Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 6


__ADS_3

"Kenapa kau kembali, Sky?" Tanya Alexella tanpa basa-basi. Kini ketiganya sudah duduk di sebuah sofa usang.


Sky menatap Alexella dan Jarvis bergantian. "Aku...."


"Aku pergi, jangan berani keluar rumah atau kau akan menerima hukuman lagi." Seorang lelaki jangkung berperawakan kurus memotong ucapan Sky. Juga menarik perhatian semua orang. Lelaki itu sama sekali tak mengindahkan keberadaan Alexella dan Jarvis. Setelah memberikan tatapan aneh, lelaki itu pun beranjak pergi.


Kini perhatian Alexella kembali pada Sky. Penampilan wanita itu benar-benar menyedihkan. Pakaiannya terlihat lusuh dan lembam di beberapa sudut wajahnya.


Saat Alexella ingin bicara, kedatangan seorang wanita paruh baya berhasil menahan niatnya. Wanita paruh baya itu sempat kaget melihat rumah Sky sedang kedatangan tamu.


"Maaf sudah mengganggu kalian. Sky, aku simpan makanan ini di dapur dulu." Ujar wanita paruh baya itu seolah sudah terbiasa memasuki rumah Sky. Ia merupakan tetangga Sky yang sangat ramah, Nyonya Andrea.


Tidak lama wanita itu kembali. "Berikan Gabriel padaku, mengobrolah dengan santai." Wanita itu mengambil bayi kecil bernama Gabriel itu dari gendongan Sky. Lalu membawanya pergi.


Cukup lama mereka terdiam.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sky." Alexella kembali membuka pembicaraan.


Sky menatap Alexella penuh arti. "Apa yang harus aku jawab? Kau bertanya hal yang aneh."


"Aneh? Dua tahun lalu kau meninggalkan Kakakku, membuatnya seperti orang gila karena mencarimu dan sekarang kau kembali mengganggu hidupnya? Kau yang aneh, Sky."


Sky mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Aku... aku tidak kembali untuk Kakakmu. Aku kembali karena merindukan tanah kelahiranku. Apa aku salah?"


"Kau memang tidak bersalah dalam hal itu, tapi kau salah karena kembali mengganggu Kakakku. Kau menghabiskan malam dengannya kan?"


Mulut Sky terkatup rapat.


"Cih, aku tidak mengerti kenapa Kakakku bisa mencitai wanita jahat sepertimu. Bahkan setelah kau mencampakkannya. Lalu apa tujuanmu bekerja di hotel keluargaku? Kau ingin menarik perhatiannya bukan? Apa motifmu sebenarnya, Sky?"


Sky memberikan tatapan nyalang karena tak terima dengan tuduhan Alexella. "Aku butuh pekerjaan, apa kau tidak lihat keadaanku? Aku juga tak ingin bekerja di sana, tapi hanya hotel itu yang mau menerimaku. Tidak ada sedikit pun niat dalam hatiku untuk mengganggu hidup Kakakmu. Kakakmu yang membawaku."


"Jadi sekarang kau menyalahkan Kakakku? Kau bisa menolaknya, Sky."


"Sudah aku lakukan. Mungkin kau lupa seperti apa Kakakmu, Xella." Seru Sky mulai tersulut emosi. Ia tak terima dihina seperti ini. Sky menunduk lemah, air matanya tak dapat ia bendung lagi. Kehidupannya benar-benar menyakitkan. Ditambah lagi tuduhan Alexella seolah menabur garam diluka lama yang belum sepenuhnya sembuh.


Alexella terdiam sejenak sambil menatap Sky tajam. "Apa kau tahu? Pagi ini Kakakku hampir mati. Beruntung Jarvis datang lebih cepat."


Sky mengangkat kepalanya karena terkejut mendengar perkataan Alexella. "Apa yang terjadi padanya?" Tanyanya dengan tatapan cemas.


"Tidak ada alasan untukku menjawab pertanyaanmu, Sky." Alexella bangun dari posisinya. "Aku harap kau tak lagi muncul di hadapan Kakakku." Alexella bergegas pergi dari sana. Saat ini ia hanya peduli dengan sang Kakak. Tak peduli dengan kehidupan wanita itu sama sekali. Bagi Alexella, orang-orang yang berani menyakiti keluarganya, maka ia akan menganggap orang itu sebagai musuh. Termasuk Sky sekali pun.


