Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 59


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu Alexella siuman setelah tertidur selama dua hari. Sejak tadi Sweet duduk di sebelah Alexella. Mengusap rambut putrinya dengan lembut. Sedangkan Alexa masih berdiri di ujung brankar. Menatap sang adik sendu karena Alexella tak kunjung bersuara. Wanita itu terus terdiam dengan tatapan kosong. Dokter mengatakan Alexella butuh waktu untuk kembali seperti semula. Ia masih syok dengan apa yang menimpanya.


"Sayang." Panggil Sweet merasa iba dengan kondisi putrinya. Kemudian ia pun menatap ke arah Jarvis yang masih terduduk lemas di kursi. Lelaki itu merasa bersalah pada sang istri karena ia terlambat membawa Alexella ke rumah sakit. Dan pada akhirnya janin dalam perut Alexella tak bisa terselamatkan. Wanita itu mengalami pendarahan hebat yang menyebabkan janinnya tak mampu bertahan. Mungkin sebelumnya Jarvis menginginkan anak itu musnah, tetapi setelah kehilangannya ia merasakan sesak didadanya. Entahlah, ia tak memahami perasaannya sendiri.


"Xella, kau mendengarku kan?" Sapa Alexa yang kini sudah duduk di sisi Alexella. Sembari mengusap air mata yang meluap dipelupuk mata sang adik.


"Jarvis, bicaralah padanya. Bujuk dia untuk bicara." Pinta Sweet yang cemas dengan kondisi putri bungsunya.


Jarvis bangkit dan melangkah pasti menuju brankar. Mengambil posisi Alexa.


"Baby." Sapa Jarvis seraya mengusap pipi istrinya. "Kau mendengarku?"


Alexella mulai bergerak dan memiringkan kepalanya ke arah Jarvis. Namun tangisannya semakin menjadi. "Tuhan mengambulkan keinginanmu, Jarvis. Dia mengambil anakku. Kau senang kan?"


Sweet dan Alexa terkejut mendengar itu. Keduanya pun langsung menatap Jarvis bingung.


Cukup lama Jarvis terdiam dan tertunduk lemah.


"Mom, berikan mereka waktu. Sebaiknya kita keluar." Ajak Alexa.


Sweet menatap putri bungsunya sebentar sebelum mengangguk dan beranjak keluar bersama Alexa. Memberikan waktu dan ruang untuk sepasang suami istri itu bicara.


"Maafkan aku." Jarvis meraih jemari Alexella. Lalu mengecupnya dengan lembut. "Kau berhak membeciku, Xella. Tapi aku tak mengharapkan hal ini terjadi."


"Tinggalkan aku, Jarvis. Kau bisa mencari wanita lain yang jauh lebih baik dariku." Alexella menarik tangannya. Kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi miring membelakangi Jarvis. Ia sedikit meringis saat merasakan nyeri dibagian perutnya. Punggung wanita itu bergetar karena menahan isakkan.


"Xella." Panggil Jarvis seraya menyentuh pundak istrinya.


"Pergilah Jarvis, jangan temui aku lagi. Aku akan mengurus perceraian kita setelah sembuh nanti."


Jarvis mengeratkan rahangnya, menatap punggung sang istri yang sedikit bergetar. Dan setelah itu ia langsung beranjak pergi dari sana. Tentu saja hal itu membuat Alexella kecewa karena Jarvis tak menyanggah ucapannya. Namun Alexella sadar diri dan tak mungkin menjadi bagian hidup lelaki itu lagi setelah apa yang dialaminya.


Maafkan aku, Jarvis. Aku tak pantas lagi untukmu. Aku harap kau bahagia meski tanpa diriku. Aku mencintaimu, Jarvis.


Di luar, Sweet dan Alexa merasa heran saat melihat Jarvis meninggalkan ruang rawat Alexella dengan wajah dingin. Bahkan lelaki itu sama sekali tak menghiaraukan Ibu mertua dan Kakak iparnya. Dan berlalu begitu saja.


"Apa mereka bertengkar?" Tanya Alexa bingung.


"Mommy tidak tahu. Apa kamu tahu maksud dari perkataan Xella tadi?"


Alexa yang mendengar pertanyaan itu menggeleng pelan karena tak memiliki jawaban atas pertanyaan sang Mommy. Adiknya itu bukanlah orang yang terbuka. Sejak kecil mereka memang tak terlalu dekat karena sikap Alexella yang acuh tak acuh pada semua orang."Sebaiknya kita temui Xella, Mom." Ajaknya.


"Ya, ayok." Sweet pun menarik tangan putrinya masuk kembali ke ruang rawat.


****


Jarvis memarkirkan aston martin miliknya di depan gedung yang dijadikan sebagai markas rahasia Red Moon. Dengan langkah cepat ia memasuki gedung itu. Deena yang sejak tadi berada di sana menatap Jarvis heran.


"Jarvis, apa yang kau...." perkataan Deena terpotong yang dibarengi dengan suara pistol yang melepaskan anak peluru. Mata Deena membulat sempurna karena Jarvis berhasil melayangkan peluru tepat di kepala Nicholas. Darah segar mengalir deras dari kening lelaki itu, membanjiri wajahnya.


