Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 11


__ADS_3

Di rumah yang kecil, Sky tampak sibuk membereskan dapur. Sejak pertemuannya dengan Arel. Ia tak lagi berani melamar pekerjaan dan memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Di tambah lagi ancaman Alexa yang terus menghantuinya membuat Sky enggan beranjak dari rumah jika tak ada kepentingan.


Brak! Sky terkejut saat mendengar sesuatu terjatuh. Sampai suara tangisan Gabriel pun menarik perhatiannya. Wanita itu langsung berlari menuju kamarnya.


"Gabriel!" Pekik Sky saat melihat putranya sudah ada di lantai dengan posisi tengkurap. Sky langsung mengangkat tubuh mungil itu dan betapa kagetnya ia saat melihat kening Gabriel mengeluarkan sedikit darah. Lalu tatapan Sky pun tertuju pada sang suami yang tertidur di posisi seharunya Gabriel berada.


"Friedrich! Kau mendorong putraku?" Bentak Sky dengan mata memerah. Lelaki itu langsung terbangun dan menatap Sky tajam.


"Kau bicara padaku, Sky? Setelah dua tahun kau membisu, sekarang kau bicara dan berani membentakku karena anak ha...."


"Dia putraku, bukan anak haram. Sialan kau Friedrich!" Pekik Sky yang membuat tangisan Gabriel semakin kencang. Sky pun terkejut dan langsung membawa putranya keluar dari rumah itu.


"Sky! Aku tak mengizinkanmu keluar rumah. Atau aku akan...."


Sky berbalik dan menatap Friedrich tajam. "Kau akan menyakiti Ibu dan Ayahku bukan? Itu kan ancaman yang selalu kau gunakan Friedrich? Aku sudah muak. Bagaimana kau menyakiti mereka yang sudah mati huh? Hentikan bualanmu itu, brengsek." Bentak Sky yang sudah muak dengan sikap kasar suaminya.


Friedrich terhenyak mendengar ungkapan istrinya. Ia tak pernah menyangka Sky sudah tahu kebenarannya. Kemarin, Sky memang mendapat kabar buruk tentang kedua orang tuanya dari salah satu teman lamanya yang tak sengaja ia temui di supermarket. Kebetulan wanita itu ada keperluan ke kampung terpencil itu dan mengenali orang tua Sky. Sejak lama ia mencari keberadaan Sky untuk memberi kabar itu. Namun baru kemarin ia bisa bertemu langsung dengan Sky.


"Selama ini aku diam bukan berati aku takut, tapi aku tidak tahu harus lari pada siapa? Aku tidak punya siapa pun di dunia ini. Aku terus bertahan disisimu karena aku pikir kau akan berubah. Tapi apa yang aku dapat? Kau menyiksaku lebih parah dari sebelumnya. Kau tak punya hati, kau lelaki brengsek. Bahkan kau menyakiti putraku!" Timpal Sky dengan air mata yang berlinang. Sky mendekap putranya dengan erat.


"Aku bisa saja kembali pada kekasihku, Ayah dari anakku. Tapi aku malu hanya untuk menemuinya, aku sudah menghancurkan harapan besarnya hanya karena kebohonganmu. Kau menipu orang tuaku, kau penjahat silan Friedrich. Kau menghancurkan semua mimpiku. Kau tahu Friedrich, aku membiarkan kau membawa wanita bayaran itu ke rumah ini. Supaya apa? Supaya kau tak menyentuhku. Dan aku berhasil bukan? Aku tak membiarkan kau menyentuh tubuhku walau hanya sejengkal. Kecuali kau melayangkan tamparan dan memukul punggungku dengan sabuk." Napas Sky tersengal karena telalu emosi.


Friedrich melangkah cepat mendekat dan hendak melayangkan tamparan di wajah Sky. Namun seseorang lebih dulu menahannya. Sky yang kaget pun langsung menoleh kebelakang. Matanya terbelalak saat melihat wajah itu.


"Arel?" Mulut Sky bergetar saat menyebut nama itu. Karena memang Arel yang saat ini menahan tangan Friedrich.


Arel menarik Sky kebelakangnya, lalu memberikan tendangan keras tepat di perut Friedrich hingga membuatnya terjungkal ke lantai.


"Sialan! Kau berani menyakiti wanitaku huh?" Arel menindih perut lelaki itu dan melayangkan tinjuan demi tinjuan di wajah lelaki itu hingga tak berdaya.


"Arel, hentikan. Dia bisa mati." Pekik Sky memeluk Gabriel yang sudah berhenti menangis. Namun Arel sama sekali tak mendengarnya dan terus saja menghajari lelaki itu.


