
Alexella menggigit ujung bibir saat memasuki mansion keluarganya. Ia takut orang tuanya juga tak menerima kehadiran janin itu. Karena sejak awal Sweet maupun Alex memintanya untuk menunda kehamilan sampai usianya benar-benar matang. Namun semua ini bukan keinginannya juga. Bahkan Alexella masih tak percaya dirinya benar-benar hamil.
"Xella, Jarvis?" Sapa Sweet saat melihat sepasang suami istri itu. Wanita paruh baya itu bergerak cepat menghampiri putrinya. Lalu memberikan pelukan hangat. Sudah seminggu lebih Alexella tak pulang ke mansion. Tentu saja ia merindukan putri bungsunya itu.
"I miss you, Mom." Ucap Alexella membalas pelukan itu dengan erat.
"Miss you to, Sayang. Jika merindukan Mommy, kenapa tidak datang setiap hari huh?"
"I am sorry, Mom." Alexella menangis dalam dekapan Sweet. Dan itu berhasil membuat sang Mommy kaget.
"Ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Sweet bingung dan langsung menatap Jarvis untuk meminta jawaban.
"Mom, Xella harus istirahat. Dia baru keluar dari rumah sakit." Ujar Jarvis yang berhasil membuat Sweet kaget dan segera melepas pelukannya.
"Rumah sakit? Kamu sakit?" Sweet meneliti wajah pucat putrinya. "Kamu pucat, Sayang. Ada apa ini, Jarvis?" Sweet mengalihkan pandangan pada menantunya.
"Sebenarnya...."
"Mom, aku baik-baik saja. Aku ingin istirahat." Alexella sengaja memotong ucapan suaminya. Ia belum siap bicara jujur. Jarvis memicingkan matanya pada sang istri.
Sweet menatap keduanya bingung. "Ada apa huh? Kenapa kalian sangat aneh?"
"Mom, aku ingin ke kemar." Pinta Alexella memelas.
Sweet menghela napas dalam. "Baiklah, bawa Xella ke kamarnya Jarvis. Biarkan dia istirahat."
"Ya, Mom." Sahut Jarvis seraya merengkuh pundak istrinya. Lalu membawa wanita itu menuju lantai atas.
"Kenapa kau menyembunyikannya dari Mommy, Xella?" Tanya Jarvis saat keduanya berada di dalam lift. Namun wanita itu masih diam.
"Xella."
"Berikan aku waktu Jarvis." Diwaktu bersamaan pintu lift pun terbuka. Alexella keluar dari sana dengan langkah cepat. Jarvis menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Kemudian menyusul sang istri.
Jarvis menatap Alexella yang kini tengah meringkuk dalam keadaan menangis. "Baby."
"Aku tak ingin membunuhnya, Jarvis. Aku tidak ingin." Lirih Alexella dengan punggung yang bergetar. Jarvis yang melihat itu merasa bersalah. Ia tak pernah melihat Alexella selemah ini sebelumnya.
Jarvis duduk di sisi sang istri. Tangannya terulur untuk menyentuh bahu Alexella. "Aku tak akan memintamu untuk membunuhnya lagi, Xella. Maafkan aku."
Alexella yang mendengar itu langsung berbalik. Menatap Jarvis sendu. "Berjanjilah."
"Ya, aku berjanji." Jarvis mengusap jejak air mata di pipi sang istri. "Berhenti menangis. Dokter bilang kau tidak boleh terlalu stres dan lelah. Tidurlah."
Alexella menggenggam tangan Jarvis dengan erat. Menatap wajah suaminya itu begitu dalam.
"Ada apa?" Tanya Jarvis mengunci pandangan istrinya. Alexella menggeleng pelan.
"Tidurlah, aku juga harus pergi." Imbuh Jarvis yang kemudian memberikan kecupan hangat di kening istrinya.
__ADS_1
"Jarvis, kau sudah sepakat untuk tidak menyentuh wanita lain setelah kita menikah." Ujar Alexella menatap suaminya lamat-lamat.
"Aku harus ke kantor, Daddy akan memarahiku karena sudah sering bolos. Aku selalu memegang janjiku, Xella."
Alexella terdiam mendengar itu. Dan itu membuat Jarvis serba salah. "Okay, aku akan segera pulang setelah urusanku dk kantor selesai. Promise."
"Aku tidak ingin kembali ke tempatmu, kau membawa j*l*ng itu ke kamar kita, Jarvis."
Jarvis mengerut bingung. "Apa yang kau maksud itu Nessa?"
"Nessa?"
"Ya, dia adik tiriku. Namanya Vanessa. Orang yang aku jemput dibandara kemarin. Dia datang dari Las Vegas. Kami sudah lama tak berjumpa. Karena itu aku membawanya ke apartemen karena aku pikir dia bisa menjadi temanmu, dan aku lupa kau bukan teman yang baik. Bahkan kau menghajarnya sampai babak belur."
"Adik? Kenapa aku tak pernah mendengar kau punya adik?"
"Daddy tidak terlalu menyukainya. Dulu dia sempat tinggal bersamaku. Itu tidak lama, hanya satu tahun. Setelah itu Mommy menjemputnya." Jelas Jarvis.
"Apa dia wanita yang ada dalam foto itu?" Tanya Alexella penasaran.
"Hm."
"Sorry, aku tidak tahu itu. Aku marah karena dia berada di kamar kita." Alexella memberikan tatapan bersalah.
"It's okay, dia sudah terbiasa melakukan itu. Tapi dia anak yang baik. Aku menyayanginya."
Alexella mengangguk pelan.
"Hah?" Alexella tampak kaget mendengar itu.
