
Sweet terus mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Merasa cemas karena operasi tak kunjung selesai. Ia benar-benar takut. Takut akan kehilangan dua manusia yang amat ia cintai.
"Ya Allah, hamba mohon." Ucapnya sambil terus menatap pintu. Berharap pintu itu segera terbuka dan memberi kabar gembira. Hingga sebuah sentuhan di pundak berhasil mengejutkan Sweet. Ia berbalik, untuk melihat sosok itu. Yang pertama kali ia temukan adalah tatapan teduh Nissa.
"Aku takut, Mbak." Sweet berhambur dalam pelukan Nissa. Berharap perasaan cemas itu sedikit memudar.
"Duduklah, Insha Allah mereka baik-baik aja kok." Nissa mengusap punggung Sweet dengan lembut. Lalu membawanya untuk duduk.
"Cih, sekarang kau baru tahu rasa takut? Bukankah kau wanita yang begitu angkuh?" Cerca Gilly yang masih belum puas memojokkan Sweet. Tentu saja hal itu menarik perhatian semua orang, termasuk Sweet.
"Berhenti bicara," perintah Gerald pada Gilly. Wanita itu sama sekali tidak mengindahkan perkataan suaminya.
"Apa aku salah? Jika saja dia tidak menginginkan perceraian se...."
"Cukup!" Potong Sweet seraya bangun dari posisinya. Menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
"Mungkin kau bisa saja menyalahkan semua ini padaku. Tetapi kau jangan pernah lupa, semua ini berawal dari kebohonganmu. Kau ingin memisahkan kami dan bekerja sama dengan wanita gila itu bukan? Lalu apa bedanya kau dan aku? Jadi tutup mulutmu, sebelum aku melemparmu keluar."
Semua orang cukup kaget melihat sikap tegas Sweet. Tidak ayal Alex begitu mencintainya. Pikir Arnold.
Ancaman Sweet berhasil membuat nyali wanita itu menciut dan memilih untuk diam.
Sweet kembali duduk, "semua orang sedang cemas. Dan dia begitu banyak bicara."
Nissa tersenyum tipis, mendengar omelan Sweet adalah keberuntungan untuknya. Sejak pertama kali bertemu, wanita itu tidak begitu banyak bicara. Namun, kali ini Nissa melihat sisi lain darinya.
Nissa merangkul pundak Sweet, "Alex akan tersenyum jika melihatmu seperti ini."
Sweet menunduk lemas, dan menarik napas dalam-dalam. "Aku merindukan senyuman itu, Mbak."
Mendengar itu, Nissa menarik Sweet dalam dekapan. Tidak ada kata-kata yang mampu ucapkan. Hanya saja, ia berharap rasa hangat yang ia berikan mampu memberi kekuatan pada Sweet.
Tidak berapa lama, pintu ruangan pun terbuka. Seorang dokter paruh baya keluar dengan pakaian yang dipenuhi peluh. Sweet langsung terbangun, berjalan tergesa menghampirinya. Diikuti oleh yang lainnya.
"Bagaimana keadaan mereka, Dok?" tanya Sweet yang tanpa sadar memegang tangan lelaki paruh baya itu.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar, hanya saja...." Dokter menggantung perkataannya, menatap Sweet lekat .Membuat semua orang merasa cemas.
"Katakan, Dok." Pinta Sweet.
"Pak Alex masih belum melewati masa kritisnya. Sejak awal kami sudah memperingatinya untuk tidak melakukan operasi ini, tetapi beliau begitu keras kepala. Beliau juga sempat mengalami serangan jantung. Jadi, apa pun yang terjadi. Saya harap Ibu dan Bapak bisa menerimanya dengan ikhlas. Tetapi, kita semua memiliki harapan yang sama," jelas sang dokter.
Sweet terdiam sesaat, napasnya seakan tercekat. "Tolong, tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya, Dok."
"Tentu, kami akan terus berusaha semaksimal mungkin. Untuk sementara kami akan memindahkan pasien ke ruangan transisi."
