
Gabriel menuntun Rhea untuk duduk di kursi, lalu mengambil air minum. Rhea memijat pangkal hidungnya, kepalanya terasa pening dan berat. Bahkan tubuhnya sangat lemas sekarang.
"Rhe, kau baik-baik saja kan?" Tanya Sky memberikan tatapan cemas padanya.
Rhea mendongak, lalu tersenyum. "Entahlah, Mom. Mungkin karena tadi kehujanan."
Tidak lama Gabriel pun muncul membawa segelas air hangat dan minyak kayu putih. "Minum dulu, Sayang."
Rhea menerima gelas itu dan langsung meneguk isinya sedikit, lalu memberikannya lagi pada Gabriel. "Terima kasih."
Gabrile menaruh gelas itu di meja washtafle, lalu mengolesi perut Rhea dengan minyak kayu putih.
Sky menatap Rhea lekat. "Apa jangan-jangan kamu hamil, Rhe?"
Mendengar itu keduanya pun langsung menatap Sky. Setelahnya mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
"Hamil?" Seulas senyuman terbit dibibir Gabriel. Ia tak bisa membayangkan sebahagia apa jika Rhea benar-benar hamil dalam waktu yang cukup cepat.
"Sebaiknya kau bawa Rhea ke rumah sakit untuk memastikan, Gab." Saran Sky yang langsung dijawab anggukkan oleh Gabriel.
Setelah hujan sedikit reda, Gabriel langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit. Dan betapa bahagianya ia karena Rhea benar-benar hamil. Usia kandungannya baru dua minggu. Gabriel terus mengucapkan syukur karena benihnya tumbuh begitu cepat. Mungkin kehadirannya memang takdir tuhan sabagai obat atas kehilangan sang grandma.
Sekembalinya ke mansion, Rhea berbaring di tempat tidur karena rasa pusingnya tak kunjung hilang. Gabriel yang duduk disampingnya pun merasa iba, ditariknya selimut sebatas dada sang istri. "Istirahatlah, dokter bilang kau harus banyak istirahat. Jangan terlalu stres, kau dengar tadi kan?"
Rhea tersenyum. "Iya, Sayang." Jawabnya lalu memejamkan mata. Gabriel mengecup keningnya dengan mesra. Lalu mengusap kepala istrinya yang sedikit panas, Rhea benar-benar demam.
"Sepertinya karena kena hujan tadi, Sayang. Kamu jadi demam begini," ucap Gabriel menatap istrinya iba.
Rhea membuka matanya lagi. "Badanku rasanya sakit semua, Gab." Keluhnya yang kemudian memeluk pinggang Gabriel manja.
"Sabar, Sayang. Mungkin efek obatnya belum bereaksi." Gabriel megusap lengan istrinya dengan lembut.
"Peluk aku." Rhea merengek seperti anak kecil. Tentu saja Gabriel menurutinya dan ikut berbaring untuk memeluk istri manjanya itu.
"Aku tidak tahu kau akan semanja ini saat sakit." Bisiknya kemudian.
Rhea semakin mengeratkan pelukannya, bahkan membenamkan wajahnya di dada sang suami.
Selang beberapa menit, Rhea benar-benar tertidur karena mulai terdengar suara dengkuran halusnya.
Gabriel terus mengecupi pucuk kepala istrinya dengan tatapan lurus ke depan.
Ya Tuhan, terima kasih atas kebahagiaan ini. Kau memberi kami kabar baik setelah duka. Dan untukmu Grandma, hal yang kau tunggu benar-banar terjadi sekarang. Istriku hamil. Kami akan segara memiliki anak. Batin Gabriel dalam hati. Tanpa sadar air matanya menitik, antara sedih dan bahagia menjadi satu.
Di tempat lain, Marvel datang ke apartemennya dengan pakaian yang masih sedikit basah. Tentu saja Emilia kaget melihatnya. Marvel menatapnya sekilas, kemudian berlalu ke kamarnya begitu saja. Tentu saja Emilia kebingungan. Pasalnya setelah beberapa hari ia tinggal di sana, ini pertama kalinya Marvel datang dengan keadaan berantakan. Biasanya lelaki itu selalu berpakain rapi dan elegan. Emilia mengedikkan bahuny, setelah itu beranjak dari sana.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Emilia membawakan susu hangat dan cemilan untuk Marvel. Dengan ragu ia mengetuk pintu kamar lelaki itu. Ingin memastikan lelaki itu baik-baik saja. Bagaimana pun ia tahu rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang dicintai.
