Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (83)


__ADS_3

Marvel menatap Rose yang sudah lemah tak berdaya dengan tatapan membunuhnya yang kental. Wanita itu benar-benar terlihat mengenaskan dengan sekujur tubuh dipenuhi darah yang sudah hampir mengering. Bahkan wajahnya membengkak akibat siksaan yang Lucas maupun anak buahnya berikan. Sedangkan dirinya nyaris tak pernah menyentuh wanita itu lagi selain malam panas yang pernah mereka lalui dulu.


Mata wanita itu terbuka perlahan, dan sedikit terhenyak saat melihat keberadaan Marvel. Namun, detik berikutnya ia tersenyum smirk. "Sudah aku katakan putramu sudah mati."


Marvel balas tersenyum smirk. "Benarkah?"


Melihat respon Marvel, seketika wajah Rose pun menegang. "Tidak mungkin dia masih hidup? Aku sudah membuangnya ke laut dengan tanganku sendiri."


Marvel tersenyum miring. "Tanyakan saja pada anak buahmu."


Tidak lama beberapa orang anak buah Marvel masuk membawa antek-antek Rose yang juga sudah babak belur.


"Kalian!" Kaget Rose karena hampir semua anak buahnya berhasil dibekuk oleh Marvel. Bahkan asisten pribadinya pun ikut tertangkap.


Marvel menatap tajam salah seorang dari antek-antek Rose.


Karena merasa terimtimidasi, orang itu langsung melihat ke arah Rose. "Maafkan aku, Madam. Aku memiliki seorang anak seusianya, jadi diam-diam aku menyelamatkannya karena saat itu yang aku lihat adalah putraku sendiri. Setelah itu aku membiarkan anak itu dimarkas sendirian karena berpikir seseorang pasti menemukannya. Maafkan aku."


"Brengsek!" Umpat Rose kesal setengah mati. Semua rencana mulusnya harus gagal karena anak buahnya yang bodoh itu. "Dasar bodoh! Harusnya anak itu sudah menjadi bangkai sekarang."


Marvel mengeratkan rahang dengan tatapan membunuh yang kental saat mendengar ucapan Rose barusan. Bayangan di mana putranya berada di tempat sampah membuat amarahnya kembali tersulut. Apa lagi membayangkan putranya terbujur kaku tanpa nyawa.


"Siksa mereka sampai memohon kematiannya sendiri." Perintahnya yang kemudian beranjak dari sana. Namun, ia menahan langkahnya sejenak. "Untuk orang yang sudah menyelamatkan putraku, aku berterima kasih padamu. Beri dia racun dosisi tinggi, aku berbaik hati untuk lebih cepat mengantarmu ke neraka." Pungkasnya yang kemudian bergegas pergi.


Detik berikutnya ruangan itu dipenuhi suara raungan dan rintihan yang cukup menyayat hati. Namun bukan Marvel namanya jika merasa kasihan dengan musuh. Dengan santai lelaki itu meninggalkan tempat rahasianya itu.


****


Di rumah sakit, Eveline terus menatap Lucas yang berbaring di sofa. Sejak datang, suaminya itu bahkan tak menyapa atau sekadar menatapnya. Dan itu membuat Eveline semakin merasa bersalah.


"Luc." Panggilnya kemudian.


Lucas membuka matanya, lalu menoleh tanpa memberikan respon apa pun.


Eveline memilin jemarinya. "Aku lapar." Lirihnya.

__ADS_1


Lucas terdiam sejenak, sebelum memilih bangun dan mendatangi sang istri. Dan duduk di sisinya. Ditatapnya sang istri lamat-lamat.


Eveline balas menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku." Ucapnya begitu pelan.


Tidak lama dari itu Lucas tampak menghela napas kasar. Kemudian menangkup wajah istrinya dengan lembut. Seketika tangisan Eveline pun pecah. "Maafkan aku."


Lucas membawa Eveline dalam dekapan sembari memberikan kecupan mesra. "Sudah, jangan menangis."


Eveline mengeratkan pelukannya. "Seharusnya aku tidak memaki dan melemparkan semua kesalahan padamu, Luc. Maafkan aku."


"Lupakan itu, aku juga minta maaf padamu karena tak bisa melindungimu. Aku belum pantas menjadi seorang Ayah. Ini salahku." Lucas kembali memberikan kecupan mesra.


Eveline menggeleng. "Aku yang cereboh karena terlalu mengabaikan sekitar. Maaf karena aku tak bisa menjaga bayi kita."


"Tidak, Sayang. Kau sudah menjadi Ibu terbaik. Mungkin anak itu memang bukan takdir untuk kita. Kita harus mengikhlaskannya. Kita bisa membuatnya lagi." Eveline memukul Lucas karena sebal. Bagaimana tidak, ia sedang sedih tetapi lelaki itu malah bicara mesum.


"Kau memang mesum, Luc." Eveline tersenyum seraya mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu."


Lucas pun ikut tersenyum. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Ya sudah, katanya kau lapar bukan?"


Eveline mengangguk lagi. "Aku ingin kau suapi." Rengeknya begitu manja.


Eveline tersenyum. "Ya, aku ingin keliling dunia bersamamu."


