Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 23


__ADS_3

Arez terus menatap istrinya yang begitu lahap menyantap hidangan. Seolah melupakan keberadaan suaminya. Sabrina yang merasa diperhatikan pun mengangkat wajahnya, memberikan tatapan penuh tanya pada Arez.


"Ada apa?" Tanyanya bingung. "Ck, aku sangat lapar. Siang tadi kau mengajakku makan siang, tapi ternyata kau membawaku ke tempat lain dan sekarang aku baru bisa menyentuh makanan."


Arez masih bergeming.


"Terserah, aku masih lapar." Imbuh Sabrina melanjutkan makannya. Mengabaikan Arez yang masih setia mengawasinya.


"Minggu depan ikut denganku menemui Mommy."


Uhuk!


Sabrina tersedak saat mendengar ajakan Arez. Dengan tergesa ia meneguk air putih. Kemudian menatap suaminya dengan mata yang membulat. "Your Mom? Me?" Menunjuk diri sendiri.


Arez mengangguk pelan. "Keluargaku harus tahu tentang hibungan kita."


"Tapi aku takut, bagaimana kalau mereka tak menerimaku? Bukankah kau akan dijodohkan? Mana mungkin mereka menerimaku, Al."


"Ikut saja denganku."


"Aku tidak mau."


"Kau tidak berhak menolak."


"Al!"


"Mereka harus menerima kenyataan, kau itu istriku." Ujar Arez yang berhasil membuat Sabrina terdiam.


"Jika memungkinkan, aku juga akan menemui Daddymu." Sontak Sabrina langsung melotot saat mendengar itu.


"Daddyku? Untuk apa? Pernikahan kita hanya sementara, mereka tidak perlu tahu."


"Sudah aku katakan, kau tak berhak menolak."


"Berhenti untuk bersikap sesuka hati padaku, Al. Aku tak menyukai itu." Kesal Sabrina meletakkan sendok dan garpu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dentingan keras. beruntung mereka di kamar dan tak akan ada orang yang terkejut. "Aku tahu kau punya segalanya, kau bebas melakukan apa pun yang kau mau. Tapi untuk masalah peribadiku, biarkan aku ikut campur."


"Kau terlalu banyak bicara, lanjutkan makanmu. Malam ini kau harus siapkan tenaga." Sahut Arez mulai menyantap hidangan.


Sabrina mengepalkan kedua tangannya geram. Ingin sekali rasanya ia mencakar wajah lelaki itu. "Brengsek."


"Hm. Kau akan tahu sebrengsek apa suamimu ini nanti malam."


"Jangan harap aku sudi kau sentuh." Sinis Sabrina mengambil sendok dan garpu dengan kasar.

__ADS_1


"Kita lihat saja malam nanti."


"Tentu. Bersiaplah untuk kecewa, Tuan menyebalkan."


Arez sama sekali tidak peduli dengan kekesalan istrinya. Membiarkan gadis itu terus mengumpatinya sampai mulut tipis itu diam sendiri.


Malam hari, Arez terlihat sibuk dengan gawainya. Menggulir beberapa berkas yang dikirim Ansel melalui email. Lalu perhatianya pun teralihkan saat ranjang itu bergoyang. Ia pun menoleh. Di sisi sebelahnya Sabrina sudah berbaring dibalik selimut. Sepertinya gadis itu sengaja mengindarinya.


"Ekhem." Arez sengaja berdeham untuk menarik perhatian istrinya. Namun gadis itu semakin merapatkan diri dalam selimut.


"Tidurlah dengan nyenyak, Sayang. Karena aku akan tetap meminta hakku sebagai suamimu." Goda Arez tersenyum tipis. Sky sedikit menyibak selimutnya, kemudian menoleh ke belakanng.


"Jangan macam-macam, aku bisa melaporkanmu jika kau berani menyentuhku." Ancam Sabrina meski sebenarnya ia sangat takut. Ia belum siap melakukan hal itu, apa lagi lelaki itu sebrengsek Arez.


"Laporkan saja, hanya polisi bodoh yang akan menanggapi laporanmu."


"Kau." Desis Sabrina mulai tersulut emosi.


"Satu jam lagi aku selesai bekerja, bersiaplah."


Mata Sabrina melotot. "Aku tidak mau." Ia pun kembali membelakangi Arez.


"Atas dasar apa kau menolak huh?"


"Kau pikir aku akan menunggumu sampai kau siap huh?" Arez meletakkan gawainya di atas nakas. Kemudian mendekatkan diri pada sang istri dan ikut masuk dalam selimut. Sontak tubuh Sabrina membeku saat tangan kekar Arez melingkar di perutnya. Kini tak ada lagi jarak di antara mereka. Bahkan Arez membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghirup aroma strawberi bercampur susu yang keluar dari kulit sang istri. Aroma yang berhasil membuatnya merasa nyaman dan tenang.


"Tidurlah," perintah Arez mulai mejamkan matanya. Sabrina tampak bingung dan tak berani bergerak. "Ada apa? Kau mengharap terjadi sesuatu huh?" Arez membuka matanya kembali. Kemudian mengecup pundak mulus sang istri.


"Tidak."


