
"Tuan, ini berkas mengenai informasi lengkap orang tua Nyonya dan juga berhubungan dengan kecelakaan sabotase tiga puluh tahun lalu. Saya rasa data ini cukup detail dan akurat," ujar Joshua memberikan sebuah dokumen rahasia pada Alex. Lelaki berwajah dingin ini mulai membuka hasil penyelidikan anak buahnya.
Ekspresi Alex berubah seketika saat melihat isi dari berkas tersebut, matanya memerah dengan napas yang tak beraturan. Dengan kasar ia memukulkan tangannya di atas meja. Menimbulkan suara yang begitu nyaring.
"Jangan biarkan satu orang pun lari dari cengkraman kita. Awasi mereka, lakukan serangan kecil tanpa jejak. Peringatkan juga keluarga Santonio yang tidak tahu malu itu, mereka masih saja meremehkanku. Cepat atau lambat, mereka akan memanen hasilnya." Alex mengeratkan rahangnya.
"Tuan, bagaimana dengan keluarga Nyonya?" tanya Joshua dengan hati-hati.
"Lakukan introgasi secara menyeluruh, tekan mereka hingga berbicara jujur. Aku tidak akan melepaskan satu orang pun yang terlibat dalam pembunuhan dua orang berharga dalam hidupku," ujar Alex penuh penekanan.
"Baik, Tuan." Jawab Joshua tegas. Lelaki itu pun langsung pergi meninggalkan ruangan Alex.
"Ana, siapa kau sebenarnya? Apa mungkin kau juga memiliki rencana jahat? Dulu kau begitu membenciku, namun dengan mudahnya kau menerimaku. Apa yang kau rencanakan sebenarnya?" Alex mengeluarkan sebuah kalung berlian dari dalam saku jas miliknya. Mengangkat benda itu ke udara dan menatapnya penuh intimidasi. Setelah merasa puas, benda itu pun ia masukkan kembali ke dalam saku.
Alex memejamkan matanya. Memikirkan semua itu membuat kepalanya hampir pecah. Disatu sisi, ia ingin mempercayai wanita itu sepenuhnya. Namun di sisi lain, kebenaran tentang kematian orang tuanya sangat bersangkutan erat dengan keluarga Sweet. Alex belum menemukan titik terang mengenai kejadian beberapa puluh tahun lalu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Sudah dipastikan jika mobil yang di kendarai mereka disabotase. Sampai saat ini, belum dapat dipastikan siapa dalang utamanya.
Alex kembali ke mansion cukup larut, tidak ada lagi yang menyambutnya pulang. Keadaannya sangat berantakan, rambut yang semrawut, jas yang ia pakai seharian kini sudah tersampir di lengannya.
Suasana mansion cukup sepi dan tidak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan. Alex yakin jika Sweet juga sudah tertidur. Lalu ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar. Benar saja, Sweet sudah terlelap dengan posisi membelakangi dirinya.
Lelaki itu bergerak untuk mendekati sang istri, duduk di bibir ranjang. Tangannya ikut bergerak untuk mengusap kepala sang istri. Hingga sebuah kecupan hangat pun ia hadiahi untuk Sweet.
"Aku tidak ingin kau pergi dari sisiku, Ana. Katakan padaku jika kau tidak ikut alih dalam rencana jahat keluargamu. Agar aku bisa mempertahankan dirimu untuk terus berada di sampingku. Tapi... Jika kau termasuk dalam rencana ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Alex ikut berbaring, memeluk istrinya dari arah belakang. Merasa terganggu, Sweet pun terbangun dari tidurnya. Matanya bergerak turun menuju lengan Alex yang memeluk erat perut rampingnya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Sweet dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Alex tidak menjawab, ia diam sambil menikmati aroma manis dari rambut Sweet. Matanya terpejam seakan menikmati kebersamaan mereka.
"Sudah makan malam?" tanya Sweet lagi tanpa merubah posisi. Posisi saat ini cukup nyaman untuknya.
Lagi-lagi Alex tidak menjawab, ia semakin mengeratkan pelukkannya. Membuat Sweet bingung harus berbuat apa?
__ADS_1
"Apa alasanmu ingin kembali ke Indonesia bersama wanita cacat itu?" tanya Alex. Sweet terdiam sesaat. Pertanyaan Alex membuatnya merasa waswas.
"Namanya Grace, bukan wanita cacat. Aku merindukan Ibu dan Bapak," jawab Sweet jujur. Mendengar jawaban Sweet, Alex kembali membisu.
"Apa sudah ada kabar tentang mereka?" tanya Sweet seraya memutar tubuhnya menghadap Alex. Menatap wajah tampan lelaki itu lamat-lamat. "Aku sangat merindukan mereka."
Perlahan Alex membuka kelopak matanya, menangkap netra bulat miliki sang istri. "Belum," jawabnya singkat.
Terlihat raut kecewa di wajah Sweet, ia sedikit menunduk lesu. "Aku harap mereka baik-baik saja."
Tentu, mereka aman di tanganku. Sebelum kasus ini selesai, aku tidak akan melepaskan satu orang pun yang terlibat dalam pembunuhan orang tuaku Ana. Termasuk dirimu. Batin Alex.
