Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 48


__ADS_3

"Jangan membenciku, Al. Aku tidak membunuh Daddy." Arez tertegun saat mendengar gumaman Sabrina dalam tidurnya. Tubuh wanita itu menggigil dengan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.


Arez menarik wanitanya itu dalam dekapan. "Aku tidak pernah membencimu, Sabrina."


"Aku bukan pembunuh... tidak... Al...." Sabrina tersentak dari tidurnya dengan napas tersengal. Ia terdiam untuk beberapa saat, kemudian tersadar jika dirinya berada dalam pelukan Arez. Sabrina menangis dan memeluk lelaki itu dengan erat. "Al, aku bukan pembunuh."


Arez sama sekali tak memberikan respons apa pun. Membuat Sabrina semakin gelisah. Wanita itu mendongak, menatap wajah datar suaminya. "Al, kau harus percaya padaku. Aku tidak membunuh Daddymu, aku menyayanginya, Al. Bahkan aku takut dengan senjata api itu. Bagaiman bisa aku menggunakannya? Aku bukan pembunuh, Al. Percayalah."


Sabrina terus menangis dalam dekapan Arez. Membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.


"Berhenti menangis, kau hanya akan terlihat lemah, Sabrina."


Sabrina menghentikan tangisannya saat mendengar perkataan suaminya.


"Aku harus pergi, jangan pernah keluar dari ruangan ini sebelum aku kembali."


Sabrian mencengkram erat kemeja suaminya. "Kau akan meninggalkanku, Al?"


"Hanya sebentar."


"Aku ikut." Rengek Sabrina dengan tangan gemetar.


"Berhenti merengek, dan diam di sini." Tegas Arez seraya menjauhkan tangan Sabrina darinya. Namun dengan gerak cepat Sabrina memeluknya kembali.


"Aku ingin ikut, Al. Aku mohon."


"Jangan membuatku marah, patuhlah." Arez mendorong Sabrina dan segera turun dari brankar. Sabrina menatap Arez dengan rasa takut yang mendalam.


"Apa kau percaya aku bukan pembunuhnya, Al?"


Arez sama sekali tak menanggapi pertanyaan istrinya dan langsung beranjak pergi dari sana. Dan hal itu membuat Sabrina kecewa.


Sabrina memejamkan matanya karena menahan rasa sesak di dada. Sakit rasanya saat tak ada satu pun yang percaya padanya. Perlahan ia bangun dari posisinya. Lalu mata indah itu tertuju pada pisau buah yang ada di atas nakas. Menatap benda itu dengan seksama.


Mom, aku ingin bersamamu. Kenapan kau memberikan kehidupan padaku, padahal kau tahu tak akan ada yang menerimaku di dunia ini? Kenapa Mom? Kenapa kau tak membunuhku saja sejak dulu? Bawa aku bersamamu, Mom. Aku lelah.


****


Arez melangkah pasti menuju ruangan di mana sang Mommy di rawat. Tentu saja kehadirannya menjadi pusat perhatian saudara-saudaranya. Namun ia mengabaikan mereka, kemudian masuk ke tempat itu tanpa rasa ragu sedikit pun. Menghampiri brankar di mana Mommynya masih tertidur. Duduk di sana dengan tatapan yang tak lepas pada wajah sembab sang Mommy.


Sweet membuka matanya saat merasakan benda kenyal dan hangat menempel dikeningnya. "Kau masih ingat pada Mommy rupanya?" Sweet menatap putranya sendu.

__ADS_1


"Aku tak akan lupa surgaku, Mom."


"Kalau begitu jangan pernah pergi dari surgamu lagi, Arez. Tetap di sini."


Arez terdiam saat mendengar itu. Ia tahu ke mana arah pembicaraan sang Mommy.


"Kau harus membuat pilihan, melepaskan atau kehilangan."


"Mom."


"Kau memilih tanpa persetujuanku, Arez. Kau melupakan aku saat kau memilih kehidupanmu. Kali ini aku akan tetap ikut campur kehidupanmu. Aku sudah kehilangan Daddymu, jangan sampai aku kehilangan yang lain lagi." Sweet menangis pilu. Arez yang melihat itu langsung membawa sang Mommy dalam pelukkannya.


"Mom...."


"Jangan membelanya di depanku, saat ini aku sedang tak mempercayai siapa pun. Termasuk dirimu, Arez." Sanggah Sweet dengan nada tegas.


"Aku akan tetap di sini." Putus Arez mengecup pucuk kepala Mommynya. Mendekap wanita tercintanya dengan penuh kasih sayang.


"Aku ingin pulang." Pinta Sweet.


"Ini sudah malam, besok kita akan pulang."


"Aku berjanji." Arez kembali memberikan kecupan di kening sang Mommy.


"Mommy lapar, sudah lama kamu tidak memanjakan Momny, Arez."


