
Berdiri selama berjam-jam membuat tubuh mala seraya remuk. Ingin sekali rasanya ia langsung ke kamar dan membenamkan diri di kasur empuk. Hanya saja keluarga besar masih berkumpul dan tidak memungkinkan untuknya kabur dari sana. Saat ini mereka berkumpul di sebuah meja bundar berukuran besar yang sengaja disediakan untuk keluarga Digantara. Menikmati berbagai hidangan lezat yang mampu memanjakan lidah.
"Makan?" Tawar Bian menyodorkan sepotong cake coklat pada Mala. Namun dengan cepat ditolak istrinya. Yang saat ini diinginkan Mala hanyalah kasur empuk.
"Sejak pagi Mama tidak melihatmu makan, Mala. Makanlah ini, jangan sampai kamu jatuh sakit." Protes Milan memberikan sepiring lasagna dan segelas jus jeruk. Mala menatap makanan itu dengan malas, kemudian menatap Milan sendu.
"Makanlah segera, setelah itu kalian bisa masuk kemar." Imbuh Milan yang berhasil membuat Mala bingung.
"Kita tidak pulang?"
"Lihat putrimu, Alex. Dia bertanya kita tidak pulang? Padahal saat ini kita berada di hotel megah. Manfaatkan kekayaan Ayahmu, Mala. Aku saja sangat senang bisa menginap di sini." Sergah Sweet tanpa ragu. Semua orang yang mendengar itu tersenyum geli. Terkecuali Mala, ia malah memasang wajah kusut.
"Benar itu, kapan lagi kita bisa tidur di kamar presidential suite secara percuma?" Timpal Arlan melirik sang adik.
"Aku lelah, bisa kita percepat acara ini?" Tanya Mala terlihat kesal.
"Makanlah lebih dulu, Mala. Setelah itu kau boleh ke kamarmu. Kami tidak akan menganggu malam panas kalian." Sahut Alex yang begitu menikmati fettuccini kesukaannya.
Mala terlihat menghela napas berat, lalu dengan malas ia mulai memasukkan sedikit demi sedikit makanan ke mulutnya. Milan dan Sweet pun saling melempar senyuman penuh arti.
"Menantuku, kamu juga harus makan. Jangan sampai kehabisan tenaga." Goda Milan.
"Terima kasih, sejak tadi aku terus makan." Sahut Bian apa adanya. Bian bukan tipe orang yang bisa menahan rasa lapar. Jika ia sudah lapar, tentu saja ia akan langsung makan. Dan ia juga bukan tipe pemilih. Namun ada satu makanan yang ia tidak suka, yaitu makanan yang berbau durian. Bian sangat anti dengan makanan itu.
Milan terkekeh geli saat mendengar jawaban menantunya. Kemudian melirik Mala yang masih menyantap hidangan begitu malas. Bukan hanya Milan yang memperhatikan gerak gerik Mala. Melainkan Bian pun sejak tadi terus memperhatikan istrinya.
"Aku rasa kami harus segera ke kamar, istriku sudah kelelahan. Aku minta maaf karena tidak bisa menemani kalian sampai akhir." Ujar Bian seakan memahami kondisi istrinya. Mala yang mendengar itu merasa senang. Bahkan dalam hatinya ia sangat bersyukur karena Bian cukup pengertian.
"Baiklah, selamat istirahat." Sahut Alex melirik Mala yang entah kapan sudah merubah ekpresi wajahnya menjadi sebahagia itu. "Sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk dibelai." Sambung Alex yang disambut tawa semua orang.
"Kalau begitu kami pamit dulu." Ucap Bian memegang tangan istrinya.
"Aku belum minum," protes Mala menepis tangan suaminya. Kemudian meneguk jus kesukaannya sampai tandas. Tentu saja hal itu berhasil menarik perhatian semua orang. Alex pun menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan sikap putrinya yang selalu berubah setiap saat.
Sepasang pengantin baru itu langsung bergegas menunju kamar mereka. Dengan bantuan beberapa karyawan hotel.
Mulut Mala sedikit terbuka saat melihat kondisi kamar yang sengaja di dekorasi sedemikian rupa. Layaknya kamar pengantin sungguhan yang akan menjalankan malam pertama. Taburan kelopak mawar kini menghiasi lantai dan permukaan ranjang. Juga terdapat beberapa lilin aroma terapi yang sengaja disusun menjadi bentuk hati.
"Aku merasa aneh dengan situasi ini," ucap Mala menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
"Nikmati saja hasil karya keluarga kita. Mereka begitu antusias untuk malam pertama kita." Sahut Bian membawa kursi rodanya mendekati ranjang. Sedangkan Mala hanya menatapnya tanpa ekapresi.