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Arnold.
__ADS_1
Tubuh Sweet lemas seketika. Beruntung Hanz begitu sigap dan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh. Semua orang kaget melihat kondisi Sweet saat ini.
"Bawa dia duduk," titah Nissa pada Hanz. Lelaki itu pun dengan segera membawa Sweet untuk duduk kembali.
"Ana, minumlah." Nissa memberikan botol mineral pada Sweet. Dan membantunya untuk minum.
"Mommy," teriak dua anak kecil yang berlari menghampiri Sweet. Tidak jauh di belakang mereka terlihat Joshua membawa dua tas milik mereka. Sweet kaget melihat kehadiran anak-anaknya.
Gilly yang belum mengetahui Sweet memiliki tiga anak kembar ikut terkejut. Mulutnya terbuka lebar, saat melihat wajah kedua anak itu yang amat mirip dengan Alex.
"Maaf, Nyonya. Aku sengaja membawa mereka," ujar Joshua sedikit membungkuk.
"Kenapa kau membawa mereka ke sini?" tanya Sweet memberikan tatapan tajam pada Joshua.
"Saya melihat mereka hendak naik taksi, jadi saya terpaksa membawanya ke sini."
Mendengar itu, Sweet langsung menatap kedua putranya. Arez dan Arel langsung menunduk saat mendapatkan tatapan membunuh dari Sweet.
"Arel terus memohon untuk bertemu Daddy." Arez pun mulai membuka mulut tanpa berani menatap sang Mommy.
"Arel minta maaf," timpal Arel mendekatkan diri pada Sweet.
Sweet menghela napas panjang, lalu menarik kedua putranya dalam dekapan. "Kenapa tidak menghubungi Mommy lebih dulu, huh? Pergi tanpa orang tua sangat berbahaya, sayang."
"Sorry, Mom." Ucap keduanya serempak.
"Mereka sangat mirip dengan Alex kecil," bisik Nissa pada Arnold. Mereka memang sudah tahu mengenai si kembar, hanya saja mereka belum melihat rupa mereka dengan jelas.
"Ya, mereka putranya. Sudah pasti mereka mirip," sahut Arnold. Nissa mengangguk, dengan tatapan masih tertuju pada si kembar.
Perhatian Arez maupun Arel pun tertuju untuk semua orang yang hadir di sana. Mereka tampak bingung.
"Kenapa Mommy di sini? Di mana Lexa?" tanya Arel bingung. Sweet menatap kedua putranya amat dalam.
"Daddy dan Lexa... sedang di tangani dokter," jawab Sweet ragu.
"Memangnya Daddy sakit apa?" tanya Arel begitu polos.
Sweet tidak langsung menjawab, ia bingung harus menjawab apa pada si kembar.
Melihat kebingungan dalam diri Sweet, Ara pun mendekati si kembar. "Sayang, Daddy kalian sedang membantu Lexa untuk sembuh. Jadi, sekarang kalian bantu doa ya. Supaya Lexa maupun Daddy bisa cepat sehat."
"Itu artinya Daddy juga sakit?" tanya Arel lagi. Ara menatap Sweet.
"Apa Daddy baik-baik saja?" kali ini Arez ikut bertanya. Anak itu yang sudah tahu ke mana arah pembicaraan orang tuanya merasa cemas akan kondisi sang Daddy.
"Ya, Daddy adalah orang terkuat. Jadi Daddy kalian baik-baik saja," jawab Ara tersenyum tulus.
__ADS_1
"Arel ingin bertemu Daddy," rengek Arel seraya menggoyangkan tangan Sweet.
"Iya, kita akan bertemu Daddy." Sweet kembali menarik Arel dalam pelukan.
Lalu pintu ruang operasi pun kembali terbuka. Para dokter dan suster mendorong brankar milik Alexa dan Alex keluar dari ruang operasi. Membawa mereka menuju ruang transisi. Untuk melakukan pengawasan dan perawatan intensif.