"Ya, kita akan tinggan di mansion. Daddy terus mendesakku untuk membawamu segera. Tapi aku memutuskan untuk membawamu ke sana setelah resepsi. Aku harap kau tidak keberatan." Ujar Jarvis menatap istrinya penuh harap.
"Aku akan ikut keputusanmu." Sahut Alexella yang berhasil mengembangkan senyuman di bibir Jarvis.
"Kalau begitu aku pergi dulu, istirahat dengan baik."
"Ya."
Jarvis hendak bangun dari posisinya. Namun Alexella lebih dulu menarik tangannya. Jarvis memberikan tatapan bingung pada wanita itu. "Ada apa?"
"Tidak ada." Jawab Alexella dengan cepat. Sebenarnya ia ingin meninta Jarvis mencium perutnya. Namun ia takut Jarvis marah. Alexella tahu Jarvis belum sepenuhnya menerima anak itu.
"Kau sangat aneh." Jarvis bangun dari posisinya dan langsung beranjak pergi dari sana. Alexella merasa kecewa karena lelaki itu sama sekali tak memahami keinginannya.
Setelah kepergian Jarvis, Alexella memejamkan matanya karena rasa pusing kembali menyerang. Mungkin dengan tidur pening dikepalanya akan redam.
****
Sabrina terlihat berlari kecil menuju apartemen sahabatnya, Deena. Sudah sangat lama ia tak berjumpa wanita itu. Dengan senyuman yang mengembang, Sabrina menekan bel pintu. Menunggu pemilik apartemen membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, pintu itu terbuka dan menampakkan Deena dengan wajah bantalnya. Sabrina pun langsung berhambur dalam dekapan wanita itu.
"Sab, kenapa kau datang pagi-pagi buta?" Kesal Deena.
Sabrina menarik diri. "Pagi-pagi buta kau bilang? Ini sudah hampir siang, De. Kau begadang lagi huh?"
"Ck, masuklah. Aku benar-benar mengantuk." Deena menarik Sabrina masuk ke dalam dan menutup pintu dengan kasar. Lalu keduanya pun beranjak menuju kamar Deena.
"Aku merindukanmu, De." Rengek Sabrina seraya menjatuhkan bokongnya di ranjang.
"Hm, aku juga." Sahut Deena kembali berbaring dan memeluk bantal gulingnya. Sabrina yang melihat itu mendengus kesal. Lalu memukul Deena dengan bantal. "Apa yang kau lakukan malam tadi huh?"
"Yang jelas bukan menjerit dibawah kukungan lelaki." Sahut Deena yang lebih mirip sindiran yang ditujukan untuk Sabrina. Sedangkan yang disindir malah tertawa renyah.
"Aku berbuat mesum juga dengan suamiku, De. Oh iya, kau kemana saja huh? Aku merindukanmu tahu?"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, kau kemana saja selama ini? Bahkan kau mengganti sandi apartemenmu. Menyebalkan." Jawab Deena memasang wajah sebal.
Sabrina menghela napas berat. "Kau tahu kan suamiku itu sangat posessif, dia yang mengganti passwordnya. Aku juga tidak tahu kapan dia melakukan itu. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu." Sabrina mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu menyodorkan benda itu pada Deena
Deena bangun dari tidurnya dan langsung menyambar benda itu dari tangan Sabrina. "Kartu undangan?"
"Hm." Sabrian mengangguk antusias. "Jangan lupa datang."
"Kamis ini? Itu artinya beberapa hari lagi?"
Lagi-lagi Sabrina mengangguk antusias.
"Jadi ceritanya sekarang kau resmi menjadi Nyonya Digantara huh?"
"Yap, siapa suruh kau menghilang sejak lama. Padahal banyak hal yang belum sempat aku katakan padamu." Ujar Sabrina ikut berbaring.
"Bukan aku yang menghilang, kau yang terlalu sibuk dengan suamimu itu. Sampai lupa padaku. Hampir satu bulan kita tidak bertemu kau tahu itu?" Kesal Deena melempar bantal tepat di wajah Sabrina.
"Maafkan aku, De. Kau juga sangat sulit dihubungi, membuatku cemas saja. Oh iya, minggu lalu aku ke kampus dan melihatmu pergi dengan seseorang. Siapa dia? Jangan bilang kekasihmu kan?"
Deena tersenyum kikuk. "Anggap saja begitu, aku baru mengenalnya dua minggu yang lalu."
"Wah, pantas saja kau lupa padaku kan? Ternyata sudah ada mainan baru. Siapa namanya? Seprtinya dia orang kaya raya. Mobilnya sangat mewah." Sabrina menatap sahabatnya dengan mata berbinar.
"Rahasia, kau akan tahu pada waktunya." Sahut Deena tersenyum samar.
"Ck, jadi sekarang sudah ada rahasia di antara kita? Baiklah." Sabrina menyebikkan bibirnya. Deena tertawa renyah melihat itu.
"Bukan begitu, dia bukan orang yang suka diketahui banyak orang. Sudah aku katakan, kau akan tahu pada waktunya. Bersabarlah." Jelas Deena diiringi dengan senyuman manis.
"Baiklah, aku akan menunggumu bercerita." Pasrah Sabrina.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu selama ini, Sab? Aku tak ingin kau melewatkan sedikit cerita pun. Cepat berceritalah." Pinta Deena mendekatkan diri pada Sabrina.
__ADS_1
"Okay." Sabrina pun mulai menceritakan beberapa poin besar perjalanan hidupnya akhir-akhir ini. Begitu pun sebaliknya. Kedua wanita itu terus berceloteh ria yang diselingi tawa, seolah dunia ini hanya milik mereka.