
Dari kejauhan, Violet tampak keluar dari gedung aprtemen. Lalu menaiki sebuah taksi. Dan diarea yang sama, Dustin terus mengawasinya dari dalam mobil.
"Ke rumah sakit, Pak." Ucap Violet pada sang driver. Lelaki paruh baya itu pun mengangguk sopan, lalu melajukan mobilnya. Dustin pun mengikutinya.
Violet menghela napas panjang, kemudian mengelus perutnya yang masih rata. Menatap ke luar jendela.
Mama tidak tahu kita bisa bertahan di tempat ini sampai kapan, sayang? Mama harap kita bisa selamanya tinggal di sini meski rasanya sangat sulit. Katanya dalam hati. Lalu kembali menghela napas kasar.
Violet akui, jika tinggal sendirian di Negara orang tak semudah yang ia pikirkan. Ditambah selama ini Violet tak pernah yang namanya mengenyam hidup susah. Semua dan apa saja yang ia inginkan selalu ia dapat sejak ia lahir ke dunia ini. Namun, apa yang terjadi saat ini adalah pilihannya. Itu artinya ia harus kuat dan menjalani semuanya dengan suka rela.
Mungkin bisa saja ia meminta bantuan Dika atau keluarganya yang ada di Indonesia. Namun rasanya malu jika terus menyusahkan orang lain. Bahkan perihal mencari apartemen saja Violet harus meminta bantuan Dika. Tidak mungkin hal lain pun meminta bantuan mereka, dia harus mandiri.
Sudah satu bulan lamanya Violet menetap di Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Membuatnya mulai terbiasa dengan kehidupan yang ada di sini, dan tentunya amat jauh berbeda dengan di Negara asalnya, Berlin.
"Terima kasih." Ucap Violet pada sang driver setelah melakukan pembayaran. Kemudian ia pun bergegas turun, memasuki rumah sakit swasta yang ada di Jakarta. Setelah melakukan pendaftaran dan administrasi lainnya. Violet pun diantar ke ruang pemeriksaan. Dan tanpa disadari Dustin pun terus mengikutinya.
"Apa sebelumnya pernah melakukan pemeriksaan kehamilan?" Tanya sang dokter pada Violet.
"Ya." Jawab Violet apa adanya.
"Kalau saya boleh tahu kapan itu?"
"Dua minggu yang lalu, dok. Tapi saya ada keluhan, akhir-akhir ini perut saya sering kram dan durasinya cukup lama. Sebenarnya saya ingin pergi ke rumah sakit awal. Tapi rasanya sangat jauh, jadi saya memutuskan ke sini saja yang lebih dekat." Jelasnya menggunakan bahasa campuran Indonesia dan inggris.
Dokter itu pun mengangguk paham. "Mari kita perkisa lebih dulu." Violet pun cuma mengangguk patuh dan melakukan apa yang diperintahkan sang dokter. Dan ia diminta untuk berbaring di atas brankar.
"Janinnya sangat sehat, tidak ada masalah. Mungkin kamu terlalu lelah karena itu sering mengalami kram. Jadi, tetap usahakan untuk tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat dan dijaga pola makannya ya?" Kata sang dokter usai memeriksa kondisi kehamilan Violet. Dan syukurnya dokter itu menjelaskan dengan menggunakan bahasa inggris yang cukup fasih. Sehingga Violet bisa memahami sepenuhnya apa yang ia dengar.
"Ya, dok." Sahut Violet turun dari atas brankar. Lalu menyusul sang dokter duduk di kursi.
"Sudah lama menetap di Indonesia?" Tanya sang dokter menatap Violet dengan senyuman ramahnya.
__ADS_1
"Belum, kurang lebih baru satu bulan." Jawabnya jujur.
Dokter Obgyn itu pun mengangguk yang diiringi senyuman ramah. "Pantes bahasa Indonesiamu masih kaku. Tidak apa, pelan-pelan kamu pasti lancar kok. Bahasa Indonesia itu paling mudah."
Violet tersenyum. "Ya, saya juga sedang belajar, dok. Jadi maaf kalau bahasa saya agak belepotan."
Dokter itu tersenyum lagi. "Suaminya tidak ikut?"
Mendengar itu air wajah Violet pun langsung berubah. "Em... saya...."
"Maaf saya terlambat." Potong Dustin yang berhasil mencuri perhatian keduanya. Seketika mata Violet terbelalak saat melihatnya.
Dustin tersenyum ramah, lalu mendekati Violet yang masih syok. Bahkan tanpa diduga dia memberikan kecupan di kepala Violet. Membuat gadis itu semakin membeku. "Sorry, Baby. Aku terlambat."
Dokter yang melihat kemesraan mereka pun tersenyum geli. "Tidak apa, Tuan. Silakan duduk."
Dustin mengangguk, lalu duduk di sebelah Violet. "Bagaimana kondisinya, dok?"
Beberapa menit kemudian, mereka pun keluar dari ruangan itu. Lalu beranjak untuk menebus vitamin di apotek. Setelah itu mereka pun meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan mobil Duatin tentunya. Dan selama perjalanan Violet terus saja bungkam. Bahkan sampai diapartemen pun Violet masih diam. Membuat Dustin merasa cemas.
"Vi." Panggil Dustin menatapnya lekat.
