Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 49


__ADS_3

Sabrina tak henti-hentinya menangis setelah dirinya siuman. Ansel yang melihat itu merasa bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Sudah satu jam lebih Sabrina menangis sesegukan.


"Ansel, kenapa kau membiarkan aku hidup? Aku ingin bertemu Ibuku. Aku lelah hidup di dunia ini. Bahkan dia tak percaya padaku, Ansel. Kau juga tak percaya padaku. Untuk apa aku hidup, tak ada yang menginginkan aku hidup. Aku pembawa sial bukan? Bahkan Daddy harus kehilangan nyawa saat berada di sisiku." Oceh Sabrina disela isakannya.


Ansel hanya berdeham karena tak tahu harus bicara apa.


"Bahkan dia tak peduli dengan kondisiku saat ini. Ansel, apa dia akan datang jika aku mati?"


Ansel terkejut mendengar pertanyaan itu. "Nona, sebaiknya Anda tidak melakukan hal-hal yang akan mempersulit Tuan."


Sabrina semakin mengencangkan tangisannya. Hatinya benar-benar sakit saat Arez tak ada di sana saat kondisinya seperti ini. "Ansel, aku ingin pergi. Biarkan aku pergi, Ansel. Kau benar, aku hanya mempersulit hidupnya. Biarkan aku pergi."


"Nona, jangan mempersulit saya. Tuan akan membunuh saya jika Anda pergi."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku lelah, Ansel."


Lagi-lagi Ansel tak mampu menjawab.


"Aku lapar, Ansel. Belikan aku lasagna, pizza dan... jus strawberry."


Ansel terkejut mendengar itu. Padahal baru saja mengeluh dan ingin mengakhiri hidupnya. Namun sedetik kemudian wanita itu meminta makanan dalam jumlah besar. Apa wanita hamil memang seperti itu? Pikir Ansel.


"Saya akan memesannya."


"Jangan lama, aku sangat lapar. Aku memutuskan untuk tidak mati sekarang. Aku harus membuktikan jika aku tak bersalah."


Ansel tersenyum tipis mendengar itu. Pantas saja Tuan begitu menyayangi wanita ini, ternyata dia sangat unik.


"Saya sudah memesan makanan yang Anda maksud, harap bersabar."


"Hm."


Ansel menghela napas panjang dan memilih diam.


"Oh iya, katakan pada atasanmu itu. Tidak perlu menemuiku lagi. Dia tak mempercayaiku, itu artinya tak ada lagi yang perlu di pertahankan. Dia memang brengsek."


Ansel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tuan, cepatlah datang. Saya tidak tahu harus menanggapi istri Anda seperti apa lagi.


"Ansel, apa kau punya kekasih?"


"Tidak, Nona."


"Dengarkan aku, Ansel. Jika kau punya kekasih, tolong berikan dia kepercayaan penuh. Karena sakit rasanya saat orang yang kita cintai sama sekali tak mempercayai kita."


"Ya, Nona."


"Panggil aku Sabrina, sepertinya kau lebih tua dariku. Berapa usiamu?"


"Dua puluh satu."


"Benarkan tebakkanku, kita beda satu tahun."

__ADS_1


"Ya, Nona."


"Sabrina, Ansel."


"Ya, Sabrina."


Sabrina tersenyum senang mendengar itu. "Apa makanan sudah sampai? Aku sangat lapar."


"Masih dalam perjalanan, No__Sabrina."


"Lama sekali, aku paling tidak bisa menahan lapar. Aku bisa mati, Ansel."


"Bukankah Anda memang ingin mati?" Tanya Ansel dengan polosnya.


"Sekarang aku sudah berubah pikiran."


"Terserah Anda, Nona."


"Ck, kau menyebalkan. Sama seperti lelaki brengsek itu."


****


Arez melangkah pasti menuju ruangan Sabrina untuk melihat kondisinya. Namun Arez merasa heran saat mendengar suara gelak tawa dari dalam sana. Dengan gerak cepat ia membuka pintu. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Ansel sudah terduduk di atas brankar dengan rambut yang sudah terikat karet. Dan kedua insan itu sama sekali tak menyadari kehadiran Arez karena terlalu asik bermain tik tak toe di ponsel milik Ansel.


"Kau kalah lagi, Ansel. Sekarang bernyanyilah untukku." Sabrina berseru dengan mulut di penuhi pizza.


"Aku tak bisa bernyanyi, Sab."


Arez terkejut saat mendengar panggilan Ansel untuk istirnya. Bahkan ia tak percaya Ansel bisa seakrab itu dengan wanita. Lebih parahnya lagi wanita itu istrinya.


"Tuan." Sapa Ansel sedikit membungkuk.