Jarvis menghela napas berat seraya menatap Sky penuh arti. Kemudian ia pun bergegas bangun dan menyusul Alexella.


Sepeninggalan mereka, tubuh Sky lemas seketika. Hatinya hancur saat mendengar kabar buruk tentang mantan kekasihnya. "Maafkan aku, Arel. Maafkan aku." Sky menangis sesegukan.


Nyonya Andrea yang baru masuk pun merasa kaget melihat keadaan Sky. Dengan gerak cepat ia menghampiri wanita itu. "Apa yang terjadi, Sky? Apa yang mereka lakukan padamu?"

__ADS_1


Sky menatap Nyonya Andrea dengan tatapan pilu. Lalu matanya bergerak pada putra kecilnya yang juga tengah menatapnya. Sky membawa Gabriel dalam gendongannya. Lalu beranjak menuju kamar, mengabaikan Nyonya Andrea yang kelihatan bingung.


"Ada apa lagi denganmu, Sky? Aku harap kau segera menemukan kebahagiaan." Nyonya Sky menatap daun pintu kamar Sky dengan tatapan nanar. Kemudian memilih pergi meninggalkan kediaman Sky.


****


Sepanjang perjalanan. Alexella terus termenung. Jarvis yang melihat itu merasa heran.


"Apa yang sedang menganggu kepala cantikmu itu, Baby?" Tanya Jarvis yang berhasil menarik perhatian Alexella. Gadis itu menatapnya lamat-lamat.


"Apa kau merasa ada yang aneh?" Tanya Alexella mengenyampingkan pertanyaan tak penting Jarvis.


Jarvis mengangkat sebelah alisnya, ia melirik Alexella sekilas. Lalu fokus kembali mengemudi.


"Anak itu, dia sangat mirip dengan Kak Arel. Apa mungkin itu anaknya?"


"Aku tak yakin. Tapi aku juga sempat curiga saat melihat wajah anak itu. Kau tahu sendiri Kakakmu tak pernah menyentuh wanita sebelum Sky mencampakkannya. Jadi aku rasa itu bukan anaknya, apa lagi wanita itu sudah menikah. Kau ingat perkataan orang dulu? Jangan terlalu membeci seseorang saat sedang hamil. Karena anak itu akan mirip dengan orang yang dibencinya."


"Omong kosong." Kesal Alexella. "Kau tak bisa di ajak kompromi." Gadis itu kembali memokuskan pandangan pada deretan gedung pencakar langit. Namun kepalanya masih dipenuhi teka-teki soal percintaan sang Kakak.


"Baby, aku sangat lapar. Sejak pagi belum menyentuh makanan apa pun. Aku harap kau mau menemaniku makan sebentar." Ujar Jarvis kembali melirik gadis di sebelahnya.


Alexella sama sekali tak memberikan tanggapan atau penolakan. Ekpresinya tetap dingin dan datar.


"Kau diam, itu artinya setuju." Jarvis tersenyum senang. Lalu membawa mobil sportnya itu ke sebuah restoran mewah.


"Tidak." Sahut gadis itu acuh tak acuh.


"Terserah padamu, aku sangat lapar." Ujar Jarvis mulai melahap hidangan yang ia pesan. Alexella sempat memperhatikan cara makan lelaki itu yang seperti orang kelaparan. Namun ia tersentak saat tiba-tiba Jarvis menatapnya.


"Kau tahu, selera makanku bertambah saat ada dirimu di sini. Aku rasa setelah kita menikah, aku akan menjadi babi gemuk."


Alexella hampir melupakan tentang perjodohan itu. Dirinya terlalu fokus pada masalah sang Kakak. Hingga lupa tentahg masalahnya sendiri. Bahkan ia belum sempat membalas soal kontrak itu. Alexella menegakkan tubunya, lalu menatap Jarvis serius. Bukankah ini waktu yang tepat untuk bicara empat mata dengan lelaki itu?


Jarvis yang merasa di tatap pun mendadak kikuk. "What?"


"Aku ingin bicara hal peting."


"Biacaralah, Baby."


"Ini soal perjodohan itu."


"Ya? Kau ingin membatalkannya huh? Aku tidak bisa memutuskan itu, kau bicarakan saja pada Daddy dan Uncle."


"Bukan, aku hanya ingin menikah kontrak denganmu."