"Aku akan menyuapimu." Arez mengambil makanan yang tersedia di atas nakas. Dan ia benar-benar menyuapi Mommynya dengan penuh kesabaran. Lalu keduanya dikejutkan dengan suara deringan ponsel Arez. Sweet menatap putranya penuh intimidasi.


Arez merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Dan ternyata nama Ansel yang muncul di layar ponselnya. Arez meletakkan piring di atas nakas. Lalu menatap sang Mommy. "Ansel menghubungiku, aku harus menerimannya."


Arez menjauh dari brankar dan menerima panggilan itu.


"Ada apa?" Tanyanya datar.


"Tuan, Nona mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya. Saat ini dokter masih menanganinya. Dia banyak kehilangan darah."


Arez terkejut mendengar itu dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia juga melirik sang Mommy yang terus memandangnya.


"Awasi dia terus, jangan tinggalkan dia walau sedetik. Aku tidak bisa ke sana untuk saat ini. Kabari aku tentang kondisinya. Aku percaya padamu, Ansel." Arez bicara sedikit berbisik dengan nada kesal.


Dasar wanita bodoh, apa yang dia pikirkan sebenarnya? Ingin mati huh? Bermimpi saja.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan baik. Semoga Nyonya besar juga lekas sembuh."


"Hm." Arez menutup sambungan telepon. Lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa. Kepalanya benar-benar sakit memikirkan semua masalah hidupnya.


"Ada apa, Arez?" Tanya Sweet menatap putranya penuh selidik. Arez menghela napas dalam. Kemudian menghampiri sang Mommy.


"Tidak ada, hanya masalah kecil." Bohong Arez.


"Hm." Sweet tahu putranya itu sedang berbohong. Hanya saja ia tak ingin memperkeruh suasana.


Sedangkan di ruangannya, Sabrina masih belum sadarkan diri setelah dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Beruntung sayatan itu tak terlalu dalam meski banyak darah yang ia keluarkan.


Sesuai perintah Arez, Ansel menemani Sabrina. Lelaki itu duduk di sofa dengan pandangan yang terus mengawasi istri Tuannya itu. Ya, Ansel lah yang menemukan Sabrina tergeletak di lantai dengan pergelangan tangan yang tersayat dan mengeluarkan banyak darah.


"Ck, seharusnya Anda tidak melakukan itu, Nona. Anda hanya mempersulit suami Anda sendiri. Huh, aku harap masalah ini segara berakhir." Ansel menghela napas berat. Merasa iba dengan apa yang terjadi pada Nonanya itu.


****


"Aku melihat Clara bersikap aneh di hotel sebelum kejadian itu. Apa mungkin dia terlibat dalam masalah ini?" Arel menatap Alexa dan Winter secara bergantian. Saat ini mereka sudah berada di mansion.


"Kau yakin? Aku rasa dia tak akan melakukan itu. Sebaiknya kita diskusikan ini dengan Arez. Aku rasa dia sudah tahu si pelaku. Karena itu dia melindungi istrinya." Sahut Alexa begitu yakin.


"Kau benar, kita akan mendiskusikan ini dengannya."


"Tapi... kenapa mereka ingin menjebak Sabrina? Bahkan dia tak tahu menahu masalah keluarga kita."


"Pelakunya ingin menghancurkan hubungan persaudaraan kalian. Karena itu dia menargetkan Sabrina. Dia tahu Arez akan melindungi istrinya. Sedangkan Alexella sejak awal membencinya. Aku rasa target mereka adalah Arez dan Alexella. Dia tahu kalian tak akan bisa dihancurkan jika hubungan kalian masih terjalin dengan baik. Terutama Arez dan Alexella yang selalu waspada terhadap musuh. Aku rasa musuh kali ini ada di sekitar kita." Jelas Winter mengeluarkan hasil pengamatannya.


"Maksudmu musuh sebenarnya itu masih keluarga kita?" Tanya Alexa bingung.


"Itu pendapatku jika dilihat dari permainan si pelaku."


"Untuk saat ini, berhati-hatilah dan jangan terlalu bebas berlalu lalang di luar." Usul Arel menatap keduanya serius.


"Bagaimana dengan Alexella? Dia sangat keras kepala. Kau tahu dia hanya menurut pada Daddy, dan sekarang tak ada lagi yang bisa menahannya." Alexa merasa cemas dengan adiknya itu.


"Aku rasa Jarvis akan selalu melindunginya."


"Kau tidak tahu seperti apa adikku, Winter. Mommy saja tak pernah ia dengarkan. Apa lagi Jarvis yang notabennya orang luar."


"Sudahlah, sebaiknya kalian istirahat. Besok pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan. Untuk Alexella, aku akan menghubungi Jarvis agar tak meninggalkannya." Ujar Arel yang dijawab anggukkan keduanya. Lalu mereka pun beranjak menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2