
"Bagaimana dengan pertemuan kemarin?" Tanya Alex pada Johs saat mereka sudah berada di ruang kerjanya.
"Tuan, para direksi meminta Anda untuk turun jabatan secepat mungkin. Mereka terus mengeluh karena penurunan saham yang melonjak drastis." Ujar Joshua menatap punggung Alex.
"Jadi mereka begitu ambisius untuk menjatuhkanku?" Tanya Alex seraya tersenyum lebar.
Josh merinding ngeri saat melihat senyuman itu, ia sangat paham arti tatapan Tuannya itu.
"Lakukan meeting ulang besok, aku ingin melihat mulut lebar mereka saat berhadapan denganku." Perintah Alex penuh seringaian.
"Baik Tuan, akan saya atur pertemuan untuk besok. Maaf Tuan, malam ini salah satu investor dari Amerika mengundang Anda untuk makan malam." Ujar Josh dengan sopan.
"Terima undangan itu, tidak baik menolak niat baik orang lain." Jawab Alex dengan santai. "Ah iya, Josh. Atur kembali pekerjaan untuk istriku. Dia akan bergabung kembali dengan kita."
"Dengan senang hati, Tuan." Jawab Josh seraya tersenyum tulus. Lalu keduanya kembali membahas masalah pekerjaan.
***
Setelah kepulangan Josh dan Grace. Sweet mengantar ketiga anaknya ke kamar. Lalu ia pun beranjak menuju kamar Alex, ah lebih tepatnya kamar mereka.
Sweet Memutar handle pintu dengan ragu. Ia juga merasakan getaran jantungnya yang semakin kencang. Empat tahun, ia meninggalkan kamar itu. Kamar yang penuh dengan kenangan.
Wanita itu mematung saat melihat kondisi kamar yang masih sama seperti empat tahun yang lalu. Tanpa sadar air matanya mentes, jujur ia merindukan suasana ini.
Ah, aku merindukan semua yang ada di sini. Batin Sweet. Perlahan kakinya mulai melangkah masuk. Memperhatikan ranjang berukuran king size yang penuh dengan kenangan. Kemudian ia juga berjalan menuju walk in closet, di sana juga masih sama. Bahkan pakaian miliknya masih tersusun rapi. Tangisan Sweet semakin menjadi, karena merasa bersalah sudah meninggalkan lelaki itu. Akan tetapi semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Sweet. Kesalahpahamanlah yang sudah memisahkan cinta mereka.
Dada Sweet terasa begitu sesak dan ia pun memutuskan untuk keluar dari sana. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapatkan Alex sudah berdiri di belakangnya. Dengan cepat Sweet mengusap air matanya.
"Kenapa menangis?" Tanya Alex bergrak dan menghapus jarak di antara mereka.
Sweet menggeleng pelan, "cuma rindu suasana rumah."
Alex tersenyum. Mengusap jejak air mata yang masih tersisa di wajah istrinya. "Air mata ini hanya boleh keluar saat kamu bahagia, tidak untuk yang lainnya."
Sweet terkekeh mendengar perkataan suaminya. "Bagaimana jika aku menangis karena menahan rasa sakit?"
"Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan lagi, Ana. Aku berjanji," ujar Alex memasang wajah sendu. Lalu mengecup kening istrinya begitu dalam.
"Bukan itu maksud aku, Mas. Bagaimana jika aku hamil lagi dan pasti kesakitan lagi, kamu gak akan tahu seperti apa rasanya." Jelas Sweet mengerucutkan bibirnya.
Alex menatap netra cantik istrinya begitu dalam. "Kalau begitu tidak perlu hamil lagi, aku tidak mau kamu sakit."
Sweet mengerutkan keningnya, lalu tersenyum lebar. Tanpa ragu ia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Alex.
"Katanya mau punya anak sepuluh?" Tanya Sweet yang kemudian membenamkan wajahnya di dada Alex.
"Jika itu menyakitimu, tiga kurcaci itu sudah cukup untuk kita." Jawab Alex. Ia memberikan kecupan mesra dipucuk kepala istrinya.
"Melahirkan memang sakit, Mas. Tapi rasa sakit itu memiliki kenikmatan sendiri untuk seorang Ibu. Aku ingin memiliki anak lagi," ujar Sweet. Ia mendongak agar bisa melihat wajah suaminya.
"Kalau begitu kita harus rajin membuatnya," kata Alex yang berhasil mendapat cubitan diperutnya.
"Ck, memang itu mau kamu kan? Dasar mesum," ledek Sweet.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan?" Tanya Alex yang berhasil menciptakan rona merah di pipi Sweet.
"Sudah ah, aku capek mau istirahat." Sweet hendak pergi sebelum Alex menahannya untuk tetap di posisinya.
"Malam ini kita mendapat undangan makan malam, kamu harus ikut." Ujar Alex.
"Anak-anak ikut?"
"Tidak, cukup kita berdua. Ini undangan formal," jawab Alex. Sweet pun mengangguk tanda mengerti.
