Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 36


__ADS_3

Sweet membuka matanya perlahan, ketika sebuah pergerakan mengganggu tidurnya. Betapa kagetnya ia saat melihat Alex tertidur dengan posisi duduk. Namun ia kembali dikejutkan dengan posisinya saat ini yang tengah memeluk lengan besar milik Alex.


Hah, apa yang terjadi? Kenapa aku tidak mengingat apa pun tadi malam? Batin Sweet.


Ia juga merasa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, terasa begitu lengket. Sweet mengubah posisi tidur menjadi duduk. Mencoba mengingat kembali kejadian malam tadi, tetapi tidak ada sedikit pun ingatan yang melintas.


"Apa mungkin aku demam? Ck, kebiasaanku saat datang bulan selalu seperti ini," gerutu Sweet. Kemudian menyibak selimut perlahan, tidak ingin membangunkan Alex yang masih terlelap.


"Apa dia menjagaku semalaman?" menatap Alex penuh tanda tanya. Kemudian mata coklat itu tertuju pada sebuah benda yang melingkar di jari manis Alex. Cincin yang ia lingkarkan beberapa pekan lalu, masih setia di sana. Apa dia tidak pernah melepasnya? Tapi kenapa, bukahkah semua ini hanya permainan?


Sweet menarik lengan Alex dengan hati-hati, meletakkannya di atas pangkuan. Lalu beralih menatap wajah tampan itu dengan tatapan yang tak dapat ditafsirkan.


"Jika saja kau bersikap baik, mungkin aku akan jatuh cinta padamu. Kau begitu tampan dan membuat semua orang iri jika aku berdampingan deganmu, tapi sayang sekali. Tidak ada satu kesan pun dalam hatiku untuk bisa mencintaimu, sikapmu yang selalu berubah setiap saat membuatku ragu. Ragu jika kau masih memiliki hati yang tulus untukku," ujar Sweet menatap Alex sendu. Jujur, saat ini ia tidak tahu harus bersandar pada siapa. Tidak ada rumah untuknya pulang selain rumah ini. Bolehkan ia berharap padanya? Grace, tidak mungkin ia menyulitkan gadis itu lagi. Sudah banyak kesulitan yang ia berikan pada orang lain. Jika sudah waktunya, Sweet akan meninggalkan tempat ini dan tidak akan pernah kembali.


"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan keluarga angkatku, hingga kau begitu membenciku. Tapi kenapa kau masih mengikatku di sini? Aku ingin sebuah jawaban," lanjutnya.


Sweet tidak pernah menyadari jika sejak tadi Alex mendengarkan semua perkataannya. Lelaki itu tidak benar-benar tertidur. Alex tertegun sesaat, ini pertama kalinya gadis dingin seperti Sweet begitu banyak bicara. Tidak, sejak kemarin gadis ini begitu banyak bicara. Biasanya gadis itu begitu irit bicara. Terdengar helaan napas berat gadis itu beberapa kali.


"Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin bertemu dengan lelaki jahat sepertimu, Alex. Aku takut jika suatu hari nanti aku tidak akan mempercayai lelaki mana pun," lanjut Sweet kembali menghela napas berat. "Jika aku pergi, apa kau akan merindukanku?"


Ya, aku juga tidak akan membiarkan kau mengingat lelaki lain selain diriku. Tunggu! Apa yang dia katakan? Dia berniat pergi dariku? Jangan harap, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Anna. Batin Alex.


Sweet cukup lama terdiam, lalu ia tersenyum samar. "Mana mungkin, bahkan itu yang kau inginkan dariku bukan? Sudahlah, aku terlalu banyak bicara hari ini. Mungkin besok aku harus mengirit bicara, semuanya sudah hampir habis aku serahkan padamu. Terima kasih sudah menjagaku." Sweet memberikan kecupan hangat di pipi Alex. Jika boleh jujur, ia mulai menyayangi lelaki itu. Ya, sekedar rasa sayang, tidak lebih. Walau kadang lelaki itu sering membuatnya naik darah, tapi sikap itu yang selalu menghangatkan hatinya. Mungkin selama ini Sweet terlalu sering diabaikan, jadi sikap apa pun yang Alex berikan padanya akan sangat membekas dan meninggalkan kesan lain dalam hatinya.


Aneh, baru tadi malam dia mengatakan jika sentuhanku membuatnya merasa benci. Lalu apa arti dari kecupan tadi? Wanita memang selalu aneh, lain di bibir lain di hati.


Setelah merasa puas, gadis itu pun langsung beranjak menuju kamar mandi. Tubuhnya yang lengket membuat tidak nyaman.


Alex membuka matanya saat mendengar suara pintu terbuka dan kembali di tutup. Seulas senyuman terbit dari kedua sudut bibirnya. Entah mengapa ia merasa sesuatu menyelusup masuk ke dalam hatinya yang sudah lama mengeras. Mungkin itu hanya perasaannya saja.


***

__ADS_1


Pagi ini Sweet menggunakan outfit berwarna purple yang ia padukan dengan celana putih. Tidak lupa rambutnya yang ia cepol dan menyisakan anak rambut yang membuatnya telihat seksi. Lalu tidak lupa sebuah tas kecil dengan warna senada.