"What are you doing?" Pekik Deena yang notabennya bertanggung jawab untuk menjaga lelaki itu.

__ADS_1


Jarvis tampak merapatkan rahangnya, tetapi matanya masih menatap tajam ke arah Nicholas yang tak bernyawa.


"Ya Tuhan, bagaimana jika Arez memarahiku? Kau gila Jarvis." Kesal Deena mengusap wajahnya frustasi.


"Dia tak pantas hidup." Sahut Jarvis memberikan pistol pada Deena dan langsung pergi dari sana. Mulut Deena terbuka lebar melihat sikap otoriter rekannya yang satu itu.


"Sialan, kau selalu menempatkanku dalam posisi sulit Jarvis." Deena menatap jasad Nicholas yang mengenaskan. Kemudian meminta anak buahnya untuk membreskan lelaki itu.


Sedangkan sang pelaku kembali melajukan aston martin hitamnya dengan kecepatan penuh menuju mansion.



...Mansion keluarga Schwarz...


Jarvis memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama. Sebelum turun, Jarvis mengambil sebuah pistol kecil di dalam laci dasboard. Setelah itu ia langsung keluar dari mobil dan memasuki kediaman dengan langkah pasti. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan yang mendalam.


"Hei son. Kau sudah kembali?" Sapa Gerlad yang tengah duduk di dekat perapian dengan sebuah buku besar di tangannya.


"Di mana wanita itu?" Tanya Jarvis dengan nada dingin. Bahkan lelaki itu bergegas menuju kamarnya sebelum mendapat jawaban. Membuat Gerald kebingungan sendiri.


Jarvis membuka pintu kamarnya dengan kasar. Membuat orang yang ada di dalam terperanjat kaget.


"Ja__jarvis?" Wanita dengan paras mirip Alexella itu bangun dari pembaringan karena terkejut dengan kehadiran Jarvis yang secara tiba-tiba.


Jarvis melangkah pasti menghampiri wanita itu dengan tatapan permusuhan yang kental.


"Kenapa kau tidak bilang akan pulang hari ini?" Tanya wanita itu gugup.


Jarvis tak menjawab, justru lelaki itu menarik rambut Alexella palsu dengan kasar. Menyeretnya keluar dari kamar. Wanita bernama asli Zhia itu memekik kesakitan saat mendapat perlakuan kasar Jarvis. Namun lelaki itu seolah tak peduli dan terus menyeretnya sampai lantai dasar. Vanessa yang baru saja keluar dari kamar dan melihat adegan itu pun terkejut bukan main. Apa lagi Gerald, lelaki tua itu bangun dari duduknya.


Jarvis mengeratkan rahangnya dan melempar wanita itu seperti sampah tak berharga. Tubuh wanita itu benar-benar tersungkur di lantai dingin.


Apa-apaan ini? Kenapa Jarvis memperlakukan wanita itu seperti sampah? Apa terjadi sesuatu? Pikir Vanessa yang melihat adegan tak sepantasnya ia lihat.


"Dia bukan Alexella." Suara Jarvis terdengar dingin dan datar.


"Apa maksudmu?" Tanya Gerald masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Bicaralah j*l*ng!" Bentak Jarvis seraya menarik rambut wanita itu dengan sekali hentakan. Membuat sang empu berteriak histeris. "Bicaralah sebelum aku merusak wajah sialanmu."


"Ya, aku memang bukan Alexella. Aku Zhia, wanita yang pernah kau setubuhi, Jarvis."


Gerald dan Vanessa terkejut bukan main mendengar pengakuan wanita itu. Mereka berhasil di tipu mentah-mentah oleh wanita itu.


"Persetanan! Sekarang aku akan mencabik-cabik setiap inci tubuhmu." Kecam Jarvis.


"Kau tak bisa membunuhku, aku hamil anakmu." Teriak wanita itu sedikit mendesis karena Jarvis semakin mengeratkan cengkraman dirambutnya.


Jarvis tertawa hambar. "Hamil?"


"Ya, aku hamil anakmu, Jarvis. Kau harus bertanggung jawab."

__ADS_1


"Kau pikir aku bodoh? Aku menaruh obat peluruh kandungan dalam susu yang kau minum beberapa hari lalu. Apa kau yakin sedang hamil, j*l*ng?"


Zhia tersentak kaget mendengar itu. Karena ia memang berbohong soal kehamilan. Ia mengarang cerita supaya Jarvis melepaskannya. "O__obat peluruh kandungan?"


"Kenapa? Kau kaget?"


"Maafkan aku, Jarvis. Aku mencintaimu, sungguh. Karena itu aku rela merubah wajahku untuk hidup bersamamu. Aku tak ingin wanita sombong sepertinya menjadi istrimu."


"Kau siapa berani mengatur hidupku huh?" Jarvis melepaskan jambakannya dengan kasar."Aku mencintai wanita sombong itu. Bahkan aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Kau pikir kau siapa yang bisa menentukan kehidupanku huh?"


