
Hy semuanya.... apa kabar hari ini?
Awalnya aku pengen benget buat cerita khusus Alexella. Tapi banyak dari kalian yang minta buat ceritain semua anak-anak Alex dan Sweet. Jadi aku urungkan niat buat season 2. Dan memutuskan lanjut ceritanya disini. Terima kasih sebelumnya karena kalian sudah setia menunggu sampai detik ini.
Aku harap kalian tetap suka apa pun yang aku buat di cerita selanjutnya. Karena sebagai penulis, aku cuma bisa menuangkan apa yang ada dalam pikiranku. Suka atau pun tidak, itu kembali pada pembaca masing-masing. Karena aku tahu, gak selamanya karya kita diterima oleh semua pembaca.
Thsnks a lot ❤️
...🌷🌷🌷...
Semua orang saling berbisik dan berceloteh saat melihat dua bidadari cantik keluarga Digantara keluar dari dalam lift. Kini mereka pun menjadi pusat perhatian semua orang yang hadir. Kecantikan dua bidadari itu berhasil memikat semua mata yang memandang.
"Wow, kamu lihat itu. Keenam pangeran tampan sudah menunggu kehadiran kita. Ah, sungguh beruntung hidup kita. Dikelilingi para lelaki tampan. Meksi cintaku tetap tertuju untuk Winter seorang." Seru Alexa saat melihat enam pewaris perusahaan besar hadir di sana. Mereka tak lain adalah Arez, Arel, Jarvis, Winter, Lorenzo dan Laurenzi. Keenam lelaki itu terlihat begitu menawan dengan balutan tuxedo berwarna gading. Keenam lelaki itu cukup terkenal di kalangan kaum hawa. Karena masing-masing dari mereka memiliki pesona tersendiri.
Alexa mengedipkan mata pada kekasihnya. Winter Aron Winston, seorang billioner muda berwajah tampan. Lelaki itu tersenyum lebar saat melihat keberanian kekasihnya.
Berbeda dengan Alexella, gadis itu masih mempertahankan wajah datar dan dinginya. Seolah tak peduli dengan tatapan memuja kaum Adam yang hadir di sana.
Alexa maupun Alexella berjalan pasti menghampiri keenam lelaki tampan itu. Alexa yang sudah lama tak bertemu dengan sang kekasih pun langsung berhambur dalam pelukan lelaki berdarah kental California itu.
"I miss you, Darling." Ucap Alexa begitu manja.
"Miss you tou, Sweety." Balas Winter memberikan kecupan mesra di bibir kekasihnya.
"Iwh... kalian menodai mata kami." Ujar Lorenzo memalingkan wajahnya dari sepasang kekasih itu. Sedangkan yang lain cuma menggelengkan kepala.
Arez mengunci mata Alexella rapat-rapat, lalu menghampiri gadis itu. "Happy birth day, my little princess." Ucap Arez seraya mengecup kening adik kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa.
"Thank you, Kak." Balas Alexella.
Si tampan Arel pun tak mau kalah dari Kakaknya. Ia menghampiri Alexella dan memeluknya dengan erat.
"Wow, adik kecilku sudah dewasa huh? Happy birth day, my queen. Aku tak sabar untuk melihat pangeran berkuda mana yang mampu medobrak dinding es milikmu? Aku rasa lelaki itu sangat beruntung karena berhasil menaklukkan adik kecilku."
Alexella yang mendengar itu mendengus kesal. "Stop it! Lepaskan aku, semua orang menatap kita."
Arel pun menarik darinya dan tertawa renyah. "Kau benar-benar cantik, mengalahkan Kakak cerewetmu."
"Hey, aku mendengarnya." Seru Alexa tak terima dibicarakan.
"Apa kau tak terima aku mengataimu cerewet? Dasar mulut ember."
"Dasar playboy, lihat saja apa yang akan aku katakan pada Mom and Dad tentang apa yang sudah kau perbuat pada banyak wanita. Sudah berapa wanita yang kau tiduri dan kau campakkan huh?" Kesal Alexa tak terima dikatai mulut ember. Karena pada dasarnya mereka memiliki sifat yang sama. Sama-sama menyebalkan.
Arel yang mendengar itu tertawa sumbang. "Setidaknya aku lebih baik darimu, kau menyebalkan dan sering menbuat orang lain tuli karena ocehanmu."
"Arel! I hate you." Pekik Alexa melipat kedua tanganya di dada dengan bibir mengerucut. Winter yang melihat itu langsung merangkul Alexa, membujuk gadis itu agar tak tersulut emosi.
"Hentikan perdebatan konyol kalian. Ini hari bahagia Bibikku." Sanggah Lorenzo menarik Alexella dalam rengkuhannya. "Happy birth day, my little Aunty." Lelaki itu memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Auntynya. Hal itu sudah sering ia lakukan. Jadi tak ada lagi yang merasa aneh.