Sontak Jarvis tersedak mendengarnya. Lelaki itu segera meneguk segelas air putih. Lalu menatap gadis di depannya dengan tatapan yang nyaris tak percaya. "Nikah kontrak?"

__ADS_1


"Ya, aku rasa kau juga tak mencintaiku. Begitupun sebaliknya. Kita tak mungkin terus terjebak dalam ikatan pernikahan. Aku tahu kau tak akan bisa lepas dari kebiasaanmu. Aku juga tak mungkin terus hidup bersamamu yang notabennya lelaki brengsek." Jelas Alexella tanpa takut lelaki itu akan marah.


"Ini gila. Aku tidak setuju, mana bisa kita menikah kontrak. Yang namanya suami istri tentu saja harus berjalan semestinya." Protes Jarvis menyudahi makannya. Selera makannya mendadak hilang.


"Lalu kau akan terus menjebakku dalam pernikahan konyol itu? Aku masih muda, Jarvis. Dan kau masih senang dengan wanita-wanitamu itu." Alexella melipat kedua tangannya di dada.


"Aku bisa meninggalkan mereka untukmu." Kata Jarvis memberikan tatapan serius.


"Aku tidak percaya." Tegas Alexella.


Jarvis menghela napas gusar. "Okay, kita akan membuat kontrak pernikahan. Tapi aku dan dirimu akan tetap menjalankan tugas sebagai suami istri."


"Kau gila! Lalu apa gunanya kontrak itu?"


"Kita gunakan untuk membuat diri kita masing-masing jatuh cinta satu sama lain. Jika dalam satu tahun kau tak mencintaiku atau sebaliknya. Kita bercerai. Bagaimana?" Usul Jarvis.


Alexella terdiam cukup lama. Memikirkan usulan yang lelaki itu berikan. "Okay, tapi dalam satu tahun itu juga kau tidak boleh menyentuh wanita mana pun."


"Setuju." Sahut Jarvis tanpa ragu. Alexella terkejut mendengar keputusan kilat Jarvis.


"Kau yakin?"


"Ya, lagi pula aku masih punya dirimu untuk kusentuh setiap saat." Jawab Jarvis dengan senyuman nakal.


"Brengsek!"


Jarvis tertawa renyah saat melihat wajah kesal calon istrinya itu. Ia benar-benar menikmati kebersamaan dengan gadis itu. Namun kebersamaan itu harus terpecah saat seorang wanita berpenampilan seksi menghampiri mereka.


"Darling, kau kemana saja?" Tanya wanita itu duduk di pangkuan Jarvis tanpa malu sedikit pun jika mereka berada di tempat umum. Alexella yang melihat itu sama sekali tak memberikan ekspresi.



"Sedang apa kau di sini?" Tanya Jarvis membelai wajah wanita itu yang terpoles make up tebal.


"Aku sedang jalan-jalan, tapi tak sengaja melihatmu disini, Baby. Aku merindukan sentuhan panasmu." Jawab wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Ah, ada kotoran dibibirmu, Baby." Imbuh wanita itu dan tanpa segan mencium bibir tipis Jarvis.


Alexella yang melihat itu berdecih sebal. "Lanjutkan, aku menunggumu di mobil." Pungkas Alexella bangkit dari posisinya dan beranjak pergi dari sana.


Jarvis menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh, lalu tersenyum penuh arti.


"Siapa wanita itu, Baby?" Tanya sang wanita mengikuti arah pandangan Jarvis. Lelaki itu menatap wajah sang wanita masih dengan senyuman aneh.


"Dia calon istriku," jawab Jarvis tanpa ragu dan membuat wanita itu kaget.


"Calon istri? Kau akan menikah?"


"Ya, dan kau membuatnya cemburu, Sayang. Jangan pernah temui aku lagi." Seketika tatapan itu berubah menjadi tajam. Jarvis bangun dari posisinya dengan tiba-tiba, membuat wanita itu terjerembab ke lantai dan meringis kesakitan. Namun Jarvis mengabaikannya dan berlalu dari sana.

__ADS_1


"Akh... sialan kau Jarvis." Pekik wanita itu menana rasa malunya. Semua pengunjung yang melihat itu menahan tawanya. Dengan rasa malu yang sampai ubun-ubun, wanita itu bergegas pergi dari sana.


__ADS_2