
Claire terlihat sedih karena Melvin tidak kunjung menemuinya. Padahal sudah seminggu lelaki itu pergi dari kota ini. Bodohnya lagi Claire tidak punya nomor ponsel Melvin.
Saat ini, Claire berada di kamar hotel tempat di mana ia menghabiskan waktu dengan sang kekasih. "Apa kau lupa dengan janjimu, El? Atau mungkin aku yang terlalu berharap?"
Claire duduk di bibir ranjang sambil menunduk, air matanya luruh seketika. "Hiks... sepertinya memang aku yang terlalu berharap."
Puas menangis, Claire beranjak dari sana. Meninggalkan lingkungan hotel tanpa arah tujuan yang jelas. Karena ia sudah memutuskan untuk tidak kembali ke mansion. Dan kini Claire tidak tahu harus ke mana. Merasa lelah, ia duduk di sebuah halte. Ia tidak peduli pada orang disekitarnya saat ini.
"Mommy, kenapa sampai detik ini kau tidak mencariku? Apa aku tidak sepenting itu? Bahkan tidak ada yang menginginkan aku di dunia ini." Gumamnya sambil menunduk lesu. Bahkan air matanya kembali menitik.
"Kau salah, gadis manis. Aku mencarimu, dan menginginkanmu." Sahut seseorang yang berhasil membuat Claire terperanjat kaget dan langsung menoleh. Ia memicingkan matanya pada orang yang saat ini duduk di sebelahnya. Yang tak lain adalah Gabriel. Sampai detik ini lelaki itu tidak pulang karena berusaha mencari keberadaan gadis manisnya. Hari ini buah kesabarannya pun siap untuk dipetik.
"Siapa kau?" Hardik Claire.
"Kau melupakanku huh?"
Dahi gadis itu berkerut. "Apa kita pernah bertemu? Maaf, aku tidak ingat." Acuhnya.
Gabriel tersenyum tipis. Aku suka gadis cuek. "Apa kau tidak punya tujuan?"
"Bukan urusanmu." Claire beranjak dari sana, meninggalkan Gabriel. "Lelaki aneh."
"Manis, kau mau kemana?" Tanya Gabriel yang ternyata mengejarnya. Bahkan ia berhasil mengimbangi langkah sang gadis.
"Jangan ikuti aku, aku sudah punya kekasih."
"Melvin Digantara?"
Mendengar itu langkah kaki Claire pun tertahan, begitu pun dengan Gabriel. Claire melayangkan tatapan tajam pada lelaki itu.
"Kau menyelidiki aku?"
"Tentu saja, aku tertarik padamu."
"Cih, siapa kau? Berani sekali menyelidiki masalah pribadiku." Ketus Claire. Jujur ia memang tidak pernah melihat dan mendengar soal Gabriel, karena lelaki itu tidak pernah muncul di media sosial seperti yang lainnya.
Gabriel mengulurkan tangannya. "Gabriel Digantara, sepupu Melvin."
Deg!
Claire terbelalak mendengar itu. "Kau... kau Tuan Gabriel?"
Gabrile tersenyum senang . "Ya."
Claire tersenyum miring. "Lalu apa peduliku? Yang aku mau saat ini sepupumu. Bukan dirimu." Sinisnya.
Bukannya tersinggung, Gabriel malah tertawa. "Kau menginginkan dirinya, sayang sekali dia tidak pernah menginginkanmu."
Gabriel mengeluarkan ponselnya, lalu mencari sesuatu. "Lihat ini." Titahnya seraya menunjukkan layar ponselnya. "Dia baru saja mengungumkan pacar barunya."
"Aku tahu." Claire memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia memang sudah tahu soal berita itu. Akan tetapi ia bersikukuh bahwa dirinya bisa menaklukkan hati Melvin.
Gabrile mengantongi ponselnya kembali. "Aku bisa memberikan lebih dari apa yang dia berikan, Claire."