Malam hari pun tiba, Sweet sudah siap dengan gaun hitam yang dipadukan dengan balutan hijab pastel. Begitu juga dengan Alex, lelaki itu terlihat gagah dengan tuxedo hitam yang membungkus tubuh atletisnya.
"Sudah siap?" Tanya Alex memperhatikan Sweet yang tengah merapikan hijabnya. Wanitanya itu terlihat menawan dan menggoda.
"Sudah," jawab Sweet bebalik menghadap suaminya. Ia tersenyum begitu manis dan lagi-lagi membuat Alex terpesona. Alex menggenggam tangan Sweet posesif.
Kemudian Alex memasangkan syal dan jaket di tubuh ramping istrinya. Ia tidak mau wanita pujaan hatinya kedinginan.
"Kamu sangat cantik, aku ragu untuk membawa kamu keluar. Bagaimana jika banyak mata yang menikmati kecantikan kamu?" Ujar Alex membuat Sweet terkekeh geli.
"Terus kamu mau kurung aku terus gitu?" Tanya Sweet tidak habis pikir dengan pola pikir suaminya.
"Aku bercanda, Sayang. Ayok, mereka sudah menunggu kita." Ajak Alex membawa Sweet keluar dari kamarnya. Lalu mereka pun bergegas meninggalkan mansion. Malam ini Alex mengendarai mobil lamborghini hitam miliknya. Dan melesatkan mobil mewah itu membelah kota Berlin.
"Selamat malam, Mr. Digan." Sapa seorang Pria tua menyambut kedatangan Alex dan istrinya. Pria itu mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Malam, Mr. Andreas. Perkenalkan ini istriku, Sweet Alexandra Digantara." Balas Alex seraya memeperkenalkan istrinya.
"Salam kenal, Mrs. Digan."
Apa dia tidak kedinginan dengan pakaian seminim itu? Bahkan aku saja masih merasa dingin dengan pakaian tertutup. Entah lah, itu bukan urusanku. Pikir Sweet.
"Maaf, Nona ini siapa Anda Mr. Andreas? Dia sangat cantik." Sweet memasang wajah datarnya. Ia bukan tipe wanita yang bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya pada seseorang. Bahkan Alex maupun Mr. Andreas bisa melihat itu.
"Ah, ini putriku, Jessicha Gilson. Jessy, berikan salam hormatmu."
Jessy pun mengulurkan tangannya ke arah Alex. Sweet kaget melihat keberanian wanita itu.
"Perkenalkan aku Jessy, putri kedua keluarga Gilson. Lulusan terbaik Harvard, satu tahun yang lalu," jelas Jessy dengan sikap angkuhnya. Sesekali ia juga melirik penampilan Sweet dari ujung kepala hingga kaki.
Dengan penuh ketenangan, Sweet menyambut uluran tangan wanita itu. Sontak Jessy kaget dan langsung tersenyum lebar. Menutupi rasa kecewanya. Karena ia sangat berharap dapat menyentuh Alex.
"Sweet, Nyonya besar Digantara sekaligus sekretaris pribadi Mr. Digantara." Ucap Sweet datar.
Alex merasakan aura dingin dalam diri istrinya semakin mengguar. Bahkan bulu kuduknya meremang.
"Ah, sebaiknya kita lanjutkan makan malamnya." Ajak Alex memecah kecanggungan. Lalu mereka pun menyetujui ajakannyan. Alex membantu Sweet untuk duduk. Kemudian makan malam itu berlangsung dengan lancar. Meski sesekali Jessy terus mecari perhatian Alex. Bahkan wanita itu dengan sengaja memperlihatkan belahan dadanya yang besar. Sweet merasa jengah, tetapi ia tetap bersikap profesional.
"Mr. Digan. Apa Anda memerlukan seorang asisten? Aku bersedia menjadi asisten Anda, aku jamin semua pekerjaan Anda terkendali dengan rapi. Aku tahu saat ini Anda membutuhkan ide brilian untuk kelangsungan perusahaan. Aku cukup handal dalam hal itu." Ujar Jessy masih berusaha menarik perhatian Alex. Meski lelaki itu sama sekali tidak tertarik padanya maupun pada topik yang ia bawa.
"Suamiku sudah memiliki asisten pribadi yang cukup handal dan pintar, tiga sekretaris cantik, pintar dan juga setia. Jadi tidak ada lowongan untuk saat ini. Bukankah Ayah Anda memiliki perusahaan yang cukup berpengaruh di Manhattan?kenapa Anda tidak bekerja di sana?" Sweet melempar pandangan penuh intimidasi pada wanita itu.
Kedua lelaki yang ada di sana berdeham saat menyadari kecanggungan yang diciptakan oleh dua wanita itu.
__ADS_1
"I'm sorry, Mrs. Digan. Putriku sangat mengidolokan suami Anda, karena di Negara kami Mr. Digan cukup terkenal dengan kecerdasannya dalam menjalankan usaha."
"Owh, benarkah? Aku bangga mempunyai suami terkenal sepertimu, Mr. Digan." Ujar Sweet. Alex yang mendengar itu kembali berdeham. Lalu menyapu bibirnya dengan tisue.
