Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 61


__ADS_3

Alex duduk di sebuah kursi, dengan kaki yang menyilang. Mata tajamnya terus bergerak, menatap dua orang laki-laki paruh baya yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka berada di ruang pribadi Alex.


"Apa yang ingin kalian diskusikan?" tanya Alex dengan santai.


"Ah, seperti yang Anda tahu. Aku adalah ayah kandung Gilly. Tentu saja ingin membicarakan masalah pernikahan kalian. Aku merasa heran, bagaimana mungkin kau ingin menikahi putriku tanpa melamar atau sekadar memberikan maskawin."


Alex tersenyum getir mendengar perkataan lelaki tua itu. Ternyata kau cukup serakah juga, dasar tidak berguna. Batin Alex.


"Aku sudah membuat kesepakatan dengan putrimu, dia tidak keberatan akan hal itu. Lebih baik Anda menanyakan ini padanya," ujar Alex masih bersikap tenang.


"Alex, jangan lupa jika aku ini pamanmu. Semua berita itu sudah aku dengar, aku tidak terima jika kau mempermainkan putriku. Jika kau ingin menikahinya, maka cukup satu wanita. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan putriku menikah denganmu," ujar Holand. Ayah kandung Cherry. Atau lebih tepatnya adik dari Ibu kandung Alex.


"Apa yang Daddy katakan?"


Holand cukup terkejut mendengar suara putrinya. Ia menoleh, dan melihat Cherry sudah berdiri di ambang pintu. Wanita itu pun berjalan cepat, menghampiri Alex.


"Aku tidak peduli dia memiliki berapa istri, aku hanya mencintainya, Dad. Jangan menghalangi hubungan kami," sanggah Cherry. Holand pun sangat marah mendengar perkataan putrinya.


"Apa kau gila?" Holand bangun dari tempat duduk. Menatap sengit putri semata wayangnya.


Berbeda dengan Alex, ia tersenyum sambil memperhatikan pertengkaran anak dan ayah itu.


"Aku hamil, jadi tidak ada alasan untuk Daddy melarang aku menikahi kak Alex." Cherry duduk dipangkuan Alex. Menarik tangan lelaki itu dan meletakkannya di atas perut. Alex membiarkan wanita itu melakukan apa pun padanya. Selagi tidak melewati batas.


Mendengar pengakuan putrinya, Holand terduduk lemas.


"Aku juga hamil, Dad." Kali ini seorang wanita ikut menimpali pembicaraan mereka. Siapa lagi jika bukan Gilly. Willy tak kalah terkejut mendengar pengakuan anak bungsunya.


Wanita itu memilih duduk di samping sang Daddy. "Aku tahu, semua ini membuatmu kecewa. Tapi, biarkan aku memilih cintaku sendiri, Dad."


Willy menatap iba putrinya, "ini bukan kesepakatan kita. Tapi aku ingin kau berjanji untuk selalu bahagia."


"Ya, aku akan selalu bahagia. Tapi maaf, aku harus mengkhianati cintamu, Dad." Gilly memeluk Willy dengan erat.


"Apa maksudmu?" tanya Willy kaget dan mendorong tubuh Gilly.


Alex meminta Cherry untuk menyingkir, lalu ia pun bangun dari posisinya. Menghampiri Holand yang kini tengah menatapnya bingung.


"Apa kau masih ingat, Paman? Bagaimana kau membunuh kedua orang tuaku dengan begitu sadis? Lalu kau melempar kesalahan itu pada keluarga Sasmitha?"


Holand terhenyak mendengar pertanyaan Alex. "A--apa yang kau katakan? Aku tidak tahu apa pun tentang itu."


Holand masih berusaha untuk mengelak. Dan memberikan tatapan membunuh pada putrinya.


"Dasar penghianat!" Umpatnya.


"Sorry Dad, aku hanya ingin memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika aku ikut denganmu, maka semua hidupku akan hancur." Cherry memberikan tatapan sendu pada Holand.