Tanpa Jarvis sadari, diwaktu bersamaan Alexella hadir di sana bersama Alexa. Wanita itu duduk di kursi roda, mecengkram ujung bajunya dengan erat saat mendengar ungkapan suaminya.


Dia mencintiaku?


Zhia merubah posisinya menjadi duduk. Kemudian memberanikan diri untuk menatap Jarvis. "Kau bisa menganggapku Alexella, Jarvis. Karena istrimu itu sudah mati."


Lagi-lagi Jarvis tertawa hambar. "Mati? Apa kau yakin?"


"Ya, lelaki itu sudah membawanya pergi. Mungkin dia sudah mati saat ini. Kau milikku Jarvis." Zhia terseyum penuh kemenangan.


"Mati atau pun tidak, dia akan tetap wanitaku. Tak ada wanita lain yang bisa menempati posisinya." Tegas Jarvis penuh penekanan. Alexella yang mendengar itu tersenyum tipis.


"Nicholas menyukainya, lelaki itu pasti sudah menodainya. Apa kau yakin ingin hidup bersama wanita kotor itu huh?"


Alexella yang mendengar itu menunduk lesu. Mengingat akan hal itu membuat hatinya kembali teriris. Alexa yang menyadari itu menyentuh kedua sisi bahu sang adik. Seakan memberikan kekuatan.


"Ribuan lelaki yang menodainya sekalipun, dimataku dia tetap wanita terhormat. Mungkin aku akan membuangnya jika itu dirimu, wanita murahan. Dan kau harus ingat, seribu kali kau merubah wajahmu. Aku akan tetap mengenali dirimu. Wanitaku tak pernah bersikap murahan di depanku meski aku suaminya. Aktingmu sungguh murahan." Sinis Jarvis seraya mengeluarkan senjata api andalannya. Zhia yang melihat itu terkejut bukan main.


Sial! Aku tidak ingin mati. Aku harus bisa mendapatkan hatinya. Pikir Zhia berusaha mencari akal.


"Aku bisa membantumu mencari keberadaan Alexella. Tapi lepaskan aku, aku tak akan menganggumu lagi." Mohon Zhia menangkup kedua tangannya.


"Aku tak butuh bantuanmu. Andai kau tak memakai wajah istriku. Mungkin aku sudah mencabik wajahmu menjadi buruk rupa." Jarvis menodongkan pistol ke arah kepala wanita itu. Membuat sang empu kalang kabut.


"Aku yang akan melakukannya." Seru Alexella yang berhasil menarik perhatian semua orang.


"Xella." Gerald tersenyum senang saat melihat menantunya yang asli. Lain halnya dengan Vanessa, wanita itu menggeram kesal karena dirinya mengharapkan Alexella tak kembali ke mansion itu. Tetapi apa yang dilihatnya saat ini sama sekali tak ia harapkan. Alexella kembali dalam keadaan selamat.


"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia ada di sini?" Zhia menggeleng kuat sambil terus menatap ke arah Alexella.


Alexa mendorong kursi roda sang adik mendekati wanita itu. "Jangan bodoh, aku punya 3 Kakak yang selalu melindungiku." Sinis Alexella.


"Cih, apa gunanya kau kembali? Harga dirimu sudah tercabik-cabik, Nicholas menyetubuhimu sampai kau puas bukan? Bagaimana rasanya menjadi j*l*ng sunggugan huh?" Cerca Zhia yang diiringi tawa kencang.


Jarvis mengeratkan rahangnya saat mendengar hinaan itu. Karena terlalu emosi, ia menekan pelatuk dan sebuah peluru berhasil menembus daging lengan Zhia. Wanita itu menjerit histeris merasakan sakit yang luar biasa.


Alexella bangkit dari kursi roda.


Kemudian mengambil pistol dari tangan suaminya. "Jangan membunuhnya Jarvis." Pinta Alexella menatap wanita itu tajam. "Aku ingin dia mendapat balasan yang setimpal, mati terlalu baik untuknya. Wajah itu tak pantas dengannya, menjinjikan."


"Kau sendiri sangat menjijikan, Xella. Kau menjebakku dengan pria tua bangka. Beruntung aku pintar dan membalikkan jebakan itu padamu. Hidupmu diambang kematian, Xella."

__ADS_1


"Kau bukan tuhan yang bisa menentukan kematian seseorang. Tapi akan aku pastikan kau memohon padaku untuk kematianmu, Zhia." Sahut Alexella seraya mengusap ujung pistol. "Akan aku pastikan salah satu peluru dalam pistol ini bersemayam di jantungmu. Tapi tidak untuk saat ini."


Alexa menghela napas gusar. Ia tak heran lagi jika adiknya itu begitu pendendam. Apa lagi wanita itu salah satu orang yang telah mengancurkan kehdiupannya. Alexella tak akan melepaskan wanita itu dengan mudah. Dan tak akan ada yang bisa menahannya.


__ADS_2