Huh, beruntung dia cacat. Jadi aku bisa sedikit tenang. Pikir Mala beranjak menunju kamar mandi. Namun seketika ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Mala merasa kepanasan dan tubuhnya begitu tak nyaman. Mala mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi. Lalu menatap suaminya yang tengah membuka tuxedonya. Dan kini hanya tersisa kemeja putih yang membungkus otot tegap suaminya. Mala menelan air ludah dengan susah payah. Mendadak ia merasakan getaran eneh. Kerongkongannya tercekat, dengan detak jantung yang tak menentu. Pikirannya mulai melanglangbuana.
Sial! Apa yang kau pikirkan Mala. Kenapa kau mendadak mesum seperti ini? Ada apa dengan tubuhku?
"Bian...." Mala memanggil nama suaminya dengan suara bergetar. Rasa panas semakin menguasai tubuhnya. Bahkan beberapa titik sensitifnya terasa sangat gatal.
Bian yang merasa terpanggil pun melirik sang istri. Namun ia begitu terkejut saat melihat wajah istrinya yang sudah memerah padam.
"Kau kenapa?" Tanya Bian mulai cemas. Ia pun segera mendorong kursi rodanya mendekati Mala.
"Bian... aku...." ucapan Mala tersendat karena menahan rasa aneh yang semakin bergejolak. "Aku... panas." Tubuh Mala pun merosot, dengan kedua tangan mencengkram gaun yang ia kenakan.
Bian bukan laki-laki bodoh yang tak tahu apa yang tengah terjadi pada istrinya. Ia tahu saat ini Mala tengah dipengaruhi oleh obat perangsang.
Siapa yang memberikannya obat perangsang?
Bian menyentuh pundak istrinya, lalu tatapan keduanya saling bertemu. Mata indah milik Mala kini terlihat sayu, seolah tengah menahan gejolak dalam tubuhnya.
"Kau masih mendengarkan aku, Mala?" Tanya Bian sedikit menggoyangkan tubuh istrinya.
"Bian... ini sangat menyiksaku." Lirih Mala dengan buliran keringat yang mulai berjatuhan di pelepisnya.
Ya, saat ini Bian berdiri dengan gagah. Kakinya tidak cacat sama sekali.
"Bertahanlah, aku akan membantumu." Bian pun membawa Mala ke kamar mandi. Lalu menurunkannya di dalam bathup. Kemudian ia memutar keran air dingin. Membiarkan air itu merendam tubuh istrinya cukup lama.
"Siapa yang melakukan ini?" Geram Bian yang merasa tak tega melihat kondisi istirnya. Bisa saja ia memenuhi hasratnya saat ini dan memanfaatkan kondisi Mala. Namun ia tak ingin melakukan itu, karena ia sadar Mala belum sepenuhnya menerima dirinya. Ia akan melakukan jika sama-sama menginginkan.
Ingatan Bian pun kembali pada acara makan-makan tadi. Ia mengingat dengan jelas bagaimana Milan terus memaksa Mala untuk makan. Apa mungkin wanita itu yang melakukannya? Tapi apa tujuannya? Itu terlalu kekanakan.
Mala mencengkram erat tangan Bian, membuyarkan lamunan lelaki itu. Ia bisa melihat bibir istrinya mulai menggigil. Dan tidak ada lagi des*h*n dari mulutnya.
"Honey," panggil Bian sedikit menepuk pipi istrinya.
"Bian, aku kedinginan." Sahut Mala dengan bibir yang bergetar.
"Aku rasa pengaruh obat itu sudah mulai menghilang." Ujar Bian membantu Mala bangun dari posisinya.
__ADS_1
"Mala, izinkan aku untuk membantu membuka pakaianmu." Bisik Bian.
Mala mengangguk pelan, saat ini tubuhnya terasa lemas. Kesadarannya juga perlahan memulih. Akan lebih baik ia membiarkan Bian membantunya. Lagi pula Bian sudah sah menjadi suaminya baik di mata hukum maupun agama.
Dengan tangan bergetar, Bian menurunkan resleting gaun yang istrinya kenakan. Hingga gaun merah itu terjatuh ke lantai. Bian memalingkan wajahnya, lalu bergerak untuk mengambil sebuah bathrobe. Kemudian memakaikannya pada Mala.
"Kau bisa melakukannya sendiri?" Tanya Bian yang di jawab anggukan oleh Mala. Jika dirinya yang melakukan itu, bisa-bisa ia khilaf. Bagaimana pun ia lelaki normal dan tubuhnya bereaksi saat melihat kulit mulus istrinya.
"Tolong berbalik, Bian." Pinta Mala dengan suara lemahnya. Bian pun mengangguk dan langsung berbalik.
