
Di kamar mewah, Jarvis hanya memandangi punggung sang istri. Sudah satu jam lamanya Alexella berdiri menghadap ke luar jendela. Mengabaikan keberadaan suaminya.
"Xella." Karena tak tahan, Jarvis pun menghampiri istrinya. Sedikit menarik pundak wanita itu agar menghadap ke arahnya. Kini pandangan keduanya saling terkunci satu sama lain.
"Katakan sesuatu, jangan diamkan aku seperti ini." Mohon Jarvis seraya mengecup kening sang istri. Alexella hanya bisa memejamkan mata, ia tak mempu bersuara.
"Maafkan aku, Xella." Jarvis memeluk Alexella dengan penuh perasaan. "Maafkan aku karena tak bisa menjagamu. Kau pantas membeciku seumur hidup." Suara lelaki itu terdengar frustasi.
Alexella membenamkan wajahnya di dada bidang Jarvis yang diiringi gelengan kecil. "Aku tak pantas untukmu, Jarvis." Lirihnya.
Jarvis yang mendengar itu mendorong Alexella agar terlepas dari dekapan. Menatap wajah sembab sang istri yang begitu menyayat hatinya. Dua tangan kekar itu menangkup wajah cantik Alexella.
"Siapa kau yang bisa menentukan pantas atau tidak untukku huh? Kau istirku, Xella. Aku akan menerimamu apa pun kondisimu. I love you." Ungkap Jarvis yang berhasil membuat tangisan Alexella tumpah.
"Maaf jika terlambat mengungkapkan isi hatiku. Sejak lama aku menginginkanmu, Xella. Aku menunggumu sampai kau dewasa. Karena itu aku membuat drama perjodohan setelah usiamu cukup untuk menikah. Sebenarnya perjodohan itu tidak ada, aku yang meminta pada Daddy. Karena hanya cara ini yang bisa membuatmu menerimaku. Aku mencintiamu, Xella. Sungguh." Lanjut Jarvis.
Alexella yang mendengar itu langsung mendekap suaminya. Menumpahkan air mata bahagia.
"Maafkan aku." Ucap Jarvis lagi.
"Kapan kau mulai mencintaiku, Jarvis?" Tanya Alexella mendongakkan wajahnya. Menatap wajah tampan sang suami.
Jarvis tersenyum simpul. "Sejak pertama kali aku melihatmu."
"Benarkah?"
Jarvis mengangguk yakin. "I love you so much."
"Jika kau mencintaiku, kenapa begitu banyak wanita yang kau sentuh, Jarvis?"
"Untuk melepaskan hasratku tentunya, aku bukan lelaki yang mudah menahan semua itu, Xella. Meski banyak wanita yang aku tiduri, dirimu yang selalu ada dalam bayanganku. Tanyakan saja nama siapa yang aku sebut setiap kali meniduri mereka. Hanya namamu yang tersebut, Xella."
"Brengsek kau Jarvis! Kau menjadikanku fantasi liarmu huh?" Alexella memukul dada bidang suaminya karena kesal.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tak mungkin menarikmu dalam ranjang karena Daddymu akan membunuhku. Atau kau memang ingin naik ke atas ranjangku sejak lama huh?"
"Jarvis!" Kesal Alexella. Bukannya merasa bersalah, Jarvis malah tertawa puas.
"Aku marah jika kau tak berhenti tertawa, Jarvis." Ancam Alexella tak terima ditertawai suaminya.
"Kau tahu, Baby. Kau wanita yang unik. Kecantikanmu semakin bertambah saat sedang marah. Jadi akan aku biarkan kau marah." Ujar Jarvis kembali tertawa. Tentu saja hal itu membuat Alexella semakin kesal.
"Tertawalah sampai kau puas." Ketusnya yang hendak pergi. Namun dengan sigap Jarvis mencekal lengannya. Jarvis tersenyum dan kemudian menarik lengan itu sampai punggung Alexella membentur dadanya. Tanpa rasa malu, lelaki itu melingkarkan kedua tangan di perut sang istri. Kemudian memberikan beberapa kecupan di pundak mulus itu.
"Aku sudah membunuh lelaki yang berani menyentuhmu, Xella. Tak akan aku biarkan siapa pun hidup setelah menyentuh milikku. Tak akan aku biarkan, Xella." Bisik Jarvis dengan penuh sensual.
