
Tiga tahun kemudian....
Suara riuh anak kecil terdengar menggema di mansion keluarga Digantara karena sejak seminggu belakangan semua penghuni sedang berkumpul. Ditambah lagi hari ini weekend.
"Lucas, ya Tuhan. Sudah Mommy katakan jangan berlari di tangga. Kau akan jatuh." Omel Alexa menghampiri putranya yang sedang bermain di tangga. Lucas memang lebih bandel dibandingkan yang lainnya. Membuat kepala Alexa hampir pecah setiap saat.
"Mommy, aku sudah besar dan tidak akan jatuh." Sahut Lucas dengan logat inggrisnya yang kental. Anak itu bersikap seolah dirinya sudah dewasa. Padahal tubuhnya saja hanya 95 sentimeter.
"Gunakan bahasa Jermanmu yang baik, Luc. Mommymu akan memarahiku jika kau menggunakan bahasa inggris." Titah Winter mengedipkan matanya pada Lucas. Lelaki itu pun berlalu pergi menuju ruang tengah di mana para orang tua sedang berkumpul.
"Baiklah." Sahut Lucas terlihat pasrah yang kemudian berlari menghampiri anak-anak lainnya. Alexa yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat. Kemudian menyusul suaminya dengan langkah gontai.
"Sab, putramu menghancurkan pas bunga lagi." Adu Alexella pada Sabrina yang tengah pusing karena saat ini ia tengah hamil muda. Wanita itu menghela napas panjang. Tidak tahu harus bersikap apa lagi pada anak-anaknya itu. Jika tripel twins bandel, maka kedua anaknya lebih dari itu. Bahkan mereka pernah memecahkan televisi hanya karena Sabrina terlambat pulang.
"Sehari saja mereka tak membuat ulah rasanya hidupku tidak tenang." Keluh Sabrina memijat batang hidungnya lembut.
"Mereka ikut sifatmu, jadi jangan salahkan mereka." Ujar Arez yang masih sibuk dengan iPadnya.
"Ya, tapi amarah mereka sama sepertimu." Balas Sabrina mulai emosi.
"Beruntung putra dan putriku tak senakal itu." Arel menyombongkan diri.
"Cih, karena aku mendidik mereka dengan baik. Kau hanya bisa meminta jatah saja, tapi malas menjaga putrimu yang mulai aktif itu." Kesal Sky melempar bantal ke arah suaminya. Arel pun cuma bisa menaikkan kedua bahunya seolah tak mau tahu.
"Tidak perlu berdebat. Kita bisa membeli pas bunga yang baru. Pastikan cucuku baik-baik saja." Ujar Sweet yang tengah bersantai di kursinya. Menonton dua gadis kecil yang tengah bermain barbie.
"Mommy, aku lapar." Rengek Lea menghampiri Sky.
"Owh, kemari, sayang. Oma akan membuatkan makanan kesukaanmu." Sweet melambaikan tangannya pada Lea. Gadis kecil itu pun menghampiri sang Nenek dan memeluknya dengan erat. Tidak lama Violet pun menghampirinya. Violet Gracie Schwarz adalah putri kecil Alexella dan Jarvis. Gadis kecil yang hampir mewarisi wajah sang Mommy.
"Oma, aku juga mau makan." Rengek Violet dengan suara cadelnya yang khas.
"Baiklah, ayok kita ke dapur dan lihat Oma akan membuat makanan apa untuk cucu Oma yang cantik-cantik ini." Sweet pun membawa kedua cucunya ke dapur. Sky dan Alexella yang melihat itu cuma bisa tersenyum. Karena dua gadis itu memang lebih suka bermain di dapur bersama sang Oma. Sweet selalu memanjakan keduanya dan membiarkan mereka mengacaukan dapur. Beruntung Sweet memiliki selusin pelayan yang selalu membantunya.
Alexa menjatuhkan punggungnya di sofa. Kemudian menghela napas beberapa kali.
"Berhenti meladeni putramu itu, biarkan saja dia melakukan keinginannya. Kau tidak bisa kelelahan, Lexa." Protes Arel.
"Kau tidak tahu rasanya menjadi aku." Kesal Alexa.
"Terserah. Jika sakit kau rawat dirimu sendiri."
"Aku juga tidak meminta dirawat olehmu."
"Mommy, aku haus." Adu Marvel berlari ke arah sang Mommy dengan keringat yang bercucuran di kening. Dan Melvin pun menyusul dibelakangnya.
"Aku juga." Pintanya.
"Daddy akan mengambilkan minuman untuk kalian. Tunggu sebentar."
"Thank you, Dad." Ucap Marvel yang duduk di sebelah sang Mommy. Sedangkan Melvin malah sibuk dengan benda-benda yang ada di atas meja.
"Jauhi barang-barang itu, Melvin. Siapa yang memecahkan pas bunga Nenekmu kali ini huh?" Kesal Sabrina.
__ADS_1
"Bukan aku, Mom. Tadi Melvin berlari dan tidak sengaja menyenggolnya." Adu Marvel si polos yang tampan.
"Pas bunga itu yang menyenggolku." Alibi Marvel si tukang ngeles.
Sontak semua orang tertawa mendengar alibi anak itu.
"Wah... jadi pas bunga itu bisa menyenggolmu huh?"
"Ya, dia menghalangi jalanku." Sahut Melvin dengan santainya.
"Berhenti membuat ulah, Melvin. Mommy lelah kau tahu? Usia kalian itu baru tiga tahun, tapi kalian seolah bertingkah seperti orang dewasa."
"Kami anak jenius, Mom." Sahut Melvin.
"Berhenti membantah saat Mommy bicara, Melvin." Kesal Sabrina.
