Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (8)


__ADS_3

Eveline mengumpat dalam hati sangking kesalnya. Bagaimana dirinya bisa kabur jika Lucas mengajaknya jalan-jalan menggunakan jalur udara? Ya, saat ini mereka berada di helikopter di mana Lucas sendiri yang menjadi pilotnya. Tentu saja Eveline kesal setengah mati. Rencananya gagal sudah.


"Aku ingin kau selalu mengingat semua kenangan kita, Eve. Sejak dulu aku ingin membawamu terbang bersamaku." Oceh Lucas karena pada dasarnya lelaki itu memang cerewet. Dan kecerewetan itu hanya akan ditunjukan pada orang spesial tentunya.


Eveline cuma melirik lelaki itu sekilas dan tak berniat menanggapi.


"Maaf jika sebelumnya aku kasar padamu, Eve." Lucas masih belum menyerah. Dan Eveline masih saja diam.


Lucas membuat mode hovering. Lalu ditatapnya Eveline yang masih diam. "Aku tahu kau kecewa. Tapi tolong, berikan kesempatan untukku."


Eveline menoleh. "Aku tidak bisa. Aku mencintai Summer, Luc."


Lucas memejamkan matanya. Lalu dibukanya perlahan. "Dia bukan laki-laki baik."


"Lalu apa bedanya denganmu huh?"


Lucas mengusap wajahnya dengan kasar. "Okay, mulai sekarang aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Eve."


Eveline kembali bungkam.


"Aku tidak peduli soal penolakannmu. Suatu saat nanti kau pasti akan mencintaiku. Dan hari ini akan menjadi kenangan terindah kita." Lucas kembali menjalankan helikopternya. Memutari kota Berlin tanpa ada yang terlewat.


Bohong jika Eveline tidak menyukai suasana saat ini. Tentu saja ia menyukainya, di atas sana ia bisa melihat penampakan kota dengan jelas. Bahkan ia menerka-nerka di mana mansionya berada. Sangking asiknya ia lupa jika saat ini dirinya adalah seorang tahanan Lucas.


"Aku senang kau menikmatinya." Ucap Lucas kembali mendatarkan ekspresi Eveline.


"Kita akan keliling sampai kau puas." Lucas tersenyum begitu menawan. Lalu melajukan helikopternya ke arah pantai.


Saat ini mereka berada di atas laut. Lagi-lagi Eveline terkesiap saat melihat beberapa kapal di bawah sana membentuk sebuah formasi bertuliskan i love you. Eveline mentapa Lucas tidak percaya.


"Aku mencintaimu, Eve. Apa pun akan aku lakukan untuk bisa memilikimu. Meski aku harus mati sekali pun."


Eveline mendengus sebal.


Lucas tersenyum lagi. "I love you."


Eveline memalingkan wajahnya. Seakan tidak peduli dengan apa yang Lucas ucapkan.


"Kau tidak ingin membalasnya?"


"Aku ingin pulang, Luc." Kali ini Eveline memberikan tatapan serius. "Aku rindu rumah."


Lucas terdiam.


"Luc."


"Tidak untuk sekarang."


"Kau egois, Luc."

__ADS_1


"Ya, kau benar. Sedari dulu aku memang seperti ini."


Eveline sangat kesal dan rasanya ingin menghajar lelaki egois itu jika saja mereka ada di bawah. "Kau... brengsek."


Lucas tertawa renyah. "Kau tahu, wajahmu sangat menggemaskan saat sedang marah."


Eveline berdecih. dan lagi-lagi Lucas tertawa puas. Ia sangat bahagia karena bisa membuat gadis pujaan hatinya kesal setengah mati.


****


"Kemana putriku, Al?" Sabrina terus memeluk suaminya dengan perasaan cemas.


"Dia baik-baik saja, percayalah." Arez mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Bagaimana aku bisa percaya, tidak ada yang bisa menemukan keberadaannya. Bahkan kau saja tidak bisa menemukannya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Eveline? Aku tidak bisa membayangkan itu, Al. Dia putriku satu-satunya."


"Dia juga putriku, jangan lupakan itu."


"Kalau begitu cari kemana pun, Al. Bagaimana mungkin kau tidak bisa menemukannya. Kembalikan putriku." Sabrina terus memukuli dada suaminya.


"Aku akan membawanya kembali."


"Secepatnya, Al."


"Hm." Arez memejamkan matanya. "Aku akan membawanya kembali tanpa terluka sedikit pun."


"Aku percaya padamu, Al." Sabrina terus menangis dalam dekapan suaminya.


Eveline terkejut saat melihat pemandangan indah itu. Bagaimana tidak, seluruh kota terlihat dari sana. Selama ini Eveline tidak pernah tahu ada spot seindah ini. Mungkin karena dirinya terlalu lama di negara orang dan sibuk bekerja.


