
Sepulangnya kerja, Gabriel tersenyum lebar saat melihat istrinya tengah mengeringkan rambut, ditaruhnya tas kerja di atas meja perlahan. Lalu mendatangi istrinya dan langsung memeluknya dari belakang.
Spontan Rhea pun terperanjat kaget. "Sayang!" Kesalnya seraya memukul lengan Gabriel.
Gabriel tertawa pelan. Kemudian mengecup lembut leher istrinya. "Wangi sekali, Sayang."
Rhea tersenyum. "Bagaimana pekerjaanmu hem?" Tanyanya sembari mengoleskan vitamin di rambutnya.
"Biar aku bantu. Duduklah." Gabriel pun mengambil alih kerjaan istrinya. Tentu saja Rhea senang diperlakukan manis.
"Sayang." Panggil Gabriel yang berhasil membuat Rhea menoleh. "Kau masih ingat temanku, Bara?"
Rhea mengangguk. "Ada apa dengannya?"
Gabriel terdiam sejenak. "Dia ayah kandung Prince."
"Apa?" Kaget Rhea yang langsung berbalik. "Kau bilang apa tadi?"
Gabriel menaruh vitamin itu di meja, lalu membawa istrinya duduk berhadapan di ranjang. "Aku baru tahu tadi, Bara sendiri yang mengatakan padaku."
"Bagaimana dia bisa seyakin itu?"
Gabriel mengeluarkan sebuah kertas dari aku jasnya, lalu memberikan benda itu pada istrinya. "Ini hasil tes DNA mereka."
Rhea langsung membuka dan membacanya. Dan memang benar DNA mereka cocok. Rhea menelan air liurnya dengan susah payah. "Bagaimana mungkin?"
Gabriel menghela napas. "Bara ingin bicara secara langsung dengan Zhea. Dan dia minta bantuan kita. Dia akan bertanggung jawab."
Rhea bangun dari duduknya, lalu menatap Gabriel tajam. "Kemana saja dia selama ini hem? Kenapa baru sekarang dia datang? Apa dia tahu betapa menderitanya Zhea saat itu?"
Gabriel ikut bangkit dan coba menenangkan istrinya. "Sabar, Sayang. Kita bicarakan baik-baik ya?"
"Bicara baik-baik apa? Dia yang sudah menghancurkan hidupnya, Gab. Dan sekarang dengan etengnya dia datang dan mengatakan Prince putranya? Lelaki macam apa dia?" Sembur Rhea penuh emosi.
Gabriel menyentuh wajah istrinya, ia tahu Rhea sangat sensitif akhir-akhir ini. "Dengar, kita harus mendengarkan penjelasannya. Dia pasti punya alasan. Ini belum terlambat, kita pertemukan saja mereka bagaimana?"
Rhea menggeleng. "Zhea tidak akan mau."
"Kita harus mencobanya, setidaknya pikirkan nasib Prince. Bara sosok ayah yang sempurna untuknya. Percayalah, dia orang yang baik." Jelas Gabriel terus meyakinkan sang istri.
Rhea menatap Gabriel lekat. "Pertemukan aku dengannya malam ini."
Gabriel mengangguk setuju. Rhea pun sedikit tenang. Kemudian ditatapnya lagi hasil tes itu dengan seksama. Masih tak percaya Bara adalah Ayah kandung Prince.
Malam harinya, Gabriel membawa Rhea ke sebuah restoran di mana Bara sudah ada di sana.
Rhea menatap Bara tajam. "Aku ingin mendengar alasanmu melakukan ini dengan jujur." Pintanya penuh penekanan.
Bara menghela napas, lalu mengangguk setuju. "Aku dan dia bertemu beberapa tahun lalu, di sebuah bar. Saat itu dia sedang mabuk, dan merayuku agar membayarnya. Aku pikir kita berdua saling membutuhkan, jadi malam itu aku dan dia terlibat malam panas. Besoknya aku pergi ke Negaraku karena urusan mendesak, setelahnya aku benar-benar melupakan malam itu."
__ADS_1
Rhea mengepalkan tangannya, tetapi tak bicara sepatah kata pun. Karena ingin mendengar penjelasan lelaki itu lebih jauh.
"Satu bulan lalu, aku baru kembali ke kota ini. Aku iseng berjalan-jalan di sekitaran apartemen. Dan tidak sengaja melihat seorang anak kecil sedang bermain kejar-kejaran dengan Ibunya. Aku tidak terlalu memperhatikan Ibunya, karena aku terlalu fokus pada anak itu. Setelah aku perhatikan lebih jauh, wajahnya begitu mirip denganku saat kecil. Baru setelahnya aku perhatikan wajah Ibunya. Dan itu sangat familiar. Tapi aku tak mengingatnya sama sekali." Bara menghela napas kasar sebelum lanjut bicara.
