Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (2)


__ADS_3

Lucas menarik Eveline ke kamarnya. Lalu mendorong wanita itu sampai punggungnya membentur dinding.


"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan, Luc?" Geram Eveline.


Lucas terlihat mengeratkan rahangnya. "Kau sengaja ingin membuatku cemburu huh?" Mengukung tubuh gadis itu rapat-rapat.


Eveline tidak mau kalah, ia juga melayangkan tatapan tak bersahabat pada sepupunya itu. "Cemburu? Memangnya kau siapa, Luc?"


Mendengar itu amarah Lucas semakin membuncah. Dengan kasar ia mendaratkan ciuman di bibir Eveline. Ia melakukan itu dengan kasar dan menuntut. Seolah tengah meluapkan amarahnya.


Eveline terus memberontak dan berusaha mendorong lelaki itu, tetapi tenaganya kalau jauh. Apa lagi sekarang Lucas mengunci kedua tangannya di atas kepala.


Napas Eveline memburu saat Lucas menyudahi ciumannya. Matanya juga memerah karena amarah. "Brengsek!"


"Jangan pernah menolakku, Eve. Kau hanya milikku."


"Siapa yang milikmu? Lepaskan aku, atau aku akan berteriak."


"Lakukanlah, aku senang jika mereka melihat apa yang sedang kita lakukan sekarang."


Mata Eveline melotot dan kembali mengumpati Lucas. "Dasar gila."


Bukannya terhina, Lucas malah tersenyum miring. "Ya, aku gila karena kau, Eve." Lelaki itu juga mengecup leher Eveline, dan menggigitnya pelan. Membuat sang empu meringis.


"Aku tidak peduli berapa lelaki yang kau pacari, yang jelas kau hanya milikku, Eve. Aku akan pastikan kau menjadi milikku." Lucas semakin gencar mencumbui leher Eveline. Mencipatakan mahakaryanya di sana.


Karena emosi, Eveline menendang aset berharga Lucas. Membuat sang pemilik ambruk dan meringis kesakitan. "Akhh... sialan kau, Eve."


"Kau pantas mendapatkannya, Luc. Kau juga harus ingat, aku tidak akan pernah sudi menjadi milikmu. Jadi berhenti menggangguku." Kecam Eveline yang langsung beranjak pergi dari kamar Lucas.


Seketika Lucas berteriak frustrasi. Ia benar-benar marah saat ini.


Arrgghh! Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini, Eve. Kau akan menjadi milikku. Lucas tertawa sendiri.


Sedangkan Eveline terus berlari ke kemarnya. Mengunci pintu rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang sangking takutnya. Eveline menangis sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu berlari menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin. "Kau memang brengsek, Luc. Aku membencimu."


****


Eveline terlihat sedang menerima panggilan dari seseorang. Gadis cantik itu terus menuruni anak tangga. Ia terlihat sangat rapi dan sepertinya akan pergi.

__ADS_1


"Iya, aku akan ke sana sekarang. Jangan cemas." Ujarnya seraya menyelipkan rambut di sela telinga.


"Mau kemana?" Tanya Sabrina saat melihat penampilan putrinya.


Eveline mengakhiri panggilan, kemudian memusatkan perhatian pada sang Mommy.


"Ada pemotretan, Mom."


Ya, Eveline merupakan seorang model yang namanya sudah hampir mendunia. Tentu saja semua itu atas kerja kerasnya, juga karena latar belakangnya sebagai keturunan keluarga Digantara.


"Malam-malam seperti ini?"


Eveline mengangguk. "Besok jadwalku lumayan padat. Aku tidak akan lama, Mom."


Sabrina menghela napas panjang. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Apa Summer ikut denganmu?"


"Tidak, Mom. Dia juga sedang sibuk di kantornya. Aku pergi dulu. Love you, Mom." Eveline mencium kedua pipi Sabrina. Kemudian bergegas pergi meninggalkan Mansion.


Di kamar atas, Lucas tersenyum penuh arti setelah melihat mobil gadis pujaan hatinya meninggalkan kediaman. "Sampai bertemu lagi, sayang."


Tidak butuh waktu lama Eveline sebuah tiba studio mewah. Seorang lelaki gemulai menghampirinya. Kemudian menarik Eveline ke ruang make up.


Eveline memutar bola matanya jengah, lalu masuk ke ruang ganti. Tidak perlu lama gadis cantik itu sudah keluar. Kemudian duduk di kursi cantik.