Seulas senyuman tipis terbit di bibir Eveline. Entah kenapa ia malah mengingat kenangannya dengan Summer saat di London dulu. Lelaki itu selalu saja membuatnya bahagia dan nyaman. Dulu, Summer juga pernah membawa Eveline ke sebuah tempat yang cukup indah. Dan memeluknya penuh cinta. Eveline masih ingat itu. Kehangatan yang Summer berikan masih membekas dalam ingatannya.


Dua buah tangan kekar kini melingkar sempurna di perut Eveline. Siapa lagi kalau bukan Lucas. Lelaki itu memeluk si gadis pujaan hati dengan penuh cinta.


"Terima kasih, Summer." Ucap Eveline tanpa sadar. Sontak Lucas pun kaget dan langsung melepaskan pelukannya.


Eveline pun tersetak kaget dan langsung berbalik. Ia baru sadar apa yang diucapkannya beberapa saat lalu. "Luc."


Rahang Lucas mengeras. Bahkan terlihat jelas kilatan amarah dimatanya. "Bahkan kau menyebut nama orang lain saat kita cuma berdua, Eve."


Eveline menghela napas pendek. "Apa aku salah? Dia kekasihku. Aku mengingat kenangan bersamanya. Dia laki-laki baik yang lebih mementingkan kebahagianku. Tidak seperti dirimu. Kau egois dan ingin menang sendiri. Aku membencimu, Luc."


Lucas memejamkan matanya. Lalu membukanya perlahan. Eveline yang melihat itu mundur beberapa langkah.


"Kau hanya boleh menyebut namaku, Eve." Lucas terus melangkah maju. Dan Eveline terus melangkah mundur. Gadis itu tidak sadar jika satu langkah lagi mungkin dirinya akan langsung terjatuh.


Lucas tersenyum. "Kita lihat siapa yang akan kau sebut kali ini?"


Eveline mengerut bingung dan kembali mundur. Alhasil Eveline terpeleset. "Lucas!"

__ADS_1


Dan dengan sigap Lucas menarik tangannya. Jantung Eveline berdegup kencang karena kaget sekaligus ketakutan. Tanpa sadar Eveline langsung memeluk Lucas.


"Bawa aku menjauh dari sini, Luc." Mohon Eveline dengan tubuh bergetar karena takut. Bahkan kakinya lemas saat ini.


Oh God! Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya jatuh ke bawah sana.


Lucas tersenyum puas. "Baiklah." Dengan sekali gerakan Lucas menggendong Eveline. Ia bisa melihat wajah pucat gadisnya itu.


"Lain kali kau harus lebih hati-hati, sayang. Bagaimana jika aku tidak ada tadi huh?"


Eveline memukul dada Lucas. "Aku juga hampir jatuh karenamu, Luc."


"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan?" Lucas tersenyum geli.


"Kau memang brengsek, Luc."


Lucas tertawa renyah. "Kau tidak akan terjatuh jika berhati-hati." Sebuah kecupan mendarat di bibir Eveline. Sontak sang empu memekik kesal.


"Lucas!" Eveline terus memukuli Lucas. Andai saja kakinya tidak lemas, ia pasti sudah lari dari lelaki itu. Sialnya keberuntungan selalu tak berpihak padanya.


"Luc." Panggil Eveline saat mereka berada di dalam lift.


"Hm." Lucas terlihat memasang wajah datar.


"Turunkan aku."


"Tidak, aku tahu kakimu masih gemetar."


Eveline menghela napas berat. "Aku merindukan Mommy, Luc."


"Kita akan pulang, tapi tidak sekarang. Di luar sana sedang tidak aman."


"Apa maksudmu, Luc?"


Lucas tidak menjawab. Dan itu membuat Eveline penasaran. Namun, ia enggan bertanya lebih jauh.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, Lucas pun langsung membawa Eveline ke apartemennya. Menidurkan gadis itu di pembaringan.


Lucas mengecup kening Eveline. "Tidurlah. Aku tahu kau lelah."


Eveline menatap Lucas begitu dalam. "Kenapa kau begitu mencintaiku, Luc?"


"Karena kau cantik." Jawab Lucas apa adanya.


"Jawaban tak masuk akal." Ketus Eveline menarik selimut dan langsung tidur. Lucas yang melihat itu tersenyum lucu. "Selamat malam, princess."


Tidak lama dari itu terdengar suara dengkuran halus gadis itu. Sepertinya Eveline benar-benar lelah hari ini.

__ADS_1


Lucas mengusap pipi halus Eveline dengan lembut. "Aku mencintaimu, Eve. Jangan pernah pergi dariku." Sekali lagi ia menghadiahi kecupan di kening Eveline. Setelah itu ia pun beranjak pergi.


__ADS_2