Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 7


__ADS_3

Alexa memasuki perusahaan keluarganya dengan langkah cepat. Lalu memasuki lift khusus yang langsung membawanya ke lantai teratas.Tempat di mana Arez menghabiskan waktu setiap harinya.


Di ruangan bernuansa hitam putih, Arez tampak sibuk dengan beberapa kertas di atas meja. Ia terus membaca lembaran demi lembaran kertas itu dengan serius. Sampai suara pintu terbuka pun mencuri perhatiannya.


"Kau datang sendiri?" Tanya Arez pada adik kembarnya.


"Ya, aku meminta Xella menjaga Arel. Keadaannya masih belum stabil. Aku juga sudah menyewa psikiater terbaik untuk merawatnya." Jelas Alexa duduk di hadapan Arez yang terhalang sebuah meja panjang.


"Hm." Arez melempar sebuah map berisi beberapa kertas yang baru saja ia baca. "Datanya lengkap. Anak itu memang milik Arel. Wanita itu membuatkan akta anaknya dengan nama ayah kandungnya sekaligus. Di sana tertera nama kembaran kita. Aku belum memastikan apa alasan Sky meninggalkan Arel. Aku rasa ada seseorang yang mengancamnya." Jelas Arez panjang lebar.


Alexa terkejut mendengarnya. Ya, setelah mereka mendapat informasi dari Alexella. Keduanya langsung meyelidiki kehidupan Sky selama dua tahun belakangan. Tanpa sepengetahuan Alexella tentunya. Mereka tahu betul seperti apa emosional gadis muda itu. Alexella begitu dendam pada Sky.


Alexa membaca lembaran demi lembaran kertas itu dengan seksama. Apa yang di katakan Arez benar adanya. Anak berusia satu tahun lebih itu memang anak kandung Arel. Bahkan terdapat hasil tes DNA di sana.


"Ini benar-benar gila, Arel sudah punya anak? Dan anak itu di luar nikah. Jika Mom tahu soal ini, Arel akan mendapat masalah. Menghamili wanita di luar nikah, itu sangat menentang prinsip Mom. Entah apa yang akan terjadi dengan bayi malang itu." Ujar Alexa merasa pusing.


"Mom and Dad tidak mungkin mencampakkan darah daging mereka, bagaimana pun anak itu cucunya. Aku masih menyelidiki siapa suami Sky. Aku rasa pernikahan mereka juga tidak sehat."


"Kau benar, Kak. Bagaimana kalau kita juga menemui Sky? Aku ingin melihat kondisinya. Xella bilang wanita itu sangat menyedihkan dan mengalami KDRT. Apa sebenarnya yang terjadi selama ini?"


"Aku belum tahu soal itu." Sahut Arez memijat pelipisnya. Kepalanya sangat sakit memikirkan permasalahan keluarganya.


"Lupakan sejenak masalah Arel. Bagaimana denganmu, Kak? Siapa wanita bertopeng itu? Kekasih gelapmu huh?" Tanya Alexa penuh selidik.


Arez menatap kembarannya tajam. "Bukan urusanmu."


"Ck, kau itu Kakakku. Tentu saja itu urusanku. Aku tidak mau hal yang menimpa Arel juga terjadi padamu." Kesal Alexa.


"Wanita bukan segala-galanya dalam hidupku. Memiliki kalian itu sudah cukup."

__ADS_1


"Cih, sekarang kau bisa berkata seperti itu. Setelah kau tahu rasanya jatuh cinta seperti apa. Kau akan bertekuk lutut juga. Lagian mana mungkin kau tidak memiliki hubungan dengan gadis itu, kalian berciuman mesra di depan umum."


Arez sama sekali tak menanggapi ucapan Alexa. Pembicaraan gadis itu sama sekali tak bermutu baginya.


"Kau diam, itu artinya benar. Ah... akhirnya bibirmu sudah tak perawan lagi. Setidaknya kau membuktikan jika dirmu tak impotent."


Arez melayangkan tatapan tajam pada sang adik. Sedangkan yang di tatap cuma tersenyum geli.


"Bagaimana dengan pameran lukisan besok? Aku lihat galerimu selalu ramai pengunjung, Mr. A." Alexa pun kembali membuka pembicaraan. Namun lagi-lagi Arez tak menyahut. Lelaki itu sudah sibuk dengan macbooknya.


"Arez, aku sedang bicara padamu. Setidaknya hargai aku sebagai adikmu. Bahkan dulu kita berbagi tempat saat dalam perut Mommy." Kesal Alexa karena diabaikan.


"Berapa hargamu?" Tanya Arez tanpa melihat lawan bicaranya.


Alexa berdecih kesal. "Meyebalkan, aku punya dua Kakak. Tapi tak ada satu pun yang waras. Satu gila dan satu lagi bisu. Huh, sungguh malang nasibku." Keluh Alexa mencoba menarik perhatian Arez. Sudah lama mereka tak duduk seperti ini. Kapan lagi lelaki itu punya waktu seperti ini.


"Dasar impotent, meyebalkan." Ketus Alexa yang langsung beranjak pergi dari sana. Berhadapan dengan Arez maupun Arel selalu membuatnya kesal setengah mati.


****


Keesokan hari, Arez terlihat menawan dengan balutan pakaian kasual andalannya. Lelaki berparas dingin itu melangkah pasti menuju galeri miliknya yang sudah di penuhi para pecinta seni. Tidak ada yang tahu jika Arez adalah pemilik tempat yang sebenarnya. Karena identitasnya sengaja ia sembunyikan. Tidak ada yang tahu apa alasannya. Termasuk keluarga besarnya.