Arel yang melihat kondisi sang Daddy pun langsung berteriak. "Daddy."
Sweet langsung menahan Arel yang hendak berlari mengejar Alex yang belum sadarkan diri. Sweet memeluk Arel begitu erat. "Kita akan menemui Daddy, tapi tidak sekarang."
"Mommy, apa Daddy akan baik-baik saja? Arez belum memeluk dan memanggilnya Daddy."
Sweet mengangguk dan menarik Arez dalam pelukannya juga. "Daddy akan memeluk kalian seperti ini."
Semua orang yang melihat itu ikut bersedih. Seakan merasakan apa yang si kembar rasakan saat ini.
Aku mohon, sadarlah demi anak-anak. Mereka membutuhkanmu, Mas. Sweet menangis dalam hati.
***
Saat ini hanya Sweet dan kedua anaknya yang di perbolehkan masuk ke dalam ruang ICU. Untuk melihat kondisi Alex yang masih dalam masa kritis. Sedangkan keluarga yang lain hanya bisa melihat kondisi Alex dari balik kaca pembatas.
Hati Sweet begitu teriris saat melihat suaminya yang masih terbaring lemah di atas brankar. Dipenuhi berbagai alat pembantu di tubuhnya.
Sweet menghampiri Alex, menggenggam lembut tangan lemah Alex. Sweet menangis, tidak sanggup melihat kondisi lemah Alex seperti saat ini.
"Bangunlah, mereka ingin bertemu denganmu. Mereka masih membutuhkan didikanmu, Mas." Sweet mengecup punggung tangan Alex. Lalu beralih menatap kedua putranya yang masih berdiri, menatap Alex yang terbaring lemah.
"Mommy, kenapa Daddy tidak mau bangun? Apa Daddy marah pada kita?" tanya Arel memasang wajah sendu.
"Daddy sedang sakit," bisik Arez. Tatapannya tidak lepas dari Alex.
Dad, aku minta maaf. Batin Arez merasa bersalah atas semua sikap sebelumnya pada Alex.
"Naiklah, ajak Daddy kalian bicara." Sweet meminta Arel dan Arez naik ke atas kursi. Membiarkan mereka menemui Alex. Kedua anak itu menatap wajah Alex begitu seksama.
"Dad, kenapa tidak membuka mata?" tanya Arel sambil menyentuh pipi Alex. Berbeda dengan Arez, ia masih terdiam sambil terus menatap wajah pucat Alex. Memperhatikan alat-alat rumah sakit yang menempel pada tubuh Alex.
"Mom, kenapa Daddy tidak mendengarkan kita? Apa Daddy marah?" Arel terus bertanya. Membuat Sweet semakin bersedih dan tidak sanggup untuk menjawab.
"Dad, aku minta maaf." Ucap Arez mencoba meraih tangan besar Alex.
"Sekarang, aku tidak akan melarangmu untuk memelukku lagi." Arez menggenggam erat jemari Alex.
"Lihat, mereka ingin mendengar suaramu, Mas. Bangunlah untuk mereka. Aku sudah menepati janji untuk melahirkan anakmu. Jadi bangunlah, Mas. Kau juga berjanji untuk mencintaiku bukan? Aku ingin mendengar itu sekarang," ujar Sweet dengan segala sesak di dada.
"Maaf, Buk. Pasien tidak boleh terlalu lama berdekatan dengan orang luar. Kondisinya masih sangat rawan," ujar sang perawat yang sejak tadi mengawasi mereka. Kondisi Alex saat ini tidak memungkinkan untuk mereka berlama-lama di sana.
__ADS_1
Sweet mengangguk kecil. "Aku harus menemui putri kita, dia akan marah jika diabaikan. Cepatlah sadar, kami menunggumu." Sweet mengecup kening Alex. Dan kemudian dengan berat hati meninggalkan Alex bersama sang perawat. Membiarkan para dokter dan suster merawatnya dengan baik. Sweet hanya mampu mengawasinya dari luar. Dan memberikan doa terbaik untuk Alex.