Sweet melewati anak tangga dengan hati-hati, tidak lucu jika ia terjatuh bukan? Terkadang Sweet merasa heran, mansion semewah ini. Tetapi hanya ada satu lift, itu pun khusus untuk sang pemilik. Bahkan Sweet tidak pernah melihat seseorang menggunakan itu. Apa mungkin Alex begitu pelit atau menerapkan hidup sehat? Entahlah, ia tidak bisa membaca jalan pikiran lelaki itu.


"Kakak cantik ...." Dika berlari kencang menghampiri Sweet, lalu berhambur memeluknya begitu erat.


"Dika, apa yang kau lakukan? Dia milikku dan kau tidak boleh memeluknya, Boy." Alex yang baru saja turun langsung merengkuh pinggang Sweet. Penampilan gadis itu selalu membuatnya resah.


"Paman, itu tidak adil. Aku menyukai Kakak cantik, Paman cari saja wanita lain," celetuk Dika dengan polos. Sweet yang mendengar itu cukup kaget.


"Hey, kau masih kecil, Boy. Sana pergi, dia milikku," sahut Alex.


"Tidak, aku miliknya. Ayok, sayang." Sweet menarik tangan Dika dan membawanya menuju ruang makan. Membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa.


"Ekhem," deham Arnold yang sedari tadi memperhatikan sikap Alex. Nissa yang ikut memperhatikan itu tersenyum penuh arti.


"Kau sudah tua untuk sekedar jatuh cinta, Alex. Sebaiknya kau memilih wanita yang seumuran denganmu. Kalian lebih mirip Paman dan keponakan, sama sekali tidak cocok," ujar Arnold yang langsung melenggang pergi.


Suasana meja makan tampak sepi, semua orang begitu menikmati hidangan pagi ini.


"Alex, bulan depan Arin akan menikah. Kau harus datang, aku tidak ingin alasan apa pun. Bagaimana pun itu hari kebahagiaannya," ujar Arnold membuka pembicaraan. Alex yang mendengar itu langsung melihat sang Kakak.


"Aku tidak janji," sahut Alex dengan santai.


"Tidak ada alasan, kau harus datang."


"Anna, kau juga bisa hadir. Datanglah bersamanya," ucap Nissa ikut menimpali. Sweet melirik ke arah Alex. Ia tidak memiliki jawaban atas perkataan Nissa.


"Jangan khawatir, Mala dan Milan juga akan ikut bersama kami pulang ke Indonesia."


Sweet yang mendengar itu kembali teringat perkataan Grace. Minggu depan wanita itu akan menunggunya di Bandara. Mungkinkah ia bisa lolos dari genggaman Alex?

__ADS_1


"Dia akan ikut kemana aku pergi," jawab Alex mewakili Sweet.


"Baiklah," ucap Nissa tersenyum lebar. Menatap Sweet yang tengah menyantap sehelai roti tawar.


"Bagaimana hasilnya, Alex?" tanya Nissa membuat semua orang bingung terutama Sweet. Alex yang mendengar pertanyaan itu menatap semua orang.


"Sakit lambung seperti biasa, dia terlambat makan." Alex melirik Sweet. Gadis itu sama sekali tidak memberikan respon apa pun.


"Sweet, kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit lagi," kata Nissa untuk Sweet.


"Ya, terima kasih." Nissa tersenyum mendengar jawaban Sweet.


"Alex, apa kau pernah bertemu dengan putri angkatku, Grace? Sudah hampir dua minggu dia di sini. Aku sedikit khawatir padanya, kemarin dia memintaku untuk menyelidiki seseorang. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan orang itu, sepertinya itu sangat penting. Tapi aku tidak dapat petunjuk tentang orang itu, aku harap kau mau membantuku."


Sweet terhenyak mendengar perkataan Arnold. Ia cukup tahu siapa orang yang dimaksud Arnold. Jantungnya berdegup kencang. Bagaimana jika Alex tahu tentang itu? Mungkinkah Grace dalam masalah?


"Tentu," sahut Alex yang membuat jantung Sweet semakin berdebar kencang. Apa yang harus aku lakukan? Grace bisa terkena masalah karena aku. Bagaimana ini?


"Kakak cantik, ikut pulang ke Indonesia juga kan?" tanya Dika penuh harap. Sedangkan yang ditanya masih terhanyut dalam pikirannya.


"Sweet," panggil Milan sambil menyentuh pundak Sweet. Gadis itu langsung menarik diri dari lamunan. "Ya?"


"Dika bertanya padamu, kau juga ikut pulang ke Indonesia bukan?"


"Ah, tidak. Masih banyak pekerjaan di sini," sahut Sweet sekenanya. Lalu matanya bergerak dan bertemu mata biru Alex.


"Benar itu, Tante Sweet kan sekretaris baru di perusahaan. Jadi dia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri," jelas Alex.


"Yah, padahal Dika mau kenalin Kakak cantik dengan Kak Alan, Kak Ara dan Kak Arin, pasti mereka senang deh." Dika terlihat kecewa dengan jawaban Sweet. Anak lelaki itu menaruh harapan besar padanya.


"Mungkin lain kali," ucap Sweet merasa bersalah. Kemudian tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Suasana mendadak hening. Hingga satu per satu meninggalkan meja makan untuk melakukan aktivitas masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2