Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (91)


__ADS_3

Warning! Area 21+ | Harap bijak dalam membaca.


...****...


Emilia yang tengah memilih pakaian di kamar ganti pun terhenyak karena tiba-tiba Marvel memeluknya dari belakang. Bahkan sebuah kecupan lembut mendarat di pundaknya yang polos karena saat ini Emilia hanya mengenakan sehelai handuk.


Emilia hendak berbalik, sayangnya Marvel tak mengizinkannya. Kini pandangan keduanya pun bertemu lewat cermin besar di depannya.


Dengan sengaja Marvel menghirup rambut istrinya yang masih agak basah. "Kau sengaja ingin menggodaku, hem?"


Emilia mendelik lalu berusaha melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu. "Kau yang datang sendiri, aku ingin mencari pakaian. Lepaskan."


Marvel tersenyum miring. "Kau lebih menarik saat tak memakai apa pun."


"Brengsek!" Emilia mengumpat sangking kesalnya. "Lepaskan aku."


Alih-alih melepaskan, Marvel justru semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghirup aroma sabun dari kulit mulus istrinya yang begitu memabukkan.


Emilia tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan pasrah. Percuma memberontakpun, Marvel tak akan melepaskannya. Apa lagi saat ini lelaki itu memiliki hak penuh atas dirinya.


Sebuah d*s*h*n kecil pun lolos dari bibir mungilnya karena Marvel menciptakan tanda kepemilikan di lehernya.


Marvel pun membisikkan sesuatu. "Kau tahu? Aku selalu bermimpi punya anak banyak."


Mata Emilia membulat. "Apa yang kau katakan?"


"Lahirkan banyak anak untukku, Emilia. Selucu Noah." Kini tangan lelaki itu mulai bergerak nakal. Dan dengan sekali tarikan ia berhasil menanggalkan kain terakhir yang menempel di tubuh istrinya.


Emilia terhenyak saat melihat tubuhnya sendiri dari cermin, wajahnya perlahan bersemu sangking malunya. Ini pertama kalinya ia polos di depan lelaki secara sadar dan sehat. Ia juga berusaha menutupi aset berharganya.


"Biarkan aku melihatnya." Bisik Marvel lagi seraya menjauhkan tangan Emilia yang menutupi pandangannya.


Emilia menunduk malu, tetapi tak bisa menahan sensasinya saat Marvel mulai memberi sentuhan demi sentuhan yang memabukkan, membuat otaknya mulai tak waras. Ia menutup mata saat Marvel kembali mengecupi lehernya.


Suhu ruangan di sana mulai terasa panas. Marvel menyentuh lembut bekas jahitan di perut Emilia. Spontan Emilia membuka mata.


"Apa masih sakit?" Tanyanya. Emilia mengangguk, terkadang bekas lukanya itu masih menimbulkan nyeri.


Marvel membalik tubuh istrinya, ditatapnya wajah cantik Emilia lamat-lamat. Begitu pun sebaliknya.


"Kenapa kau menikahiku, Marvel?" Emilia mentap dalam netra suaminya. "Harusnya kau menikahi wanita berpendidikan dengan karier yang bagus. Setara denganmu, bukan aku."

__ADS_1


Marvel tidak menyahut.


"Marvel?" Emilia menuntut jawaban.


"Dirimu yang aku inginkan, jadi jangan bertanya lagi." Jawab lelaki itu datar.


Emilia semakin memperdalam tatapannya. "Tapi kenapa? Tidak masuk akal jika Noah alasannya. Kau punya segalanya, bahkan bisa mendapatkan istri yang lebih baik dariku. Aku__aku merasa tak pantas, aku tak punya apa-apa untuk kau banggakan."


"Sudah aku katakan jangan bertanya lagi. Aku tak butuh apa apun darimu, yang aku inginkan kau tetap berdiri di sampingku apa pun yang terjadi." Marvel menarik tengkuk istrinya dan langsung membungkam mulut cerewet itu.


Emilia kaget, juga tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran suaminya itu. Namun, ia tak ingin ambil pusing. Karena saat ini Marvel miliknya, benar-benar menjadi miliknya. Jadi ia tak akan menyiakan itu.


Kedua tangannya ia kalungkan di leher sang suami, lalu membalas ciuman itu tak kalah intens. Tentu saja Marvel kesenangan karena mendapat respons yang baik.


Marvel mengangkat tubuh Emilia, lalu menggendongannya seperti anak kecil. Tanpa melepaskan ciuman mereka tentunya. Kini posisi mereka sangat pas untuk bercinta. Sayangnya Marvel masih mengenakan pakaian lengkap.


Marvel membawa wanita itu ke tempat tidur dan membaringkannya di sana. Terlihat jelas kegugupan di wajah Emilia saat Marvel melepas pakaiannya sendiri. Bahkan wanita itu hampir memekik kaget saat melihat benda pusaka suaminya yang sudah berdiri tegak dan ukurannya berhasil membuat Emilia menelan air liur.


Ya Tuhan. Besar sekali, pantas dulu aku sampai sulit berjalan. Pikirnya dalam hati.


Marvel merangkak naik ke atas pembaringan dan kembali mencumbu istrinya. Emilia pun hanya pasrah dan menikmatinya. Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut mereka saat keduanya saling memberikan sentuhan kenikmatan satu sama lain.


Emilia sampai menahan napas saat benda pusaka itu sesekali menggesek lembah kenikmatannya.