Alex menarik lembut dagu sang istri, lalu mengunci rapat kedua netra coklat itu dengan penuh perasaan. "Apa kau mencintaiku?"
Pertanyaan yang Alex lontarkan membuat jantung Sweet seakan loncat keluar. Sebuah pertanyaan yang selalu ingin ia hindari.
"A... Aku tidak tahu." Sweet menjawab dengan cepat dan masih sedikit ragu. Belum sepenuhnya ia menyadari atas perasaannya sendiri. Kemudian Alex pun memberikan kecupan hangat di bibir Sweet. Membuat pipi Sweet merona. Padahal, sudah sangat sering Alex melakukan hal itu padanya.
"Panggil aku dengan sebutan yang mesra, aku ingin hubungan kita normal layaknya pasangan suami istri. Mulai saat ini, panggil aku Sayang atau Mas. Aku ingin mendengar itu dari bibirmu yang manis, Sayang."
"Ck, aku lapar." Sweet mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia merasa canggung dan tidak terbiasa membahas masalah hubungan.
"Aku lapar, Sayang. Seharusnya kau mengatakan itu, Sayang." Alex mulai berani menggoda istrinya. Membuat rona merah di pipi Sweet semakin terlihat jelas.
"Sudahlah," ucap Sweet melepaskan diri dari Alex. Bisa-bisa ia mati kepalang dalam dekapan lelaki tampan seperti Alex. Sweet menuruni ranjang dan berjalan cepat ke luar kamar. Alex yang menyaksikan itu hanya tersenyum simpul. Hingga akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri dari perasaan lelah setelah bekerja.
Sweet berada di ruang makan, menyiapkan makan malam untuk suaminya. Tidak perlu lama, semua hidangan sudah tertata rapih di atas meja. Karena ia hanya menghangatkan lauk yang ia masak sore tadi.
"Sweet, kamu belum tidur?"
Sweet terlonjak kaget saat tiba-tiba Nissa ada di belakangnya.
"Maaf, membuatmu kaget." Nissa melihat ke atas meja makan. Lalu seulas senyuman terbit dari bibirnya. "Alex sudah pulang?"
__ADS_1
Sweet mengangguk sebagai jawaban.
"Kak, kenapa kau belum tidur?" suara bariton itu membuat keduanya menoleh bersamaan. Di mana Alex berjalan santai menuju meja makan, lelaki itu terlihat lebih segar. Bisa di lihat dari rambutnya yang masih basah dan pakaian tidur yang begitu pas di tubuh kekarnya. Jika diperhatikan, baju tidur Alex hampir mirip dengan yang Sweet pakai. Sepertinya Alex sengaja membeli pakaian couple tanpa sepengetahuan Sweet.
Apa-apaan ini? Kenapa pakaiannya begitu mirip dengan yang aku pakai? Pikir Sweet.
"Dika terbangun dan minta minum, kebetulan air di kamar habis. Jadi aku ingin mengambil air minum, lanjutkan makan malam kalian." Nissa pun langsung bergerak untuk mengambil air minum. Setelah itu ia pun langsung meninggalkan pasangan baru itu untuk kembali bermesraan. Seperti itu lah yang Nissa pikirkan.
"Kenapa kau belum makan? Ini sudah larut malam." Alex menatap tajam Sweet yang sedang menyendok nasi ke dalam piringnya.
"Menunggu seseorang yang menghilang tanpa kabar," sahut Sweet dengan santai. Mendengar itu, Alex menghela napas berat.
"Maaf, aku terlalu sibuk bekerja." Alex mengubah tatapannya menjadi lembut.
"Makanlah, sebelum makannya dingin." Sweet ikut duduk di sebelah Alex. Sejak tadi perutnya terus berontak ingin diisi.
"Lain kali, tidak perlu menungguku. Makanlah, aku tidak mau kau sakit."
Sweet mengangguk kecil, lalu mulai menikmati hidangan yang ia masak sendiri. Alex terus memperhatikan Sweet yang begitu lahap. Perasaan senang meluap-luap dalam hatinya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sweet yang menyadari sejak tadi Alex tidak memulai makannya, ia menghentikan aktivitasnya. "Kenapa cuma dilihat, apa tidak enak?"
Alex tersenyum sambil menggelengkan kepala, "melihatmu makan dengan lahap membuatku kenyang."
"Hentikan itu, makanlah." Sweet terlihat kesal karena Alex terus saja menggodanya. Dan kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti karena Alex.
Setelah selesai makan malam, Sweet memutuskan untuk tidur kembali. Berhubung malam semakin larut dan rasa lelahnya yang belum redam.
"Langsung tidur? Tidak ingin melakukan sesuatu lebih dulu?" tanya Alex ikut masuk dalam selimut. Namun ia tidak mendapatkan respon dari sang istri.
"Sayang, tidak ingin mengulangi aktivitas malam kemarin?"
"Tidak," sahut Sweet dengan cepat. Alex tersenyum geli mendengarnya. Lalu ia pun memeluk mesra tubuh mungil sang istri. Kemudian ikut memejamkan mata, menyusul Sweet untuk masuk ke alam mimpi yang indah.
__ADS_1