Violet menekan password apartemennya. Namun saat hendak masuk Dustin lebih dulu menahan lengannya.
"Sudah cukup kau marah, Vi. Ayo pulang. Semua orang menunggu kepulanganmu."
Violet berbalik, lalu menatap Dustin dengan kilatan amarah di matanya. "Sudah aku katakan jangan mengikuti aku, Dustin. Aku tidak akan pernah kembali lagi." Desisnya karena benar-benar geram pada Dustin. Entahlah, saat melihat wajah lelaki itu rasanya Violet ingin mengamuk dan mengajarnya sampai puas.
"Grandma ingin kau pulang. Kenapa kau tidak menjawab panggilannya?" Tanya Dustin dengan lembut.
Violet tak bisa lagi menahan gejolak dihatinya. Rasanya ingin sekali mencakar wajah lelaki dihadapannya itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau pulang. Apa kau tuli?" Kesal Violet penuh penekanan.
Dustin menghela napas. "Okay, aku tidak akan memaksamu untuk pulang bersamaku. Tapi setidaknya jangan abaikan Grandma. Dia sangat merindukanmu, Vi. Akhir-akhir ini kondisinya kembali tak stabil."
Violet mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau tidak akan mengerti perasaanku, Dustin. Apa kau tahu betapa tersiksanya aku ketika harus berbohong soal kondisku saat ini pada Grandma? Kau tidak akan tahu itu, Dustin. Kau tidak akan pernah bisa memahami rasa sakit yang aku rasakan saat berbohong pada orang yang kita sayangi." Bentaknya dengan penuh emosi.
"Vi, aku...."
"Aku sudah mematahkan harapan Grandma, Dustin. Aku sudah membuatnya kecewa, tak ada bedanya aku dengan Eveline sekarang. Dia pasti sangat kecewa jika tahu aku hamil. Aku benar-benar membencimu, Dustin. Aku sangat membencimu." Sela gadis itu melanjutkan perkataannya. Ia benar-benar mengeluarkan semua aral dihatinya yang selama ini dipendam dengan begitu frustrasi.
Dustin pun langsung mendekapnya. Seketika tangisan Violet pun pecah. "Maafkan aku, Vi. Aku tahu ini salahku, aku yang bertanggung jawab dalam hal ini. Kau tidak salah sama sekali."
"Bukan hanya Grandma, Dustin. Orang tuaku juga pasti sangat kecewa saat tahu putri yang selama ini mereka sayangi hamil sebelum menikah. Aku tak pantas mendapat ampunan mereka, Dustin. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Imbuh Violet terdengar begitu pilu. Sesekali ia juga memukul dada Dustin untuk menyalurkan rasa sakit dihatinya. "Aku malu, Dustin. Aku malu jika bertemu dengan mereka."
Dustin mengeratkan pelukannya. Mencoba menenangkan Violet. "Aku tidak akan memaksamu untuk kembali. Kau bisa menetap di mana kau merasa nyaman. Tapi jangan melarangku untuk berada disisimu."
Mendengar itu Violet menarik diri dari dekapan Dustin. Lalu menatapnya tajam sembari mengapus sisa air matanya. "Jangan pernah berpikir aku sudah memaafkanmu, Dustin. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan juga, jangan pernah berpikir kita bisa bersama. Kau sendiri yang membuat jarak di antara kita. Aku sudah menerima keputusanmu itu."
Dustin memberikan tatapan sedih. "Vi, aku mohon jangan seperti ini. Aku tahu semuanya salahku. Tapi beri aku kesempatan, mari besarkan anak kita bersama-sama."
Violet mendengus pelan. "Membesarkan anak ini bersama? Apa kau akan datang padaku jika wanitamu itu masih hamil anakmu hah?"
Dustin pun tak bisa menjawab. Melihat itu Violet pun tertawa hambar. "Sebaiknya kau kembali pada wanita polos dan baik hatimu itu, Dustin. Dia lebih membutuhkanmu. Abaikan aku di sini. Tidak perlu repot mengurusi anakku. Aku bisa merawatnya sendiri." Violet bergegas masuk, lalu membanting pintu dengan kasar. Sontak Dustin pun kaget dan langsung mengetuk pintu.
"Vi, aku mohon jangan seperti ini. Aku tahu semua ini salahku. Tapi tolong maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, Vi. Sungguh." Dustin terus menggedor dan menekan bel pintu. Berharap Violet membukakan pintu untuknya.
Di dalam sana, Violet masih bersandar di daun pintu. Lalu perlahan tubuhnya merosot ke lantai bersamaan dengan air matanya yang juga ikut luruh. Ia menjambak rambutnya sendiri lalu berteriak frustrasi. "Aaarrgghgg! Pergilah, jangan ganggu aku lagi."
Dustin yang bisa mendegar itu pun terdiam sambil menempelkan dahinya di daun pintu. Air matanya mulai jatuh membasahi pipi. "Maafkan aku, Vi. Maafkan aku. Benci aku sampai kau puas."
Cukup lama mereka dalam posisi itu. Sampai akhirnya Dustin pun memutuskan untuk pergi. Namun ia pasti akan kembali dan tak akan menyerah untuk membujuknya. Dan membawanya kembali.
__ADS_1