Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (87)


__ADS_3

Malam hari, Emilia yang hendak tidur pun terkejut karena tiba-tiba Marvel masuk ke kamarnya. Lalu tanpa sungkan berbaring di sisi kosong ranjang. Tentu saja Emilia terperangah melihatnya.


"Hei." Tegurnya dengan suara tertahan karena tak mau membangunkan putranya yang baru saja terlelap.


Marvel menoleh. "Tidurlah, jangan berisik." Katanya yang kemudian memilih tidur memunggungi Noah dan Emilia.


Emilia semakin terperangah. "Dasar pria gila." Kesalnya tertahan.


Marvel tersenyum tipis mendengarnya dan terlihat masa bodo jika wanita itu akan marah padanya diesok hari.


Sedangkan Emilia benar-banar kesal dengan sikap sesuka hati Marvel. Namun mengalah untuk kali ini, tetapi tidak untuk kedepannya.


Menjelang pagi, suhu pun teramat dingin. Marvel yang belum terbiasa di tempat itu merasa kedinginan dan mencari sumber kehangatan. Hingga ia pun menemukan sesuatu yang hangat dan langsung merengkuhnya tanpa tahu itu apa. Rasanya benar-benar hangat dan empuk. Juga beraroma manis yang berhasil membuat Marvel semakin terlelap jauh.


Emilia sedikit menggeliat, merasa sesak dan seperti ada yang menimpa dadanya. Alhasil ia pun perlahan membuka matanya dan melihat ke bawah. Benar saja, sebuah tangan besar kini berada di atas dadanya. Awalnya ia belum sadar jika benda yang ada di atas dadanya itu tangan Marvel. Justru berpikir itu tangan Noah karena itu ia terlihat santai.


Namun, detik berikutnya ia mulai sadar jika tangan Noah tidak sebesar itu. Spontan ia pun menoleh ke samping.


Deg!


Jantungnya hampir lompat keluar karena jarak wajahnya dengan Marvel hanya beberapa senti. Sedikit saja ia salah bergerak, sudah pasti bibir mereka bertemu. Degup jantungnya semakin kencang saat hembusan napas Marvel menyentuh wajahnya. Bahkan sekarang ia bisa menikmati betapa sempurnanya pahatan sang Pencipta dalam jarak yang cukup dekat.


Tanpa sadar, Emilia tersenyum karena pada akhirnya bisa melihat wajah itu dari dekat. Bahkan sebelumnya ia tak pernah membayangkan hal ini akan dialaminya. Tentu saja Emilia tak ingin melewatkan kesempatan itu dan terus memandangi wajah tampan Marvel sampai puas. Selagi lelaki itu tak menyadarinya.


Saat tengah asik memandanginya, siapa sangka Marvel malah begerak ke depan hingga bibir mereka pun pada akhirnya menempel satu sama lain. Mata Emilia membulat sempurna dan spontan mendorong Marvel agar menjauh. Hebatnya lelaki itu sama sekali tidak terbangun. Melihat kesempatan itu, Emilia buru-buru turun dari tempat tidur dan meninggalkan kamar itu.


Betty yang melihat tingkah Emilia pun mengernyit bingung. Pasalnya Emilia bertingkah aneh dan tak seperti biasanya. Berjalan ke sana kemari tak jelas. Namun, seulas senyuman mendadak terbit dibibirnya.


"Hah, aku rasa rumah ini akan dipenuhi suara bayi lagi." Gumamnya yang kemudian berlalu keluar untuk menjemur pakaian.


Emilia keluar dari rumah, untuk mencari putranya masih memakai pakain tidur tentunya. "Mom, Noah di mana? Ini masih sangat pagi." Tanyanya panik pada Betty yang tengah menjemur pakaian.


Betty menoleh. "Dia pergi dengan Pedro ke peternakan. Anak itu bangun pagi sekali dan merengek ingin ikut ke sana. Mungkin dia merindukan suasana di sini. Biarkan dia bertemu teman-temannya lagi."

__ADS_1


Emilia bernapas lega, sepertinya ia masih trauma soal penculikan itu. "Syukurlah jika dia bersama Uncle Pedro."


Betty tersenyum. "Oh iya, aku tidak tahu makanan kesukaan pemuda tampan itu. Jadi hanya menyiapkan sandwich di dapur untuk sarapan. Suruh dia memakannya kalau sudah bangun." Katanya lagi.


Emilia mengangguk kecil.


"Oh iya, berapa lama dia akan tinggal di sini?" Tanyanya lagi.


Emilia mengedikkan bahunya. "Tidak ada yang tahu isi kepalanya. Ya sudah, aku ingin mandi." Katanya yang kemudian kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Namun, keningnya mengerut saat melihat Marvel tidur meringkuk karena kedinginan.


"Cih, aku pikir pria dingin sepertimu tidak pernah kedinginan." Ketusnya sembari menarik selimut dan menyelimutinya. Setelah itu ia melanjutkan niatnya tadi. Dan bergegas ke kamar mandi.


Marvel mulai terbangun dari tidur nyenyaknya saat matahari mulai mengintip dari celah jendela. Seumur hidup ia tak pernah merasakan tidur senyenyak ini sampai tubuhnya terasa ringat dan segar saat bangun.