Emilia menitikkan air matanya karena rasanya sangat perih dan penuh di bawah sana, tetapi sedikit ada sensasi nikmat.


"Sial! Kau menjepitku, Emilia." Umpat Marvel saat merasakan miliknya dipijat kuat. Sensasi nikmat dan sakit menjadi satu. Milik Emilia terasa seperti perawan. Nikmat dan legit.


Pelan tapi pasti, Marvel mulai bergerak maju mundur. Bibir mereka pun kembali menyatu, saling membelitkan lidah dan bertukar saliva.


"Ahhh...." d*s*h*n kecil keluar dari bibir Emilia saat ciuman mereka berakhir. Matanya merem melek, mencoba menikmati tumbukan demi tumbukan yang suaminya berikan. Perlakuan lembut Marvel membuat Emilia seolah melayang ke udara. Suara penyatuan dan erangan mereka pun memenuhi seisi kamar. Membuat suasana semakin memanas.


Emilia memeluk Marvel saat dirinya hampir mendapat pelepasan. "Marvel... ahhh."


Marvel mempercepat gerakkannya, membuat Emilia semakin menggila karena sedikit lagi akan meledak.


"Ohhhhh....." Emilia melenguh panjang dengan tubuh menggelepar saat mendapat pelepasan pertama yang begitu dahsyat. Untuk pertama kalinya ia merasakan sensasi nikmat yang tak bisa diutarakan oleh kata-kata selain dengan d*s*h*n.


Marvel berhenti sejenak lalu mengecup bibir istrinya sekilas, ia ingin memberikan jeda untuk istrinya. Sebelum kembali menggerakkan tubuhnya, dan gerakan itu pun semakin cepat. Tidak lama Emilia kembali mendapat pelepasannya, sedangkan Marvel masih belum. Lelaki itu benar-benar perkasa.


"Lelah hem?" Bisiknya di telinga sang istri. Sedangkan yang dibawah sana terus bergerak liar.

__ADS_1


Emilia yang masih lemas pun mengangguk sambil sesekali menggigit bibirnya. Mencoba menahan agar tak m*nd*s*h. Sayangnya itu gagal karena pikiran dan tubuhnya tak sejalan. D*s*h*n demi d*s*h*n terus keluar dari bibir mungilnya. Membuat Marvel semakin bersemangat untuk membuat wanitanya itu melenguh panjang.


"Bagaimana rasanya? Nikmat bukan?" Tanya Marvel seraya menghentak kasar di bawah sana.


Emilia menjerit tertahan, lalu menatap manik mata suaminya dan tanpa aba-aba ia mengalungkan kedua tangannya dan membungkam bibir lelaki itu. Tentu saja Marvel kaget dibuatnya. Namun ia suka itu.


Dan pergulatan panas itu pun berlanjut sampai menjelang pagi, Emilia lemas dibuatnya. Namun itu pengalaman yang sangat luar biasa.


****


Tubuh Emilia terasa remuk saat dirinya terbangun dari tidur. Seketika kejadian malam tadi pun terputar kembali dalam memorinya, malam yang panas. Membayangkan saja pipinya merah seperti tomat.


"Sudah bangun?" Suara serak itu berasal dari belakangnya karena posisi Emilia saat ini miring, memunggungi suaminya. Tangan besar Marvel pun merengkuh perutnya, menariknya untuk mengikis jarak di antara mereka.


Tubuh Emilia kembali menegang saat sebuah kecupan hangat mendarat di punggungnya. Bahkan tangan besar itu mulai bergerak nakal, menyentuh dua aset berharganya.


"Aku lelah." Ucap Emilia pada akhirnya.


"Aku juga." Balas Marvel. Namun lelaki itu masih saja menggerayangi tubuh istrinya.


Emilia menghela napas kasar. "Aku ingin mandi, bisa kau aaaakhh." Emilia memekik saat Marvel dengan sengaja mencubit p*t*ngnya.


Marvel tersenyum tipis. "Kita main sebentar sebelum mandi." Bisiknya kemudian.


"Aku lelah, Marvel." Lirih Emilia. Ia tidak bohong, rasa sakit disekujur tubuhnya saja masih kentara. Dan lelaki itu bilang apa tadi, bermain lagi? Apa dia gila!


"Aku juga." Balas Marvel lagi yang berhasil membuat Emilia kesal dan berbalik menghadap suaminya. Lalu menatapnya tajam.


Marvel mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?"


Emilia hendak menjawab, tetapi ia urungkan niatnya itu dan kembali memunggungi suaminya.


Marvel tersenyum melihat kelucuan istrinya itu. Memggemaskan. Batinnya.


"Aku lelah, jadi aku tidak akan melakukannya lagi." Akhirnya Emilia mengatakan isi hatinya.


"Baiklah." Jawab Marvel yang berhasil membuat Emilia berbalik lalu menatapnya heran.


"Kenapa? Kau kecewa?" Godanya yang lagi-lagi berhasil membuat Emilia kesal.


"Menyebalkan." Sinis Emilia yang kembali memunggungi Marvel. Untuk yang kesekian kalinya Marvel tersenyum, lalu dipeluknya sang istri dari belakang.

__ADS_1


"Aku juga lelah, hari ini kita istirahat." Ucap Marvel kembali memejamkan matanya. Emilia tak menyahut dan memilih bungkam.


__ADS_2