Beberapa hari yang lalu, Cherry maupun Gilly mengetahui jika dirinya tengah hamil. Karena tidak sabar, mereka pun membawa kabar baik itu pada Alex. Tentu saja Alex menerimanya dengan baik. Karena semua itu memang masuk dalam rencananya. Gilly dan Cherry tidak pernah tahu, jika anak yang mereka kandung bukanlah darah daging Alex. Malainkan sebuah alat yang akan Alex gunakan sebagai senjata. Memancing para pelaku ke luar dari sarangnya. Berita tentang pernikahan itu juga palsu, dan termasuk dalam rencana Alex.

__ADS_1


Kerja keras Alex dan Arnold untuk mengungkap siapa pembunuh orang tuanya pun memberikan hasil. Tidak pernah menduga, jika salah satu keluarganya adalah otak di balik semua ini. Holand adalah pelaku utama dalam kasus kecelakaan beberapa puluh tahun yang lalu. Semua kebenaran ini menyulut amarah Alex maupun Arnold. Sehingga mereka memutuskan untuk membuat rencana, sebuah rencana yang sudah tersusun begitu matang.


"Sekarang kau sadar? Seorang pengkhianat, hanya akan melahirkan pengkhianat lainnya. Itu dibuktikan oleh putrimu sendiri, Tuan Holand yang terhormat." Alex tersenyum penuh kemenangan.


Alex melangkah pasti untuk mendekati Holand, lalu mencengkram erat pundak lelaki itu. "Sebelum melakukan kejahatan, seharusnya kau berpikir lebih dulu. Apa yang akan kau peroleh. Mungkin aku tidak akan menghukummu, tetapi hukum negara akan memberikan yang terbaik untukmu."


Mendengar perkataan Alex, Holand tertawa lepas. Dan menyingkirkan tangan Alex dari pundaknya.


"Jangan terlalu bangga, hukum di negara ini membutuhkan bukti yang kuat untuk menahan seseorang. Bahkan kau tidak memiliki bukti apa pun, apa karena wanita ini kau menjadi bangga?"


Alex tersenyum penuh arti, "benar, aku memang hanya memiliki wanita ini sebagai bukti."


Holand semakin mengencangkan tawanya, menatap Alex remeh. "Aku tidak akan terpancing dengan trik mu, aku tahu kau sudah memasang CCTV di ruangan ini. Dan menjebakku untuk mengatakan jika aku memang pelakunya bukan?"


Alex memilih mundur dan menjauh dari lelaki tua itu. Dan memilih untuk duduk kembali, lalu memijat pelepisnya.


"Kau cukup pintar ternyata, sekarang aku harus melakukan apa lagi agar kau mau mengakuinya?" tanya Alex pura-pura bingung.


"Sayang, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Alex pada Cherry. Mengelus perut wanita itu dengan lembut. Cherry yang tidak tahu manahu tentang rencana Alex pun merasa iba pada calon suaminya itu.


"Maaf, Dad. Aku sudah menyerahkan semua bukti yang kau simpan pada pihak berwajib. Semua yang kau lakukan itu tidak benar," ujar Cherry merasa bersalah pada Holand.


Holand menyentuh dadanya yang terasa sesak, mungkin saja penyakit jantungnya mulai menyerang karena rasa kaget. Putri yang selama ini ia besarkan, ternyata dia lah yang menusukkan pedang tepat di jantungnya. Selama ini Holand memang tidak pernah menyembunyikan apa pun dari sang putri. Termasuk rahasia tentang masa lalunya.


"Aku juga minta maaf, Dad. Aku tidak pernah menyangka jika kau juga bekerja sama dengan mereka. Aku mendengar semua perkataanmu beberapa hari yang lalu, tentang rahasia yang kau sembunyikan." Gilly menatap Willy penuh penyesalan. Hanya Gilly lah yang tidak tahu tentang rahasia yang disimpan orang tuanya.


"Kau memang licik, Alex."