"Aku ingin sekali bertemu dengan pemilik lukisan ini. Tidak tahu dia tampan atau cantik. Yang jelas aku menyukai semua karyanya." Ujar salah seorang pengunjung yang tengah menatap lukisan berukuran besar.


Arez yang mendengar itu memilih diam. Saat ini ia berdiri di depan sebuah lukisan berukuran sedang. Lukisan itu bukanlah miliknya, melainkan hasil karya seseorang berinisial S. Lukisan yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Sebuah lukisan yang menggambarkan kehangatan sebuah keluarga. Lukisan itu datang beberapa bulan lalu. Sampai sekarang Arez belum menemukan siapa gerangan yang mengirimkan benda itu.


"Sab, jelaskan apa arti lukisan ini padaku. Aku sama sekali tak memahami kenpapa orang ini menggabungkan bunga Lily orange dan mawar merah? Aku rasa maknanya sangat luar biasa." Tanya seorang wanita yang berdiri tak jauh dari Arez.


"Bunga Lily orange memiliki arti kebencian, sedangkan mawar merah memilki makna penuh cinta. Benci dan cinta itu dua elemen yang sering terikat satu sama lain. Cinta bisa mengalahkan kebencian, juga sebaliknya. Dalam artian, benci dan cinta bisa menjadi satu dalam sebuah situasi."

__ADS_1


Deg! Jantung Arez berdetak kencang saat mendengar suara indah itu. Ia pun langsung menoleh, seketika mata tajam itu membulat sempurna. Apa dia salah lihat? Gadis bertopeng kini sedang berdiri di dekatnya.


"Wow, pasti pelukisnya sangat romantis."


"Tidak, orang romantis tak akan menggambar lukisan seperti ini. Aku rasa pemilik lukisan ini memiliki kepribadian yang sulit dipahami. Dia menggambarkan kebencian dan cinta sekaligus, bukankah itu sangat sulit dimengerti?" Imbuh gadis bertopeng itu lagi. Ia tak menyadari sejak tadi Arez memperhatikannya.


Jadi topeng itu selalu ia pakai ke mana pun? Apa yang ia sembunyikan dibalik topeng itu? Pikir Arez. Hingga tak menyadari jika mata indah milik gadis bertopeng itu tertuju padanya. Gadis itu tersentak kaget dan dengan gerak cepat memutus pandangan. Ia juga hendak pergi dari sana. Namun dengan cepat Arez menahan tangannya dan menarik gadis itu pergi ke sebuah tempat yang berada di lorong gelap galeri. Dengan kasar Arez membuka pintu ruangan, membawa gadis itu ke sana dan mengunci pintu rapat-rapat.


"Lepaskan!" Hardik gadis itu mencoba menjauhkan tangan Arez darinya. Namun dengan tiba-tiba Arez mendorongnya ke dinding. Hingga punggungnya menempel di dinding yang dingin.


"Siapa kau? Kenapa kau terus mengikutiku?" Selidik Arez mengunci netra abu gadis itu. Mencekal kedua bahu sang gadis dengan erat.


"Aku tidak mengikutimu, apa kau tak melihat temanku tadi? Brengsek! Lepaskan aku. Sialan kau." Gadis itu memberontak agar Arez melepaskannya. Namun tenaga lelaki itu begitu kuat.


Arez menatap tajam wajah yang tertutup topeng itu. Tangannya mulai terangkat dan meraih benda penghalang itu. "Aku ingin melihat apa yang kau sembunyikan di balik topeng palsumu." Bisik Arez dengan senyuman miring.


"Tidak, kau tidak...." ucapan gadis itu tertahan karena Arez berhasil membuka topengnya. Mata Arez membulat saat melihat wajah itu. Tak ada sedikit cacat pun di sana, hanya ada pemandangan indah nan elok. Lebih indah dari pahatan sang dewi Yunani.


Dada gadis itu naik turun karena menahan emosi. Arez adalah orang pertama yang berani melepas topeng itu secara paksa. Topeng yang gunakan untuk melindungi keindahan yang ia miliki. Pelindung dari tatapan memangsa para lelaki. Itu sama saja penghinaan untuknya.


"Sabrina!" Suara gedoran dari luar sana berhasil mengejutkan keduanya. Dengan cepat Arez memberikan topeng itu pada sang gadis. Dan perlahan menjauh.


Gadis itu kembali memasang topengnya dengan tangan bergetar. Sebelum pergi, ia memberikan tatapan membunuh pada Arez. Lalu beranjak pergi dari sana.


"Jadi namamu Sabrina huh?" Arez tersenyum sinis. Bayangan wajah indah itu masih terpatri dalam pikirannya. "Aku akan mengetahui siapa dirimu secepatnya."


Setelah kepergian gadis itu. Arez ikut keluar dari ruangan. Lalu beranjak menuju studio rahasianya. Ia mengambil sebuah kanvas berukuran besar, lalu meletakkannya di atas easel. Seperti biasa, lelaki itu kembali bermain dengan berbagai warna. Menyalurkan semua yang ada dalam kepalanya.


Dua jam berlalu, kanvas putih polos tadi Ia sulap menjadi pahatan wajah yang begitu indah. Arez menggambarnya tanpa cacat sedikit pun. Ia merasa puas dengan hasil karyanya kalin ini. Ya, Arez melukis wajah gadis cantik itu di sana. Gadis misterius pemilik wajah bak dewi Yunani itu akan tetap abadi dalam ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2