Tidak lama pintu pun terbuka, memperlihatkan Marvel yang sudah berganti pakaian santai dengan rambut yang masih basah. Dan itu membuatnya semakin terlihat tampan.
Melihat itu Emilia mendadak gugup dan tak berani menatap wajah Marvel secara langsung. "Ummm... aku membutkan susu hangat untukmu." Katanya sambil menunduk.
Marvel menatapnya tanpa memberikan respon. Dan itu membuat Emilia penasaran dan langsung mendongak.
Cesss!
Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Namun, Emilia langsung tersadar dan memutuskan pandangannya cepat-cepat. "Aku turut berduka cita soal Nenekmu."
Marvel mengangguk. Lalu mengambil nampan itu dari tangan Emilia. "Lain kali tidak perlu repot. Aku bisa melakukannya sendiri." Setelah mengatakan itu ia langsung menutup pintu tanpa mengucapkan kata terima kasih. Dan itu membuat Emilia tekesiap.
Detik berikutnya Emilia terlihat kesal. "Dasar pria arogan, setidaknya ucapkan kata terima kasih meski kau tidak senang. Keterlalun, tidak bisa apa menghargai kerja keras orang lain?" Gumamnya penuh kekesalan. Setelah itu ia pun bergegas pergi dari sana.
Keesokan hari, Emilia terlambat bangun karena tadi malam luka jahitannya kembali menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Mungkin karena kemarin ia terlalu banyak bergerak.
Sekarang, perutnya juga terasa perih karena lapar. Ia melihat ke samping, ternyata Noah sudah tidak ada di tempat tidur. Sepertinya anak itu sudah bangun. Dengan malas Emilia bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi.
Usai membersihkan diri, Emilia beranjak ke luar dari kamar karena perutnya semakin bergemuruh minta diisi. Sesampainya di ruang makan, ia terkejut karena Marvel dan putranya ternyata masih di sana.
"Mami!" Seru Noah tersenyum begitu manis. Anak itu tengah menikmati roti coklatnya dengan lahap. Bahkan mulutnya sampai belepotan coklat. Emilia tersenyum geli melihatnya.
Emilia menoleh ke arah Marvel, lalu tersenyum. "Morning." Sapanya dengan ramah. Sayangnya lelaki itu tak menggubrisnya. Emilia tidak ingin ambil pusing soal itu. Diambilnya sehelai roti dan langsung melahapnya.
Hingga Marvel pun angkat bicara. "Aku akan membawa Noah ke hadapan keluargaku."
Mendengar itu spontan Emilia pun menoleh karena kaget. "Ke__keluargamu?" Gugupnya.
Marvel menatapnya datar. "Dia berhak tahu siapa keluarganya."
Emilia tampak gelisah. Bagaimana jika mereka menolak putranya?
"A__ku...."
"Aku tidak butuh pendapatmu." Sela Marvel.
Emilia menatap Marvel kesal. "Tapi aku ibunya, bagaimana jika mereka menolak Noah?" Semburnya.
"Aku juga tidak butuh pendapat mereka, mereka hanya perlu tahu, jika dia putraku." Tegas Marvel.
Emilia menggigit bibirnya seraya memilin jemarinya. Ia masih tak yakin keluarga ningrat itu akan menerima putranya, yang notabennya lahir dari rahim orang biasa yang tak punya apa-apa sepertinya. Ditambah ketakutannya akan Eveline yang kemungkinan besar akan murka saat tahu dirinya lah yang sudah membunuh janin itu. Violet pernah mengatakan padanya jika Eveline tidak diberi tahu soal itu.
Bagaimana jika Eveline melampiaskan semuanya pada Noah? Tidak, Emilia tidak mau itu terjadi. Sudah cukup ia hampir kehilangan putranya.
__ADS_1
Melihat kecemasan di wajah wanita itu, Marvel menghela napas pelan. "Keluargaku tidak seperti yang kau pikirkan."