"Tidak, tidak. Aku hanya mengikuti semua jejakmu. Kau ingin sukses seperti kedua orang tuaku, tapi kau pemalas. Lalu kau memutuskan untuk membunuh mereka, dan menikmati kekayaannya. Kau membuang kami ke negara lain, dan berharap kami mati. Benarkah tebakkanku, Tuan Holand?"


Holand terhenyak mendengar semua penjelasan Alex. Semua yang Alex katakan memang kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.


"Kau membiarkan kami hidup sengsara, dan melempar semua kesalahanmu orang lain yang tak bersalah," timpal Alex dengan mata yang memerah. Ia menahan amarah yang hampir meledak.


Tiga puluh tahun yang lalu, setelah kematian Kakaknya. Holand mengirim kedua anak sang Kakak ke sebuah panti asuhan luar negeri. Yaitu Indonesia. Membiarkan dua anak laki-laki itu menderita di sana. Mendapat perlakuan buruk dari pemilik panti. Saat itu Alex maupun Arnold tidak tahu jika semua itu masuk dalam rencana jahat sang Paman. Mereka begitu percaya, jika sang Paman ingin menjauhkan mereka dari para penjahat. Holand juga mengatakan pada mereka, jika dalang semua ini adalah keluarga Sasmitha. Salah satu keluarga yang memiliki pengaruh di Indonesia.


Menginjak dewasa, Arnold mulai mencari keberadaan keluarga Sasmitha. Menghancurkan satu per satu keluarga itu. Mengambil alih semua kekuasaan keluarga Sasmitha. Tanpa melibatkan Alex di dalamnya, karena saat itu usia Alex masih belum cukup dewasa.


"Apa kau pikir aku tidak tahu, jika Santonio adalah kaki tanganmu selama ini? Kau terus mencari keberadaan keluarga tak bersalah itu untuk menghilangkan segala jejak. Karena hanya mereka yang tahu semua kebenaran. Aku sudah mengirim bajingan itu ke tempat seharusnya."


Tidak ada lagi senyuman dari wajah lelaki itu, hanya tersisa tatapan membunuh dan wajah bengisnya.


"Dan kau Tuan Willy, menggunakan putrimu untuk menjebakku? Apa kau pikir selama ini aku bodoh? Kau berpikir aku tidak tahu jika kau juga ikut andil dalam kecelakaan terencana itu? Kau salah, aku membiarkan putrimu untuk terus berada di dekatku dan membiarkan dia mencuri segala informasi. Lalu akan aku gunakan hal yang sama, menjadikan putrimu sebagai umpan." Alex berjalan mendekati Gilly. Wanita itu menunduk takut dan merasa kaget mendengarnya. Ia tidak bodoh untuk memahami perkataan Alex.


"Mungkin aku bodoh, jika aku tidak curiga. Seorang putri terhormat sepertinya ingin bekerja sebagai pelayan di rumahku. Menjadikan cinta sebagai alasan? Huh, trikmu terlalu cerdas."


"Tuan, aku benar-benar mencintaimu. Bahkan saat ini aku sedang mengandung anakmu," sanggah Gilly. Memang benar, awalnya Gilly hanya mengikuti semua perintah sang Daddy. Tetapi ia tak pernah menyangka, jika dirinya benar-benar menaruh hati pada Alex.


"Apa kau yakin itu anakku?" tanya Alex tersenyum sinis.

__ADS_1


Bukan hanya Gilly yang kaget dengan perkataan Alex, tetapi Cherry pun ikut terkejut. Itu artinya nasibnya tidak jauh dari Gilly. Anak yang ada dalam kandungannya bukanlah anak yang ia harapkan.


"Bahkan aku tidak pernah menyentuhmu," timpal Alex menatap Gilly jijik. Wanita itu sangat terpukul dengan perkataan Alex.


"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, bahkan aku rela mengkhianati kaluargaku. Dan kau begitu jahat padaku?" tangis Gilly pun pecah.


"Aku tidak peduli tentangmu, salahkan saja lelaki yang ada di sampingmu. Bahkan aku bisa lebih kejam dari apa yang dia lakukan terhadap keluargaku." Balas Alex.


