Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (27)


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" Tanya Lucas.


Eveline menoleh seraya megusap dahinya. "Luc, kenapa kau turun? Kau masih belum boleh bergerak."


"Aku mencemaskanmu, sayang." Lucas menatap Eveline lekat.


Eveline membersihkan closet dan menutupnya kembali. Kemudian ia membasuh mulutnya. "Aku cuma mual."


"Tapi kemarin-kemarin kau tidak apa-apa."


Eveline tersenyum. "Bukankah wajar orang hamil itu mual dan pusing?"


Lucas mengangguk.


"Ayo kembali, kau tidak boleh bergerak gegabah." Eveline menggandeng tangan Lucas dan membawanya kembali ke ruangan. Juga membantunya naik ke atas brankar. "Aku hanya mual, Luc. Jangan cemas."


Eveline menyelimuti Lucas. Lalu duduk di tepian brankar. Lucas menatapnya lekat. "Kau masih marah?"


Eveline menggeleng. "Tadi aku hanya kesal saja. Maafkan aku, Luc. Entah kenapa rasanya aku ingin meledak-ledak tadi."


"Aku paham, kau cemburu."


"Mungkin. Aku tidak suka kau bertemu dengannya lagi, Luc. Lihat tadi, dia menunjukkan secara terang-tersngan soal ketertarikannya padamu. Aku tidak suka itu. Kau milikku, Luc."


Lucas tersenyum geli mendengar kejujuran calon istrinya itu. Diusapnya pipi Eveline dengan lembut. "Ya, aku hanya milikmu, sayang. Aku suka kau yang posesif seperti ini."


"Luc." Pipi Eveline merona karena tiba-tiba membayangkan hal mesum. Mungkin karena tadi ia belum tuntas karena itu hasratnya masih memburu.


"Ada apa?"


"Yang tadi itu... ayo kita lanjutkan."


Dahi Lucas mengerut. "Yang mana huh?" Lucas tersenyum geli.


"Luc! Jangan membuatku kesal."


"Ayo. Tapi kau yang memimpin."


Eveline tersenyum yang diiringi anggukan kecil. Lalu keduanya pun kembali memadu kasih. Saling menyatukan diri meski tidak seleluasa dulu. Lucas yang sedang sakit membuat Eveline harus ekstra hati-hati. Namun tetap memberikan kepuasan pada kekasihnya itu.


Di tempat lain, lebih tepatnya di hotel. Claire duduk sila di atas pembaringan dan terlihat serius ke layar macbook milik Melvin yang ia pinjam. Sedangkan jemari lentiknya begitu lihai menari di atas keyboard. Bibirnya terlipat ke dalam sambil memperhatikan foto seseorang.


Jadi dia Mommyku? Cantik. Seulas senyuman terbit dibibirnya yang seksi.


Tanpa Claire sadari, Melvin sejak tadi terus mengawasinya. "Kau sedang membajak siapa kali ini?"


Claire terkejut saat menyadari Melvin begitu dekat dengannya. Bahkan napas lelaki itu menyapu bahunya. Membuatnya gugup setengah mati.


"Aku sedang mencari kebradaan Mommyku. Tapi sejak tadi aku tidak menemukan alamatnya yang tepat. Alamat yang tertera di sini berbeda-beda. Ada apa sebenarnya? Kenapa Mommy terus berpindah tempat?" Gumamnya yang masih dapat Melvin dengar.


"Jadi itu Mommymu? Kau yakin?" Tanya Melvin.


Eveline mengangguk. "Aku mendengarnya langsung dari Daddy. Mommymu benar, jika aku anak dari wanita bernama Deena. Bahkan aku tidak tahu statusku sekarang. Aku anak haram atau anak yang diculik, hidupku sangat miris."


Melvin tertegun. Untuk pertama kalinya ia bertemu gadis blak-blakan seperti Claire. Tanpa sadar Melvin tersenyum tipis.

__ADS_1


Ternyata dia tidak buruk juga. Kemampuannya dalam dunia IT cukup bagus. Aku rasa membutuhkan kemampuannya ini.


"Kau tidak ingin bekerja?"


Claire menghentikan sejanak aktivitasnya. "Kenapa kau bertanya soal pekerjaan? Kau ingin memperkerjakanku huh?"


Cih, cepat tanggap juga dia.


"Jika kau mau."


"Aku tidak tertarik. Aku tahu betul siapa kau. Kau hanya ingin memanfaatkan otakku saja kan? Setelah itu kau akan mencampakkan aku. Aku sudah bisa membaca isi kepalamu."


Melvin tersenyum. "Aku akui kau hebat, Claire. Aku pikir kau bodoh."


Claire tersenyum miring. "Biarkan aku konsentrasi. Ini lebih penting dari pembahasanmu. Aku ingin bertemu Ibuku secepatnya."


"Apa kau tahu Ibumu siapa?"


"Jika aku tahu mana mungkin aku mencari tahunya, bodoh."


"Sialan! Kau mengataiku bodoh?"


"Habis kau bertanya hal bodoh." Ketus Claire.


Melvin mendengus sebal.


"Jangan mengganggu konsentrasiku."


"Aku tahu soal Ibumu."