Marvel melihat sekitar, dan tersadar jika kini tersisa dirinya saja di sana. Bahkan putra kecilnya pun sudah tidak kelihatan. Dengan pasti ia bangkit dari posisinya dan beranjak keluar.


Emilia yang hendak masuk pun terhenati karena berpapasan dengan Marvel. Dan mendadak salah tingkah karena mengingat kejadian beberapa saat lalu.


"Ck, memangnya apa yang aku pikirkan." Kesal Emilia bergegas ke kamar dan merapikan tempat tidurnya.


Sedangkan Marvel berdiri menghadap ke arah hamparan padang rumput nan hijau. Dari kejauhan ia bisa melihat Noah berlari kecil bersama seorang lelaki paruh baya.


"Papa." Teriak anak itu terus berlari ke arahnya. Marvel tersenyum tipis kemudian menangkap tubuh mungil itu dengan mudah dan membawanya dalam gendongan. "Kau sudah mandi?"


Noah menggeleng. "Dingin." Sahutnya kemudian. Marvel tersenyum samar lalu mengecup pipi anaknya itu gemas.


Lelaki paruh baya yang tadi bersama Noah pun tersenyum padanya. "Ah, salam kenal, Nak. Aku pedro, salah satu peternak di sini. Noah sudah bercerita padaku kalau kau Papanya. Senang bertemu denganmu, akhirnya kau pulang juga. Kenapa kau baru pulang setelah Noah sebesar ini? Sepertinya Emilia benar kau orang sibuk." Lelaki itu terkekeh kecil.


Marvel mengernyit bingung karena tak mengerti maksud ucapan lelaki itu. Ia tidak tahu saja jika selama ini Emilia dan Betty mengarang cerita pada semua orang jika suaminya bekerja di luar negeri. Emilia melakukan itu karena tidak mau ada yang merendahkan status Noah.


"Ekhem." Deham Emilia yan tidak sengaja mendengar perkataan Pedro barusan. "Uncle, bagaimana hasil susu hari ini?" Tanyanya mencoba menglihkan pembicaraan.


"Oh, seperti biasa, Nak. Dan hari ini aku senang karena putramu menemaniku. Bahkan dia ikut memerah susu tadi." Jawab Pedro apa adanya.

__ADS_1


Marvel menatap putranya. "Kau pandai memerah susu, Son?" Tanyanya pada Noah.


Noah mengangguk dibarengi senyuman manisnya. "Aku juga tadi minum susu." Jawabnya yang berhasil membuat Pedro tertawa.


"Putra kalian ini sangat pintar dan meggemaskan. Aku senang kalian kembali ke sini. Betty bilang padaku kalian kemungkinan besar tidak akan kembali lagi ke sini. Aku sempat kecewa karena tidak bisa bertemu anak pintar ini lagi. Tapi tadi pagi aku kaget karena Noah memanggilku. Ah, apa kalian akan menetap di sini?" Pedro terus mengoceh panjang lebar. Tentu saja hanya Emilia yang menanggapinya karena Marvel terkesan acuh seperti biasanya. Sejak awal tidak ada yang tahu jika Noah mengalami penculikan. Emilia sengaja menyembunyikan hal itu dibawah ancaman Rose tentunya.


"Ya, Uncle." Sahut Emilia dibarengi senyuman tulusnya.


"Tidak, kami hanya bulan madu di sini." Sahut Marvel tiba-tiba. Sontak Emilia kaget dan langsung memelototinya.


Namun, Pedro yang mendengar itu justru tertawa renyah karena menganggap benar ucapan Marvel.


"Aku paham, nikmati waktu bersama kalian. Aku tinggal dulu ya? Masih banyak pekerjaan."


Emilia mengangguk, kemudian lelaki paruh baya itu pun bergegas pergi dari sana.


Sepeninggalannya, Emilia langsung melayangkan tatapan tajam pada Marvel. "Berhenti bicara omong kosong dihadapan banyak orang." Kesalnya dan langsung meninggalkan Marvel.


Marvel menatap kepergiannya dengan seringaian kecil.


Siang hari, Emilia yang sedang menidurkan anaknya di kamar pun merasa heran karena mendengar suara riuh di luar sana. Buru-buru ia keluar dari sana untuk melihat apa yang terjadi. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Marvel mengarahkan beberapa orang untuk mengelurakan barang-barang usang di rumah itu dan menggantinya dengan yang baru dan jauh lebih mahal tentunya.


Cepat-cepat Emilia menutup pintu kamar dan mendatangi Marvel, lalu menarik lelaki itu ke sudut ruangan. "Apa-apaan kau ini?"


Marvel menghela napas. "Aku hanya mengganti barang usang itu dengan yang baru. Lalu apa masalahmu?"


Emilia memutar bola matanya jengah. Lalu menatap Marvel tajam. "Dengar, ini rumahmu. Kau tidak punya hak untuk mengubahnya."


Marvel sedikit membungkuk hingga jarak wajah mereka sangat dekat, refleks Emilia pun mundur beberapa langkah.


Marvel tersenyum samar melihat tingkah lucu wanita itu. Dan kembali menegakkan tubuhnya. "Aku hanya ingin membuat putraku nyaman." Setelah mengatakan itu Marvel pergi dari hadapannya.


Emilia menggeram sebal. "Dasar pria otoriter."

__ADS_1


__ADS_2