Pandangan Alex beralih pada Cherry yang masih terdiam. Nyali wanita itu menciut saat melihat amarah dalam diri Alex.


"Dan kau... Kau pikir aku sangat ingin menyentuhmu? Setelah kau menghancurkan hubunganku dengan istriku? Bahkan aku ingin membunuhmu, tapi otakku masih berfungsi. Aku bisa menggunakanmu, untuk mengelabui pembunuh sebenarnya."


Alex tertawa, lalu pintu lift pun terbuka. Menampakkan seorang lelaki tampan tengah bersandar dengan angkuh. Mendapat perhatian semua orang, lelaki itu pun berjalan pasti untuk bergabung. Lelaki itu duduk tepat di sebelah Gilly.


Tidak ada yang tak kenal lelaki itu. Sosok yang begitu famous dikalangan wanita. Gerald Schwarz, lelaki pemilik seribu wanita.


Sejak tadi Gerald dapat menyaksikan langsung perdebatan mereka dari layar ponselnya. Yang tepat ia melihat kejadian itu dari CCTV.


"Hey, apa kabarmu sayang?" tanyanya seraya menyentuh perut Gilly. Wanita itu pun langsung menghindar.


"Aku perkenalkan pada kalian, Gerald Schwarz. Ayah dari anak yang ada dalam rahim kalian. Lelaki yang selalu menemani malam panjang kalian."


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin memiliki anak dari lelaki brengsek sepertinya," hardik Cherry. Ia masih belum terima kenyataan yang harus ia telan.


Berbeda dengan Gilly, ia memilih untuk diam. Mengakui jika semua yang terjadi atas kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Alex begitu mudah diraih hanya dengan iming-iming cinta.


Tidak berapa lama, beberapa polisi pun memasuki ruangan. Membekuk para pelaku tanpa banyak bicara. Holand dan Willy terus memberontak. Tidak rela jika dirinya harus menghabiskan masa tua di dalam penjara.


"Duduklah dipangkuanku jika kau ingin tetap bebas," bisik Gerald pada Gilly. Namun wanita itu masih diam membisu.


"Kak, aku tidak ingin dipenjara. Aku mohon, tolong lepaskan aku. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Cherry bersimpuh di kaki Alex. Memohon agar dirinya terlepas dari hukuman.


"Memaafkanmu sama saja dengan mengkhianati istriku. Kau mencoba untuk mencelakai keluargaku, kau pantas mendapatkan balasan."


"Selamat bersenang-senang," ucap Alex yang kemudian melangkah pergi. Meninggalkan ruangan itu dengan amarah yang memuncak.


Saat ini hanya Gerald yang menyaksikan langsung bagaimana para pejahat itu meronta dan meminta untuk dibebaskan. Saat seorang polisi hendak menangkap Gilly. Dengan sigap ia menarik wanita itu dalam dekapan.


"Dia wanitaku, aku yang akan menjaminnya." Gerald memberikan isyarat pada posisi itu untuk segera membawa mereka.


"Hey, kau juga harus membebaskan aku. Aku sedang mengandung anakmu," teriak Cherry.


"Aku tidak peduli, kau terlalu tua untuk menjadi mainanku. Bawa saja anak itu ke neraka," ujar Gerald tanpa rasa bersalah.


"Brengsek!" umpat Gilly seraya mendorong tubuh Gerald.


"Ada apa sayang? Apa kau tidak ingin berterima kasih padaku, cukup dengan sebuah kecupan di sini." Gerald menunjuk bibirnya yang seksi. Lalu hanya dengan hitungan detik, ia merubah raut wajahnya. Begitu menyeramkan. Membuat nyali Gilly benar-benar menciut.


"Aku sudah membantumu, saatnya kau melayaniku hingga aku puas. Wajahmu terlalu cantik untuk aku buang, aku juga ingin kau melahirkan anak ini dengan sehat." Kata-kata Gerald sama sekali tidak ada candaan. Tangannya terus bergerak untuk mengelus perut Gilly. Membuat wanita itu tidak berani bergerak.

__ADS_1


__ADS_2