"Tidak, apa kau bodoh huh? Mommyku bilang padamu dia sahabatnya. Kenapa kau tidak tanyakan saja padanya? Asal kau tahu, Mommymu bukan sembarangan wanita. Dia salah satu anggota geng rahasia."


Mata Claire membulat. "Kau serius?"


"Buat apa aku berbohong padamu. Tidak ada gunanya."


Seketika wajah Claire berbinar. "Jadi Mommyku orang hebat?"


"Mungkin. Jika dia tidak hebat, mana mungkin Daddyku tidak bisa melacak keberadaannya."


"Wow... bukankah ini keren. Aku terlahir dari wanita hebat. Tapi...." wajahnya pun berubah sendu. "Apa dia akan mengakui aku sebagai anaknya? Bahkan sampai detik ini dia tidak mencariku, apa aku ini anak yang tidak diinginkan?"


Tak!


Melvin menjentik kening gadis itu sampai sang empu meringis kesakitan. "Dasar bodoh. Harusnya kau curiga, sebenarnya kasus apa yang sedang Mommymu hadapi sampai dia harus bersembunyi? Yang kau pikirkan hanya kesenangan saja."


Bibir Claire menyebik. "Sebagai seorang anak aku juga ingin diakui, El."


Melvin mengerutkan dahi saat mendengar panggilan gadis itu untuknya. "El?"


Claire tersenyum. "Boleh kan aku memanggilmu El? Namamu terlalu ribet, Melvin. Jadi aku ambil El nya saja."


Melvin memutar bola matanya malas. "Terserah." Ia merebut macbook miliknya dan menutupnya begitu saja.


"El, aku belum selesai." Protes Claire.

__ADS_1


"Saatnya makan siang. Aku tidak mau kau sakit. Ayo, kita makan di luar."


Wajah Claire berseri-seri. "Kau manis sekali, El. Tidak kuduga kau orang yang pengertian. Kau mau jadi kekasihku tidak?"


Melvin tersenyum miring. "Akan aku pikirkan."


"Ck, jangan lama-lama. Aku ingin jawaban sekarang."


"Aku tidak suka pemaksa."


"Ck, baiklah. Aku akan menunggu."


Melvin bangun dari posisinya, lalu menaruh benda penting itu di atas nakas. Kemudian ia berbalik. "Baiklah, aku menerimamu. Mulai detik ini kau jadi kekasihku."


"Hah? Kau serius?" Pekik Claire kegirangan.


Ck, dasar gadis tengil.


"Iya, cepat ganti pakaianmu. Kita cari tempat makan, aku sudah lapar."


"Yes. Terima kasih, akhirnya aku punya kekasih. Itu artinya kau itu kekasih pertama dan cinta pertamaku."


"Kau sangat cerewet, cepat ganti pakaian, Claire."


"Aku tidak mau ganti. Biar seperti ini."


Melvin melotot. Bagaimana tidak, saat ini Claire hanya mengenakan kemeja kebesaran miliknya. Bahkan bra kecilnya itu terlihat dengan jelas. "Ganti. Aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk membeli pakaianmu."


"Ck, iya aku ganti." Tanpa rasa malu Claire membuka kemeja itu di depan Melvin. Seketika tubuh lelaki itu menegang. Meski tubuh gadis itu terkesan masih datar. Tapi itu cukup mempengaruhi iman Melvin.


Sial! Apa dia tidak punya malu? Arghh... gadis tengil sialan.


Melvin pun langsung melongos pergi. "Aku tunggu di luar."


Bruk!


Pintu tertutup dengan kencang.


"Eh! Dia kenapa?" gumam Claire sambil memakai gaunnya. "Dasar aneh."


Setelah memperbaiki penampilannya, Claire pun beranjak keluar. Dan di sana Melvin sudah menunggunya. "Ayo."


Claire menautkan jemarinya di jari-jari besar milik Melvin. "Aw... lihat ini. Tanganku begitu pas ditanganmu. Aku rasa kita memang berjodoh."


"Ck, jangan berlebihan. Aku tidak peduli seoal jari-jari mungilmu itu. Saat ini aku lebih peduli dengan perutku." Ketus Melvin.


Claire tertawa renyah. "Ayo, aku juga tidak sabar untuk kencan pertama kita."


"Kencan?" Kaget Melvin.


Claire mengangguk kecil. "Sekarang kan kita resmi pacaran. Jadi apa pun yang kita lakukan saat berdua, itu akan aku anggap kencan."


Melvin menghela napas berat. "Terserah kau saja." Karena sangat lapar, Melvin langsung menarik gadis itu masuk ke dalam lift.


Seperti gadis lainnya yang baru pertama kali mengenal cinta. Claire terlihat bahagia meski Melvin tidak besikap manis sedikit pun. Melvin menerima cintanya saja itu sudah menbuat hatinya berbunga-bunga. Ia merasa beruntung karena pacar pertamanya itu seorang Melvin Digantara. Sosok yang begitu digilai para wanita. Dan kini lelaki itu resmi menjadi kekasihnya.

__ADS_1


Aku berjanji hanya akan mencintaimu, El. Aaa... aku tidak sabar mengungumkan pada duani jika kau kekasihku.


__ADS_2