Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 64


__ADS_3

Sweet memasuki ruang PICU, tempat di mana Alexa di rawat saat ini. Dokter mengatakan jika Alexa sudah siuman. Namun belum sepenuhnya sadar.


Sweet menatap Alexa yang sedang terlelap. Kondisinya saat ini jauh lebih baik dari pada Alex. Alexa hanya dibantu alat pernapasan dan sebuah infus terpasang di tangan kirinya.


Sweet menghampiri Alexa, mengecup kening putrinya dengan lembut. Perlahan Alexa membuka mata, menatap Sweet begitu seksama. Tidak ada respons apa pun, karena Alexa belum sadar betul. Ia masih dalam pengaruh obat bius.


"Terima kasih, sudah menjadi putri yang kuat untuk Mommy. Setelah ini, Lexa tidak akan merasakan sakit lagi. Dan bisa main dengan Kakak." Sweet tersenyum seraya mengusap pipi halus Alexa.


Alexa mengedipkan matanya, seakan ingin merespons perkataan Sweet. Namun, tubuhnya belum mampu melakukan itu. Sweet tersenyum, dan kembali mengecup kening Alexa.


"Sekarang Lexa tidur lagi ya? Supaya cepat sembuh dan bisa bermain lagi. Mommy sayang Lexa," lanjut Sweet. Ia merapikan selimut Alexa. Dan menunggu gadis itu tertidur.


Setelah menemani Alexa selama satu jam lebih, Sweet pun memutuskan untuk keluar. Karena Arez dan Arel tengah menunggunya di luar.


Semua orang sudah pulang, hanya tersisa Joshua, Nissa dan Arnold yang menemani Sweet.


"Mommy, Arel tidak mau pulang. Arel mau Daddy," rengek Arel saat Sweet ingin membawanya pulang.


"Sayang, Daddy masih tidur. Gak ada yang boleh ganggu. Sekarang kita pulang. Besok Arel balik lagi, jenguk Daddy ya?" Sweet berusaha membujuk Arel. Namun, anak itu menggeleng dan terus menolak ajakan Sweet untuk pulang. Membuat kepala Sweet semakin pusing.


"Arel, Mommy mohon. Jangan seperti ini, Mommy lelah. Kita pulang ya?"


"Enggak!" Arel berlari menghampiri Arez yang sedang melihat Alex dari balik kaca pembatas.


"Berikan mereka waktu sebentar, mungkin rasa rindu mereka belum terobati." Ujar Nissa.


"Mereka masih terlalu kecil untuk memahami semua ini," timpal Arnold.


"Kalau kamu capek, kamu bisa pulang. Biarkan anak-anak bersama kami." Tawar Nissa.


"Tidak, Mbak. Bagaimana jika Alexa terbangun dan mencariku?" ujar Sweet. Dengan tatapan tertuju pada Arez dan Arel yang masih berdiri di sana.


"Baiklah, tapi kamu harus makan. Sejak siang tadi belum makan. Jangan sampai kamu ikut sakit," kata Nissa mengusap punggung Sweet.


Sweet mengangguk, lalu matanya bergerak ke arah Joshua. "Josh, aku ke kantin sebentar."


Joshua mengangguk, ia cukup faham maksud dari perkataan Sweet. Yang meminta Joshua untuk menjaga anak-anak. Sweet pun langsung bergegas menuju kantin. Ia tidak ingin dirinya sakit, dan menambah situasi menjadi kacau.


Setelah mengisi perut, Sweet bergegas untuk mengisi imannya. Menghadap Sang Ilahi, dan bersimpuh di atas sajadah. Memanjatkan doa untuk kesembuhan Alex maupun Alexa. Tetesan demi tetesan air mata mulai membasahi mukena yang ia pakai. Sweet meluapkan segala aral dalam hatinya. Melepaskan sesak yang menghimpit dadanya. Mencurahkan segala isi hatinya pada Sang Maha Mendengar.


Setelah perasaannya lebih tenang, Sweet beranjak dari musala. Dan bergegas kembali ke ruang ICU. Berharap mendapatkan kabar baik tentang Alex.