"Arel! Putra kita terluka." Teriak Sky yang berhasil menghentikan aksi Arel pada lelaki itu. Arel bengun dari posisinya dan langsung menghampiri Sky.


"Dia terluka, Arel. Bawa aku ke rumah sakit." Tangisan Sky pun pecah. Arel membawa Gabariel dalam gendongannya dan melihat kening putranya yang sudah mbengkak dengan darah yang mengering. Tanpa banyak berpikir, Arel langsung membawanya berlari. Sky pun mengikuti Arel.


"Arel." Panggil Arez yang baru saja sampai bersama beberapa polisi.


"Kau urus saja lelaki itu, putraku terluka karena bedebah itu." Arel langsung masuk ke dalam mobilnya, kini Gabriel dalam pangkuannya.


"Arel...."


"Masuk Sky." Seru Arel saat melihat Sky masih berdiri di depan pagar. Sky yang terkejut pun langsung masuk ke dalam mobil mewah Arel. Mobil itu pun langsung melesat pergi.

__ADS_1


"Berikan Gabriel padaku, aku...."


"Kau akan membawanya pergi dariku lagi, Sky? Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Sudah cukup kau menyembunyikannya dariku. Tak akan aku biarkan lagi dia pergi bersamamu." Potong Arel tanpa berniat melihat kekasihnya.


"Arel, dia putraku."


"Dia putraku juga, Sky. Aku berhak atas dirinya. Lihat apa yang kau lakukan huh? Kau membuatnya terluka, Sky. Aku tak akan membiarkan dia tinggal bersamamu lagi."


Sky tersentak kaget mendengar itu. "Tidak, aku tidak bisa hidup tanpanya Arel. Biarkan Gabriel bersamaku, aku yang mengandung dan membesarkanya."


"Tapi kau tak bisa menghilangkan jejak darah yang mengalir dalam nadinya. Pikirkan cara agar kau masih bisa terus bersamanya, Sky." Sinis Arel mendekap Gabriel dengan sebelah tangannya.


"Arel... maafkan aku. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpanya. Aku mohon, biarkan Gabriel bersamaku. Kau tahu aku tak akan mampu melawanmu dipengadilan."


Arel yang mendengar itu mendelik kesal. Dasar bodoh! Bukan itu maksudku, Sky. Akh... kau benar-benar membuatku gila. Tapi aku masih harus menghukum dirimu karena berani lari dari hidupku, bahkan membawa lari benihku. Sampai aku mendapat makian dan pukulan dari Mommy.


"Berpikirlah lebih keras, Sky. Apa yang harus kau lakukan untuk bisa memeluknya kembali."


"Arel, please."


Arel memilih diam dan terus mendekap Gabriel yang sudah tertidur. Sky tak berani bersuara lagi. Ia hanya bisa menatap Arel dan putranya dengan tatapan sedih.


Apa kau benar-benar akan membuangku, Arel? Bahkan kau tak memintaku kembali. Aku memang egois karena masih mengharapkanmu setelah apa yang aku lakukan padamu. Tapi apa aku salah jika aku masih mencintaimu?


Arel memarkirkan mobilnya di sebuah klinik. Lalu bergegas membawa putranya ke dalam untuk segera diobati. Sky pun hanya mengekori Arel dari belakang dengan wajah cemas.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" Tanya Arel setelah sang dokter memeriksa putranya. Arel mengusap rambut Gabriel dengan lembut. Pemilik tubuh kecil itu masih tertidur.


Sky cuma bisa melihat itu di ambang pintu. Ia tak berani mendekati Arel karena takut lelaki itu memarahinya.


"Putra Anda baik-baik saja, kepalanya sedikit terbentur dan lecet makanya berdarah. Beberapa hari juga bengkaknya akan kempes. Dia hanya terkejut. Jangan terlalu cemas. Anak-anak seusianya memang sedang aktif bermain. Jadi lebih hati-hati lagi dalam mengawasinya." Jelas sang dokter pada Arel.


"Syukurlah," sahut Arel mengecup kening putranya dengan lembut. Sky yang melihat itu kembali meneteskan air mata haru.


"Oleskan salep setiap pagi dan malam, sebelum itu kompres dengan air hangat lebih dulu supaya bengkaknya cepat mengempis." Titah sang dokter.


"Baik, dok." Balas Arel membawa Gabriel dalam gendongannya lagi.


Kini Arel dan Sky sudah berada dalam mobil lagi. Namun Arel benar-benar tak membiarkan Sky menggendong Gabriel. Bahkan keduanya terdiam cukup lama. Arel juga tak berniat melajukan mobilnya. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Meski ia sangat kesal karena Sky sama sekali tak berniat menjelaskan apa pun padanya.