"Tidak, itu terlalu berlebihan." Sanggah Alex.
"Tidak, Ayahku benar. Kau sangat mempesona dikalangan pengusaha lainnya. Aku pernah menghadiri workhsop Anda saat duduk di bangku SHS. Itu sangat luar biasa," ujar Jessy dengan semangat.
Alex tersenyum simpul mendengarnya. Sambil sesekali melirik istrinya. "Itu sudah lama sekali."
"Benar, itu memang sudah lama. Tapi aku masih menyimpan foto kita saat itu. Ah, andai hal itu bisa terulang kembali." Jessy melirik Sweet yang tersenyum kecut mendengar ocehannya. Sebenarnya Sweet sama sekali tidak menanggapi ucapan wanita itu. Hanya saja ia tidak suka dengan cara bicara Jessy yang seakan menantangnya.
"Mr. Digan. Aku turut prihatin dengan apa yang menimpa perusahaanmu. Jangan khawatir, perusahaan kami akan selalu mendukungmu. Kerja sama kita sudah terjalin begitu lama, aku percaya padamu." Ujar Mr. Andreas mencoba mengalihkan pembicaraan tak penting putrinya.
"Terima kasih, Mr. Andreas. Aku sangat menghargai kesetianmu." Balas Alex dengan tulus.
Setelah perbincangan panjang, mereka pun kembali ke kediaman masing-masing. Dan sepanjang perjalanan, Sweet sama sekali tidak bicara. Tentu saja itu membuat Alex merasa heran.
"Katakan apa yang membuatmu diam huh?" Tanya Alex memecah keheningan.
Sweet yang mendengar itu hanya melirik Alex sekilas, lalu kembali menatap jalanan yang lumayan ramai.
"Saat kamu diam seperti ini, aku jadi teringat di malam pertunangan kita. Ah, itu tidak bisa dikatakan pertunangan. Karena itu hanya permainanku saja," ujar Alex mencoba memecah kecanggungan.
"Jika boleh jujur, malam itu kamu sangat cantik dan... menggoda."
Perktaan Alex berhasil menarik perhatian Sweet. Mata wanita itu menatap tajam ke arah suaminya. Tetapi Alex tidak peduli dengan tatapan itu dan terus mengoceh.
"Aku tidak rela orang lain melihat betapa mulusnya punggung dan lehermu yang jenjang. Oleh karena itu aku menarik ikat rambutmu, dan memintamu untuk menutupinya." Lanjut Alex.
Sweet sama sekali tidak menanggapi perkataan suaminya.
"Sekarang, kamu sudah menutup diri. Tapi aku masih tidak rela saat orang lain menatap wajahmu yang cantik. Aku cemburu," ujar Alex lagi.
Tanpa sadar, bibir mungil Sweet tertarik dan membentuk sabit. Pengakuan Alex membuat suasana hatinya jauh lebih baik. Wanita mana pun akan tersanjung mendengar kata-kata manis dari bibir lelaki yang dicintai. Terutama dari mulut suaminya sendiri. Itu membuatnya melayang.
"Kamu menyukai wanita itu?" Tanya Sweet kembali bad mood.
"Siapa?" Tanya Alex bingung.
"Wanita tadi, dia sangat seksi dan menggoda." Jawab Sweet ketus.
"Benarkah? Apa dia lebih menggoda darimu?"
"Mas, aku serius." Sweet semakin kesal karena Alex malah bercanda.
"Aku juga serius. Aku tidak tahu siapa wanita yang kamu bicarakan, dan kamu marah? Ayolah, dalam kepalaku cuma ada satu wanita, dan orang itu duduk di sebelahku saat ini."
Sweet berdecak kesal mendengarnya. Namun, perkataan Alex berhasil membungkam mulutnya.
Alex melirik istrinya dan tersenyum lebar. Lalu tangannya bergerak untuk menarik tangan mungil sang istri. Kemudian menggenggamnya begitu erat. "Aku mencintaimu, tidak ada wanita lain yang aku pikirkan selain kamu, Ana. Aku serius. secantik apa pun wanita di luar sana, tidak akan mampu menggodaku. Jika boleh jujur, sejak awal kita bertemu. Kamu berhasil memenuhi kepalaku," pengakuan Alex terdengar tulus tanpa dibuat-buat. Perasaan cintanya pada Sweet begitu besar. Entah sejak kapapan cinta itu tumbuh semakin subur. Alex sendiri tak menyadarinya. Toh, tidak peru alasan untuk mencintai seseorang.
Sweet mememberikan tatapan lembut dan membalas gengaman tangan Alex. Rasa cemburu yang sejak tadi ia pendam pun lenyap begitu saja. "Aku juga cinta sama kamu, Mas."
__ADS_1
Alex tersenyum senang mendengarnya. Lalu mengecup punggung tangan Sweet begitu mesra. Perjalan yang sebenarnya tidak terlau jauh, terasa begitu lama karena keduanya terbuai dalam keindahan cinta yang mereka ciptakan.