Sweet melihat Nissa dan Arnold yang sedang berbincang dengan dokter. Lalu ia pun langsung menghampiri mereka.


"Ada apa, Mbak?" tanya Sweet pada Nissa.


"Kondisi Alex semakin melemah," jawab Nissa yang berhasil membuat jantung Sweet berdetak kencang. Sweet bergerak menghampiri sang dokter.


"Dokter, apa yang terjadi pada suami saya?" tanya Sweet yang belum puas dengan jawaban Nissa.


"Detak jantung pasien melemah, ini bisa disebabkan karena sebelum di lakukan operasi pasien dalam kondisi kurang baik."


"Lalu kenapa kalian lakukan operasi ini, huh? Bahkan tidak ada yang memberitahuku masalah ini," ujar Sweet merasa frustrasi.


"Maaf, Buk. Pasien terus mendesak kami untuk segera melakukan tindakan ini, beliau berkata jika putri kecilnya lebih berharga dari apa pun. Kami tidak bisa menolak, karena pasien sudah mengurus semua prosedur yang ada dan menyetujui surat perjanjian untuk tidak menuntut kami jika terjadi sesuatu."


Sweet yang mendengar itu langsung melempar pandangan pada Joshua. Lelaki itu menunduk, seakan faham dengan tatapan Sweet. Sweet bergerak cepat, menghampiri Joshua. Mendorong lelaki itu dengan kasar.


"Kenapa kau membantunya? Kau tahu seperti apa kondisinya, bukan? Kenapa kau lakukan itu, Josh?" Sweet terus melempar kekesalannya pada Joshua. Lelaki itu membiarkan Sweet menghajarnya.

__ADS_1


Nissa dan Arnold tidak mampu melakukan apa pun. Mereka hanya bisa menyaksikan semua itu. Sedangkan dokter yang menangani Alex sudah kembali ke dalam. Nissa mendekap si kembar dengan erat.


"Nyonya, selama ini Tuan terus menyimpan perasaan bersalah pada Anda. Tuan hanya ingin memberikan kebahagiaan untuk Anda, yaitu melalui Alexa."


Sweet terhenyak atas apa ungkapan yang Joshua berikan. Dan berhenti memukul lelaki itu.


"Tuan selalu berpikir, jika semua ini merupakan buah dari dosa yang telah ia perbuat terhadap Nyonya dan anak-anak." Lanjut Joshua.


Sweet menggeleng kuat, tidak terima dengan pemikiran Alex.


"Kau sangat bodoh, bagaimana bisa aku bahagia?" Sweet menangis dan kembali memukul dada bidang Joshua. Hatinya semakin sakit mendengar semua itu.


Tuan, kau harus bertahan. Anda harus melihat sendiri, betapa rapuhnya wanita yang selama ini Anda rindukan. Batin Joshua penuh harap.


"Josh, apa yang terjadi selama ini? Bagaimana dia bisa memiliki luka yang begitu parah, apa saja yang terjadi padanya belakangan ini? Katakan padaku, Josh." Sweet menatap Joshua penuh harap. Ia ingin segera tahu apa yang telah terjadi pada suaminya selama ini. Bagaimana bisa Alex terluka separah ini? Bahkan penembakan terhadap Alex terjadi empat tahun lalu. Lalu hal apa yang membuatnya terluka?


Joshua mengangguk, menyetujui permintaan Sweet. Bagaimana pun, Sweet harus mengetahui segala kebenaran yang belum ia ketahui. Bahkan apa yang Gerald ceritakan belum seberapa.


***


"Apa yang kau dapat?" tanya Joshua saat melihat Gerald sudah kembali.


Setelah berhasil membawa Alex ke rumah sakit, Gerald mengerahkan anak buahnya untuk mencari sang pelaku.


"Mereka berhasil kabur, tapi aku tahu siapa mereka. Mereka berasal dari kamp yang sama. Seperti yang aku katakan, mereka tidak akan melepaskannya begitu saja. Karena Alex memiliki pengaruh besar terhadap kelompok mereka."