"Mommy tidak menyayangiku, Mommy selalu sibuk bekerja. Daddy juga."
"Melvin!" Sabrina berusaha memperingati anaknya yang satu itu.
"Jangan bertengkar lagi. Ini minuman kalian." Ujar Arez memberikan dua gelas jus pada putra-putranya.
"Thank you, Dad." Ucap keduanya kompak.
"You are welcome." Balas Arez kembali duduk di sebelah sang istri.
"Sudah aku katakan berhenti berkerja, kau tidak mendengarkan perkataanku." Bisik Arez pada Sabrina yang terlihat pucat.
Arez sama sekali tak memberikan tanggapan apa pun. Membuat Sabrina berpikir ribuan kali. "Okay, aku akan berhenti bekerja." Putusnya.
"Mommy berhenti bekerja?" Tanya Melvin bergerak naik ke atas pangkuan Sabrina. Anak itu memberikan tatapan berbinar. Sabrina pun mengangguk yang diiringi dengan senyuman tulus.
"Maaf jika selama ini Mommy jarang memperhatikan kalian." Ucap Sabrina membingkai wajah imut putranya. Kemudian menghadiahi kecupan di kening Melvin dan berlanjut dibibirnya.
"Mommy, aku juga mau." Pinta Marvel dengan semangat. Dengan senang hati Sabrina melakukan hal yang sama pada putranya itu.
Semua orang yang ada di sana tersenyum senang saat melihat kemesraan Ibu dan anak itu. Termasuk Arez yang menyunggingkan senyuman tipis.
"Daddy juga ingin dicium." Timpal Arez seraya menunjuk pipinya sendiri. Lalu kedua anaknya pun bergegas menciumnya dari kedua sisi. Sabrina yang melihat itu pun tertawa renyah.
"Huh, andai ketiga putraku semanis mereka. Aku akan sangat senang. Aku tidak tahu mereka ikut siapa, apa kau seperti itu saat kecil, Winter? Kau jarang mencium Ibumu kan?" Keluh Alexa yang tengah bergelayut manja dilengan suaminya.
"Mungkin." Balas Winter sekenanya. Karena ia tidak tahu seperti apa dirinya semasa kecil.
"Pantas saja." Ketus Alexa.
"Sabar saja, aku rasa mereka belum terlalu faham." Ujar Sabrina.
"Entahlah. Aku harap begitu. Mereka hanya tahu main dan main. Lihat putra-putramu, mereka sangat menggemaskan." Alexa menatap Marvel dan Melvin bergantian. Kedua anak itu begitu identik dengan Arez. Hanya saja sifat mereka lebih condong pada Sabrina.
"Kita lihat saja kedepannya. Aku rasa tiga kurcaci itu akan mirip denganmu, Lexa. Lucas dan Dustin sangat cerewet sepertimu, sedangkan Mike agak diam seperti Winter." Balas Sabrina yang kemudian tertawa renyah.
"Aku setuju." Timpal Alexella.
__ADS_1
"Dan kau, Xella. Kapan Violet akan mendapat adik huh?" Kali ini Sky ikut menimpali.
"Aku rasa tidak untuk saat ini, biarkan Vio besar dulu." Sahut Alexella.
"Di mana suamimu? Sejak tadi aku tidak melihatnya." Tanya Winter.
"Dia ke kantor sebentar." Jawab Alexella.
"Hey, ini weekend. Apa yang dia lakukan di kantor?" Winter menatap Alexella heran.
"Aku rasa dia sedang mengerjai sekretaris cantik." Ledek Arel ikut memojokan adiknya.
Alexella mendelik kesal mendengar ledekan Kakaknya. "Dia tidak punya sekretaris wanita." Ketusnya.
"Owh, aku lupa dia punya penguntit andal." Ledek Arel lagi.
Alexella hanya berdecih dan tak berniat membalas. Ia tahu Arel sengaja memancing keributan.
"Mommy." Teriak triple twins berlari kecil menghampiri Alexa dengan keadaan menangis.
"Kenapa kalian menangis huh?" Tanya Alexa seraya menggendong Lucas. Sedangkan Mike dan Dustin naik ke atas pangkuan Winter.
"Siang semuanya." Sapa Ansel yang baru saja muncul. Alexa pun langsung tahu siapa dalangnya.
"Apa lagi yang kau katakan, Ansel?"
"Tidak ada, Nona. Saya hanya bertanya dan mereka malah menangis." Jawab Ansel dengan nada santai.
"Daddy, Uncle bilang Daddy dan Mommy akan punya adik dan melupakan kami." Adu Dustin memeluk sang Daddy erat. Sedangkan matanya masih tertuju pada Ansel.
Ansel pun tersenyum tipis seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia melupakan jika anak kecil itu sangat jujur.
"Mommy, aku tidak mau punya adik." Timpal Lucas mengalungkan tangannya di leher Alexa. Kemudian menempelkan pipinya di dada sang Mommy. "Love you, Mom. Aku juga tidak mau punya adik. Aku sayang, Mommy."
"Love you to, baby. Mommy tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian adalah kesayangan Mommy."
"Ya, Mommy." Sahut ketiganya kompak.
"Dan kau Ansel, kapan kau akan menikah?" Tanya Alexa.
"Mungkin besok atau lusa." Jawab lelaki itu asal. Alexa pun mendengus sebal.
"Ada apa?" Tanya Arez datar.
"Aku ingin cuti."
"Cuti?" Tanya Arez bingung.
"Ya, kekasihku akan melahirkan."
"What?" Pekik semua orang dengan mulut terbuka. Menatap lelaki itu tak percaya.
...\~The end\~...
__ADS_1