Sabrina hanya melirik Arez sekilas, seolah tak menganggap kehadiran orang itu. Kemudian ia kembali memainkan permainan menyenangkan itu. Arez duduk di hadapan istrinya, menatap wanitanya itu dengan seksama.


"Ansel, besok kita main lagi ya? Ada pengacau."


Pengacau?


Arez melihat kotak pizza yang hanya tersisa setengah. Kemudian kembali memusatkan perhatian pada Sabrian dengan mulut yang terus mengunyah.



"Apa kepalamu terbentur saat melakukan bunuh diri?" Tanya Arez yang sama sekali tak digubris oleh si empu.



"Aku bicara padamu, Sabrina." Kesal Arez yang tak suka diabaikan.


"Ansel, aku ingin tidur. Suruh pengacau ini pergi." Titah Sabrina dengan entengnya. Dan itu berhasil membuat Ansel berada di posisi sulit.


"Jangan bercanda, Sabrina." Kesal Arez menarik dagu Sabrina dengan kasar.


"Kenapa? Kau ingin menuduhku lagi jika aku yang membunuh Daddymu? Kau cuma datang untuk itu kan? Sudah aku katakan aku bukan pembunuhnya." Teriak Sabrina dengan emosi yang meledak-ledak. Padahal beberapa detik yang lalu ia baru tertawa riang.


Baik Arez dan Ansel pun terkejut mendengar itu. Ansel yang memahami situasi pun langsung keluar dari sana.


"Bahkan kau tidak pernah mempercayaiku, Al?" Sabrina menangis sesegukkan. "Kau juga tak peduli aku mati sekali pun. Buat apa kau datang ke sini? Pergi."

__ADS_1


"Cukup, Sabrina." Arez mencekal lengan Sabrina yang terluka. Membuat sang empu meringis kesakitan. Arez terkejut dan langsung melepaskan cengkramannya.


"Kau jahat, Al."


"Berhenti menangis, kau bukan anak kecil lagi."


Sabrina yang mendengar itu lagsung berhenti menangis. Namun matanya menajam dengan sorot amarah yang mendalam. Lalu menepik kotak pizza itu sampai tercecer di lantai. Arez cukup terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Kau...."


"Pergi! Aku membencimu, Al." Teriak Sabrina menjambak rambutnya dengan kasar. Bahkan bayangan tentang kejadian itu kembali menghantuinya. Ia juga melipat kakinya dan kembali menangis. Wanita itu terlihat frustrasi. "Aku bukan pembunuh, Al. Pargi! Aku bukan pembunuh."


"Sabrina." Bentak Arez mencengkram bahu istrinya. Sontak Sabrina pun tersadar kembali. Tatapannya berubah sayu. Arez membawa Sabrina dalam dekapannya. Dan tangisan wanita itu pecah seketika.


"Al, aku bukan pembunuh. Percayalah, aku bukan pembunuh. Kenapa tak ada yang percaya padaku? Kau juga tak percaya padaku, Al. Aku bukan pembunuh."


"Aku percaya padamu, berhenti melakukan hal bodoh." Arez mengecup pucuk kepala Sabrina dengan lembut.


"Kau percaya padaku?"


"Hm."


Sabrina memeluk Arez dengan erat. "Jangan tinggalkan aku lagi, Al. Please, jangan pergi lagi."


"Berhenti menangis, aku tidak akan pergi."


Sabrina mengangguk dan mulai menghentikan tangisannya. Perlahan ia pun mulai tenang.


"Jangan pernah melakukan hal bodoh dengan mengiris tanganmu lagi, Sabrina. Jika kau ingin mati, aku bisa menembakmu langsung."


"Tidak ada yang percaya padaku, Al. Untuk apa aku hidup?"


"Sudah aku katakan aku percaya padamu."


"Tapi kau pergi, Al."


"Mommy sakit."


"Apa?" Sabrina menarik diri dari dekapan Arez. "Kenapa kau tak bilang padaku. Aku juga ingin melihat kondisinya."


"Mommy baik-baik saja."


"Tapi...."


"Jangan membantah, sekarang istirahatlah."


"Aku tidak mau, aku masih lapar." Arez yang mendengar itu menatap Sabrina heran.


"Kau sudah membuang makanannya."


"Itu masih ada." Tunjuknya ke arah kotak lasagna di atas nakas. "Suapi aku, Al."


"Jangan manja."

__ADS_1


"Kalau begitu aku tidak jadi lapar." Sabrina handak berbaring, tetapi Arez langsung menahannya.


"Baiklah, aku akan menyuapimu." Wajah Sabrina pun langsung berbinar. Kemudian Arez pun segera menyuapi istirnya meski ia sangat kesal karena Sabrina begitu lama mengunyah. Entah disengaja atau memang ia tak selera makan. Tidak ada yang bisa memahami Ibu hamil yang satu itu.


__ADS_2