"Kalau begitu berbalik dan peluk aku."


"Huh?"


"Berbaliklah, atau aku akan melakukannya sekarang." Dengan gerak cepat Sabrina berbalik. Arez tersenyum samar saat melihat wajah tegang sang istri. "Peluk aku."


Seolah terhipnotis, Sabrina langsung memeluk Arez dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang tertutup baju tidur.


Kenapa dia sangat wangi, perasaanku sangat tenang setelah menghirup aromanya. Kehangatan ini juga membuatku merasa sangat aman. Pikir Sabrina yang tanpa sadar mempererat pelukkannya.


Arez memainkan surai keemasan sang istri dengan lembut. Sampai ia bisa mendengar suara dengkuran halus dari mulut istrinya.


Cih, bibirmu mengatakan takut. Tapi kau masih bisa tidur nyanyak dalam pelukanku. Dasar gadis aneh.

__ADS_1


****


Sabrina terperanjat kaget saat dirinya terbangun di pagi hari. Ia pun langsung memeriksa kondisi tubuhnya. Kemudian bernapas lega karena pakaiannya masih lengkap seperti malam tadi. "Huh, bagaimana aku bisa tidur senyenyak itu saat dia ada didekatku?"


"Tunggu, di mana dia?" Sabrina mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Namun lelaki itu tak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Al." Panggilnya seraya bangun dari pembaringan. Kemudian berjalan pasti menuju kamar mandi. "Kau di dalam, Al?"


Tidak ada sahutan dari dalam. Sabrina pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi. Benar saja, Arez memang tidak ada di sana. Sepertinya lelaki itu memang sudah pergi.


"Jadi dia meninggalkanku di sini? Sekarang aku tak punya pakaian untuk pulang. Apa ini sikap suami yang baik? Huh, menyebalkan." Kesalnya kembali ke ranjang.


"Sialan! Ponselku ada pada Deena, aku juga tak membawa dompet. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Sialan kau Al." Dengan perasaan kesal Sabrina menelepon resepsionis untuk menghubungi suaminya.


Dua jam lebih Sabrina menunggu di dalam kamar hotel. Sepanjang itu pula ia terus mengumpati suaminya. Ditambah perutnya belum terisi apa pun. "Akh... aku akan membunuhnya jika dia tak datang lima menit lagi."


"Kau menungguku, Sayang?"


Sabrina terperanjat kaget karena tak menyadari kehadiran suaminya. Ia bergegas bangun dari posisinya, menghampiri Arez dengan tatapan tak bersahabat.


"Kau sengaja melakukan ini huh? Kau ingin mempermalukanku ya kan? Kau pikir aku akan terpancing? Aku tak akan mempermalukan diri sendiri dengan mamakai gaun pengantin keluar dari tempat ini. Kau menyebalkan, Al." Sinis Sabrina memukul dada Arez. "Dasar sialan! Brengsek, tidak tahu malu. Kau pantas mati."


Arez langsung menangkap kedua tangan istrinya. Menyeretnya ke arah ranjang, kemudian mendorong tubuh gadis itu sampai terlentang. Lalu menindihnya dengan gerak cepat.


"Hey, apa yang ingin kau lakukan?" Panik Sabrina karena Arez mengunci tangan dan kakinya sampai ia tak bisa bergerak.


"Kau terus mengataiku, akan aku buktikan apa yang kau katakan itu benar. Setelah ini apakah mulutmu masih bisa berkata-kata kasar huh?" Geram Arez mulai kesal dengan gadis itu. Tidak ada yang pernah berani mengatai dirinya selain gadis yang ada dibawahnya saat ini.


"Tidak, ta__tadi itu aku hanya kesal padamu. Lepaskan aku, aku minta maaf." Sabrina bergidik ngeri saat melihat kilatan amarah di mata lelaki itu.


"Terlambat." Arez lansung menyambar bibir gadis itu dengan rakus. Tak memberikan kesempatan gadis dibawahnya itu untuk bernapas. Karena dirinya sudah dikuasai amarah.


Uhuk!


Sabrina meraup udara sebanyak mungkin, dadanya terasa sesak karena kehabisan oksigen. Arez tersenyum miring melihat gadis itu lemah tak berdaya.


"Semalaman penuh aku menahan diri, karena aku menghargaimu. Dan kau malah mengataiku dipagi hari, seharusnya kau tahu aku tak suka diusik. Jadi terima hukumanmu, istriku." Arez kembali menyambar bibir manis itu dengan kasar. Bahkan tangan kanannya mulai berani menjamah setiap lekuk tubuh mulus sang istri.


"Al...please."


"Jangan berani menolakku, karena aku tak akan berhenti."


Arez semakin gencar melakukan aksinya. Mengambil haknya atas diri gadis itu. Pagi yang ceran seolah menjadi saksi bisu pergulatan kedua anak adam yang tengah memadu kasih itu. Suasana pun semakin panas saat suara erangan mereka memenuhi seisi kamar. Saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Hari yang panjang itu pun benar-benar mereka lewati bersama. Tak menyadari kini keduanya telah terikat dalam sebuah rasa yang akan membawa mereka dalam kehidupan sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2