Joshua mengeratkan rahangnya. Ia merasa dipermainkan kali ini.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Gerald.


"Kondisinya masih kritis, dokter mengatakan jika kemungkinan besar Tuan akan mengalami koma. Ia terlalu banyak kehilangan darah dan beberapa alat vitalnya rusak parah. Aku harap Tuan mampu bertahan," jelas Joshua. Gerald mengusap wajahnya dengan kasar.


Tidak ada yang tahu, jika Gerald adalah salah satu pemegang kekuatan terbesar di dunia hitam. Lelaki itu begitu piawai dalam menyembunyikan identitasnya. Hanya Alex dan Joshua yang tahu siapa dirinya yang asli.


Gerald bergerak untuk melihat kondisi Alex saat ini. Dari balik kaca, ia bisa melihat keadaan sahabatnya yang begitu memprihatinkan. Hampir seluruh tubuh Alex di penuhi alat bantu rumah sakit.


"Aku berjanji, akan membalas mereka semua. Untuk masalah istrimu, serahkan padaku. Aku akan terus mengawasi mereka," gumamnya.


"Josh, blokir semua informasi untuk kejadian hari ini. Jangan sampai bocor pada orang yang salah."


Joshua mengangguk, "saya harus pergi. Tolong jaga Tuan dengan baik."


"Jangan khawatir, aku akan mengawasinya." Gerald beranjak menuju kursi. Menjatuhkan dirinya di sana. Sedangkan Joshua langsung bergegas pergi untuk mengurus semua masalah yang ada.


Waktu berjalan begitu cepat, hari terus berganti. Bulan demi bulan berlalu dengan singkat. Namun tidak ada perkembangan dalam diri Alex. Lelaki itu masih bertahan dalam keadaan tak sadar. Seakan enggan untuk membuka mata, atau sekadar menggerakkan anggota tubuhnya.


"Satu tahun, kau masih terus berbaring di sana? Apa kau tidak lelah?" tanya Gerald tersenyum sinis.


Tidak berapa lama, Joshua masuk membawa sebuket bunga mawar putih. Lelaki itu memang sangat rajin membawa bunga. Belum sempat bunga mawar itu layu, sudah berganti dengan yang baru.


"Kau tidak bosan melakukan hal yang sama?" tanya Gerald.


"Tidak, aku berharap Tuan segera sadar dan melihat mawar ini. Bunga ini ibaratkan harapan kita, tak akan pernah layu."


Gerald tersenyum kecut mendengar kata-kata bijak Joshua. Sedangkan Joshua bergerak untuk mengganti bunga yang hampir layu dengan yang baru.


"Duduklah, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Gerald beralih menuju sofa. Diikuti oleh Joshua.


"Ada apa?" tanya Joshua tampak serius.

__ADS_1


"Aku mendengar kabar, jika wanita itu melahirkan anak kembar."


"Siapa?" tanya Joshua bingung. Selama Alex sakit, ia tidak pernah mencari informasi apa pun. Ia begitu pokus merawat tuannya. Meski ia di bantu oleh Milan maupun Mala.


"Ck, siapa lagi jika bukan Nyonyamu. Dia sudah melahirkan lima bulan yang lalu," ujar Gerald.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan informasi itu, bukankah semua informasinya lenyap begitu saja?" tanya Joshua heran.


"Cih, bukan aku namanya jika tidak bisa mengorek informasi seseorang." Gerald berkata dengan begitu angkuh.


"Baiklah, aku percaya padamu. Lalu bagaimana keadaan mereka saat ini?" tanya Joshua menatap Gerald serius.


"Aku tidak tahu pasti, yang aku dengar mereka sering berpindah kota. Aku tidak tahu pasti di mana mereka saat ini. Sepertinya wanita itu benar-benar marah, menutup segala informasi untuk suaminya sendiri. Dan ada seseorang yang menutup informasi tentang Alex. Bahkan dia tidak tahu, jika suaminya sedang sekarat." Gerald melirik Alex yang masih terbaring lemah. Ia percaya lelaki itu bisa mendengar percakapannya.