"Kau ini sehari tidak terlambat tidak bisa ya? Aku lelah terus di marahi oleh si brengek Willy." Lelaki gemulai bernama Cassy itu terus mengomel. Namun, Eveline terlihat santai seolah sudah biasa mendengarnya.


Lima belas menit kemudian....


"Oh, kau sangat cantik, Baby. Aku rasa Willy akan memujiku kali ini."


"Hm." Eveline bangkit dan langsung keluar. Kemudian berlalu menuju ruang pemotretan.


"Wow, Eve. Kau selalu membuatku terpukau." Puji Willy sang fotogarfer.


Eveline sama sekali tidak terpengaruh, ia langsung duduk di posisinya. Kemudian mulai bergaya. Willy yang melihat itu pun tersenyum geli. Dan tanpa menunggu lagi ia langsung menunjukkan bakatnya. Mengambil beberapa gambar pose Eveline.


Dua jam selanjutnya pemotretan pun selesai. Terlihat jelas rasa lelah di wajahnya yang cantik.


"Cas, tolong belikan aku minuman dingin." Pintanya pada sang asisten sekaligus MUA-nya itu.

__ADS_1


"Okay, cantik." Lelaki gemulai itu pun langsung beranjak pergi. Sedangkan Eveline beranjak menuju privat room miliknya. Ia menjatuhkan diri di atas sofa, lalu memijat pelipisnya karena kepalanya agak pusing.


Entah kenapa ia kembali mengingat kejadian sore tadi. Di mana Lucas kembali melecehkan dirinya. Eveline ingin mengadukan hal itu pada keluarganya. Hanya saja ia tidak ingin ada perpecahan di antara keluarganya. Ia tahu betul seperti apa sang Daddy jika sedang marah. Itu sangat mengerikan.


"Oh God. Kenapa aku bisa memiliki sepupu sepertinya?"


Eveline terdiam beberapa saat. Sebelum dirinya berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian, Eveline keluar dari ruangannya menuju ruang editor.


"Bagaimana hasilnya?" Tanyanya pada sang fotogarfer, Willy.


"Good job. Kau memang yang terbaik, Eve. Bos memberikan pujian puas pada kita." Jawab Willy tersenyum ramah.


"Syukurlah." Jawab Eveline masih dengan wajah datar seperti biasanya. Ia duduk di sebelah sang editor, sembari memperhatikan lelaki itu bekerja. Sesekali Eveline juga memberikan komentar. Ya, ia memang sering melakukan itu.


"Oh iya, Eve. Kemarin sepupumu datang ke sini. Dia menanyakan keberadaanmu." Ujar Willy yang berhasil membuat Eveline kaget. Namun, dalam hitungan detik ekspresinya kembali seperti semula.


"Jangan hiraukan dia."


Willy menatap Eveline penuh selidik. "Aku rasa sepupumu itu agak aneh, Eve. Apa kalian punya hubungan khusus?"


Eveline melirik Willy sekilas, kemudian mengalihkan atensinya kembali pada layar monitor. "Dia hanya sepupuku."


Willy tersenyum geli. Ia tahu gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu. Beberapa tahun mengenal Eveline, ia sangat mengerti perangainya. Eveline merupakan orang yang tertutup. Bahkan media saja kesulitan mengorek kehidupan pribadi gadis itu meski sudah berbagai cara yang mereka lakukan. Sepertinya keluarga Digantara memang selalu menutup diri dari media.


Tidak lama dari itu Cassy pun sudah kembali dengan beberapa minuman di tangannya. "Hai, aku belikan kalian minuman."


"Wah, thank you, Cas."


"You are welcome. Ini milikmu, Tuan putri." Lelaki gemulai itu memberikan minuman khusus kepada Eveline.


"Thanks." Ucap Evelien menerimanya dan langsung meminumnya.


"Agak ke kiri." Komentarnya pada sang editor.


Cukup lama Eveline berada di ruangan itu sebelum memutuskan untuk pulang karena malam semakin larut.


Dengan langkah gontai gadis itu mendekati mobil mewah miliknya. Namun, belum sempat membuka pintu. Seseorang berpakaian serba hitam lebih dulu membekap mulutnya dari arah belakang. Sontak Eveline memberontak dan berusaha berteriak. Namun, tubuhnya melemas perlahan. Sampai ia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dengan cepat orang asing itu memasukan Eveline ke bangku penumpang. Lalu dirinya mengambil alih kemudi. Dan mobil aston martin berwarna merah itu melesat cepat meninggalkan studio.


__ADS_2