"Sekarang kau mengerti bukan kenapa aku begitu ingin menghancurkan para wanita yang pernah kau tiduri? Bahkan aku ingin mencabik-cabik wajah mereka karena barani menyentuhmu. Aku tak bisa membayangkan saat mereka menyentuh setiap inci tubuhmu, Jarvis." Akhirnya Alexella menuangkan segala aral dihatinya.
"Hm... aku mengerti. Karena itu aku membunuh lelaki tua yang sedang mengincar nyawamu. Aku akan menyingkirkan semua yang mengancam hidupmu."
Alexella terkejut mendengar itu. Dengan gerak cepat ia memutar tubuhnya. Memandang wajah suaminya lamat-lamat. "Kau membunuhnya?"
Jarvis mengangguk seraya menyampirkan rambut Alexella yang menutupi wajah cantiknya. Kemudian menyambar bibir pink itu dengan gemas. Alexella kaget bukan main karena mendapat serangan dadakan dari Jarvis. Namun dirinya tak mampu menolak, membiarkan lelaki itu melakukan keinginannya.
__ADS_1
Jarvis melepaskan pagutannya saat tahu Alexella mulai kehabisan pasokan oksigen. Ia tersenyum tipis saat melihat pipi merona sang istri. Itu sangat menggemaskan baginya.
"Aku belum sempat membawamu honeymoon. Bagaimana kalau bulan depan? Setelah kau sembuh total. Aku sudah menyewa kapal pesiar untukmu, your dream honeymoon." Tawar Jarvis seraya mengusap bibir basah istrinya. Tidak lupa dengan senyuman yang menawan.
Alexella menatap wajah suaminya begitu dalam. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku suamimu, tentu saja aku tahu apa yang ada dalam isi kepalamu." Sahut Jarvis dengan penuh percaya diri.
"Kau mencuri diaryku?" Alexella menatap suaminya curiga.
"Mungkin." Jawab Jarvis sekenanya. Memang benar adanya ia membaca seluruh diary milik sang istri. Karena itu ia tahu semua impian istrinya. Naif memang, tapi ia tak berbohong soal perasanya. Jika dirinya sungguh mencintai istri cantiknya.
"Sialan! Aku pikir kau tulus padaku, brengsek kau Jarvis. Aku akan membunuhmu." Sarkas Alexella mulai tersulut emosi.
"Aku ikhlas mati ditanganmu, Baby. Kill me with your love." Jarvis mengedipkan matanya. Membuat wanita itu kesal setengah mati.
Alexella menarik diri dari dekapan suaminya. Kemudian melangkah pasti meninggalkan kamar itu. Jarvis tersenyum geli, kemudian menyusul sang istri yang tengah merajuk. Kali ini ia tak akan mengulangi kesalahan sebelumnya, dimana ia membiarkan wanita itu berkeliaran di luar sana sendirian. Dan berujung dengan penculikan sialan itu.
"Baby, dengarkan aku dulu."
"Jangan ikuti aku, pergi saja pada wanita-wanitamu." Sahut Alexella terus melangkah meninggalkan mansion.
"Baby, kau belum sehat, kembalilah dan dengarkan aku. Kita bisa bertukar cerita di kamar. Ayolah." Bujuk Jarvis terus mengekori istrinya.
Alexella mengurangi kecepatan jalannya saat merasakan nyeri di perut. Jarvis yang melihat itu mempercepat langkahnya, menghampiri sang istri.
"Lihatlah, kau ini benar-benar nakal, Xella. Kau sangat kekanakan, sepertinya aku salah menikahi gadis."
Alexella memicingkan matanya saat mendengar itu. "Jadi kau menyesal menikah denganku?"
Tanpa meminta persetujuan sang istri, Jarvis langsung menggendongnya dan membawa wanita itu masuk ke mansion. Suhu dingin di luar membuat bibir Alexella memucat. Ditambah wanita itu tak memakai hoodie.
"Mulai sekarang dengarkan suamimu ini, Xella. Jadilah istri penurut."
"I hate you." Sinis Alexella.
"Me to." Balas Jarvis yang diiringi senyuman jahil. Alexella memukulnya saat mendengar itu. Namun lelaki itu terus mengembangkan senyuman. Membawa istirnya kembali ke kamar.
***
"Hai, De. Ayok masuk." Ajak Sabrina saat Deena berkunjung ke apartemen.
"Ya." Tanpa ragu Deena pun masuk ke dalam.
"Duduklah. Kau mau minum apa huh?" Tawar Sabrina.
"Ck, kau ini seperti kedatangan orang lain saja. Duduklah, aku datang ke sini bukan untuk meminta minum."
