pikir aku tidak tahu rahasiamu, Marvel. Kau bicara omong kosong pada semua orang seolah akulah wanita yang kau cintai. Sampai semua orang berpikir itu benar, padahal kau sama sekali tak mencintaiku. Kau menjijikan, menjadikanku peralihan untuk kepetingan pribadimu. Aku juga tahu, selama ini kau menyembunyikan kebenaran, jika kau sudah menghamili seorang wanita. Bertahun-tahun kau mencari wanita itu bukan?"


Marvel mengeratkan rahangnya. "Berhenti bicara omong kosong, Rose."


Rose tertawa puas. "Tebak siapa wanita itu hm?"


Marvel menajamkan tatapannya.


"Ya! Dia Emilia. Wanita yang hampir kau bunuh, Marvel. Dialah wanita yang tak sengaja kau hamili, dan aku sudah membuang putramu ke laut." Ungkapnya dan kembali tertawa puas.


Mendengar itu Marvel pun terkejut. "Omong kosong."


"Selama ini aku sengaja menyembunyikan identitas wanita itu darimu, karena semua ini sudah aku rencanakan sejak lama. Aku ingin membalas kebrengsekan kalian berdua. Dan untukmu, Luc. Aku membecimu karena kau justru memilih wanita sialan itu padahal aku yang selalu ada untukmu. Karena itu aku ingin memberi kalian pelajaran, dengan membunuh anakmu. Ah, aku berharap wanita itu juga mati. Sayangnya dia masih sangat beruntung."


Plak! Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi wanita itu. Namun hebatnya wanita itu sama sekali tak tumbang. Justru tertawa melengking yang cukup membuat semua orang merinding.


"Meski sekarang kalian membunuhku, aku merasa puas karena sudah menghancurkan masa depan kalian." Ditatapnya Marvel penuh permusuhan. "Kau sangat menyedihkan, Marvel. Belum sempat melihat betapa tampannya putramu, dia sudah lebih dulu pergi ke surga."


Mendengar itu amarah Marvel yang sejak tadi dipendam pun menyeruak keluar. Dijambaknya rambut wanita itu penuh amarah. "Di mana anak itu, sialan?"


Rose tersenyum. "Sudah aku katakan, aku sudah membunuhnya." Sahutnya penuh penekanan.


Marvel menambah kekuatan tangannya. Dan itu berhasil membuat Rose meringis kesakitan. "Salahkan wanitamu karena melahirkan anak dengan wajah sepertimu. Aku tak bisa meluapkan amarahku saat melihatnya. Jadi aku melemparnya ke laut lepas."


"Siksa dia, tapi jangan sampai mati." Marvel melepaskan cengkramannya dengan kasar. Lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan kilatan amarah di matanya. Kemudian yang lain pun ikut meninggalkan tempat itu, kecuali Lucas dan kedua anggota gengnya.

__ADS_1


__ADS_2