Rhea mengingat hari di mana ia membawa Prince dan Zhea keluar untuk pertama kalinya. Mungkin saat itulah yang Bara maksud.
"Wajah anak itu terus membayangiku. Jadi aku memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya. Dan yang membuatku yakin dia putraku adalah statusnya. Jadi aku mengirim seseorang untuk menyamar ke apartemennya dan mengambil rambut anak itu. Aku melakukan tes DNA, dan dugaanku benar jika dia putraku. Tapi jujur aku baru mengingat kejadian silam itu beberapa hari ini setelah aku mencari tahu soal masa lalunya. Dan aku tidak pernah tahu dia hamil anakku. Setelah aku tahu dia putraku, aku tidak akan menelantarkannya begitu saja. Aku akan bertanggung jawab. Termasuk menikahi Ibunya."
Rhea menatap netra lelaki itu untuk mencari sebuah kebohongan, sayangnya ia sama sekali tak menemukan itu. Hanya ada ketulusan di sana. "Bagaimana aku bisa yakin padamu? Dia saudariku satu-satunya, banyak hal berat yang sudah ia lewati tanpa kau tahu. Aku tidak bisa mempercayaimu begitu saja."
Bara menatap Gabriel sekilas, sebelum kembali menatap Rhea.
"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau percaya soal ketulusanku?" Tanya Bara menatap Rhea lekat.
Rhea menarik napas panjang. "Temui dia langsung dan katakan yang sebenarnya."
Bara mengangguk. "Itu yang ingin aku lakukan."
"Besok aku akan meyakinkannya untuk keluar dari mansion. Kau bisa mengambil kesempatan itu." Tegas Rhea yang lagi-lagi dijawab anggukan oleh Bara. Terlihat jelas kelegaan diwajah lelaki itu.
Dan keesokan harinya, Rhea menepati janjinya membawa Zhea dan putranya keluar. Yaitu di restoran Jepang.
"Zhe, aku ke toilet sebentar." Pamit Rhea yang langsung dijawab anggukan oleh Zhea. Tanpa menunggu lagi Rhea pun langsung meninggalkannya.
Tidak lama dari itu, Bara pun datang dan langsung duduk di hadapan Zhea. Sontak wanita itu kaget dan langsung menatapnya tajam. "Kau!"
"Mau apa kau di sini? Tempat itu ada pemiliknya" Sembur Zhea merasa tak nyaman.
Bara menatapnya lekat. "Mari kita bicara." Ajaknya.
"Maaf, aku tidak mengenalmu." Sinis Zhea yang kemudian menyesap sisa jusnya.
Bara mengulurkan tangannya. "Bara Patlers."
Zhea menatapnya aneh, dan tak berniat membalas uluran tangan lelaki itu. "Bisa kau pergi dari sini? Suamiku akan segera kembali, aku tidak mau dia salah paham." Alibinya.
Bara tertawa kecil. Sontak Zhea pun bingung. "Kenapa kau tertawa? Aku tidak bohong."
Bara mengangguk. "Aku ingin bertemu denganya."
Zhea mendelik mendengar hal itu dan hendak protes, tetapi Bara lebih dulu memotongnya. "Beberapa tahun lalu aku bertemu gadis belia, dia terlihat frustrasi di bar. Jadi aku mendatanginya. Ternyata gadis itu butuh uang, dan menewarkan diri untuk tidur denganku. Tentu saja aku tidak menolak, dan kami terlibat malam yang panas. Beberapa tahun kemudian, aku bertemu dengannya lagi. Dan ternyata dia sudah punya anak."
"Kenapa kau mengatakan itu padaku?" Kesal Zhea tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Bara. Tentu saja ia tak pernah mengingat lelaki di depannya itu karena posisinya mabuk saat itu.
Bara tersenyum. "Gadis itu kau, Zhea."
Zhea terhenyak. "Apa maksudmu? Aku tidak pernah bertemu denganmu."
"Pernah, enam tahun lalu. Saat kau mabuk dan terus memohon padaku untuk menidurimu. Kau meminta uang yang cukup banyak, aku menaruh cek di atas nakas." Jawab Bara menatap Zhea serius.