Emilia memejamkan matanya sejenak. Kemudian kembali menatap Marvel. "Bagaimana jika aku tidak setuju?"
"Sudah aku katakan, aku tak butuh pendapatmu."
Emilia bangkit dari duduknya dengan tatapan nyalang. "Tapi dia putraku juga! Bagaimana bisa kau melakukan itu seenaknya? Aku yang memutuskan untuk melahirkan dan membesarkannya. Kau tidak tahu betapa sulitnya membesarkan seorang anak sendirian. Mungkin kau tidak akan berpikir sampai sana karena kau punya segalanya. Sedangkan aku, hanya wanita tak berdaya yang butuh kerja keras untuk membuatnya bahagia. Dan sekarang kau mengatakan tak butuh pendapatku?" Ujarnya sarkasme. Matanya mulai berkabut sangking emosinya. Bahkan perutnya terasa sakit sekarang.
"Aku Ibunya." Imbuhnya mulai menangis. "Aku berhak memberikan keputusan atas putraku. Kau tidak bisa membawanya." Setelah mengatakan itu Emilia langsung membawa putranya ke kamar. Ia benar-benar tak mau wajah Noah diketahui publik terutama keluarga ningrat itu.
Marvel mengusap wajahnya dengan lembut. Ia tidak pernah menyangka wanita itu mudah sekali marah.
Emilia mendudukkan diri di atas ranjang bersama Noah yang masih dalam pelukannya. Lalu mendesis kecil karena bekas operasinya kembali meradang. Namun ia seolah mengabaikan rasa itu.
"Maafkan Mami, Sayang. Mami belum bisa jadi Ibu yang sempurna." Dikecupnya pucuk kepala Noah begitu dalam. "Jangan pernah tinggalkan Mami lagi ya?"
Noah mendongak, lalu ditatapnya wajah sembab Emilia lamat-lamat. "Mami jangan nangis." Katanya seraya mengusap jejak air mata sang Mami dengan lembut.
Emilia menggeleng kecil yang diiringi senyuman tulus. "Mami tidak nangis, Sayang. Cuma kelilipan."
"Papa jahat ya Mami?" Tanyanya dengan wajah polos yang begitu menggemaskan.
Emilia tersenyum geli. "Papa sama sakali tidak jahat, Sayang. Mami cuma kelilipan tadi." Jawabnya sembari mengusap sisa air matanya.
Noah menatapnya lekat. Dan itu membuat Emilia merasa bersalah. Ia menghela napas berat. "Dengarkan Mami, Sayang. Papa sama sekali tidak jahat. Tadi kami hanya bertengkar kecil saja. Sama seperti Noah dan John." Jelasnya.
John sendiri merupakan anak tetangganya di Swiss yang kebetulan seumuran dengan Noah. Keduanya tidak pernah akur karena sama-sama nakal.
Noah memasang wajah kesal. "Aku tidak suka John. Dia nakal."
Emilia tertawa renyah, "bukankah kamu juga nakal hem?" Ditoelnya hidung mancung anak itu gemas.
Noah tersenyum. "Aku tidak nakal, Mami."
"Oh ya? Terus, siapa dong yang sering merusak taman Mami?" Goda Emilia. Spontan Noah pun tertawa geli.
"Itu John, Mami."
"Benarkah?" Noah pun semakin tergelak karena Emilia menggelitiknya. "Anak nakal, sudah salah masih menyalahkan orang lain."
"Sorry, Mami." Dipeluknya Emilia dengan mesra. "Aku sayang, Mami."
Emilia tersenyum bahagia. "Mami juga, Sayang. Kamu itu satu-satunya hidup, Mami." Kecupan demi kecupan ia hadiahkan untuk putra kecilnya itu. Rasa takut pun kembali menyelimuti hatinya. Takut jika Marvel merebut Noah dari tangannya.
Mami tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu, Sayang. Mami akan melakukan segala cara agar kita terus bersama. Maaf jika Mami memisahkanmu dari Papa kandungmu, karena itu yang terbaik untuk kita berdua. Batin Emilia. Dikecupnya lagi sang putra penuh cinta.
__ADS_1