Mala menatap punggung kekar suaminya. Ia tidak pernah menyangka jika Bian bisa berdiri dengan begitu kokoh. Tentu saja ia terkejut akan hal itu. Namun ini bukan saatnya untuk Mala bertanya. Tanpa banyak berpikir lagi, Mala segera menanggalkan pakaian dalamnya yang basah. Lalu melemparnya ke dalam keranjang beserta gaun yang sudah tergeletak di lantai. Kemudian ia menggunakan kembali bathrobe di tubuhnya yang ramping.
"Aku sudah selesai," kata Mala masih setia menatap punggung suaminya. Perlahan lelaki itu berbalik.
"Terima kasih," ucap Mala mengunci netra coklat suaminya.
Bian pun mengangguk pelan. "Sebaiknya kita segera keluar dari sini."
Bian memapah istrinya kembali ke kamar dan membiarkannya berbaring di ranjang. Menyelimutinya dengan penuh perasaan. "Tidurlah, aku ingin mandi sebentar." Bian hendak pergi, tetapi tangannya langsung di tahan oleh Mala. Bian pun menoleh dan menatap istrinya penuh tanda tanya.
"Kenapa kau mebantuku, Bian? Padahal bisa saja kau melakukan hal itu."
Mendengar itu, Bian tersenyum dan memilih duduk di sebelah istrinya. "Aku mencintaimu, Mala. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tak senang. Aku tahu, kau belum bisa menerimaku sepenuhnya. Setidaknya aku bisa menjadi temanmu tanpa mengambil keuntungan. Atau kau menyesal aku tak melakukan itu huh?"
Awalnya Mala sempat tersentuh mendengar perkataan suaminya. Namun semua itu runtuh saat mendengar pertanyaan diakhir kalimat. "Kau menyebalkan, Bian. Pergi saja ke neraka."
Bian tertawa renyah karena berhasil membuat istrinya merona. "Aku hanya bercanda, Sayang. Tidurlah, aku harus mandi untuk menghilangkan hasratku. Atau kau ingin aku melakukannya sekarang?"
"Bian!" Pekik Mala semakin kesal.
"Okay. Aku sudah puas melihat wajah kesalmu, Sayang. Selamat malam." Pungkas Bian yang kemudian mengecup kening Mala. Lalu beranjak menuju kamar mandi.
Mala terdiam beberapa saat. "Siapa sebenarnya dirimu, Bian? Kau begitu banyak menyimpan rahasia. Dan kenapa kau juga berpura-pura cacat di depan publik? Apa tujuanmu sebenarnya?" Gumam Mala dengan ribuan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
"Hah, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku mulai penasaran dengan kehidupannya? Kau sudah gila, Mala." Timpalnya seraya bangkit dari posisinya dan berjalan ke sebuah lemari besar. Mengambil salah satu jubah tidur khusus wanita, lalu memakainya dengan cepat. Kemudian ia pun kembali berbaring dengan posisi miring.
"Siapa yang menaruh obat perangsang padaku? Apa mungkin Mama? Tapi apa maksudnya?" Sambungnya saat mengingat hal itu. "Besok aku harus memancing Mama supaya mengaku." Setelah mengucapkan itu ia langsung memejamkan mata. Setelah melewati hari yang panjang, tentunya itu sangat melelahkan dan ingin segera tidur.
Berbeda dengan Sweet dan Milan, kedua wanita itu sama sekali tak merasa lelah. Justru keduanya terlihat bahagia, karena sudah berhasil menuntaskan rencananya untuk membuat malam pertama Bian dan Mala semakin panas. Kini keduanya terngah berbincang di dalam kamar Milan.
__ADS_1
"Kau tahu, Sweet. Aku melakukan itu bukan tanpa tujuan. Aku tahu betul sifat keras kepala putriku, dia belum menerima Bian sepenuhnya. Hanya cara ini yang bisa menyatukan mereka, harap-harap malam ini membuahkan hasil. Supaya tidak ada alasan untuk mereka berpisah." Jelas Milan menatap Sweet begitu dalam.
"Aku memahamimu sebagai seorang Ibu. Beruntung kita menemukan surat kontrak itu lebih dulu." Balas Sweet. Ya, dua hari sebelum pernikahan. Milan dan Sweet tidak sengaja menemukan sebuah kontrak pernikahan di kamar Mala saat mereka merapikan kamar itu. Ralat, saat mereka mengecek para pelayan merapikan kamar pengantin. Alasan itu lah kenapa mereka begitu menggebu-gebu untuk menyatukan mereka. Meski cara mereka terbilang berlebihan, dengan manaruh obat perangsang di makanan dan minumam Mala. Sebenarnya mereka juga menaruh obat itu di makanan Bian. Hanya saja lelaki itu begitu beruntung karena tak menyentuh makanan itu sama sekali. Setidaknya salah satu dari mereka sudah terjebak. Dan berharap malam ini akan menjadi malam bersejarah bagi pasangan baru itu.