__ADS_1
Sontak Zhea pun kembali mengingat kilasan masa lalu. Memang benar, dulu ia pernah mengalami hal di mana ia terbangun di sebuah hotel tanpa sehelai benang pun. Juga menemukan sebuah cek dengan nominal besar. Juga sebuah surat agar memintanya berhenti menjadi wanita malam. Namun Zhea mengabaikan surat itu dan hanya mengambil ceknya saja.
"Jadi itu kau?" Zhea menutup mulutnya tak percaya.
Bara mengangguk. "Syukurlah kau masih ingat malam itu."
Zhea terdiam langsung.
Bara menghela napas berat. Lalu mengeluarkan sebuah amplop berlogo rumah sakit dan memberikannya pada Zhea.
Dengan ragu Zhea menerimanya, lalu membukanya sambil sesekali melirik Bara. Saat melihat isinya, ia terbelalak kaget dan langsung menatap Bara. Bara pun segera menjelaskan.
"Aku sendiri tidak menyangka benihku tumbuh dalam satu malam." Ditatapnya Prince yang tengah lahap memakan sushi. "Saat pertama kali melihatnya, aku langsung memiliki perasaan aneh terhadapnya. Daya tariknya membuatku sadar akan satu hal, dia memiliki banyak kemiripan denganku. Jadi aku memutuskan untuk mencari tahu tentangnya. Maaf jika aku lancang, aku hanya tak ingin keturunanku terlantar. Aku memang lelaki brengsek, gemar meniduri banyak wanita. Tapi hanya denganmu aku melepaskannya tanpa pengaman. Seingatku."
Zhea menggenggam erat kertas itu. "Lalu apa maumu? Kau ingin merebutnya dariku?" Matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu Bara tak bisa disalahkan dalam hal ini. Karena saat itu dirinya kembali tidur dengan orang lain. Sehingga membuatnya bingung siapa Ayah kandung Prince.
Bara menggeleng. "Aku tidak bisa merebut kebahagiaan seseorang, Zhe. Jika boleh, aku ingin bertanggung jawab penuh. Terhadapmu maupun Prince."
Zhea menatap Bara bingung.
"Aku ingin menikahimu."
Lagi-lagi Zhea terhenyak. "Kau gila."
"Aku tidak gila, dengan kewarasan penuh aku ingin bertanggung jawab. Kau tahu alasanku menulis surat waktu itu? Aku tahu kau wanita baik-baik, jadi aku memintamu untuk menjauhi dunia itu." Ujar Bara menatap Zhea tulus.
Wanita itu terdiam seribu bahasa.
"Aku tahu kau butuh waktu, aku tidak akan memaksamu. Tapi izinkan aku untuk dekat denganmu maupun putra kita. Mari kita mulai semuanya dari awal. Anggap kita baru bertemu."
Tanpa sadar air mata Zhea menitik. Wanita itu menggeleng. "Aku tidak pantas untuk siapa pun. Tolong jangan pilih aku, kau boleh bertemu Prince kapan pun. Tapi tidak untuk menikah denganku, carilah wanita yang lebih baik dariku. Aku tidak butuh pertanggung jawabanmu. Soal malam itu, semuanya salahku. Jadi aku sudah melupakannya. Dan untuk Prince, aku akan memberitahunya perlahan."
Bara tersenyum. "Beri aku waktu untuk meyakinkanmu. Dua bulan. Jika kau masih belum yakin, aku akan mundur perlahan. Bagaimana?"
Zhea meremat jemarinya. Ia takut sekarang. Melihat ketakutan di wajahnya, Bara kembali meyakinkannya.
"Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak suka aku tak bisa memaksa. Terima kasih sudah mengizinkanku untuk dekat dengannya. Maaf sudah membuatmu tak nyaman. Aku pamit, sampai bertemu dilain waktu." Pamitnya.
Zhea yang masih terdiam.
Bara tersenyum, lalu mengusap kepala putranya lembut sebelum benar-benar pergi. Zhea menatap kepergian lelaki itu dengan seksama. Dan tidak lama dari itu Rhea pun datang dan duduk ditempatnya. Karena sejak tadi ia berada di dekat sana.
"Pikirkan itu baik-baik, Zhe. Sudah saatnya kau buka lembaran baru. Carilah kebahagianmu sendiri." Katanya kemudian.
Zhea tersenyum getir. "Jadi kau yang merencakan semua ini?"
Rhea mengangguk. "Sekali lagi pikirkan itu baik-baik. Kau juga harus bahagia, ini kesempatan untukmu memberikan keluarga lengkap untuk Prince."
Zhea menatap putranya yang masih asik makan, lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Perkataan Rhea barusan membuatnya berpikir keras.
__ADS_1