Lucas tersenyum puas. "Baiklah, setelah kondisimu pulih. Kita akan keliling dunia bersama. Yang jelas aku tak akan melepaskanmu walau sehari, Baby. Aku merindukan suara merdumu saat dibawahku."


"Luc!" Kesal Eveline karena kemesuman suaminya itu. Spontan saja Lucas pun tertawa puas karena istrinya itu mudah sekali digoda.


Masih di tempat yang sama, Marvel kembali mendatangi kamar inap Emilia untuk menemui putranya. Namun, lelaki itu tertegun saat melihat keduanya tertidur dalam posisi saling berpelukan. Sungguh pemandangan yang membuat hatinya terasa hangat.


Marvel berjalan tanpa suara, karena tak ingin membangunkan keduanya. Lalu berdiri di dekat brankar, menatap keduanya dengan seksama. Cukup lama ia berdiri di posisi itu. Sampai Emilia terbangun dari tidurnya. Tentu saja wanita itu terkejut melihat keberadaan Marvel. Apalagi lelaki itu berdiri mematung seperti hantu.


Emilia menoleh ke arah putranya yang masih tertidur dalam pelukannya. Sebelum kembali menatap Marvel yang juga tengah menatapnya. "Sejak kapan kau di sini?"


Marvel tidak menjawab, dan itu membuat Emilia sebal. Alhasil ia juga mengabaikan lelaki itu. Lalu perlahan menggeser putranya karena tangannya mulai pegal. Noah bergumam kecil dalam tidurnya, dan itu berhasil membuat kedua orang tuanya tanpa sadar tersenyum bersamaan.

__ADS_1


Marvel beralih menatap Emilia lalu berkata. "Dokter memperbolehkanmu pulang besok."


Spontan Emilia menoleh, tetapi tak memberikan tanggapan apa pun.


"Seperti yang aku katakan, kau dan putraku akan tinggal di apartemenku. Tidak ada penolakan." Imbuh Marvel dengan lugas.


Emilia mendengus sebal. "Bisakah kau tidak memaksa kehendak?"


Marvel menatap Emilia tajam. "Selain apartemenku, kau tidak punya pilihan lain. Kau pikir aku tidak tahu uangmu hanya cukup untuk makan dan menginap beberapa hari di sini? Jadi jangan pernah menolak kebaikan orang lain saat kau membutuhkan."


Emilia merasa kesal dengan hinaan secara tak langsung lelaki itu.


Cih, bagaimana bisa aku menyukai lelaki angkuh ini. Ya Tuhan, bisakah kau menjauhkanku dengannya. Kenapa harus dia Ayah dari putraku? Sekarang aku menyesal karena pernah berharap dia suami masa depanku. Batin Emilia.


Marvel mendengus sebal melihat keterdiaman Emilia, karena merasa diabaikan. Alhasil ia pun bersanjak ke arah sofa, lalu melepas jas mahal itu. Lalu menjatuhkan diri di sana. Tentu saja semua itu tak lepas dari pandangan Emilia.


"Noah akan tetap menjadi putraku, kau tidak bisa memilikinya. Aku yang memutuskan untuk membesarkannya." Ujar Emilia pada akhirnya.


Marvel menoleh, lalu mendengus sebal. "Kau pikir aku akan membiarkan darah dagingku terlantar? Bahkan kau tidak bisa memberikan pakaian dan makanan yang baik untuknya. Bukan hanya itu, kau tak bisa menjamin keselamatannya. Jika aku menggugat hak asuh, kau tidak akan pernah menang."


Mendengar itu Emilia pun merasa tersinggung. Napasnya memburu karena kesal. "Dia putraku, kau tidak bisa merebutnya dariku."


Marvel tersenyum miring. "Tentu saja aku bisa. Kecuali kau juga ingin menjadi milikku."


Mendengar itu mata Emilia pun melotot. "Cih, bermimpi saja. Mungkin dulu aku pernah menyukaimu, tapi sekarang aku menyesal akan hal itu."


Marvel mengerutkan dahi. "Kau pernah menyukaiku?"


Mendengar itu Emilia pun terhenyak, ia tidak sadar dengan ucapannya sendiri yang sudah mengakui pernah menginginkan lelaki itu. "Ti__tidak, bukan begitu. Aku hanya mengagumimu. Ya, hanya sebatas mengagumi. Tidak lebih. Kau kan tampan dan pintar. Hanya wanita bodoh yang tak menyukaimu." Gugupnya.


Marvel yang mendapat pujian secara tak langsung itu pun tersenyum tipis. "Jadi aku tampan hm?"


Lagi-lagi Emilia terhenyak karena baru sadar dengan ucapan nyelenehnya itu. Alhasil ia pun memilih diam dan memalingkan wajahnya dari lelaki itu. Lalu menggerutu dalam hati karena kebodohannya.


Sial! Kenapa aku harus memujinya. Tentu saja dia akan semakin sombong dan merasa paling tampan. Argh! Dasar mulut ember. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Emilia cuma bisa menggigit bibirnya karena sangat malu jika harus bersitatap dengan lelaki itu.

__ADS_1


Sedangkan Marvel lagi-lagi tersenyum tipis saat melihat reaksi lucu wanita itu.


Menarik. Batinnya.


__ADS_2