Sky yang sudah tak bisa menahan kecanggungan pun langsung menghadap ke arah Arel. "Biarkan aku yang menggendongnya."


Arel sama sekali tak menghiraukan Sky.

__ADS_1


"Arel! Berikan dia padaku." Kesal Sky meninggikan suaranya. Sontak Gabriel menangis karena terkejut. Arel pun langsung memberikan tatapan tajam pada Sky. Membuat nyali wanita itu cut. "Maaf."


Arel keluar dari mobil sambil mendekap Gabriel. Namun tangisan anak itu semakin kencang. Arel mulai bingung karena ini kali pertamanya ia menghadapi anak kecil.


Sky menghela napas berat, kemudian ikut turun dari mobil dan menghampiri Arel. Lalu menarik paksa Gabriel dari dekapan Arel. "Dia butuh asi, apa kau punya asi?" Kesal Sky segera masuk ke dalam mobil. Lalu memberikan putranya asi. Ya, Sky memang memberikan asi eksklusif pada putranya sejak lahir.


Tanpa rasa malu Arel pun masuk ke dalam. Dan itu berhasil membuat Sky terkejut dan berusaha menyembunyikan aset pribadinya. Ia masih malu pada lelaki itu meski sudah dua kali melakukan hubungan badan.


"Tidak perlu menutupinya, aku sudah melihat itu lebih dulu."


Sky melotot mendengar itu. "Dasar mesum."


"Kau yang mengajarkan aku menjadi orang mesum. Meniduriku, setelah itu pergi tanpa kata. Itu juga yang aku lakukan pada wanita di luar sana. Agar mereka tahu seperti apa sakitnya ditiduri dan setelah itu dicampakkan."


Perkataan Arel bagaikan ribuan belati yang langsung menghujam jantung Sky. Mulutnya terkatup rapat dengan mata yang mulai memanas. Ia kalah telak.


Arel melirik Sky sekilas, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Beruntung aku belajar darimu, meninggalkan mereka tanpa jejak. Aku tak membiarkan mereka menerima benihku." Imbuh Arel tersenyum miring.


Lagi-lagi hati Sky terasa sakit mendengar sindiran pedas Arel. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela dan seketika air matanya meluncur deras. Sky berusaha untuk tidak mengeluarkan isakkan.


"Kau tahu? Selama dua tahun kau selalu hadir dalam mimpiku, lalu pergi lagi saat aku terbangun. Sampai aku enggan untuk tidur, karena saat aku tidur kau akan datang lagi, lalu pergi lagi. Dan ujung-ujungnya aku harus berhadapan dengan psikiater. Semua orang mengatai aku gila. Kau senang kan, Sky?"


Sky tak mampu menahan isakkannya lagi. Tangisannya pun pecah.


"Untuk melupakan dirimu, aku mencoba meniduri banyak wanita, lalu melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan padaku. Menghabiskan semalaman penuh agar aku tak tertidur. Dan aku berhasil Sky. Kau tak pernah hadir lagi karena aku tak pernah bermimpi, jadi aku melakukan itu lagi dan lagi sampai aku bisa melupakanmu. Tapi aku salah, kau masih menganggu pikiranku."


"Cukup Arel, aku mohon." Lirih Sky sudah tak sanggup lagi mendengar semuanya.


"Terakhir kali aku tidur nyenyak, saat kau kembali Sky. Aku merasa tenang karena aku pikir kau tak akan pergi lagi. Tapi kau lagi-lagi pergi dengan kata-kata menyakitkan." Lanjut Arel mengeluarkan semua aral dihatinya.


"Berhenti bicara, Arel. Aku mohon." Tubuh Sky semakin gemetar karena menahan sesak didadanya.


Arel terdiam sesaat. "Aku sudah mengatakan semua yang terjadi selama dua tahun belakangan. Kini giliranmu."


Sky terkejut mendengar itu. Menatap Arel nyaris tak percaya.


"Ceritakan semuanya, aku ingin mendengar semua keluhanmu." Lanjut Arel melirik kekasihnya sekilas. Entah masih pantas atau tidak Arel menyebut Sky sebagai kekasihnya. Setelah semua yang telah mereka lalui.


Sky menatap Arel cukup lama. "Bawa aku ke penthousemu, Arel. Aku akan mengatakan semuanya." Pinta Sky disela isakkannya. "Aku tak akan pergi selagi kau tak memintaku pergi."


Arel tersenyum puas mendengar itu. Itu artinya Sky masih ingin kembali padanya. Meski sejak awal Arel tahu masih ada harapan untuk mereka bersatu kembali. Apa lagi kini sudah hadir si kecil Gabriel yang membutuhkan kasih sayang mereka berdua tentunya.

__ADS_1


__ADS_2