"Aku tidak butuh." Claire pun melanjutkan langkahnya. Dan kali ini lebih cepat. Namun, langkahnya tentu saja bisa diimbangi oleh Gabriel karena lelaki itu memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar darinya. "Berhenti mengikutiku."
"Aku akan terus mengikutimu," sahut Gabriel.
"Terserah." Ketus Claire. Matanya terlihat mencari-cari sesuatu untuk bisa menghindari lelaki itu. Sampai idenya pun muncul, ia memepercepat langkahnya menuju toilet wanita. Tentu saja Gabriel tidak bisa masuk.
Lelaki itu tersenyum geli. "Kita lihat, sejauh mana kau bisa kabur, gadis manis? Aku tidak peduli kau milik Melvin sekali pun. Aku pasti mendapatkanmu."
Claire duduk di atas closet. Kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Kenapa aku harus bertemu dengannya? Kenapa bukan Melvin?"
__ADS_1
Cukup lama Claire terdiam. Lalu tiba-tiba ide brilian muncul di kepalanya yang cantik. "Ah, kenapa aku tidak memanfaatkannya saja? Hanya dia satu-satunya orang yang bisa membawaku pada si brengsek itu."
Tidak lama Claire pun keluar dari sana. Benar saja, lelaki itu masih menunggunya.
"Aku kira kau akan kabur?" Sindir Gabriel.
"Aku bukan tikus yang bisa kabur lewat celah." Kesal Claire.
Mendengar itu Gabriel tertawa kecil. "Kau benar-benar manis, baby."
Claire menatap lelaki itu lekat. "Kau benar-benar menginginkan aku? Atau kau hanya ingin mencampakkanku sepertinya?"
Gabriel tersenyum begitu menawan. "Usiaku tidak bisa lagi main-main untuk hal cinta, baby. Aku anak tertua di keluargaku."
Claire terdiam. "Jangan bilang kau ingin mengajakku menikah?"
Gabriel mengangguk. "Ya, jika kau tidak keberatan."
Claire menggigit ujung bibirnya. Bagaimana ini? Aku tidak mungkin memberinya harapan palsu. Yang ingin aku nikahi hanya satu, yaitu si brengsek.
"Em... begini. Aku belum mengenalmu lebih... ya kau tahu sendiri lah. Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu."
"Kali kedua." Ralat Gabriel.
"Ah, terserah kau saja. Maksudku begini, bagaimana jika kita saling mengenal dulu?" Tawar gadis itu.
Hah, aku harap dia membawaku ke negaranya. Supaya aku lebih leluasa bertemu si brengsek itu.
Gabriel berpikir sejenak. "Em... tidak jadi masalah."
Claire terdiam untuk beberapa saat.
"Dengar, besok adalah hari pernikahan Eveline dan Lucas. Apa kau bersedia menjadi pasanganku?" Tawar Gabriel.
Gabriel tersenyum senang. "Karena besok hari spesial, aku akan membawamu membeli dress."
"Hah? Kau serius?"
"Ya, ayo. Sore ini kita berangkat. Jadi jangan membuang waktu." Gabriel menarik tangan Claire dan membawanya pergi dari sana.
****
Ballroom Hotel Digan't Group
Alunan musik romantis terdengar begitu merdu, seolah mengungkapkan kebahagian yang dirasakan oleh kedua mempelai yang sudah duduk manis di atas pelaminan super megah itu.
Eveline terlihat begitu cantik dengan balutan wedding dress berwarna gading. Begitupun dengan Lucas yang terlihat tampan memakai tuxedo warna senada. Pengantin baru itu tersenyum lebar saat melihat Violet naik ke atas pelaminan bersama Paul.
"Wah, aku tidak percaya kalian datang berdua?" Sapa Lucas.
"Aku rasa saranmu tidak buruk, dia lelaki baik. Aku menyukainya." Sahut Violet yang langsung memeluk Lucas. "Selamat untukmu, Luc. Aku turut bahagia."
Lucas membalas pelukan itu, bahkan memberikan kecupan di kepala Violet. "Dia sudah pergi saat melihat kedatanganmu." Bisiknya.