"Thank you, my little twins." Ucap Alexella membalas rengkuhan pemuda tampan itu.
"Aunty, kau tidak ingin memelukku?" Laurenzi memasang wajah sedih. Alexella yang melihat itu merentangkan tangan sebelahnya. Tanpa banyak berpikir, Laurenzi berhambur dalam pelukan Alexella. Si kembar memang sangat dekat dengan Alexella. Karena sejak kecil mereka sudah menjalin hubungan yang baik.
__ADS_1
"Happy birth day, aku punya hadiah sepesial. Tapi jangan bilang pada orang lain," bisiknya.
"Benda apa yang kau bawa kali ini, Enzi?"
"Hanya benda kecil, aku rasa kau akan menyukainya."
"Jangan membuatku sulit kali ini."
"Tidak akan, kau akan merasa senang."
Laurenzi melerai pelukanya dengan senyuman yang mengembang. Pemudan yang satu ini memang sering membuat ulah. Pernah sekali ia membawakan hadiah untuk Alexella. Namun hadiah yang lelaki itu bawa adalah kalung limitid edition yang akan diluncurkan sang Ayah. Alhasil Alexella harus terlibat dalam pertengkaran anak dan Ayah itu karena Bian harus mengalami kerugian besar.
"Ekhem." Arel berdeham dengan tatapan yang terpatri pada lelaki dengan wajah bak pahatan dewa yunani. Siapa lagi kalau bukan Jarvis. Lelaki itu masih bergeming di tempatnya sambil memegang segelas moctail. "Kau tak berniat mengucapkan selamat pada adikku?"
Jarvis mengulas senyuman tipis. "Aku rasa dia tak membutuhkan ucapan dariku, lihat saja tatapannya padaku seolah dia ingin melahapku."
Alexella memutar kedua bola matanya jengah mendengar itu.
"Hey Om, wajar jika Aunty menatapmu seperti itu. Kau lelaki tak peka." Ujar Lorenzo yang berhasil mendapat cubitan halus dari Alexella.
"What?" Jarvis menatap si kembar dan Alexella bingung.
"Cukup, ini sudah waktunya untuk memotong kue. Ayok adik kecil, kita harus segera menyelesaikan acara malam ini." Ajak Alexa membawa adiknya menuju tempat utama acara. Alexella membulatkan matanya saat melihat ukuran kue yang sangat besar.
"Apa ini, Kak? Buat apa kue sebesar ini?" Tanya Alexella dengan nada pelan.
"Jangan protes, Mommy yang mengatur semuanya. Siapa suruh dirimu menghilang saat rapat keluarga berlangsung."
Alexella memang sudah menjadi mahasiswi saat ini. Karena ia hanya menghabiskan masa SHS selama dua tahun. Gadis itu mengikuti jejak Kakanya, Arez. Yang hanya menghabiskan waktu dua tahun di SHS. Dan tiga tahun di bangku kuliah.
Tidak lama, Mommy dan Daddynya datang untuk membuka acara. Alex sang Daddy memberikan kata-kata sambutan pada semua tamu undangan. Kemudian acara itu berlanjut dan diakhiri dengan pemotongan kue.
Alexella memberikan potongan kue pertama pada kedua orang tuanya. Menyuapi mereka dengan penuh cinta. Semua orang pun memberikan tepuk tangan yang cukup meriah.
"Mommy mencintaimu, Honey." Ucap Sweet mengecup kedua pipi putrinya.
"Aku juga, Mom." Balas Alexella memeluk sang Mommy.
"Okay, karena acara potong kue sudah berakhir, saatnya kita berdansa khusus bagi pria dan wanita yang belum menikah. Anggap saja ini ajang pencarian jodoh. Aku punya kertas undian untuk kita semua." Ujar Alexa mengangkat dua buah cambung kaca ke udara. Satu untuk kaum hawa dan satu lagi untuk kaum Adam. Tentu saja apa yang ia lakukan mampu menarik perhatian semua orang.
Semua orang yang melihat itu saling berbisik karena bingung. Acara itu memang rencana Alexa sendiri. Tidak ada yang tahu apa yang sedang gadis itu rencanakan.
"Setiap orang mengambil satu kertas, kemudian cari pasangan kalian masing-masing yang angkanya sama dengan angka kalian. Ayok, ambil kertas kalian." Imbuh Alexa beranjak untuk membagikan kertas itu. Semua orang terlihat begitu antusias. Kecuali Alexella, gadis itu selalu dibuat jengah dengan sikap konyol Kakaknya.
"Adik kecil, kamu harus mengambilnya satu." Alexa menyodorkan cambung itu pada Alexella.
"No, thanks."
"Tidak ada penolakan, ambil sekarang atau aku akan menangis di sini."
Alexella berdecak kesal, dengan terpaksa ia mengambil salah satu kertas itu. Ia tahu betul Alexa itu tak pernah main-main dengan ancamannya.