Joshua bisa membaca arah tujuan Gerald bicara. Mereka memiliki harapan yang sama, berharap Alex segera sadar.


"Apa kau tahu Josh? Wanita yang sudah melupakan suaminya, akan sangat mudah mendapat pengganti yang baru." Gerald sedikit meninggikan suaranya.


"Aku rasa, Nyonya tidak akan melakukan itu. Tuan akan sadar, dan segera menjemputnya. Lalu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya," timpal Joshua. Lalu mereka pun tertawa bersama.


Memang benar, Alex bisa mendengar semua itu. Di bawa alam sadarnya, Alex terus berusaha untuk bangun dan mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, ia tidak mampu melakukan itu semua. Semua itu di luar kendalinya.


Gerald dan Joshua pun bergerak menghampiri Alex. Menatap lelaki itu begitu iba.


"Lihat, dia terlihat begitu lemah. Bagaimana mungkin dia mampu melindungi anak-anaknya. Bahkan bergerak saja tidak mampu," ledek Gerald.


"Ah, sekarang kau harus sadar diri. Jika dirimu sudah tua, Lex. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu." Gerald mengeluarkan ponselnya.


"Kau lihat, dalam sekali cetak kau bisa menghasilkan tiga anak. Mereka terlihat tampan dan cantik, apa kau melihatnya?" tanya Gerald menunjukkan foto tiga bayi mungil pada Alex.


"Dalam waktu dekat anak -anakmu akan tumbuh besar dan memanggilmu Daddy. Apa kau tidak ingin mendengarnya?" Gerald terus memprovokasi Alex. Berharap lelaki itu benar-benar sadar. Kemudian Gerald kembali menggeser layar ponselnya.


"Satu lagi, aku menyimpan gambar istrimu. Lihat, dia menangis sendirian. Sangat menyedihkan, bukan? Mungkin dia berpikir kau tidak peduli padanya." Harapan Gerald cukup besar.


"Ya tuhan," pekik Joshua saat melihat pergerakan dari tubuh Alex. Gerald yang mendengar itu langsung menatap Joshua.


"Tuan bergerak," ucap Joshua memasang wajah senang.


"Berusahalah lebih keras, istri dan ketiga anakmu masih membutuhkanmu. Jangan biarkan orang lain menggantikan posisimu," ujar Gerald mengusap pundak Alex.


Benar saja, Alex kembali bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan. Joshua dan Gerald yang melihat itu semua langsung tertawa.


Dokter yang baru saja masuk merasa heran melihat mereka. "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Ah, kebetulan kau datang. Dia sudah sadar," ujar Gerald dengan santai. Sang dokter pun merasa kaget mendengarnya. Bahkan ia hampir tidak percaya dengan perkataan Gerald. Hingga ia pun membuktikannya sendiri, memeriksa kondisi Alex saat ini.


"Oh god, dia benar-benar sadar. Semuanya tampak normal," puji sang dokter masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bahkan ia pernah mendiagnosa jika Alex tidak akan selamat. Kondisi Alex tidak memungkinkan untuk sembuh. Namun Tuhan memiliki kehendak lain.


"Apa kau pernah jatuh cinta, Dok?" tanya Gerald.


"Aku tidak percaya cinta," jawab dr. Michael.


"Sekarang kau harus percaya itu, aku hanya menunjukkan foto istri dan anaknya. Lalu dia pun terbangun dari tidur panjangnya."


"Mustahil," sahut dr. Michael. Gerald yang mendengar itu tertawa riang.


"Kau harus membuktikan itu sendiri, cobalah jatuh cinta. Kau akan merasakan kekuatan abadi," timpal Gerald. Joshua yang mendengar itu hanya dapat tersenyum.


"Hantikan omong kosongmu, pergilah dari sini. Aku akan menanganinya," Kesal dr. Michael. Satu tahun lamanya, ia bisa mengenal dengan baik kedua lelaki itu. Usia mereka memang tidak jauh berbeda, membuatnya tidak sulit untuk bergaul.

__ADS_1


Gerald dan Joshua itu langsung beranjak ke luar. Membiarkan dokter itu menangani Alex.


__ADS_2