"Jika kau datang ke apartemenku itu beda. Tempat ini milik suamiku."
"Kau istrinya, jadi tempat ini milikmu. Di mana suamimu? Ada yang ingin aku bicarakan padanya."
"Dia masih tidur."
__ADS_1
"Siapa yang datang, Sab?"
Deena langsung bangun dari duduknya saat melihat lelaki paruh baya yang kini sudah berdiri di sebelah sahabatnya.
"Sab, kenapa lelaki tidak berperasaan ini ada di sini?" Tanya Deena tanpa takut menyingnggung orang yang sedang dibahas. Ya, lelaki itu adalah Hanz.
"De, dia Daddyku." Sabrina sedikit memelototi sahabatnya untuk tidak menyinggung masa lalu. Namun sayang, wanita itu bukanlah orang yang peka.
"Apa dia sudah bangkrut, lalu datang kepadamu karena kau menikahi lelaki kaya raya? Oh ayolah, Sab. Dia hanya memanfaatkanmu."
"Deena, please. Kau tidak tahu apa-apa soal keluargaku."
"Tidak tahu apa-apa? Setelah semua yang kau lewati kau masih mengatakan aku tidak tahu apa-apa? Bahkan aku lebih tahu siapa dirimu dibanding lelaki tua ini."
Sabrina menatap sang Daddy. "Dad, bisakah kau kembali ke kamarmu? Aku ingin bicara padanya."
"Ya, jangan bermusuhan hanya karena diriku. Dia pantas mencaciku. Maafkan Daddy, Sayang." Hanz mengusap kepala putrinya sebelum pergi.
Setelah kepergian Hanz, Sabrina kembali memadang sahabatnya. "Duduklah." Ia pun ikut duduk di sana.
Dengan perasaan kesal Deena kembali duduk. Bahkan ia tampak melas memandang sahabatnya itu.
"Dia punya alasan kenapa membuangku ke sini, De. Daddy sudah menjelaskan semuanya padaku."
Deena yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan sengit. "Dan kau percaya?"
"Tentu, dia Daddyku. Kau tahu bukan sejak kecil aku menantikan momen ini, dimana aku bisa tinggal satu atap dengannya. Dan baru sekarang penantianku terjawab. Aku senang, De. Daddy benar-benar menunjukkan rasa kasih sayangnya padaku. Tatapan matanya tak bisa membohongiku, De. Dia menyayangiku." Jelas Sabrina panjang lebar.
Deena terdiam untuk sesaat. "Sudahlah, aku datang ke sini bukan untuk membahas lelaki tua itu. Membuat moodku hilang saja. Di mana suamimu huh? Ribuan kali aku menghubunginya, tapi tak ada sambungan."
"Sorry, itu salahku. Semalaman penuh dia tidak tidur."
"Jangan katakan padaku jika kalian menghabiskan malam di atas ranjang."
"Nope, aku mual sepanjang malam karena itu dia juga tidak tidur. Bisa kau tunggu sebentar? Biarkan dia istirahat beberapa menit lagi." Jelas Sabrina menatap sahabatnya penuh permohonan.
"Hah, aku tak menyangka dia sepeduli itu." Sinis Deena seraya menempelkan punggungnya di kepala sofa.
"De, aku ingin bertanya sesuatu padamu." Sabrina menatap Deena lekat.
"Tanyakan saja."
"Bagaimana bisa kau bergabung dalam geng itu? Aku tidak pernah melihatmu melakukan hal aneh, misalnya membunuh seseorang."
Deena tertawa renyah mendengar itu. "Kami tak akan membunuh selagi musuh tak menodongkan senjata."
"Sejak kapan kau bergabung?"
"Empat tahun lalu."
Sabrina terkejut mendengar itu. "Itu artinya kau sudah mengenal suamiku sejak lama? Lalu, kenapa kau selalu melarangku berdekatan dengannya dan mengatkan dia orang jahat? Bahkan suamiku juga mengatakan hal yang sama untukmu."
"Karena aku ingin melindungimu. Aku tahu dia bukan lelaki sembarangan, karena itu aku memintamu menjauhinya. Karena aku tahu kehidupanmu tak akan aman jika berhubungan dengannya. Dan itu terbukti bukan? Kau hampir mati."
__ADS_1
Sabrina terdiam cukup lama. "Kalian membuatku sangat bingung. Kepalaku tak bisa mencernanya."
"Itu lebih baik."