"Aku menyayangimu." Ucap Alexa bergerak kembali menuju keenam lelaki tampan yang sejak tadi masih bergeming. "Ambil satu orang satu." Titahnya.
__ADS_1
"Aku tidak...."
"Ambil, atau aku akan loncat dari lantai atas." Ancamnya saat Arez ingin menolak perintahnya.
"Ambil saja, jangan sampai gadis ini membuat ulah lagi. Sudah cukup tragedi bunuh diri itu menghebohkan kota Berlin." Titah Arel mengambil satu kertas. Lalu Arez pun terpaksa mengambil juga. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana aksi bunuh diri Alexa saat dirinya menolak untuk ikut ke pesta Winter.
"Honey, jangan lakukan hal bodoh itu lagi." Pinta Winter seraya mengambil kertas undian.
"Tenang saja, itu cuma ancaman palsu." Bisik Alexa tersenyum jahil. Winter yang melihat itu cuma bisa menggeleng. Ia tak mengerti kenapa dirinya bisa mencintai gadis konyol itu. Bahkan pertemuan mereka juga terbilang unik.
Winter dan Alexa bertemu di sebuah hotel, saat itu Winter tengah melakukan perjalan bisnis. Namun ia tak pernah menyangka akan bertabrakan dengan gadis berpenampilan acak-acakan. Gadis itu tak lain adalah Alexa yang baru selesai mengerjai kembarannya yang tengah berbuat mesum di salah satu kamar hotel milik sang Daddy. Alexa tak ragu mengomeli Winter yang notabennya tak tahu apa-apa. Bahkan dengan berani gadis itu mengatai Winter lelaki hidung belang. Pertemuan itu masih membekas dikepala Winter.
"Semoga aku beruntung." Kata Laurenzi mengambil kertas undiannya.
"Aku harap pasanganku kali ini jodohku di masa depan." Lorenzo mengambil kertas undian dengan cepat. Berharap doanya akan terkabul. Alexa terkekeh geli melihat kelucuan ponakannya.
"Hey, ambil satu untukmu." Perintah Alexa pada lelaki bertubuh jangkung di hadapannya. Jarvis menatap Alexa sekilas, lalu mengambil benda itu dengan malas.
"Aku tidak akan berdansa jika pasanganku jelek." Ketus Jarvis kembali meneguk moctail. "Dan apa ini, bahkan aku tak menemukan minuman kesayangku di sini."
"Kau buat acara sendiri jika ingin bertemu dengan kekasihmu itu. Karena di mansion ini tak mengenal sejenis kekasihmu itu." Ketus Alexa beranjak pergi dari sana.
"Okay, semuanya sudah mendapat kertas masing-masing. Sekarang buka kertas kalian. Dan silakan berdiri sesuai urutan masing-masing." Perintah Alexa dengan semangat.
Alexella membuka kertas miliknya dengan tak semangat. Ternyata ia mendapat nomor dua belas. Gadis itu melipat kembali kertasnya dengan malas.
"Owh, sepertinya kali ini kita tak berjodoh Baby." Ucap Alexa saat nomor undian miliknya berbeda dengan milik sang kekasih.
"Hey nomor kita sama." Seru Laurezi pada Alexa. "Ck, aku pikir akan mendapat pasangan cantik, ternyata dapat gadis bawel sepertimu."
"Hey, berhenti mengoceh, kita nikmati saja permainannya. Ayok ikut denganku. Baby, selamat menikmati. Jangan coba-coba menggoda pasanganmu." Oceh Alexa menarik Laurenzi ke lantai dansa. Sedangkan Winter cuma bisa tersenyum geli.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?" Kata Arel menepuk pundak Winter.
"Dia berbeda dari gadis lain. Selain cantik, dia juga bisa menyenangkan hati keluargaku." Jawab Winter sambil menatap sang kekasih dari jarak jauh.
"Huh, cinta itu memang aneh."
"Berapa nomormu?" Tanya Winter pada Arel.
"Tiga puluh, kau?"
"Delapan."
"Ck, selamat bersenang-senang. Siapa tahu pasangan kali ini bisa kubawa ke atas ranjang." Ujar Arel bergegas pergi untuk mencari pasangannya.
"Berapa nomormu?" Tanya Jarvis pada Arez.
"Satu," sahut Arez dengan nada datar.
"Aku dua belas, siapa gadis beruntung yang bisa berdansa denganku? Aku sangat penasaran. Mari kita lihat siapa pasangan kita." Jarvis ikut beranjak menuju lantai dansa untuk melihat siapa pasangannya. Sedangkan Arez mengekor di belakangnya dengan ekspresi datar.
"Hey, kalian tega meninggalkanku?" Teriak Lorenzo mengikitu jejak yang lainnya. Para orang tua yang menyaksikan itu cuma bisa tersenyum dan menggeleng.
__ADS_1