"Itu lebih baik. Jika tidak aku tidak yakin bisa menahan diri." Balas Violet juga berbisik kecil.
Lucas tersenyum sambil menatap Paul. "Semoga kau dan Paul benar-benar berjodoh."
"Ya, aku harap begitu."
Paul tersenyum mendengar itu.
Violet menarik diri dari dekapan Lucas, dan beralih pada Eveline. Memeluk sepupunya itu dengan penuh kehangatan. "Hai, selamat adik kecil. Akhirnya kau melewati Kakak-kakakmu ini. Kau memang hebat."
__ADS_1
Eveline tersenyum dan membalas pelukan Violet. "Terima kasih, Vi. Aku akan selalu mendoakan kebahagianmu juga. Apa dia kekasihmu?"
"Belum, tapi mungkin akan." Jawab Violet seraya melerai pelukan mereka.
"Jangan lama-lama. Sepertinya dia sudah tidak tahan. Apa lagi kau terlihat seksi seperti ini." Bisik Eveline seraya mengerlingkan matanya pada Paul yang sedang bicara pada Lucas.
Violet melirik Paul sekilas. Kemudian mendekatkan wajahnya pada Eveline. "Aku sudah pernah menggodanya, tapi dia sama sekali tidak tergoda. Menyebalkan."
Eveline tertawa kecil. "Aku rasa kau tidak menarik."
"Eve!" Kesal gadis cantik itu.
"Tunggu!" Pekik Eveline saat matanya menangkap sepasang manusia yang baru memasuki ballroom. "Apa aku tidak salah lihat? Claire bersama Gabriel?"
Mendengar itu Violet menoleh kebelakang. Matanya membulat saat melihat itu. "Wow... apa aku bermimpi? Gabriel mulai mengakui kekasihnya pada dunia?"
"Hey, dia bukan kekasihnya. Itu Claire, adik Summer."
"Apa?" Kaget Violet. "Bagaimana mereka bisa bersama?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Jawab Eveline dengan mata masih tertuju pada mereka.
Bukan hanya mereka, seluruh keluarga besar juga ikut memandang ke arah mereka. Ya, katakan saja saat ini mereka menjadi pusat perhatian yang lebih menarik ketimbang pengantin.
Sial!
Umpat Melvin saat melihat Claire yang tampil begitu menawan. Bahkan mata tajam itu langsung tertuju pada bibir seksi Claire yang pernah ia cecap beberapa kali.
Cesss!
Pandangan mereka pun bertemu. Itu dia si brengsek. Sialan! Dia menggandeng wanita lain? Lihat saja, aku akan membalasnya. "Gab, aku haus."
Gabriel menoleh. "Kau ingin minum apa huh?"
"Apa saja, asal bisa mengobati dahagaku." Jawab Claire memberikan senyuman manisnya.
Brengsek. Aku haus hanya karena melihat lelaki itu memeluk wanita lain.
"Baiklah, ayo." Gabriel membawa Claire ke area resto yang menyajikan berbagai jenis makanan dan minuman.
"Wine?"
"Nope, moctail saja."
"Kau tidak pernah minum alkohol huh? Tidak ingin mencobanya?"
"Aku belum berani."
"Kenapa?"
"Karena dia masih terlalu muda." Sahut Melvin yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang mereka. Sontak keduanya pun berbalik. Melvin langsung melayangkan tatapan tajam pada kekasihnya itu. "Aku perlu bicara dengan gadisku, Gab. Dia harus dihukum."
Tanpa aba-aba Melvin langsung menarik Claire.
"Hey, mau kau bawa ke mana kekasihku?" Teriak Gabriel.
"Maaf, Sob. Dia kekasihku." Sahut Melvin seraya terus membawa Claire pergi dari sana. Tentu saja hal itu membuat semua orang bingung dan bertanya-tanya.
"Aku rasa perang saudara akan terjadi." Gumam Violet.
"Ya, kau benar." Sahut Lucas.
Tbc....
__ADS_1